COVID-19
  KM Umsini bersandar di Pelabuhan Soekarno Hatta di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (14/7/2021). ANTARA FOTO/Arnas Padda

Isolasi Menyesuaikan pada Kondisi Geografis Nusantara

  •   Sabtu, 31 Juli 2021 | 12:20 WIB
  •   Oleh : Administrator

Di tengah lonjakan penularan dan fatalitas Covid-19 di tanah air, pemerintah daerah gencar memberikan fasilitas isolasi mandiri terpusat bagi masyarakat yang terpapar. Menyesuaikan dengan kondisi geografis, sejumlah kapal laut pun disiapkan.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di sepanjang garis khatulistiwa. Berada di antara daratan benua Asia dan Australia, serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, Indonesia memiliki 17.504 pulau. Dari total jumlah pulau besar dan kecil di Nusantara tersebut, kira-kira ada 1.500-an pulau yang tercatat sebagai pulau berpenghuni.

Wilayah Indonesia sendiri terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, dengan luas daratan 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatra dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Pulau dengan penduduk terpadat adalah Jawa, di mana setengah populasi Indonesia bermukim di pulau tersebut.

Dengan kondisi geografis serupa itu, tentu diperlukan langkah strategis tersendiri dalam menangani dampak pandemi Covid-19. Sejumlah hal, termasuk kondisi geografis sangat patut menjadi pertimbangan khusus dalam melakukan penanganan ataupun mitigasi wabah. Tentunya, dengan tetap bergerak pada koridor kebijakan pusat, sebagaimana yang telah dituangkan dalam sejumlah aturan yang berlaku.

Salah satu di antara sekian banyak terobosan yang diambil dengan menyesuaikan pada kondisi geografis negeri adalah memanfaatkan KRI dr Soeharso penyedia oksigen untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit di Jateng, saat terjadi lonjakan permintaan.

KRI dr Soeharso-990 yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas, Kota Semarang itu diketahui merupakan kapal perang rumah sakit yang memiliki oksigen generator. Sehingga, kapal itu mampu memproduksi oksigen secara mandiri dengan kapasitas sekitar 150.000 liter perhari atau setara dengan 20-25 tabung kapasitas 6000 liter.

"KRI dr Soeharso ini merupakan kapal perang rumah sakit yang diperintahkan sanggar di Semarang hari ini. Tujuannya adalah membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan oksigen khususnya bagi rumah sakit," kata Komandan Lanal Semarang, Kolonel Laut (P) Nazarudin, Rabu (28/7/2021).

Nazarudin menerangkan, kapal tersebut akan bersandar di pelabuhan Tanjung Emas Semarang dengan batas waktu yang tidak ditentukan. "Kapal ini akan stand by sampai terpenuhinya kebutuhan oksigen di Jateng. Jadi tidak ada batas waktu," jelasnya.

Di Indonesia, lanjut Nazarudin, ada dua kapal perang rumah sakit yang bisa memproduksi oksigen. Yakni KRI dr Soeharso yang standby di Semarang saat ini dan KRI Semarang yang sedang sandar di Surabaya untuk membantu pemenuhan oksigen di Jatim dan sekitarnya.

"Untuk mempermudah pelayanan, kami telah berkoordinasi dengan Dinkes agar rumah sakit yang membutuhkan pengisian oksigen bisa dikoordinir. Sebab kemampuan pengisian kami sehari hanya 20-25 tabung, jadi memang butuh waktu. Hari ini sudah mulai ada pengisian tabung untuk rumah sakit," pungkasnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat menengok produksi oksigen dan proses pengisian tabung di KRI dr Soeharso, kontan mengucapkan terima kasihnya. Dia juga menjelaskan, bantuan oksigen dari KRI dr Soeharso akan diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan rumah sakit di Semarang Raya.

Sementara. Itu di Makassar, pemerintah kota bersama Kementerian Perhubungan dan PT Pelni memberikan fasilitas kesehatan bagi masyarakat kota Makassar berupa isolasi apung terpadu menggunakan kapal KM Umsini. Di kapal itu, warga masyarakat yang terjangkit virus corona mutan bergejala ringan ataupun tanpa gejala bisa menjalani isolasi mandiri secara terpusat.

Sebagai langkah awal, Pemerintah Kota Makassar pun memulai pendaftaran isolasi mandiri terpadu tersebut. Langkah terobosan itu nyatanya relatif memikat hati warga kota tersebut. Banyak masyarakat mengaku ingin melakukan isolasi mandiri sambil menikmati sensasi berada di kapal laut.

Keinginan warga serupa itu sangat mungkin dipenuhi bila sejumlah syarat dipenuhi oleh mereka yang nota bene membutuhkan isoman. Disampaikan juru bicara program Makassar

Recover Natsar ‘Aloq’ Desi. Yakni, menurut dia, warga tersebut bisa memulai langkah dengan mendaftar via Emergency WhatsApp 0811400112 dan atau melalui kantor lurah dan puskesmas setempat. “Sambil melampirkan bukti PCR positif atau melakukan testing PCR baru dari Pemerintah Kota Makassar,” ujarnya, Senin (26/7/2021).

Aloq juga menjelaskan bahwa lokasi isoman yang unik itu diperuntukkan bagi pasien Covid- 19 yang bergejala ringan maupun tidak bergejala. Sedangkan bagi yang menunjukkan gejala berat, akan lebih diarahkan untuk mendapat penanganan di rumah sakit.

Bagaimana dengan daya tampung kapal yang digunakan untuk isoman apung terpadu itu? Dari informasi yang diberikan pihak setempat, kapal itu mampu menampung sebanyak 804 pasien Covid-19. Tak hanya itu, kapal juga dilengkapi oleh tenaga kesehatan. Ada sebanyak 64 tenaga kesehatan yang disiapkan oleh Pemerintah Kota Makassar.

Di kapal Umsini itu, para penderita corona dengan gejala ringan itu bisa menjalani isolasi dengan beragam fasilitas, termasuk sarana hiburan. Mereka juga mendapatkan kebutuhan dasar, seperti makan minum, dan suplemen.

Selain mendaftar dan melampirkan bukti keterpaparan Covid-19, mereka yang ingin mendapatkan fasilitas isolasi di Umsini diminta pula mengisi aplikasi MR Detektor via Play Store, dan menandatangani surat pernyataan “bersedia di isolasi”. Pendaftar isolasi mandiri secara terpadu di kapal itu juga harus mampu untuk beraktivitas secara mandiri selama berada dalam isolasi apung terpadu dan mau mentaati segala aturan yang ada di lokasi isolasi itu.

Isolasi mandiri, yang belakangan banyak dilakukan oleh masyarakat penderita Covid-19 di tengah lonjakan eksponensial kasus penularan dan keterbatasan bed occupancy ratio (BOR) di rumah-rumah sakit, memang menjadi salah satu cara yang perlu ditempuh demi memisahkan antara mereka yang sakit dan mereka yang sehat. Sehingga, laju penularan bisa ditekan.

Namun, isolasi yang dilakukan secara mandiri, dalam arti tanpa pengawasan dan pendampingan dari pihak medis nyatanya justru berpotensi mengatrol angka fatalitas. Sebut saja sebagaimana laporan koalisi warga Lapor Covid-19. Disebutkan dalam laporan itu, hingga 22 Juli 2021 ada sebanyak 2.313 pasien Covid-19 meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

Data analisa LaporCovid-19 Said Fariz Hibban, sebagaimana dikutip dari Kompas.com, menunjukkan bahwa DKI Jakarta sebagai daerah dengan angka tertinggi, yakni sekitar 1.214 kasus kematian pasien saat menjalani isolasi mandiri di rumah. Provinsi lain yang memiliki banyak kasus kematian pasien isoman, yakni Jawa Barat (245 kasus), Jawa Tengah (141 kasus), DI Yogyakarta (134 kasus), Jawa Timur (72 kasus), dan Banten (58 kasus).

Lantas apa yang perlu dilakukan untuk mencegah kematian pasien Covid-19 yang menjalani isoman? Adalah epidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengatakan, perlunya penguatan 3T dan perluasan visitasi untuk melihat penilaian risiko. Saat visitasi, petugas harus melihat kelayakan tempat isolasi mandiri, serta akses terhadap obat dan kebutuhan sehari-hari, selain menemukan kasus baru.

“Jika semua itu tidak memenuhi syarat, maka pasien tersebut sebaiknya dirujuk ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Dan untuk memudahkan visitasi, disarankan agar setiap daerah memiliki fasiltas isolasi mandiri yang tersentralisasi dan terpantaum,” tuturnya.

Diketahui, pada Jumat (30/7/2021), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, pertambahan kasus harian masih mencatatkan angka 41.168 kasus. Sementara itu, pasien sembuh bertambah 44.550 kasus.

Selain penambahan kasus positif dan sembuh, pemerintah menyampaikan soal fatalitas akibat Covid-19 yang masih bertambah signifikan yakni 1.759 kasus. Total kasus positif corona secara kumulatif sejak Maret 2020 hingga hari ini berjumlah 3.372.374 kasus dan pasien kasus sembuh secara kumulatif sebanyak 2.730.720. Sementara itu, hingga kini, tercatat pasien Covid-19 yang meninggal telah mencapai 92.311 orang.

 

Pemanfaatan Pulau

Sebagai negara maritim, tak hanya kapal-kapal laut yang dimanfaatkan dalam banyak upaya penanganan dampak Covid-19. Pemanfaatan pulau-pulau sebagai lokasi untuk men- treatment mereka yang terpapar Covid-19 juga pernah dilakukan pemerintah Indonesia. Sebut saja, pemanfaatan Pulau Sebaru Kecil yang berada di gugus Kepulauan Seribu, Jakarta, ketika virus corona mulai kedapatan merebak di sejumlah belahan negeri.

Kala itu, sebanyak 188 warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi kru kapal pesiar Dream World menjalani observasi di pulau tersebut karena hendak dipulangkan ke tempat asalnya di tanah air, menyusul penghentian operasional kapal itu akibat wabah virus corona. Menurut Achmad Yurianto yang ketika itu menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Sebaru Kecil dipilih karena adanya tempat yang memadai.

“Yang pasti di Sebaru Kecil sudah ada existing bangunan yang dibangun pada 2008 dan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebaru Kecil ini memang didesain untuk klinik rehabilitasi ketergantungan narkoba,” kata Yurianto, pada Selasa (25/2/2020).

Di tempat yang sempat tak berfungsi itu, Yurianto mengatakan, sebanyak 200 orang dapat ditampung di sana. Lokasi itu dilengkapi dengan fasilitasi dapur, ruang makan, hingga fasilitas penunjang lain termasuk air dan listrik.

Yurianto juga mengungkapkan, Pulau Sebaru Kecil dinilai ideal juga karena jauh dari pemukiman dan tidak ada masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi. “Kalaupun sehari-hari ada yang pindah, itu hanya nelayan di sekitar situ karena di sana ada sumber mata air yang bagus dan terkelola dengan baik,” kata dia.

Tak hanya itu, Pemerintah Indonesia tercatat juga juga pernah menggunakan Kabupaten Natuna, di Kepulauan Riau (Kepri), yang merupakan kepulauan paling utara di Selat Karimata, sebagai tempat observasi 245 orang WNI dari Hubei, Tiongkok. Natuna sendiri berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja di sebelah utara, di selatan dengan Sumatra Selatan dan Jambi, di bagian barat dengan Singapura, Malaysia, dan Riau. Lalu di bagian timur, dengan Malaysia Timur dan Kalimantan Barat.

Kendati ada 81.952 jiwa di Kabupaten Natuna sebesar, menurut Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam jumpa pers pelepasan tim penjemput WNI dari Tiongkok di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (1/2/2020), lokasi observasi para WNI yang selama ini berada di Wuhan itu dipastikan aman dan jauh dari permukiman.



Penulis: Ratna Nuraini
Redaktur: Elvira Inda Sari