Bahasa | English


PERTUMBUHAN EKONOMI

Pengusaha Indonesia Paling Optimistis

8 November 2019, 02:20 WIB

Survei yang dilakukan HSBC mengatakan, pengusaha Indonesia termasuk paling optimistis di dunia. Mereka meyakini, kebijakan pemerintah sudah tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.


Pengusaha Indonesia Paling Optimistis PT Bank HSBC. Foto: HSBC

Sebuah riset yang dilakukan HSBC yang berjudul ‘Navigator: Now, Next, and How’ menyebutkan bahwa para pengusaha Indonesia termasuk di antara orang yang paling optimistis dibanding pengusaha dari negara-negara lain. Optimisme itu termasuk dalam hal prospek bisnis baik jangka pendek, menengah, maupun panjang.

Menurut hasil survei itu, optimistis para pengusaha terbentuk karena keyakinan pada kebijakan pemerintah Indonesia yang semakin fokus untuk menguatkan ekonomi. Apalagi kabinet yang baru ini kian menunjukkan adanya perhatian Presiden untuk penyerapan investasi dan fokus penciptaan lapangan kerja.

Menurut para pengusaha Indonesia, kebijakan ekonomi pemerintah arahnya semakin memperkuat konsumsi domestik dan investasi. Konsumsi domestik, misalnya, dengan terus bertumbuhnya kelas menengah yang menjadi penentu besaran konsumsi.

Apalagi pemerintah juga tidak segan mengalirkan dana segar ke seluruh Indonesia dalam bentuk hibah atau program lain. Hal ini diyakini membuat tingkat daya beli rakyat menguat.

"Para pebisnis di Indonesia memperlihatkan rasa optimistis yang sangat besar, dengan tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi dibanding perusahaan-perusahaan lain di seluruh dunia, termasuk di wilayah Asia,” kata Deputi Direktur Commercial Banking PT Bank HSBC Indonesia Anurag Saigal.

Dalam keterangannya, HSBC menyebutkan sembilan dari sepuluh pengusaha di Indonesia optimistis tentang pertumbuhan dibandingkan dengan tahun lalu. Sayangnya tidak dijelaskan, apakah optimisme itu disebabkan karena Indonesia sudah melewati masa Pemilu yang menghebohkan. Dan ternyata, masa-masa itu bisa dilalui dengan damai tanpa gejolak berarti.

Yang pasti, jumlah 90% pengusaha Indonesia lebih optimistis memandang prospek ke depan jauh lebih tinggi dibanding dengan pengusaha di negara-negara Asia lainnya. Bahkan lebih tinggi dibanding rata-rata dunia.

Jika Indonesia memiliki tingkat optimisme 90%, hanya Bangladesh yang membayanginya dengan tingkat optimisme 74% dan India dengan tingkat optimisme 72%. Sementara negara-negara lain tingkatannya jauh di bawah itu.

Dalam riset tersebut, didapat penjelasan bahwa 54% dari pengusaha Indonesia meyakini pertumbuhan bisnisnya akan bergerak mencapai minimal 15%. Sementara itu secara global hanya 22% pengusaha yang percaya bisnisnya bisa tumbuh 15% tahun depan.

Diprediksi, pertumbuhan pada tahun depan kemungkinan didorong oleh gabungan peningkatan fokus pada keberlanjutan dan pemasok (supplier) maupun bahan baku (raw materials) berkualitas tinggi.

Hal tersebut mesti disokong oleh tenaga kerja yang terampil untuk meningkatkan produktivitas. Pengembangan bisnis juga diperlukan dengan pembukaan pasar baru dan pengenalan produk baru.

Dalam lima tahun ke depan, optimisme bahwa pertumbuhan bisnis pengusaha di Indonesia bisa tumbuh di atas 15% akan diyakini oleh lebih dari 60% pengusaha.

Survei ini dilakukan terhadap 9.131 perusahaan dari 6 wilayah berbeda. Sebanyak 150 perusahaan dari Indonesia menjadi bagian dari sampel penelitian. HSBC juga menetapkan kriteria pengambilan sampel, yaitu perusahaan dengan omzet minimal 1,75 juta dolar AS dan batas korporasi sebesar 16,5 juta dolar AS.

Responden merupakan para pengambil keputusan kunci dan mereka yang memiliki pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan di perusahaan.
Sementara itu, di tengah kondisi perekonomian dunia yang masih tidak stabil, Indonesia masih diramalkan tetap tumbuh minimal 5%. Angka BPS, misalnya, menjelaskan bahwa pertumbuhan pada semester III tahun ini mencapai 5,05%.

Menurut mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, kemampuan Indonesia menjaga momentum pertumbuhannya karena Indonesia dapat memperkecil total impornya, sedangkan total ekspornya lebih besar. Surplus ekspor ini (net ekspor) memberikan kekuatan ekonomi pada Indonesia untuk tetap menjaga pertumbuhannya.

Hanya saja, Chatib mengingatkan, menurunnya net impor, berpeluang akan menurunkan dampak pada sektor industri dan perdagangan. Bukan apa-apa, sebab Indonesia masih banyak bergantung dengan bahan baku impor.

Oleh sebab itu, dibutuhkan keseimbangan menjaga nilai impor dan ekspor. Di samping terus menggenjot investasi untuk jauh lebih besar.

Optimistis pengusaha terhadap perekonomian nasional merupakan tanda positif bahwa kebijakan pemerintah ke depan akan semakin ramah pada dunia usaha. (E-1)

Ekonomi
Pajak Ekonomi
Perbankan
Narasi Terpopuler
Komitmen Hutan Mangrove dan Padang Lamun
Indonesia terus mencari peluang kerja sama pengendalian emisi karbon di arena COP ke-25 di Madrid. Prioritasnya menekan angka deforestasi, reboisasi hutan kritis, dan restorasi gambut. ...
Kemensos Fokus Penurunan Stunting dan Kemiskinan
Anggaran Kementerian Sosial kelima terbesar dalam APBN 2020. Kegiatan akan difokuskan pada penanganan stunting dan pengurangan kemiskinan. ...
Lompatan Katak Kendaraan Listrik
Pemerintah Indonesia mematok target produksi dua juta motor listrik pada tahun 2025. Pemerintah  diminta segera melakukan disain peta jalan BEV tanpa harus menunggu kesiapan industri komponen uta...
Menuju Fasilitator Perdagangan Kelas Dunia
Pelindo II atau Indonesia Port Corporation atau disingkat IPC akhir tahun 2019 ini merayakan ulang tahunnya yang ke-27. IPC telah menyusun road map hingga 2024. Di mana pada 2024, IPC memiliki target ...
Humanisasi Peradaban Dunia
Jauh hari sebelum Jokowi jadi presiden, saat masih menjabat Wali Kota Solo, ia sebagai pemimpin daerah tercatat sebagai pionir yang mempelopori kebijakan yang berpihak pada penyandang disabilitas. Ya,...
Arus Liar Di Balik Agenda Amandemen
Presiden Jokowi merasa terganggu oleh wacana amandemen yang melebar. Amandemen UUD perlu situasi khusus, yakni ketika visi politik sebagian besar elemen masyarakat telah terkonsodilasikan. ...
Dari Cikarang Lewat Patimban ke Pasar Dunia
Pelabuhan Patimban Subang akan jauh lebih besar dari Tanjung Perak dan Makassar. Dermaga terminal (hasil reklamasi) memberi kedalaman 17=18 meter hingga dapat melayani kargo ukuran ultra-large yang ta...
Omnibus Law: Solusi dan Terobosan Hukum
Tantangan era masyarakat digital telah menghadang di depan mata. Indonesia tidak boleh berlama-lama terbelit oleh regulasi yang gemuk dan tumpang tindih. Sebuah terobosan kebijakan haruslah segera dil...
Membangun Industri Sawit Berkelanjutan
Setelah berproses sejak 2014, di penghujung tahun ini akhirnya Presiden Joko “Jokowi” Widodo menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perke...
Pentingnya Reformasi Birokrasi di Zaman Digital Informasi
Kritik Gus Dur terhadap kinerja Kementerian Agama tentu harus disikapi dengan terbuka. Kementerian Agama di Indonesia, sebagai salah satu dari lima kementerian terbesar berdasarkan alokasi anggaran be...