Bahasa | English


INDUSTRI FARMASI

Integrasi Hulu dan Hilir Dukung Daya Saing

30 September 2019, 05:52 WIB

Pertumbuhan industri farmasi, salah satunya dipengaruhi adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan nilai pasar yang besar.


Integrasi Hulu dan Hilir Dukung Daya Saing Industri Farmasi. Foto: Depkes

Pendalaman struktur industri farmasi di dalam negeri terus didorong melalui peningkatan investasi. Upaya ini, selain untuk menumbuhkan sektor strategis tersebut, juga diharapkan dapat memangkas defisit neraca perdagangan dan memacu ekspor.

Sektor farmasi diakui memang masih menjadi salah satu industri yang masih tercatat tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi 5,07%, atau sektor itu tumbuh 8,12% selama kuartal I 2019.

Bahkan, industri ini juga dinilai memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas sebesar 3,24%. Pertumbuhan industri farmasi, salah satunya dipengaruhi oleh adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan nilai pasar yang besar.

Memang, neraca ekspor-impor industri farmasi masih menunjukkan defisit. Namun, tren nilai ekspor produk farmasi terus meningkat. Ekspor pada 2018 bisa menembus USD1,14 miliar atau meningkat dibandingkan di 2017 yang mencapai USD1,10 miliar. 

Selain untuk mengisi pasar ekspor, industri farmasi dalam negeri juga mampu memenuhi 75% kebutuhan obat untuk pasar domestik. Bahkan, disebut-sebut nilai pasar produk farmasi Indonesia mencapai USD4,7 miliar. Nilai sebesar itu setara dengan 27% dari total pasar farmasi di Asean. Sesuatu yang wajar dengan jumlah penduduk yang dimiliki Indonesia.

Pasar dalam negeri yang cukup menjanjikan, didukung jumlah populasi penduduk yang besar selain adanya program JKN dengan dukungan dari BPJS, tentu menjadi pasar yang menggiurkan bagi pelaku usaha di sektor tersebut.

Persoalannya, industri farmasi nasional masih kedodoran di sektor hulu. Artinya, produsen bahan baku perlu terus dikembangkan karena nilai tambah produk farmasi akan meningkat jika sektor hulu dan hilir terintegrasi. Selain itu, pengembangan sektor hulu juga bisa menjadi substitusi impor bahan baku sehingga dapat menekan defisit neraca dagang di sektor industri farmasi.

Sebagai gambaran, Kementerian Kesehatan memproyeksikan pemenuhan bahan baku dalam negeri oleh industri farmasi meningkat hingga 21% pada 2021 seiring penguatan di hulu sektor tersebut.

Menurut Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Engko Sosialine Magdalene, sejauh ini sudah ada 13 produsen bahan baku atau di hulu industri farmasi. Menurutnya, kapasitas produksi produsen itu pun bisa terus meningkat.

"Kami sudah hitung dengan industri itu, pada 2021 ketergantungan terhadap impor bahan baku bisa turun," ujarnya di sela-sela Forum Riset Life Science Nasional (FRLN) 2019 yang diselenggarakan PT Bio Farma (Persero), Kamis (26/9/2019).

Kembangkan Bahan Baku

Menurutnya, saat ini BUMN di bidang farmasi, PT Bio Farma (Persero), pun terus mengembangkan bahan baku bagi pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Pernyataan Engko itu diamini oleh Direktur Operasi PT Bio Farma (Persero) M Rahman Roestan.

“Mayoritas bahan baku farmasi masih bersumber dari produk impor. Porsinya masih sampai 95%," ujarnya.

Namun, Rahman optimistis sumber daya alam di Indonesia sangat berlimpah dan dapat dimanfaatkan untuk pengolahan bahan baku. Dia menyatakan lebih dari 10% spesies tanaman di dunia ada di Indonesia. Bahkan 15% biota laut dunia pun dapat ditemukan di Indonesia. "Indonesia sangat kaya dengan bio diversity," ujarnya

Dari gambaran itu, Engko menjelaskan sejumlah bahan baku impor bisa disubtitusi dengan pasokan dalam negeri. Dengan kapasitas yang sudah tersedia sejauh ini, dia memperkirakan pada dua tahun ke depan 21% bahan baku farmasi sudah bisa dipenuhi oleh produsen lokal.

Pernyataan Engko itu memunculkan optimistis bagi industri farmasi. Senada itu, Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, industri hulu dan melakukan substitusi impor bahan baku farmasi tetap butuh investasi besar.

“Dalam rangka itu, pemerintah memberikan dukungan fiskal terhadap pertumbuhan industri farmasi melalui tax allowancetax holiday, serta super deductible tax yang diberikan bagi industri yang terlibat dalam program vokasi dan inovasi melalui research and development (R&D)," paparnya.

Oleh karena itu, sebagai sektor andalan masa depan, industri farmasi terus didorong daya saingnya melalui berbagai kemudahan dan insentif berupa pengurangan pajak maupun bea masuk yang ditanggung pemerintah serta bentuk insentif lainnya.

Tidak hanya itu saja, dalam era industri 4.0, Kemenperin juga mendorong industri kimia bertransformasi pada pemanfaatan teknologi digital, sehingga akan mampu menciptakan nilai tambah baru pada hasil produknya. 

Pada era revolusi industri 4.0, ditandai dengan digitalisasi dalam proses produksi, seperti penggunaan Big DataArtificial Intelligent (AI), dan Internet of Things (IoT) yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing terutama dalam optimasi dan efisiensi proses produksi. 

Sigit menilai pemanfaatan teknologi dan kecerdasan digital mulai dari proses produksi dan distribusi akan memberikan peluang baru serta meningkatkan daya saing industri farmasi, dan diharapkan dapat mendorong industri farmasi untuk mengembangkan pasar ekspor.

“Produk farmasi Indonesia sangat berpeluang untuk mengisi pasar baru, khususnya pasar ekspor non-tradisional seperti Amerika Latin, Eropa Timur, Rusia hingga Afrika,” tuturnya.

Hingga kini, industri farmasi di dalam negeri terdapat 206 perusahaan, yang didominasi oleh 178 perusahaan swasta nasional, kemudian 24 perusahaan Multi National Company (MNC), dan empat perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Memang harus diakui, industri farmasi nasional merupakan industri padat modal atau capital intensive.  Dalam rangka itu, dukungan pemerintah terutama dari sisi instrument fiskal untuk mendorong investasi yang terus menerus sangat diperlukan.

Tidak itu saja, pelaku industri farmasi dalam negeri juga tidak boleh berpuas diri dengan pasar dalam negeri yang memang sudah empuk. Mereka tetap perlu melakukan peningkatan kualitas dan daya saingnya di pasar health care international. (F-1)

Farmasi
Industri
Narasi Terpopuler
Menunggu UU Perlindungan Data Pribadi
RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP) dibahas sejak 2012. Pada Desember ini kembali dibahas di DPR. Diyakini beleid itu dibuat untuk melindungi data pribadi masyarakat Indonesia. ...
Diolah Agar Menjadi Duit
Penanganan sampah merupakan buah kebijakan yang tertata dan konsisten. Selain, perubahan budaya masyarakat. Perangkat hukum yang pas harus disertai kesadaran masyarakat agar proses pengolahan sampah m...
Peremajaan dan Gairah Baru
Industri tekstil dan pakaian mengalami pertumbuhan cukup signifikan di awal 2019. Pembatasan impor tekstil memberi gairah baru bagi pengusaha. Butuh investasi Rp175 trilun untuk meremajakan mesin dan ...
Bisnis Digital Pun Menanti Lahirnya Omnibus Law
Bisnis berbasis digital sangat menjanjikan, dan menjawab tantangan di masa depan. ...
Pembenahan Dua BUMN
Pemerintah serius membenahi dua BUMN sektor energi, Pertamina dan PLN. Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ditunjuk sebagai Komisaris Pertamina dan mantan Menteri Kominfo Rudiantara diangka...
Angin Sejuk di Sela Ranting Beringin
Ketua Umum Airlangga Hartarto siap merangkul semua faksi. Konflik akan menyulitkan kader dalam pileg maupun pilkada. Stabilitas politik diperlukan untuk menghadapi situasi ekonomi yang sulit. ...
Negara, Demokrasi, dan Pasar Gelap Kekuasaan
Dinamika politik dan ekonomi di dalam sebuah negara adalah sebuah sistem kompleks  yang selalu bisa memunculkan aktor-aktor yang berbeda, walaupun aturan main di dalamnya relatif tidak berubah. ...
Kemudahan Berusaha Pun Didorong
Tensi perang dagang AS dengan Tiongkok diyakini tetap tinggi tahun depan. Kedua negara adidaya diperkirakan tetap akan berseteru karena kepentingan geopolitik. ...
Arus Liar Di Balik Agenda Amendemen
Presiden Jokowi merasa terganggu oleh wacana amendemen yang melebar. Amendemen UUD perlu situasi khusus, yakni ketika visi politik sebagian besar elemen masyarakat telah terkonsolidasikan. ...
Dari Cikarang Lewat Patimban ke Pasar Dunia
Pelabuhan Patimban Subang akan jauh lebih besar dari Tanjung Perak dan Makassar. Dermaga terminal (hasil reklamasi) memberi kedalaman 17=18 meter hingga dapat melayani kargo ukuran ultra-large yang ta...