Indonesia.go.id - Meneladani Prinsip Hidup Proklamator Bung Hatta

Meneladani Prinsip Hidup Proklamator Bung Hatta

  • Administrator
  • Sabtu, 19 Agustus 2023 | 13:13 WIB
  • 0
PAHLAWAN
  Mohammad Hatta, pemikir yang tak nyaman dengan kehidupan mapan. ANRI
Proklamator Mohammad Hatta terus melakoni hidup yang jauh dari kemewahan sampai akhir hayatnya. Jurnalis senior mendiang Rosihan Anwar bahkan melukiskan Sang Proklamator dengan kalimat yang indah. Baginya, buah pemikiran Hatta berkait erat dengan pribadinya sebagai muslim taat yang diizinkan secara syariat untuk beristri empat.

Bapak Proklamator Mohammad Hatta banyak memberikan inspirasi bagi kehidupan bangsa Indonesia. Bersama Soekarno, Bung Hatta menjadi perwujudan sempurna pahlawan bangsa, baik secara pribadi atau sebagai pejabat.

Kesederhanaannya dalam menjalani kehidupan adalah salah satu ciri khas paling diingat dari sosok Bung Hatta, demikian ia lebih sering disapa. Padahal ia dilahirkan dari keluarga berada dan mapan di masanya. Para paman dari sang ibu yang bernama Siti Saleha diketahui merupakan saudagar-saudagar besar di Batavia.

Sikap sederhana itu ia dapatkan dari kondisi kemiskinan parah yang dialami bangsanya sejak dijajah Belanda. Pilihan hidup sederhana itu tentu memiliki konsekuensi dan tidak membuatnya goyah sedikit pun. Ia tak pernah bergeming dengan gemerlap kemewahan masa itu yang tentu saja dapat dengan mudah ia bisa rasakan.

Tak nyaman pada kehidupan mapan, pria bernama lahir Mohammad Athar itu justru tetap bertahan di dalam kesederhanaan. Pandangan dan pemikirannya semakin kritis ketika berkesempatan menimba ilmu ke Belanda. Ia menyaksikan di negara Kincir Angin itu, rakyatnya hidup berkelebihan dari hasil menguras kekayaan bangsa Indonesia.

Tekadnya pun kuat, ingin sesegera mungkin memerdekakan Indonesia. Dalam Mohammad Hatta: Memoir yang diterbitkan pada tahun 2002, dikisahkan bahwa didikan kedua orang tua menempanya untuk terus peka dengan kondisi sekitar. Ia meyakini, jika berbuat sesuatu dilandasi keikhlasan dan karena Tuhan, maka segalanya bisa terjadi. Ia meyakini, setiap kebenaran itu dapat dijadikan pegangan hidup dan ia telah memilih jalan kesederhanaan. Usai menamatkan pendidikan di Belanda, ia kembali ke tanah air dan lagi-lagi tetap melanjutkan gaya hidup sederhana.

Ia bisa saja bekerja di tempat yang memberikannya upah sangat layak karena gelar sarjana ekonomi yang disandang. Tetapi seperti sudah dapat ditebak, ia lebih memilih untuk berada di jalur perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan.

Setiap perjuangan tentu saja ada risikonya, begitulah Bung Hatta mengalaminya. Ia sudah kenyang dengan pengalaman diasingkan oleh Belanda dari satu pulau ke pulau lain demi keinginan besarnya untuk menyaksikan Indonesia merdeka. Begitu seringnya ia diasingkan oleh Belanda justru tidak melunturkan hasratnya untuk bertahan dalam kesederhanaan.

Sebaliknya, dengan semakin sering ia dipentalkan jauh dari pusat pergerakan makin membuatnya dekat dengan masyarakat di sekitar rumah pengasingan. Ia makin meresapi penderitaan rakyat dan makin meruncingkan keinginan untuk mengakhiri kolonialiasme yang jelas-jelas tak berpihak kepada rakyat Indonesia. Bung Hatta bahkan bertekad tidak akan menikah sebelum Indonesia bisa merdeka.

Jurnalis senior mendiang Rosihan Anwar bahkan melukiskan Sang Proklamator dengan kalimat yang indah. Baginya, buah pemikiran Hatta berkait erat dengan pribadinya sebagai muslim taat yang diizinkan secara syariat untuk beristri empat. "Adapun keempat istri Hatta itu pertama adalah Indonesia, kedua bangsa, ketiga pekerjaannya, dan keempat adalah Ibu Rahmi Hatta," tulis Rosihan di buku Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 5.

Tekad unik Bung Hatta pun sempat menjadi bahan kelakar sahabatnya, Bung Karno yang menceritakan kepada jurnalis New York Post, Cindy Adams dan dituangkan di dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Soekarno melukiskan Hatta sebagai sosok pemalu saat bertemu dengan seorang gadis. "Hatta dan aku tak pernah berada dalam getaran gelombang yang sama. Ia tak pernah menari, tertawa atau sekadar menikmati kehidupan ini. Jejaka Hatta adalah pemuda pemerah muka bila berjumpa seorang perempuan," ucap Soekarno.

Kesederhanaan Hatta tak juga luntur meski ia adalah Wakil Presiden. Seperti diungkapkan mantan sekretaris pribadinya bernama I Wangsa Widjaja, Hatta paling anti untuk mengambil uang yang bukan haknya. Buktinya, meski di setiap bulan selalu ada sisa dana dari anggaran rutin rumah tangga wakil presiden, namun ia selalu meminta Wangsa Widjaja untuk mengembalikannya kepada kas negara.

Bung Hatta selalu menampik setiap pemberian amplop dari pejabat-pejabat di daerah yang ia kunjungi. Alasannya sangat sederhana, karena seluruh biaya perjalanan dan hotel menginapnya sudah ditanggung oleh negara. Sikap hidup apa adanya dan selalu sederhana terus ia lakoni meski telah pensiun sebagai orang nomor dua di Indonesia. Uang pensiun yang diterima rupanya tak cukup untuk membayar tagihan-tagihan seperti air bersih, telepon, listrik, dan iuran rehabilitasi daerah (ireda).

Ia kemudian putar otak dan memutuskan untuk mulai menulis serta mengajar supaya dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membayar tagihan-tagihan rutin rumah. Beruntung, Ali Sadikin yang menjadi gubernur Jakarta turun tangan dan membebaskan seluruh beban Bung Hatta dan dipindahkan menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Kepada Ramadhan KH, Ali Sadikin mengaku tak kuat melihat penderitaan Bung Hatta dan dirinya merasa malu karena belum bisa berbuat banyak demi membantu Bapak Proklamator. Demikian dituturkannya di dalam buku Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977.

Soeharto yang menggantikan Soekarno pun sampai berujar bahwa bangsa ini harus berterima kasih dan berguru kepada Bung Hatta yang konsisten hidup sederhana. Bahkan dalam sebuah kesempatan, Hatta pernah berpesan kepada Soeharto supaya dirinya tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Hal tersebut turut ia sampaikan dalam surat wasiat yang dituliskan pada 1975.

Isi pesannya sederhana dan menyentuh bahwa ia akan merasa nyaman bila dimakamkan di pemakaman umum supaya dirinya selalu dekat dengan rakyat yang selama ini diperjuangkannya. Surat itu ia tulis tepat lima tahun sebelum dirinya berpulang pada 14 Maret 1980. Kini, buah perjuangan Proklamator Soekarno-Hatta serta pejuang-pejuang nasional lainnya telah kita nikmati hasilnya dan diperingati tiap 17 Agustus. Tugas kita untuk menjaga dan merawatnya. Dirgahayu Indonesiaku!

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari