TRANSISI ENERGI
  Bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan rangkaian uji kelayakan B40 yang merupakan bahan bakar campuran 40 persen Biodiesel pada Solar untuk kendaraan bermesin diesel. ESDM

B40 Siap Mengaspal

  •   Senin, 28 November 2022 | 15:36 WIB
  •   Oleh : Administrator

Kementerian ESDM sudah melakukan pengujian B40 di daerah bersuhu dingin, seperti di Lembang dan Dieng.

Program biodiesel 40 persen (B40) sudah berada di depan mata. Pengujian penggunaan B40 yang melibatkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Lembaga Minyak dan Gas Bumi  (Lemigas) sudah mendekati tuntas.

Pasalnya, sejumlah kendaraan yang menggunakan bahan bakar B40 maupun B30D10 sudah selesai menjalani pengujian jalan, sejauh 50.000 km. Kini kendaraan uji coba itu tengah dilakukan overhaul dan rating kendaraan.

Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM pun menargetkan laporan teknis pengujian B40 dan B30D10 tuntas pada Desember 2022. Setelah dilepas secara langsung oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 27 Juli 2022, tes uji jalan B40 dan B30D10 sudah dilaksanakan melalui beberapa rangkaian tes dan uji.

Sebagaimana diketahui, formulasi bahan bakar yang digunakan dalam Road Test B40 adalah B30D10 dengan formula campuran 30 persen Biodiesel + 10 persen Diesel Nabati/Diesel Biohidrokarbon/ HVO (D100) + 60 persen Solar (B0) dan B40 dengan formula campuran 40 persen Biodiesel + 60 persen Solar (B0).

Kendaraan uji menggunakan tiga merek kendaraan bermesin diesel <3,5 ton masing-masing 2 unit, serta 3 merek kendaraan bermesin diesel >3,5 ton masing-masing 2 unit dengan jarak tempuh uji jalan sejauh 50.000 km untuk kendaraan uji < 3,5 ton dan 40.000 km untuk kendaraan uji > 3,5 ton.

“Bahkan, kami juga sudah melakukan pengujian ke daerah dingin, seperti di Lembang. Ada juga pengujian di Dieng," Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Edi Wibowo D, di acara paparan Hasil Kegiatan Rating dan Overhaul Kendaraan Uji Road Test B40 di Kantor Lemigas Jakarta, Senin (21/11/2022).

Bagaimana hasil dari uji coba B40 itu? Seperti disampaikan Cahyo Setyo Wibowo Ketua Tim Peneliti Uji Jalan B40 dari Lemigas, setelah dilakukan overhaul, peninjauan semua hasil pengujian bahan bakar B40 dan B30D10 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap komponen mesin kendaraan uji P1 dan tidak berdampak negatif pada performa kendaraan uji sampai dengan uji jalan 50.000 km.

"Tidak ditemukan keausan komponen mesin yang terindentifikasi pada kendaraan uji P1 yang menggunakan bahan bakar B40 dan B30D10 setelah uji jalan sampai dengan 50.000 km. Hasil pengukuran komponen mesin seperti ring gap, side ring clearence, dan cylender bore liner secara keseluruhan memenuhi spesifikasi limit batasan maksimum sesuai dengan buku manual mesin pabrikan," ujar Cahyo.

Cahyo menambahkan, penilaian secara visual, scratch yang terjadi pada skirt piston mesin kendaraan uji P1 bahan bakar B40 dan B30D10 dianggap sebagai hal yang normal dalam proses pembakaran di ruang bakar mesin dan scratch tersebut bukan disebabkan oleh bahan bakar.

Adanya kabar itu tentu menjadi angin segar bagi Indonesia yang kini tengah gencar melakukan transisi energi sesuai semangat yang dibawa negara ini dalam forum G20 yang belum lama ini diselenggarakan di Nusa Dua Bali. Indonesia kini terus berupaya memenuhi komitmen penggunaan energi hijau. Salah satunya, diwujudkan dengan pengembangan green diesel atau D100 sebagai bahan campuran bahan bakar nabati biodiesel atau mandatory biodiesel 40 persen.

BBN B40 merupakan bahan bakar nabati yang merupakan campuran antara komoditas kelapa sawit (CPO) dan solar dengan komposisi masing-masing 40 dan 60. Tak dipungkiri, komoditas CPO salah satu produk andalan ekspor Indonesia. Oleh karena itu, program mandatori B40 seringkali terganggu dengan kebutuhan untuk memenuhi kepentingan ekspor meskipun kinerja komoditas CPO kini pertumbuhannya sedang melambat.

Ini sesuai laporan Badan Pusat Statistik pada pertengahan bulan lalu yang menyebutkan pertumbuhan ekspor secara tahunan mengalami perlambatan pada Oktober 2022 dibandingkan September 2022 yang mencapai 20,3 persen. Ini dipicu penurunan harga komoditas andalan ekspor, seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebesar 2,24 persen secara bulanan.

Terlepas dari kinerja komoditas CPO yang masih menjanjikan di tingkat pasar global, Indonesia tidak bisa terus terlena dengan situasi tersebut. Negara ini harus segera melangkah untuk mengamankan ketahanan energinya.

Indonesia mau tidak mau harus memiliki tekad yang kuat untuk energi hijau, salah satunya dengan mengembangkan green diesel atau D100 sebagai bahan campuran untuk program bahan bakar nabati biodiesel. Pasalnya, D100 tersebut mempunyai sifat yang sama seperti minyak Solar.

Kementerian ESDM berharap pengembangan D100 dapat mendukung penerapan program mandatori biodiesel 40 persen. Apalagi perusahaan migas pelat merah, yakni Pertamina juga telah berhasil melakukan uji coba produksi green diesel (D100).

Sebelumnya, Pertamina memiliki target produksi green diesel (D100) hingga mencapai 100.000 barel per hari (bph). Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, pihaknya akan mengoptimalkan beberapa kilang perseroan yang ada saat ini untuk merealisasikan target tersebut.

BUMN migas itu mengakui diperlukan investasi tambahan agar bisa mencapai target tersebut. Beberapa kilang yang akan dimodifikasi beberapa unitnya untuk mengolah green diesel, antara lain, Kilang Plaju (Sumatra Selatan), Kilang Cilacap (Jawa Tengah), Kilang Dumai (Riau), dan juga Kilang Balikpapan (Kalimantan Timur).

Kementerian ESDM optimistis, penerapan proyek B35 maupun B40 dapat mendorong serapan biodiesel naik 6,4 persen menjadi 10,8 juta kl di tahun ini. Menurut data Kementerian ESDM, serapan biodiesel hingga Juni 2022 telah mencapai 4,9 juta kilo liter (kl), setara 49 persen dari target akhir tahun, yakni 10,15 juta kl.

Serapan biodiesel diprediksi bisa melebihi target akhir tahun, apalagi juga diikuti dengan penerapan penggunaan B35 maupun B40 di pasar secara resmi oleh pemerintah.

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari