ALUTSISTA
  KRI Golok 688 menjadi kapal perang TNI AL yang memiliki kemampuan sulit untuk dideteksi. DISPENAL TNI AL

KRI Golok 688 Mengusung Teknologi Siluman

  •   Kamis, 6 Oktober 2022 | 15:21 WIB
  •   Oleh : Administrator

Mengusung desain stealth, KRI Golok 688 dapat mengurangi tanda radar serta Infra-Merah. Kapal itu juga memiliki daya akustik dan magnetik rendah.

Pada medio awal 2022, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono meresmikan penggunaan KRI Golok-688. Tak hanya itu, turut diresmikan pula kapal perang rumah sakit ketiga yang dimiliki TNI-AL, yakni KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991. 

KSAL juga melantik alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan 45, Kolonel Laut (P) Anton Pratomo sebagai Komandan KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 dan Letkol Laut (P) Primayantha Alumni AAL angkatan 48, sebagai Komandan KRI Golok-688. Prosesi itu dilakukan di Dermaga Ujung Madura Koarmada II, Surabaya.

Setelah itu, KRI Golok-688 ditempatkan di Tanjung Uban untuk memperkuat Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmada I. Kapal yang termasuk dalam jenis kapal cepat rudal (KCR) trimaran itu menjadi manifestasi penting dari pemenuhan kebutuhan alutsista TNI-AL. Betapa tidak. Kapal itu merupakan produk kapal pertama yang terbuat dari bahan composite yang memiliki keunggulan kekuatan spesifik yang tinggi, lebih ringan, serta mempunyai ketahanan lelah dan ketahanan korosi yang sangat baik.

Dengan bahan serupa itu, KRI Golok-688 menjadi salah satu kapal siluman yang tidak mudah dideteksi oleh musuh. Itu pulalah sebabnya, KRI Golok-688 dijadikan sebagai desain pengembangan prototipe kapal trimaran.

Pembangunan kapal KCR trimaran sendiri memiliki makna strategis. Di mana diharapkan, upaya itu bisa mengurangi ketergantungan terhadap asing terkait pengadaan alutsista TNI di masa mendatang.

KRI Golok-688 memiliki spesifikasi panjang seluruhnya (Loa) 62,53 meter, lebar 16 meter, dan tinggi kapal dari draft 18,7 meter dengan bobot 53,1 ton. Kecepatan maksimum kapal tersebut adalah 28 knots, kecepatan jelajah 16 knots, dan dipersenjatai meriam 30 mm serta senapan 12,7 mm.

Untuk daya tampungnya, KRI Golok-688 tersebut dapat mengangkut 25 anak buah kapal (ABK). Pada sebuah kesempatan, KSAL Yudo menyebut bahwa nama KRI tersebut memiliki makna filosofis yakni agar dapat dipakai untuk melaksanakan setiap tugas operasi yang diberikan.

Dengan kecepatan yang tinggi dan daya hancurnya yang besar, KSAL Yudo juga menambahkan, KRI Golok-688 diharapkan akan mampu melaksanakan taktik kapal cepat rudal, yaitu hit and run.

 

Kedua di Dunia

Keberadaan KRI Golok-688 telah menjadikan Indonesia sebagai negara kedua di dunia yang mampu memproduksi kapal siluman trimaran, yang berbahan composite. PT Lundin Industry Invest (PT LII), selaku produsen KRI Golok-688, merupakan perusahaan yang bergerak di perangkat sistem senjata (alutsista) swasta di Indonesia.

Perusahaan yang dimiliki oleh dua orang berkebangsaan Swedia, yakni John Lundin dan Lizza Lundin itu sudah berkecimpung dalam bisnis dalam industri boats di Indonesia sejak 2003. Sedikitnya, 250 boats bahkan telah diproduksi PT LII untuk kepentingan industri militer.

PT LII juga sudah mengantongi berbagai macam sertifikat. Untuk ekspor, PT LII sudah mendapatkan CE Export Certification. Tidak hanya itu, PT LII juga sudah mendapatkan ISO 9001-2015.

Untuk di dalam negeri, PT LII sudah mengantungi izin dari Kementerian Pertahanan dalam bentuk Surat Ketetapan Industri Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Surat Izin Industri Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Dari bea cukai sendiri, PT LII mendapat Grade A Bea Cukai. Sedangkan untuk pasar internasional, PT LII sudah mengantongi beberapa sertifikat, seperti International Marince Certification Institute dan Lloyd Register Certified ISO 9001.

"Pembangunan kapal jenis KCR trimaran merupakan manifestasi penting dari pemenuhan kebutuhan alat utama sistem senjata TNI-Angkatan Laut, sesuai dengan perencanaan strategis yang telah ada. Termasuk, luasnya wilayah perairan Indonesia yang perlu dijaga," ujar KSAL Yudo Margono.

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari