Bahasa | English


JASA KEUANGAN

Jurus Koperasi Melawan Fintech

30 December 2019, 14:07 WIB

Koperasi memang harus segera berbenah jika tidak ingin dilibas oleh fintech. Hanya ada satu jalan keluar, berinovasi atau mati.


Jurus Koperasi Melawan Fintech Penggunaan Layanan Fintech. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Sejak kemunculannya, financial technology (fintech) mengancam sistem jasa keuangan konvensional. Selain menghajar perbankan, koperasi ikut terkena dampaknya. Untuk mengatasi ketergerusan itu, kini pemerintah tengah mendorong digitalisasi koperasi. Koperasi sudah harus mampu meningkatkan layanan supaya tidak ditinggal nasabah.

Salah satu upaya untuk meningkatkan layanan yaitu menuju digital (Go Digital). Koperasi harus meningkatkan daya saing, karena harus bersaing dengan fintech yang lahir dari rahim era digital. Koperasi Simpan Pinjam misalnya, jika tidak memperbaiki model pelayanannya kepada anggota atau klien mereka, mungkin akan kalah gesit dengan fintech yang sudah menggunakan aplikasi.

Saat ini masyarakat mencari layanan keuangan yang serba mudah, praktis dan dengan pembiayaan murah. Untuk itu koperasi harus lebih fokus pada peningkatan daya saing ini. Zaman barubah. Lawan baru yang tangguh telah muncul.

Saat ini persoalan daya saing koperasi ada pada tataran ideologi yang masih konvensional. Sementara itu, koperasi harus terus mampu memberikan keuntungan bagi nasabahnya. Digitalisasi sistem koperasi dapat meningkatkan efisiensi pelayanan. Selain itu, pertemuan-pertemuan dengan anggota koperasi, misalnya, dapat dilakukan tanpa harus bertatap muka, tapi dengan cara online.

Koperasi selama ini dikenal sebagai sokoguru perekonomian nasional. Garda paling depan dalam pembangunan. Namun, koperasi kini punya citra yang tidak begitu baik dan hanya identik dengan usaha kecil.

Kondisi ini tentu saja tidak bisa diteruskan. Perlu terobosan agar koperasi punya peran besar dalam perekonomian nasional. Koperasi seharusnya memberikan kemudahan dalam usaha. Lalu, di dalam koperasi ada solidaritas dalam mengonsumsi produk dan simpan pinjam, sehingga menjadi kekuatan ekonomi.

Beberapa hal perlu dilakukan koperasi jika ingin melawan serbuan fintech. Pertama, memahami kelebihan fintech. Salah satu alasan mengapa startup fintech terlihat gesit dan relevan adalah karena keberaniannya untuk melakukan inovasi.

Koperasi juga harus menirunya agar bisa bersaing. Mereka tidak terpaku dengan cara berpikir tradisional, sehingga cepat tanggap menangkap dinamika yang terjadi di konsumen. Dengan begitu koperasi bukan lagi barang jadul. Tetapi bergerak seiring zaman.

Kedua, sigap dengan teknologi baru. Teknologi digital yang terus berkembang sebenarnya menawarkan peluang pemanfaatan di industri finansial. Selama ini, hanya fintech yang sigap menggunakan teknologi baru ini. Padahal, koperasi pun sebenarnya juga bisa melakukannya.

Ketiga, fokus pada keterikatan dengan nasabah. Keterikatan nasabah dengan lembaga keuangan terbukti memberikan manfaat yang besar. Nasabah yang nyaman dengan lembaga keuangan tertentu akan menyimpan sebagian besar dananya di sana. Karena itu, sangat penting bagi koperasi untuk bisa menjalin keterikatan tersebut.

Dengan melakukan analisa data yang lebih komprehensif, koperasi bisa mengetahui profiling dari tiap nasabah. Berbekal informasi tersebut, koperasi pun bisa menawarkan produknya dengan lebih personal lagi.

Keempat, mengutamakan keamanan. Modal lain yang dimiliki koperasi dan tidak dimiliki fintech adalah kepercayaan yang tinggi dari konsumen. Modal ini harus dimanfaatkan dengan terus menunjukkan kompetensi dalam melindungi data nasabah. Investasi di sistem fraud detection, misalnya, adalah hal yang bisa dilakukan koperasi untuk semakin meningkatkan kepercayaan tersebut.

Dengan begitu, konsumen yang sangat perhatian dengan keamanan mendapatkan rasa nyaman karena kontrol selalu berada di tangannya. Koperasi memang harus segera berbenah jika tidak ingin dilibas oleh fintech. Hanya ada satu jalan keluar, berinovasi atau mati. (E-1)

Ekonomi
Narasi Terpopuler
Kemampuan Mutasi yang Lambat
Dibandingkan virus flu biasa, virus penyebab Covid-19 bermutasi dengan sangat lambat. Sehingga orang punya waktu dan kemampuan untuk menghadapinya dengan menciptakan vaksin. ...
Peran Daerah Semakin Penting
Berbagai langkah cepat dan serius dilakukan pemerintah demi menekan persebaran virus berbahaya, SARS COV-2. Termasuk, menegaskan adanya kewenangan daerah untuk menetapkan status kedaruratan bencana. ...
Rakyat Ditopang, Pengusaha Diringankan
Bantuan pemerintah untuk menanggulangi Covid-19 mencapai Rp158 triliun. Warga menerima bantuan tunai, pengobatan gratis, dan penundaan cicilan motor/mobil. Pengusaha menerima stimulus pajak, bea masuk...
Memastikan Ekspor Batu Bara dan CPO Tepat Sampai Tujuan
Hak eksklusif armada kapal nasional untuk angkutan ekspor batu bara dan CPO dicabut. Ketidaksiapan armada berbendera Indonesia, tak bisa dibiarkan menghambat arus ekspor di tengah kesulitan akibat Cov...
Jejak Terlacak, Penyebaran Tak Melonjak
Sejumlah negara memanfaatkan teknologi untuk penelusuran dan pelacakan mereka yang terpapar virus corona. WHO memuji Singapura yang dinilai cermat dalam menghambat persebaran virus. Bisakah penggunaan...
Pulau Nustual Kota Masa Depan di Indonesia Timur
Pulau Nustual ditetapkan sebagai lokasi pelabuhan kilang LNG dari Blok Masela. Kota Saumlaki dan Pulau Yamdena akan menjadi lokasi pusat pertumbuhan ekonomi. Bisnis ratusan triliun akan segera berguli...
Cucuran Keringat di Balik Jaket Hazmat
Pemerintah bertekad memberikan perlindungan maksimal bagi tenaga medis yang berada di garis depan melawan amukan Covid-19. Mereka diberi insentif khusus dan santunan. ...
Belajar dari Keberhasilan Negara Lain, Pemerintah Siapkan Dua Obat Covid-19
Pemerintah akan memberikan obat Avigan dan Chloroquine kepada pasien positif corona. Penggunaannya tak bisa sembarangan. ...
Persiapan Maksimal Hadapi Pandemi di Wisma Atlet
Wisma Atlet siap merawat sampai 4.200 pasien Covid-19 sekaligus di dua menaranya. Pasokan listrik aman. TNI dan IDI mengirim dokter dan paramedisnya ke RS Darurat Kemayoran. ...
Pasar dalam Tekanan, Negara Tidak Lepas Tangan
Pasar saham oleng dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir lebih dari 25 persen. Namun, Bank Indonesia bergerak sigap, Otoritas Jasa Keuangan menjanjikan relaksasi, dan Kementerian BUMN meng...