Indonesia.go.id - BBM Alternatif itu Bernama E20

BBM Alternatif itu Bernama E20

  • Administrator
  • Sabtu, 24 Desember 2022 | 16:21 WIB
ENERGI BERSIH
  Presiden Joko Widodo meninjau rencana pengembangan tebu sebagai bioetanol  di PT Energi Agro Nusantara (Enero), Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. ESDM
Program bioetanol tebu diharapkan bisa mengerek produksi bioetanol nasional menjadi 1,2 juta kilo liter di 2030.

Indonesia kini tengah gencar mengembangkan energi bersih berbasis energi baru dan terbarukan untuk menggantikan bahan bakar berbasis fosil. Hal itu dilakukan demi memperkuat ketahanan energi di dalam negeri.

Sejumlah cara dilakukan untuk memperoleh produk yang nantinya mampu menggantikan peran bahan bakar minyak (BBM). Beberapa program untuk konversi itu, antara lain, program biodiesel-35 (B-35) dan bioethanol, yang semula 5 persen (E5) hingga E20.

Bukti keseriusan pemerintah untuk menjadikan bioethanol berbasis tebu sebagai salah satu opsi konversi BBM beberapa kali dikemukakan Presiden Joko Widodo. Salah satunya saat menjalani kunjungan kerja ke pabrik bioetanol PT Energi Agro Nusantara, di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada Jumat (4/11/2022). Kala itu Kepala Negara menyampaikan harapan, program bioetanol tebu untuk ketahanan energi dapat berjalan sesuai rencana.

Program tersebut menargetkan peningkatan bioetanol dari 5 persen (E5) pada bahan bakar minyak (BBM), menjadi E10, E20, dan seterusnya. Kalau tebu berhasil, B30 sawit bisa ditingkatkan lagi, untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Sebagai informasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Lemigas sebenarnya telah lebih maju lagi dalam melakukan bauran energi biosolar dari sawit. Tidak lagi B30, tapi sudah ke merambah ke B40.

Bahkan, Kementerian ESDM dan Lemigas telah melakukan uji coba sejumlah kendaraan menggunakan bahan bakar B40 maupun B30D10, dan uji coba itu sudah menjalani pengujian jalan sejauh 50.000 km. Kini kendaraan uji coba itu tengah dilakukan overhaul dan rating kendaraan.

Berkaitan dengan program bioetanol tebu, Presiden Jokowi meminta program bioetanol tebu untuk ketahanan energi diproyeksikan dapat menjadi solusi peningkatan jumlah produksi bioetanol nasional dari 40.000 kiloliter (kl) pada 2022 menjadi 1,2 juta kl pada 2030. Berkaca dari sebuah studi yang dilakukan di Brazil, diketahui bahwa energi yang dihasilkan dari 1 ton tebu setara dengan 1,2 barrel minyak mentah.

"Kalau tebu ini berhasil, kemudian biodiesel 30 persen (B30) sawit itu bisa ditingkatkan lagi. Ini akan memperkuat ketahanan energi negara kita, Indonesia," ujar Jokowi dalam siaran pers, Sabtu (5/11/2022).

Diketahui, Indonesia terus menggenjot upaya pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk mengurangi impor BBM. Hal itu dilakukan setelah program pencampuran bahan bakar nabati B30 berhasil diterapkan.

Presiden Jokowi mengaku, pemerintah saat ini sedang menyusun rancangan peraturan presiden (perpres) tentang percepatan swasembada gula nasional dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar (biofuel).

“Produk bioetanol merupakan salah satu produk turunan yang dihasilkan dari industri gula berbasis bahan baku tebu,” imbuhnya.

Presiden Jokowi menjelaskan bahwa Indonesia pernah menjadi eksportir gula pada 1800-an. Namun, kata dia, Indonesia kini harus mengimpor gula dengan jumlah yang sangat besar, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun industri dalam negeri.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi menginstruksikan agar Kementerian Badan Usaha Milik Negara (Kementerian BUMN) meningkatkan kualitas bibit tebu dengan varietas terbaik di dunia. “Untuk mencapai target mandiri dalam ketahanan pangan termasuk tidak lagi mengimpor gula dari negara lain. Saya meminta para petani dan pabrik gula di tanah air bekerja sama dengan baik,” imbuhnya.

Selain soal petani, Presiden Jokoi menilai, perlu juga ada pembaruan mesin yang ada di pabrik gula. Mesin tersebut perlu diganti dengan perkakas lebih modern dan menggunakan teknologi terkini. "Jika kami bisa menyiapkan 700.000 hektare (ha), kami (Indonesia) bisa mandiri. Kami akan swasembada gula dalam lima tahun ke depan dan sekarang kita baru 180.000 ha," ujarnya.

Pada kesempatan sama, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan bahwa potensi hilirisasi bioetanol berbasis tebu membuka peluang dalam menciptakan ketahanan energi dan menciptakan bauran energi baru terbarukan yang ramah lingkungan. Hal tersebut, kata dia, bisa dilakukan melalui pengurangan ketergantungan impor BBM nasional.

Pada 2021, Tim Studi Bioetanol Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan kajian pencampuran etanol 5 persen ke dalam Pertalite (RON 90) menjadi kualitas sama dengan Pertamax (RON 92). Bahkan, Kementerian ESDM bersama tim riset ITB dengan didukung oleh US Grains Council (USGC) telah berhasil menyusun Peta Jalan Strategis untuk Percepatan Implementasi Bioetanol di Indonesia.

Kajian peta jalan yang mulai disusun sejak 2021 itu dilakukan untuk mendukung program implementasi penggunaan bioetanol pada bahan bakar untuk kendaraan bermotor dan mempersiapkan industri bioetanol di Indonesia. Sebagaimana diketahui, pada 4 November 2022 lalu, Presiden Jokowi telah meluncurkan program bioetanol, campuran etanol berbasis tebu untuk BBM berjenis bensin.

Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Edi Wibowo mengungkapkan, saat ini total produksi bioetanol fuel grade baru mencapai 40.000 KL per tahun, atau jauh di bawah kebutuhan 696.000 KL per tahun untuk pengimplementasian tahap awal di daerah Jawa Timur dan Jakarta. "Pasokan yang tersedia dari PT Enero dan PT Molindo sebagai produsen bioetanol fuel grade baru dapat memasok sekitar 5.7 persen saja kebutuhan Jawa Timur dan Jakarta. Artinya dari sisi suplai harus ditingkatkan," ujar Edi.

Pencampuran bioetanol sejatinya telah diujicobakan dengan kandungan 2 persen (E2) di Jawa Timur pada 2018. Namun, hasilnya menunjukkan harga BBM campuran bioetanol masih sedikit di atas harga BBM non-PSO. Hanya saja, dengan meningkatnya harga BBM dan pentingnya upaya peningkatan ketahanan energi, re-introduksi BBM campuran bioetanol kembali menjadi isu strategis.

Pada kesempatan yang sama, pakar bioenergi ITB Tatang Hernas Soerawidjaja mengapresiasi langkah Presiden Jokowi dan menyatakan campuran bioetanol dapat menjadi solusi pengurangan tekanan impor BBM yang memberatkan neraca perdagangan Indonesia. “Apabila kita mengambil contoh kesuksesan penggunaan substitusi impor diesel dengan program Biodiesel, maka kita juga dapat mengurangi tekanan impor bensin yang jauh lebih besar porsinya dibandingkan bahan bakar jenis diesel," kata Tatang.

Hasil riset ITB menunjukkan Indonesia telah menghemat devisa sebesar USD2.6 miliar dari substitusi impor diesel melalui program biodiesel kelapa sawit. Di sisi lain, laporan ITB memproyeksikan Indonesia akan mengimpor hingga 35.6 juta kiloliter pada 2040 atau hampir dua kali lipat dari jumlah impor bahan bakar minyak 2021.

Artinya, melalui penggunaan bioetanol sebagai bahan campuran BBM dapat menurunkan impor BBM jenis bensin, menurunkan polutan emisi kendaraan, dan menciptakan potensi lapangan kerja di sektor pertanian dan produksi bioetanol.

 

Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari