KOMINFO
  Ilustrasi. Penggunaan jaringan internet dalam dunia pendidikan di saat pandemi. ANTARA FOTO/ Rivan Awal Lingga.

Meningkatkan Literasi Digital, Memanfaatkan Internet Lebih Produktif

  •   Rabu, 28 Juli 2021 | 08:51 WIB
  •   Oleh : Administrator

Kementerian Kominfo menyediakan program pengembangan internet bagi masyarakat agar makin kreatif dan produktif seiring bertumbuhnya sektor informasi dan komunikasi selama pandemi.

Masa pandemi sejak 1 tahun 5 bulan terakhir telah memberikan porsi lebih banyak bagi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk semakin berkembang. Terlebih ketika pemerintah mengimbau masyarakat untuk lebih banyak berkegiatan dari rumah untuk mencegah bahaya penularan virus corona. Data Badan Pusat Statistik mencatat, sepanjang 2020, selama pandemi terjadi peningkatan pemakaian internet untuk berbagai keperluan mencapai 442 persen.

Angka itu disumbang oleh maraknya pemakaian internet untuk kegiatan pemesanan barang dalam kerangka e-dagang, karyawan-karyawan yang bekerja dari rumah (work from home). Kemudian ada sebanyak 68.729.037 pelajar dan mahasiswa, mengutip data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Umumnya, mereka mengakses jaringan internet dari gawai seperti telepon seluler dan laptop. Mereka adalah bagian dari 196,7 juta pemakai internet seperti dikutip dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).

Kementerian Komunikasi dan Informatika merasakan terjadinya peningkatan tersebut. Sektor TIK adalah satu-satunya yang mengalami pertumbuhan dalam tiga kuartal sepanjang 2020. “Secara kumulatif di 2020, sektor informatika dan komunikasi tumbuh 10,58 persen. Artinya sektor ini memiliki peluang yang luar biasa Untuk dioptimalkan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” kata Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi, dalam konferensi pers yang digelar virtual, Kamis (22/7/2021).

 

Literasi Digital Nasional

Kementerian yang dipimpin Menteri Johnny G Plate ini memiliki Program Pengembangan Sumber Daya Manusia dan menjadi peluang bagi masyarakat untuk ikut berperan aktif di dalamnya. Terlebih lagi melihat dari terus tumbuhnya sektor TIK selama pandemi. Salah satu upayanya adalah meningkatkan kemampuan literasi digital masyarakat.

Literasi digital adalah kemampuan untuk memanfaatkan media digital sebagai sumber pengetahuan dan menggunakannya secara bijak untuk berinteraksi sehari-hari. Demikian dikutip dari penjelasan pemerhati TIK dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat, Ismail Cawidu dalam sebuah diskusi webinar, Sabtu (14/7/2021).

Saat ini durasi rata-rata penggunaan internet di tanah air mencapai 7 jam 59 menit per hari. Ini termasuk penggunaan untuk kebutuhan di media sosial rata-rata sekitar 3 jam 26 menit per hari. Kegiatan tadi umumnya dilakukan lewat ponsel yang populasinya sudah menyentuh 334,2 juta unit di Indonesia. "Kita harus tahu bagaimana memanfaatkan teknologi dengan bijak dan memberdayakan internet untuk menghasilkan karya-karya produktif," kata Ismail.

Oleh karena itu, Kementerian Kominfo telah menggelar program Literasi Digital Nasional dengan target pada 2024 akan mampu menjangkau 50 juta penduduk Indonesia. Terdapat lebih dari 12,4 juta program pengembangan sumber daya manusia di tingkatan paling dasar. Program tersebut merupakan kesempatan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk belajar literasi digital.

Sampai saat ini sudah ada 2,6 juta masyarakat Indonesia yang mengikuti pelatihan literasi  digital dan untuk mengetahui informasi lebih banyak mengenai program ini dapat mengakses media sosial Kominfo. Menurut Dedy Permadi, program Literasi Digital Nasional menghadirkan 4 modul, antara lain, kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Peserta bisa belajar memanfaatkan ponsel, komputer dan laptop untuk dijadikan sarana mengakses internet untuk kegiatan positif dan produktif. “Jadi bagi masyarakat yang belum memanfaatkan kesempatan ini bisa segera ikut, karena masih ada kesempatan sekitar 10 juta slot pelatihan literasi digital,” katanya.

 

Digital Talent Scholarship

Program berikutnya adalah Digital Talent Scholarship bagi para lulusan sekolah menengah atas (SMA) dan perguruan tinggi. Program DTS memberikan pelatihan dengan intensitas lebih tinggi dibandingkan Literasi Digital Nasional. Dedy menyebutkan, program ini dipastikan lebih menarik karena akan memperkenalkan kecakapan-kecakapan baru di era digital. Ini sangat penting karena memang membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar kecakapan digital.

Tersedia sekitar 100 ribu kursi untuk masyarakat Indonesia untuk ikut DTS. Hingga saat ini telah terdaftar 56.921 peserta, sedangkan masih ada kesempatan lebih dari 40 ribu peserta untuk mengikuti program DTS. Kementerian Kominfo berharap program DTS bisa menarik minat generasi muda termasuk kalangan milenial untuk belajar lebih luas mengenai teknologi digital.

Tersedia tujuh jenis pelatihan akademi, antara lain Fresh Graduate Academy (FGA), Vocational School Graduate Academy (VSGA), Professional Academy (PRO), Talent Scouting Academy (TSA). Ada juga Thematic Academy (TA), Government Transformation Academy (GTA), dan Digital Entrepreneurship Academy (DEA).

Dedy juga menjelaskan mengenai adanya program khusus, Digital Leadership Academy (DLA). Sifatnya terbatas karena hanya tersedia untuk 300 slot atau kursi. Namun, program DLA dibuat dengan sangat lebih eksklusif untuk pemimpin era digital. Program bagi para pemimpin di bidang digital ini terbuka untuk diikuti oleh unsur pemerintah dan swasta setelah lolos proses seleksi.

Program DLA akan diluncurkan pada Agustus 2021 mendatang, nantinya dipisah menjadi dua sektor. Di mana sebanyak 150 peserta mendapatkan pelatihan pemimpin era digital di sektor publik atau pemerintahan, dan 150 peserta lainnya di sektor swasta.

DLA dirancang untuk memberikan pemahaman dan penguatan pengalaman para pemimpin, untuk bisa mengenal ekosistem digital yang lebih komprehensif di universitas kelas dunia. Program DLA bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS), Tsinghua University di Tiongkok, dan Harvard University.

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari