KERAGAMAN HAYATI
  Seekor Orangutan Sumatera (Pongo abelii) terjebak di kebun warga desa Titi Pobin, Trumon Timur, Aceh Selatan, Aceh. Rusaknya hutan di kawasan itu membuat banyak Orangutan masuk ke kebun warga. ANTARA FOTO

Merawat Pohon, Melestarikan Hutan

  •   Senin, 10 Januari 2022 | 20:01 WIB
  •   Oleh : Administrator

Pohon berdaun jarum mampu membuat 60 persen air hujan terserap ke tanah. Bahkan pohon berdaun lebar sanggup menyalurkan 80 persen air hujan ke tanah.

Setiap 10 Januari, masyarakat di antero jagat memperingati Hari Sejuta Pohon Sedunia (World Million Tree Day). Kegiatan ini didasari oleh banyaknya aktivitas manusia yang tidak sesuai kaidah pelestarian alam. Oleh karena itu, tercetus keinginan dari sejumlah pihak untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya peran pohon, identik dengan hutan, bagi kehidupan makhluk hidup di dunia.

Manusia menjadi aktor paling besar dalam hal merusak hutan. Setiap tahunnya jutaan hektare lahan hutan ditebang, terutama di daerah tropis. Timbul deforestasi yang mengancam kelangsungan beberapa ekosistem, bahkan paling bernilai dan langka di bumi. Padahal separuh dari makhluk di muka bumi hidup di hutan, termasuk 80 persen dari keragaman hayati dunia.

Saintis dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, Russell McLendon, seperti dikutip dari Treehugger,mengatakan bahwa sedikitnya ada 20 alasan mengapa pohon dan hutan begitu penting perannya bagi bumi. Beberapa di antaranya adalah bahwa pohon menjaga tanah dan bumi agar tetap dingin. Karena pohon punya cara lain untuk mengalahkan panas dengan menyerap karbon dioksida (CO2), pemicu pemanasan global.

Tumbuhan selalu membutuhkan sejumlah CO2 untuk fotosintesis, tetapi udara di bumi sekarang begitu pekat dengan emisi ekstra sehingga hutan melawan pemanasan global hanya dengan bernapas. CO2 disimpan di dalam kayu, daun dan tanah, seringkali selama berabad-abad. Selain menahan tanah pada tempatnya, hutan juga dapat menggunakan fitoremediasi untuk membersihkan polutan tertentu. Ia kemudian melepaskannya sebagai oksigen (O2) yang sangat dibutuhkan oleh manusia.

Sebagai penyerap karbon, pohon dan hutan dapat membersihkan polusi udara dalam skala besar. Pohon mampu menyerap berbagai polutan di udara selain CO2, misalnya karbon monoksida, sulfur dioksida, dan nitrogen dioksida. Pohon pun ampuh sebagai peredam bising paling alami dan efektif. Lendon menyebut, sebagai peredam bising, rumpun pepohonan mampu memotong suara latar sebesar 5-10 desibel, atau sekitar 50 persen dari apa yang mampu ditangkap telinga manusia.

Hutan dan pepohonan di dalamnya bak sebuah spons raksasa, menyerap limpahan air hujan dibandingkan membiarkannya lepas ke berbagai penjuru tak tentu arah. Tegakan pohon berdaun jarum mampu membuat 60 persen air hujan terserap ke tanah. Bahkan pohon berdaun lebar sanggup menyalurkan 80 persen air hujan ke tanah.

Air yang melewati akar pohon akan masuk ke lapisan bawah tanah sebagai penampung. Lapisan ini, disebut sebagai akuifer, akan kembali mengalirkannya dalam jumlah banyak keluar dari permukaan tanah sebagai mata air atau air tanah. Air yang dihasilkan ini penting untuk minum, sanitasi, dan irigasi di seluruh dunia.

 

Menjaga Hutan Indonesia

Indonesia telah lama menggagas dan menjalankan program penanaman pohon, ada Gerakan Satu Miliar Pohon dan 100 Juta Pohon. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per Desember 2021, Indonesia mempunyai luas tutupan hutan, baik primer dan sekunder, mencapai 95,5 juta ha. Jumlah ini merupakan 51 persen dari luas daratan Indonesia.

Jumlah tersebut akan berperan besar dalam upaya Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan memenuhi target untuk mengatasi perubahan iklim. Ini karena Nusantara kita adalah paru-paru bagi dunia.

Sedangkan tingkat deforestasi bruto Indonesia hasil pemantauan citra satelit pada 2019-2020 mencapai 119.091 ha diiringi reforestasi seluas 3.631 ha. Hal ini menjadikan deforestasi dalam periode itu sebesar 115.459 ha. Padahal, di periode 2018-2019, angka deforestasi bruto hutan mencapai 465.500 ha, dan angka reforestasi sekitar 3.100 ha. Sehingga deforestasi netto adalah sebesar 462.400 ha.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan KLHK, Ruandha Agung Sugardiman dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2021 di Jakarta, Kamis (16/12/2021). "Ini adalah deforestasi terendah selama 20 tahun terakhir dari historical data yang kita punya," katanya seperti dikutip dari Antara.

Kendati demikian, menurut dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional, Sri Suci Utami Atmoko, hal terpenting dari upaya menjaga agar pohon di hutan tetap berdiri tegak adalah dengan merawatnya. Bagi doktor sosioekologi Universitas Utrecht, Belanda, lulusan 2000, menanam adalah sebuah seremonial. "Kita kadang hanya bisa menanam, tetapi lupa untuk merawatnya," kata pakar primata ini.

Ia menjelaskan bahwa menanam pohon pun perlu dilihat juga keragaman hayati dari lingkungan di tempat pohon itu ditanam. "Hutan itu banyak isinya dan saling berhubungan satu sama lain," katanya.

Pernyataannya bukan tanpa alasan, Sri pernah meneliti perubahan perilaku orangutan Sumatra di alam liar bersama pakar primata dunia, Birute Galdikas pada 1995. Kala itu, hutan tropis Sumatra mulai rusak dan mengganggu habitat alami orangutan, spesies kera besar endemik Indonesia dan berstatus terancam punah.

Oleh karena itu, mari kita rawat bersama kelestarian hutan dan pepohonan yang ada di dalamnya agar bumi ini tetap dingin, terus mengalirkan air, dan memasok lebih banyak lagi oksigen bagi makhluk hidup di muka bumi. Selamat Hari Sejuta Pohon Sedunia, 10 Januari 2022.

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari