PAPUA
  Burung Cenderawasih. WIKI COMMON

Melihat dari Dekat Cenderawasih Kebanggaan Papua

  •   Sabtu, 14 Agustus 2021 | 12:32 WIB
  •   Oleh : Administrator

Ada sejumlah burung Cenderawasih yang bisa dilihat di Kabupaten Jayapura. Hanya sekitar sejam untuk mencapai lokasi pengamatan.

Burung cenderawasih merupakan salah satu burung endemik tanah Papua.  Sekarang kita tak hanya bisa melihat keindahan burung surga itu dari gambar atau Youtube. Tapi bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Ada dua tempat di Kabupaten Jayapura yang saat ini untuk lokasi pengamatan burung cenderawasih yang dekat dengan pusat kota. Masing-masing dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dari Kota Sentani Jayapura. Kedua tempat itu adalah Wisata Alam Bird of Paradise di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, dan Bird Watching Isyo Hill di Kampung Repang Muaif, Distrik Nimbokrang. Kedua tempat itu dikelola oleh masyarakat adat setempat.

Untuk menuju hutan di Kampung Tablasupa, bisa ditempuh dengan perjalanan darat, naik kendaraan pribadi ataupun angkutan umum. Dari Ibu Kota Kabupaten Jayapura yakni Kota Sentani, lokasi ini ditempuh dengan jarak 1,5 jam.  Lokasi untuk melihat burung cenderawasih di Tablasupa tersebar di sejumlah titik, yakni di Pantai Amai dan Hutan Tablasupa.

Burung-burung cenderawasih bisa dilihat pada sore dan pagi hari. Burung-burung ini mempunyai kebiasaan rutin. Ia akan bermain mulai pagi sekitar jam 05.00 WIT hingga pukul 09.00 WIT dan sore hari sekitar pukul 15.00 WIT, hingga menjelang matahari terbenam. Pagi mereka keluar dari tempat naungan untuk mencari makan dan sore kembali ke tempat yang sama untuk tidur.

Untuk bisa menikmati keindahan burung cenderawasih kita perlu membawa teropong, agar memudahkan melihat lebih jelas burung-burung surga ini. Di daerah Tablasupa ada sekitar 20 ekor burung cenderawasih dan salah satu di antaranya adalah jenis cenderawasih raja.

Untuk mengamati burung ini, jangan sekali-sekali memakai parfum yang baunya menyengat.  Sebab satwa ini peka terhadap bau yang asing dan akan membuat mereka menjauh. Saat berjalan mendekati lokasi bermain burung cenderawasih harus senyap. Sekali terdengar berisik, burung akan menghilang dari pandangan. Jika kita mau mengabadikan burung ini, kita perlu membawa kamera dengan tele panjang dan tripod.

Di lokasi pengamatan Tablasupa ini, masyarakat tak menarik tarif tertentu untuk pengunjung dapat melihat burung cenderawasih. Tapi pengunjung bisa memberikan uang seiklasnya saja. Di sejumlah lokasi lain untuk melihat cenderawasih, biasa dikenai harga Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per orangnya.

Sementara itu Bird Watching Isyo Hills sudah terkenal hingga seluruh dunia. Ratusan pengamat burung dari seluruh penjuru dunia pernah datang di lokasi ini. Bahkan Isyo Hills sudah dilengkapi dengan sejumlah penginapan “guest house” untuk para pengamat burung.

Berjarak sekitar satu jam berkendara dari Bandara Sentani, Bird Watching Isyo Hills ada di Kampung Rephang Muaif, Distrik Nimbokrang. Isyo Hills dibangun oleh Alex Waisimon untuk tempat pengamatan burung, terutama burung ikon Papua yaitu cenderawasih.

Alex mengajak masyarakat adat setempat untuk mengelola hutan adat sekitar 100 ha yang berada di antara Kampung Rephang dan Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, sejak 2015. Berhari-hari Alex mempelajari kebiasaan mahluk hidup yang ada di hutan itu, terutama cenderawasih. Ia mengamati lokasi bermain, pola makan, dan kebiasaan cenderawasih dari pagi hingga sore. Ia membangun sejumlah tower pengamatan burung di dekat pohon tempat kebiasaan burung surga ini bermain.

Menurut Alex terdapat sekitar 30 jenis cenderawasih di Indonesia, 28 jenis di antaranya dapat ditemukan di Papua. Delapan macam spesies burung cenderawasih yang berhasil diidentifikasi berada di Isyo  Hills. Empat di antaranya bisa dilihat di lokasi yang tidak jauh dari penginapan.

Alex dan kawan-kawan melengkapi Bird Watching Isyo Hills dengan penginapan yang cukup baik. Mereka selain menyiapkan tempat penginapan termasuk makan dan minum. Para wisatawan yang ingin melihat cenderawasih di pagi hari harus menginap di tempat itu karena "burung surga" itu hanya bisa dilihat di pagi hari atau kalau cuaca bagus bisa  dilihat sore hari. Namun waktu bertengger cenderawasih di sore hari lebih pendek.

Di Isyo Hills terdapat beberapa pos pengamatan. Setiap pos pengamatan berbeda pula jenis cenderawasih yang bertengger. Untuk bisa sampai ke semua pos, maka pengunjung harus berangkat jam 04.30 pagi.

Untuk mencapai pos 1, memerlukan waktu 20 menit jalan kaki dengan sedikit mengendap-endap. Di Pos 1, pengunjung sudah bisa melihat burung cenderawasih. Tak lebih berjalan sekitar satu kilometer lagi kita sampai pada pos pengamatan II. Di pos II ada gardu pandang setinggi sekitar 20 meter.

Dari gardu pandang ini, pengunjung bisa melihat burung cenderawasih jenis 12 antena atau bahasa setempat di sebut cenderawasih mati kawat.  Cenderawasih ini unik karena ekornya berupa bulu serupa kawat hitam. Jumlahnya 12 helai. Warnanya hitam kebiruan dan dadanya berbulu kuning. Beberapa menit saja kita bisa melihat cenderawasih mati kawat karena jika terlalu lama, akan kehilangan momen di pos yang lain.

Di Pos pengamatan III yang jaraknya kurang lebih 1 km juga akan terlihat burung cenderawasih paruh sabit. Disebut begitu karena paruhnya melengkung mengingatkan orang pada bentuk sabit.

Sedangkan di pos IV tidak ada gardu pandang tapi pengunjung bisa mengamati burung cenderawasih di bawah pohon besar. Di tempat ini kita bisa melihat jenis burung cenderawasih apoda atau ekor emas. Corak cenderawasih itu biasa kita lihat karena bulunya dipakai sebagai hiasan kepala (sekarang dilarang).

Ternyata, burung-burung cenderawasih punya siklus jam main. Di pos-pos yang ditandai oleh Alex itu burung-burung hanya bermain tak lebih dari 30 menit, setelah itu mereka berpindah tempat dan lokasi mencari makan. Sorenya, mereka baru kembali ke lokasi-lokasi ini sebelum akhirnya beristirahat.

Jika anda memiliki kesempatan mengunjungi Papua pada perhelatan PON ke XX pada Oktober nanti, sempatkan untuk melihat keindahan endemik kebanggaan Papua ini.

 

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari