Indonesia.go.id - Keagungan Budaya di Selembar Gringsing, Suvenir KTT G20

Keagungan Budaya di Selembar Gringsing, Suvenir KTT G20

  • Administrator
  • Jumat, 21 Oktober 2022 | 07:35 WIB
G20
  Kain Gringsing, kain tradisional masyarakat Tenganan di Bali menjadi kado istimewa untuk kepala pemerintahan peserta pertemuan G20. KEMENDIKBUD
Kain asli masyarakat Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem, Bali, akan menjadi suvenir istimewa untuk para kepala negara dan kepala pemerintahan di KTT G20 2022.

Kain merupakan bagian dari budaya dan perjalanan sejarah suatu bangsa. Aneka kegiatan tradisi budaya telah menciptakan bermacam teknik pembuatan kain dan ragam hiasnya, seperti teknik tenun ikat tunggal atau single, ganda (double), batik, celup, dan cap (printing).

Motif kain tradisional pun beragam, seperti bentuk-bentuk flora, fauna, dan unsur-unsur sejarah saat itu. Khusus tenun ikat ganda, hanya ada tiga negara di dunia yang menguasainya, yakni Indonesia, India, dan Jepang.

Disebut sebagai kain tenun ikat ganda karena dalam prosesnya, baik benang pakan maupun benang lungsin, harus melalui tahap rintang warna dengan metode pengikatan, untuk menghalangi masuknya warna pada saat pencelupan. Ketika ditenun, benang-benang lungsi dan pakan hasil teknik ikat ini akan tersilang sedemikian rupa sehingga menghasilkan motif.

Hal ini dimaknai sebagai elemen-elemen dalam masyakat yang berbeda. Namun ketika disatukan, akan bersama-sama menghasilkan suatu kesempurnaan yang seimbang dan harmonis.

Desa Tenganan di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali menjadi tempat lahirnya teknik tenun ikat ganda asli Indonesia dan menghasilkan kain bernama gringsing. Seperti dituliskan Rr. Chandrarezky Permatasari dalam jurnal desain dan seni, Narada, Volume 3 Edisi 3, 2018, teknik ikat ganda di desa seluas 1.496.002 hektare itu mirip dengan apa yang dilakukan di Patan, Gujarat, India.

Mereka menyebut teknik itu sebagai patola. Kemiripan tersebut bukan tanpa sebab. Pengamat budaya Bali asal Swiss Urs Ramseyer, dalam Clothing, Ritual, and Society in Tenganan Pegeringsingan, menduga bahwa masyarakat yang berdiam di tiga banjar, yakni Dauh, Pande, dan Kangin itu merupakan imigran asal Orrisa di negara bagian Andhra Pradesh, India.

Mereka sama-sama menyembah Dewa Indra yang begitu mengagumi keindahan benda-benda langit, seperti kemilau bintang dan bulan di malam hari dan teriknya matahari saat siang hari. Benda-benda langit itu kemudian menjadi motif-motif dasar gringsing dan bagian dari konsep keseimbangan kehidupan. Dewa pun mengajarkan kepada kaum hawa untuk menuangkan keindahan alam tadi dalam kain tenunan mereka.

Para pembuat kain unik ini meyakini, gringsing punya kekuatan tertentu sebagai penolak bala. Bukan sebuah kebetulan pula bila wastra kuno ini berasal dari dua suku kata, gring berarti ‘sakit’ dan sing bermakna ‘tidak’.  Sehingga bila digabungkan, menjadi ‘tidak sakit’ alias penolak bala atau dijuluki kain api.

Proses produksi selembar gringsing di salah satu dari tiga desa kuno keturunan Bali Aga ini terbilang lama, memakan waktu hingga 2--5 tahun. Semua proses produksi dilakukan secara manual dan memakai bahan-bahan alami. Benang yang digunakan merupakan hasil pintalan tangan dengan alat pintal tradisional, bukan mesin.

Seperti diutarakan Dosen Program Studi Desain Interior Institut Seni Indonesia Denpasar Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, benang tersebut diperoleh dari kapuk berbiji satu yang hanya tumbuh di Nusa Penida. Setelah selesai dipintal, benang akan mengalami proses perendaman dalam minyak kemiri sebelum dilanjutkan ke proses ikat dan pewarnaan. Perendaman bisa berlangsung lebih dari 40 hari hingga maksimum satu tahun dengan penggantian air rendaman setiap 25--49 hari. Semakin lama perendaman, benang akan makin kuat dan lebih lembut.

Buah kemiri (Aleurites moluccana) diambil langsung di hutan Tenganan dan pembuat kain gringsing harus menggunakan kemiri yang benar-benar matang, serta jatuh dari pohonnya. Hal ini sesuai dengan awig-awig (aturan adat) soal perilaku terhadap beberapa jenis pohon tertentu seperti kemiri, keluak, tehep, dan durian.

Buah dari pohon-pohon yang tumbuh di atas tanah milik perorangan tidak boleh dipetik oleh pemiliknya, melainkan harus dibiarkan matang di pohon dan kemudian jatuh. Kemudian, benang akan dipintal menjadi sehelai kain yang memiliki panjang (sisi pakan) dan lebar (sisi lungsi) tertentu.

Salah satu perajin bernama Kadek Bagus menyebut, dimensi kain adalah 147 sentimeter x 40 sentimeter. Untuk merapatkan hasil tenunan, benang akan didorong menggunakan tulang kelelawar. Kain yang sudah jadi akan diikat oleh juru ikat mengikuti pola tertentu yang sudah ditentukan.

Proses pengikatan menggunakan dua warna tali rafia, yaitu jambon dan hijau muda. Setiap ikatan akan dibuka sesuai proses pencelupan warna untuk menghasilkan motif dan pewarnaan yang sesuai. Kain ini mengandung tiga warna utama yaitu merah, hitam, dan putih atau kuning. Ketiganya mewakili unsur dunia yaitu udara atau oksigen (putih), panas atau energi (merah), dan air (hitam).

Warna merah dihasilkan dari kelopak pohon (babakan) kepundung (Baccaurea racemosa) dicampur kulit akar pohon mengkudu (Morinda citrifolia) atau sunti. Kemudian warna putih/kuning dihasilkan dari minyak buah kemiri berusia minimal setahun dicampur air serbuk abu kayu kemiri. Untuk warna hitam dibuat dari pohon taum. Ketiga warna itu disebut Tri Datu yang dipercaya sebagai pelindung, penjaga, dan pemelihara di masyarakat Desa Tenganan.

Kadek Bagus mengatakan, kain gringsing bernilai jual tinggi, dapat mencapai ratusan juta rupiah untuk motif-motif tertentu serta usia kain. Ia sendiri seperti terlihat di salah satu platform lokapasar, menjualnya rata-rata senilai Rp7 juta per lembar.

Kain itu pun telah muncul dalam uang nominal pecahan Rp75.000, yaitu gringsing dalam motif lubeng. Itu merupakan bentuk paling dihormati di antara 20 motif kuno lainnya, semisal sanan empeg, cecempakaan, pepare, cemplong, teteledan, sitan pegat, atau talidandan.

Begitu bernilainya kain tenun ini membuat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno memutuskan,gringsing sebagai sebuah kado spesial. Kain ini rencananya akan menjadi cenderamata istimewa bagi para pemimpin negara dan ketua delegasi pemerintahan pada pertemuan puncak Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Nusa Dua, Bali, 15-16 November 2022.

Ketika berkunjung ke Tenganan, September 2021, Sandiaga langsung memesan untuk dibuatkan 120 kain kepada para perajin gringsing sebagai suvenir untuk kepala pemerintahan di KTT G20. Ia berharap dengan masuknya pesanan produk budaya asli Tenganan itu selain dapat membangkitkan ekonomi kreatif setempat setelah terdampak oleh pandemi, juga mampu membawa tenun gringsing makin mendunia.

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari