ENERGI
  Proyek lapangan gas unitisasi Jambaran-Tiung Biru. Proyek ini ditargetkan on stream pada kuartal II/2021. PERTAMINA

Jambaran Tiung Biru, Pusat Energi di Pulau Jawa

  •   Kamis, 11 Agustus 2022 | 20:11 WIB
  •   Oleh : Administrator

Proyek JTB diproyeksikan menjadi sumber energi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri, serta kelistrikan, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Persiapan gas in (penyaluran gas pertama kali) proyek strategis nasional Jambaran Tiung Biru (JTB) pada Juli 2022 sudah memasuki tahap akhir. Kini, semua peralatan atau instalasi migas di Proyek JTB telah terpasang di lapangan. Tapi, masih ada aspek keselamatan migas yang perlu dipastikan lagi.

JTB adalah proyek  strategis nasional. Proyek JTB itu akan menyokong suplai gas untuk industri di Jawa agar dapat berjalan dengan baik. Proyek JTB diproyeksikan menjadi sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan industri, serta kelistrikan, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

JTB dapat memproduksi raw gas sebesar 315 MMSCFD dan kondensat 2700 bcpd. Selain itu, masih ada potensi tambahan produksi hingga 20 MMSCFD, sehingga terdapat peningkatan produksi penjualan sales gas dari 172 MMSCFD menjadi 192 MMSCFD.

Proyek gas JTB dioperatori PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina. Proyek itu dijadwalkan mulai on stream pada pertengahan tahun ini. Proyek ini memiliki peran strategis karena energi yang akan dihasilkan dari Proyek Pengembangan Lapangan Unitisasi Gas Jambaran Tiung Biru (JTB) berpotensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.

Oleh sebab itu, keberhasilan proyek yang memasuki fase penyelesaian ini ditunggu oleh berbagai pihak, termasuk oleh Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) bentukan Presiden Joko Widodo. Proyek Pengembangan Lapangan Unitisasi Gas JTB merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) sektor energi yang termasuk dalam daftar Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional yang ditetapkan Presiden Jokowi melalui Perpres nomor 109 tahun 2020. KPPIP yang ditugaskan untuk mengawal pelaksanaan PSN terus memantau dan mendorong penyelesaian proyek agar dapat rampung dan bermanfaat untuk kepentingan nasional.

"Untuk gas in masih ada sedikit yang perlu diperbaiki, dipastikan safety-nya. Kita tunggu beberapa hari lagi ini dan semoga bisa diselesaikan masalah tersebut untuk kemudian gas in dilakukan," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji dalam kunjungan kerja ke Proyek Jambaran Tiung Biru di Bojonegoro, Jawa Timur, pada 13 Juli 2022.

Gas in merupakan tahap awal pembuktian bahwa equipment dan instalasi terintegrasi dengan baik, serta pelaksanaannya yang tetap memperhatikan keselamatan migas. Setelah gas in berjalan lancar, tahap berikutnya adalah gas on stream.

"Kita mengapresiasi setinggi-tingginya PT Pertamina dan PT Pertamina Cepu. Kita akan terus bekerja sama untuk bisa melaksanakan gas in berjalan dengan baik dan selanjutnya pengiriman gas dari JTB ke industri dan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan," ujar Tutuka.

Pengembangan Lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) diharapkan akan menjadi salah satu calon penghasil gas terbesar di Indonesia dengan perkiraan rampung sesuai jadwal pada Q4 2021. Produksi gas JTB akan mencapai 192 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) yang 100 MMSCFD-nya telah dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan gas pembangkit listrik PT PLN.

Proyek gas dengan nilai Capex USD1,5 miliar ini ke depan akan memasok ketersediaan gas di Pulau Jawa yang cukup besar. Deputi Bidang Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Montty Girianna, yang diwakili oleh Asisten Deputi Migas, Pertambangan, dan Petrokimia Andi Novianto, mengatakan bahwa proyek ini secara ekonomi akan memberi manfaat yang besar, khususnya di Provinsi Jawa Timur.

Pasalnya, alokasi gas JTB nantinya akan menyuplai kebutuhan listrik, industri terutama pupuk, serta industri lainnya seperti keramik dan petrokimia. “Proyek JTB sebagai PSN dengan CAPEX mencapai USD1,5 miliar ini akan memberikan ketersediaan gas di Pulau Jawa yang sangat besar sehingga dapat meningkatkan peningkatan perekonomian baik secara regional maupun nasional, terutama terhadap masyarakat dan dunia usaha,” kata Andi ketika melakukan kunjungan kerja ke JTB di Desa Bandungrejo, Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (11/6/2022).

Pemerintah terus memonitor dan mendorong agar proyek yang dioperatori PT Pertamina EP Cepu (PEPC) ini dapat segera dilakukan commissioning dan selanjutnya beroperasi penuh, dengan tetap mengedepankan keselamatan migas. Proyek JTB juga menghadapi beberapa tantangan di masa pandemi yang telah berjalan lebih dari setahun ini.

Namun demikian Tim PEPC telah menguatkan barisan agar proyek JTB dapat segera on stream akhir tahun ini demi mewujudkan pemenuhan kebutuhan energi nasional. Selain membangun proyek JTB dalam memproduksi gas dari lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru, pemerintah juga membangun fasilitas Pipa Gas Gresik-Semarang (GreSem).

Pipa Gas GreSem merupakan pipa yang dibangun oleh Pertagas sepanjang 272 km dengan diameter 28'' dan bersifat open access dengan kapasitas alir 400 MMSCFD. Pipa gas itu mendukung fleksibilitas gas sebagai bahan bakar pembangkit listrik yang terkoneksi di Pulau Jawa serta sebagai penghubung infrastruktur gas dari barat ke timur Pulau Jawa sehingga menjadi “energy hub” bagi sektor industri. Alhasil, itu dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di Jawa dan mendistribusikan gas secara merata.

Rata-rata transportasi gas Pipa GreSem pada tahun 2020 mencapai 268,48 MMSCFD dengan industri pupuk sebagai pengguna terbesar (44%), diikuti pembangkit listrik (26%), dan industri lainnya serta jaringan gas untuk konsumen rumah tangga. Pipa-pipa GreSem dengan nilai CAPEX USD271,5 juta yang telah selesai dibangun seluruhnya mempunyai sumber gas utama dari JTB, Blok Cepu, Alas Tua, dan West Alas Tua. PT Pertagas menyatakan telah siap untuk segera menyalurkan gas dari JTB.

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari