COVID-19
  Penumpang pesawat internasional antre melakukan pemeriksaan kesehatan setibanya di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (7/1/2022). ANTARA FOTO

Badai Pandemi Omicron Bisa Melandai setelah 33 Hari

  •   Kamis, 13 Januari 2022 | 14:49 WIB
  •   Oleh : Administrator

Insidensi serangan Omicron masih didominasi kasus impor. Ledakan Omicron di Afrika Selatan pun polanya melandai setelah 33 hari. Di Indonesia, Omicron belum mengakibatkan kasus berat.

Pandemi menggeliat lagi. Pemerintah mengingatkan setidaknya ada tiga indikator yang menunjukkan gerak peningkatannya, yakni penambahan kasus positif aktif Covid-19, positivity rate yang meninggi, dan angka bed occupancy ratio (BOR) atau keterisian tempat tidur isolasi di RS rujukan yang makin besar. Menko bidang Marinves Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan, grafik naik itu tidak lepas dari gelombang serbuan varian Omicron yang kini melanda di  seluruh dunia.

“Pencegahan Omicron tentunya tak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah. Harus juga melibatkan peran serta masyarakat, mulai dari penegakan protokol kesehatan yang mana kita tak boleh jenuh, hingga ke penggunaan aplikasi PeduliLindungi dengan lebih baik,’’ ucap Menko Kemaritiman dan Investasi (Marinves) Luhut Binsar Pandjaitan, dalam keterangan di Kantor Presiden, Jakarta, pada Senin, 10 Januari 2022, seusai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin sempat merinci, kasus positif harian Covid-19 meningkat ke level 404 kasus per hari. Padahal, dua pekan sebelumnya, kasus harian sempat turun ke level 136. Kasus aktif Covid-19 per Senin 10 Januari 2022 mencapai  6.311, meningkat dari 4.655 orang per 26 Desember 2021.

Angka positivity rate (proporsi orang yang terdeteksi positif dari keseluruhan orang yang menjalani tes) juga meningkat dua minggu terakhir, dari 0,07% menjadi 0,19%.  Angka BOR pun merangkak naik 3,35% dibandingkan dua minggu sebelumnya yang 1,38%.

Per 8 Januari 2022, kasus varian Omicron mencapai 414 dengan penambahan 75 kasus baru di hari tersebut. Dari 414 kasus Omicron, 383 adalah kasus yang ditemukan dari pelaku perjalanan luar negeri (LN) yang tiba di Indonesia, dan hanya ada 31 kasus dari transmisi lokal. Positivity rate pada pelaku perjalanan LN adalah 13 persen, sedangkan di kalangan komunitas hanya 0,2 persen.

‘’Dari sisi surveilans, itu memperkuat hipotesa kami bahwa sebagian besar kasus positif tersebut disebabkan oleh pelaku perjalanan luar negeri,’’ ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Dari aspek arus mobilitas, Menkes mencatat, kasus Omicron terbesar di Indonesia dikontribusikan oleh pelaku perjalanan dari Arab Saudi, Turki, Amerika Serikat,  dan Uni Emirat Arab. ‘’Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk menunda perjalanan ke luar negeri sampai situasinya mereda,’’ ujar Menkes Budi Gunadi. Varian Omicron sendiri telah terdeteksi di Indonesia sejak 15 Desember 2021.

Pada sisi lain, Menteri Kesehatan memberikan catatan yang lebih membesarkan hati. Omicron tak menunjukkan perangai yang ganas. Dari 414 pasien Omicron, hanya dua orang yang harus dirawat dengan bantuan oksigen. Satu berusia 58 tahun dan yang lain 47 tahun. Keduanya komorbid. Tapi, keduanya telah sembuh dan dinyatakan bebas dari Covid-19 bersama 112 orang yang lain. Jadi, 26 persen pasien Omicron di Indonesia sudah sembuh tanpa memberi catatan kasus keparahan yang berat dan tanpa kasus kematian.

‘’Jadi kesimpulannya, memang Omicron ini cepat dari segi transmisinya, namun relatif lebih ringan dari sisi severity atau keparahannya,’’ ujar Menkes Budi Gunadi.

Kesimpulan Menkes Budi Gunadi itu seperti mengonfirmasikan laporan dari Afrika Selatan, negara asal Omicron dan Inggris negara yang mengalami lonjakan Covid-19 sangat tinggi akibat Omicron. Di Afrika  Selatan, dalam tiga pekan pertama gelombang Omicron, hanya 1,9 persen korban infeksi yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Durasi perawatan di rumah sakit pun rata-rata hanya empat hari.

Situasi tersebut, menurut siaran pers dari Kementerian Kesehatan Afsel, lebih ringan dibandingkan gelombang serangan varian Delta. Pada tiga pekan pertama serangan Delta, 19 persen dari jumlah kasus positif Covid-19, harus dirawat di rumah sakit. Rata-rata durasi perawatannya 8,8 hari. Pada era Delta, usia rata-rata penderita Covid-19 adalah 50 tahun, sedangkan pada Omicron usia 39 tahun.

Inggris sebagai negara Eropa yang pertama terjangkiti Omicron masih kalang kabut oleh cepatnya laju penularan varian baru itu. Pada 4 Januari 2022, Inggris mencetak rekor kasus harian yang menyentuh angka 218 ribu. Namun di tengah serbuan varian Omicron, risiko pasien Covid-19 Inggris untuk dirawat di rumah sakit tercatat 70 persen lebih rendah dibandingkan pengidap varian Delta. Risiko mereka masuk ruang ICU juga 70 persen lebih rendah ketimbang pasien varian Delta.

Secara nasional, kasus harian di Inggris menurun setelah mencapai puncak pada 4 Januari 2022. Di London, grafik kasus harian sudah melandai beberapa hari sebelumnya. Dewan Riset Medis dari Afsel pun mencatat, berdasarkan pemantauannya di sejumlah provinsi di negara di tanduk benua itu bahwa ledakan Omicron cenderung melandai setelah 33 hari.

Maka, diharapkan dalam beberapa hari ke depan, badai Omicron juga akan melandai di Inggris dan akan diikuti beberapa negara Eropa lainnya yang sedang memasuki masa puncaknya, seperti Jerman, Prancis, Belanda, atau Belgia. Namun, seiring dengan penetrasinya ke 150 negara, tren lonjakan itu kini berlangsung di Amerika, Australia, serta negara-negara Asia seperti India, Filipina, dan Jepang.

Pemerintah Indonesia tak mau mengambil risiko dengan Omicron. Salah satu langkah pencegahan penularannya ialah terus menjaga ketat pintu-pintu gerbang masuk ke Indonesia, baik melalui jalur udara, laut, maupun darat, dari para pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).  Ledakan kasus Covid-19, di sebagian besar negara, selalu dari imported case yang tak terpantau.

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari