IMLEK 2022
  Aneka panganan khas imlek. Ada makna di dalamnya. PIXABAY

Tujuh Hidangan Utama di Meja Imlek

  •   Minggu, 30 Januari 2022 | 12:28 WIB
  •   Oleh : Administrator

Imlek bukan hanya lampion, baju merah berhias motif warna emas, dan angpao. Di meja hidangan Imlek, ikan selalu menjadi pilihan utama karena menyimbolkan kelimpahan rezeki. Ada tujuh menu wajib, lebih juga boleh.

Suasana Imlek  2022 mulai berpendar di pusat-pusat perniagaan, mal, hotel, dan restoran di Jakarta sejak sepekan terakhir Januari 2022. Berbagai pernak-pernik Imlek dipajang pada sejumlah lobi hotel dan mal. Di tengah lonjakan kasus Covid-19 akibat varian Omicron, suasana menyambut Tahun Baru Shio Macan pada Imlek 2572  kali ini terasa bersahaja.  

Imlek bukan hanya lampion, baju merah berhias motif warna emas, dan angpao. Hari Raya Imlek yang menjadi penanda tahun baru dalam kalender Tiongkok, sekaligus penanda datangnya musim semi itu, menjadi momen penting bagi warga Tionghoa untuk mengekspresikan tradisi dan nilai budaya warisan leluhur. Pada  prosesi tradisi Imlek itu terselip simbol budaya, nilai, norma, dan bahasa, bahkan sampai ke meja makan.

Acara makan malam jelang Tahun Baru Imlek menjadi salah satu laku tradisi yang dianggap penting dalam masyarakat Tionghoa. Prosesi makan malam biasanya dihelat di kediaman orang tertua, atau yang dituakan, dalam sebuah keluarga besar. Tak kalah penting, dari acara makan itu ialah susunan makanan yang tersaji di meja.

Hidangan di meja makan Imlek selalu diupayakan istimewa. Meski demikian, masyarakat Tionghoa tetap memilih menghidangkan menu yang dianggap paling sesuai dengan tema serta makna Imlek. Ikan, pangsit, dan kue keranjang, misalnya, tergolong sajian yang wajib hadir di meja makan.

Di luar sajian pokok bisa saja dihidangkan menu lain, dan itu tidak dilarang. Apalagi pada kalangan tertentu, prosesi kuliner tahun baru itu bisa berlangsung 16 hari, sejak H-1 hingga hari H+14 yang dirayakan sebagai Cap Go Meh.

Dalam tradisi kuliner klasik Tiongkok ada sajian tertentu yang karena pemaknaannya sesuai dengan spirit Imlek, wajib dihadirkan di meja makan pada malam tahun baru Imlek. Secara umum, dalam ulasan China Highlights, media travel (online) yang diterbitkan di Guilin, Provinvi Guangxi, edisi 26 Januari 2022, disebutkan ada tujuh menu utama Imlek.

Menu ini dianggap spesial karena menorehkan makna keutamaan yang berasosiasi dengan sukses, kemajuan, kebahagiaan, dan kesehatan (umur panjang). Dalam hal memberikan pemaknaan, orang Tionghoa berpegang pada metode fenotik, yakni berdasarkan pada bunyi, bentuk, dan simbol serta segala asosiasinya. Menu ikan, misalnya, dalam bahasa Mandarin, ikan disebut yu. Bunyi yu di sini bunyinya mirip dengan kosa kata Tiongkok lainnya yang berarti surplus alias berkelimpahan rezeki.

Sebagian warga Tionghoa pun memilih ikan mas crucian untuk Imlek. Ikan mas crucian itu sendiri adalah jenis ikan air tawar asal Tiongkok, yang dibawa ke Indonesia dan dibudidayakan sejak abad ke-19 dan kini telah kawin-mawin dengan ikan mas varietas Jepang dan ikan mas lokal. Jenis aslinya yang montok dan lebih pendek sudah sulit ditemukan di Indonesia. Dalam bahasa Tiongkok ikan mas crucian ini disebut jiyu, yang bunyinya dekat dengan kata jiyang berarti sukses.

Pilihan ikan yang bisa dibawa ke meja makan cukup banyak. Ikan kakap, udang, dan lobster pun boleh disajikan di meja Imlek. Secara umum, hidangan laut itu diakui sebagai simbol pembawa kemakmuran.

Tentu banyak juga yang memilih ikan bandeng, yang dalam bahasa Mandarin disebut liyu. Secara fenotik, liyu itu bunyinya dekat dengan kata li yang berarti hadiah. Menyantap li di hari Imlek bisa dimaknai sebagai harapan bahwa di tahun yang baru ia akan mendapat banyak hadiah.

Menurut kelaziman yang berlaku, setidaknya ada tujuh menu yang perlu disajikan di meja makan, agar menjadi simbol yang cukup lengkap tentang harapan yang ingin diraih di tahun yang baru.  Maka, di luar ikan masih ada enam menu wajib lainnya, yakni pangsit, mi panjang, lumpia, kue moci, niang-gao (kue keranjang), dan buah keberuntungan. Lebih dari tujuh tentu boleh.

Pangsit menjadi menu khas Imlek sejak abad ke-3 Masehi. Dalam bahasa Mandarin, pangsit disebut jiaozi, yang secara fonetik bisa diasosiasikan dengan harta kekayaan. Bentuknya menyerupai perahu lonjong ke kedua ujungnya dimiringkan. Dalam sejarah Tiongkok, bentuk perahu lonjong itu adalah alat tukar dari perak. Mitosnya, semakin banyak menyantap pangsit di hari Imlek akan semakin banyak harta yang bisa dikumpulkan.

Kelezatan pangsit ada pada bagian “perut perahu” itu. Di situ ada campuran daging cincang, udang, ikan, dan sayuran yang diiris halus. Cara memasaknya bisa dikukus, direbus, digoreng, atau dipanggang. Pangsit bisa dimakan dengan mi panjang yang lazim dimaknai sebagai berkah usia panjang.

Lumpia juga masuk menjadi salah satu menu wajib Imlek. Dalam tradisi klasik, sebelum menyantap lumpia, sang tetua di meja makan akan mengucapkan kata-kata hwung-jin wan-lyang, artinya satu ton emas. Ucapan ini berasosiasi dengan gulungan lumpia yang ketika digoreng menyala kuning bak emas batangan. Menyantap lumpia Imlek adalah harapan untuk meraih kekayaan.

Tak ada Imlek tanpa kue keranjang. Disebut niángāo dalam bahasa Mandarin, yang secara fonetik bisa berasosiasi dengan kata bertambah tahun tambah tinggi alias meraih kemajuan. Dalam pandangan klasik masyarakat Tionghoa, semakin mapan seseorang maka kehidupan sosial dan pribadinya akan semakin baik.

Kue moci jangan sampai absen di meja hidangan Imlek. Dalam bahasa Mandarin, kue moci disebut tāngyuán. Bunyi fonemnya dan bentuknya yang bulat itu berasosiasi langsung kepada kekerabatan, nilai keluarga, kerukunan, dan kebersamaan.  Maka, kue moci adalah kudapan penting di Hari Raya Imlek.

Buah tak dilupakan sebagai bagian dari menu prosesi makan malam Imlek. Bukan sembarang buah. Jika situasinya memungkinkan, keluarga Tionghoa akan menyajikan tiga jenis buah sekaligus, yakni jeruk keprok, jeruk kuning, dan jeruk pamelo (jeruk Bali). Kuning jeruk adalah warna emas, simbol kesentosaan dan kekayaan.

Jeruk keprok dan jeruk bulat (tangerine) dalam bahasa Mandarin disebut chéng, yang secara fonetik berasosiasi pada keberuntungan dan daya tarik ketika berbicara atau menulis. Jadi, menyantap dua macam jeruk ini membawa harapan bahwa kata-kata dan tulisan mereka akan lebih menari, yang di tahap berikutnya bisa membawa kesuksesan. Ada pun jeruk pamelo disebut sebagai yo, maknanya  adalah kemakmuran.

 

Penulis: Putut Trihusodo
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari