Bahasa | English


IDULFITRI

Silaturahmi Lebaran dengan Normal Baru

23 May 2020, 04:46 WIB

Hal-hal yang sebelumnya mungkin kita anggap tak lazim dan tak pernah terpikirkan. Tapi perubahan harus kita terima, mau tak mau.


Silaturahmi Lebaran dengan Normal Baru Petugas Kementerian Agama Sumbar melakukan pemantauan hilal di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat di Padang, Sumatera Barat, Jumat (22/5/2020). Berdasarkan Sidang Isbat, Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1441 Hijriah jatuh pada 24 Mei 2020. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Hari Raya Idulfitri sudah di ambang pintu. Umat Islam seluruh dunia akan merayakan hari kemenangan, kembali ke fitri, setelah satu bulan menunaikan ibadah puasa pada Ramadan.

Lafaz takbir dan tahmid pun terdengar di mana-mana meski tidak membahana sebagaimana biasanya.  Allaahu  akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd (Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah). Seluruh alam mendengar.

Namun, perayaaan hari kemenangan 1441 Hijriyah kali ini berbeda. Tradisi perayaan, yakni mudik dan bersilaturahmi ke orang  tua atau yang dituakan, harus ditunda. Perjumpaan  secara fisik  kini dibatasi. Pandemi Covid-19 yang sudah mendera Indonesia hampir tiga bulan ini telah mengubah segalanya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menganjurkan masyarakat, terutama yang berada di zona merah untuk salat Idulfitri di rumah saja. Anjuran itu bertujuan untuk memutus penyebaran Covid-19.

Dalam rangka itulah MUI pun telah mengeluarkan Fatwa Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Khotbah dan Salat Idulfitri 1441 Hijriyah. Tidak berselang lama, Pengurus Pusat Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran serupa. Surat edaran itu ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berisi imbauan agar Umat Islam melakukan salat Idulfitri di rumah masing-masing. Demikian pula ormas Islam lainnya, Nahdlatul Ulama. Melalui surat edaran PBNU No. 3053/C1.034/04/2020.

Kebiasaan berubah, aktivitas berubah, kehidupan sosial pun turut berubah. Budaya silaturahmi  tatap muka dan jabat  tangan yang kental di Indonesia kini dipaksa berubah. Jaga jarak (physical distancing) menjadi alasannya. Ini satu kenormalan baru atau new normal yang harus diterima. Begitulah banyak orang menyebutnya. Kita harus terbiasa dengan perubahan-perubahan itu.

 

Tak Lazim

Tidak lagi bersalam-salaman, bekerja di rumah, bersekolah di rumah, beribadah di rumah. Hal-hal yang sebelumnya kita anggap tak lazim dan tak pernah terpikirkan. Tapi perubahan harus kita terima, mau tak mau. Pasalnya, dengan hampir 4,9 juta orang di dunia sudah terinfeksi per 22 Mei 2020, dan hampir 326.000 di antaranya meninggal dunia, Covid-19 sudah menjadi ancaman mematikan di depan mata.

Di Indonesia sendiri, data per 22 Mei 2020 menunjukkan angka orang terinfeksi mencapai 20.796 orang dan 1.326 di antaranya meninggal dunia. Artinya tingkat kematian tembus hingga 6,3%. Ketakutan dan  kecemasan adalah hal yang tak bisa dihindari di tengah pandemi apapun di dunia ini, termasuk Covid-19.

Tapi, cepat atau lambat, kita harus beradaptasi dengan kondisi tak nornal ini menjadi sesuatu yang normal di kehidupan kita. Ada beberapa alasan pada akhirnya kita harus menerima kehadiran virus ini  dalam kehidupan sehari-hari kita. Baru-baru ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Covid-19 mungkin tidak akan pernah hilang dan penduduk di seluruh dunia harus belajar untuk hidup beradaptasi dengannya.

Ini merujuk pada jumlah kasus terinfeksi yang tak juga mereda, bahkan di Wuhan, Tiongkok, yang semula sudah diyatakan bebas, sebulan kemudian muncul kembali kasus yang menjadi ancaman baru, disebut gelombang kedua pandemik.

Pun begitu pada negara-negara yang mulai mengendorkan lockdown setelah merasa kasus berkurang. Mereka kembali harus berjibaku dengan naiknya jumlah kasus baru. Alasan utama kenapa kita harus berkompromi dengan Covid-19 adalah karena vaksin sebagai penangkal virus belum juga ditemukan. Kurang lebih dibutuhkan 1 hingga 2 tahun untuk bisa menyediakan vaksin yang benar-benar tepat menangani virus bermahkota ini.

Alhasil, sebelum vaksin itu datang, virus masih bebas berkeliaran menyerang manusia. Ini yang membuat banyak negara seperti berada dalam kondisi trial and error untuk mencari obat daruratnya.

Selama ini medis hanya memakai pengobatan untuk gejala yang muncul. Misalnya, pasien menunjukkan demam maka akan diobati dengan obat pereda demam. Demikian untuk gejala penyakit lainnya. Kita juga harus berkompromi dengan Covid-19 lantaran kurangnya kesadaran untuk mencegah penularan dari diri masing-masing.

Fakta masih banyak orang keluyuran di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) adalah contoh nyatanya. Belum lagi larangan mudik yang tidak diindahkan.

Terakhir urusan perut. Tuntutan ekonomi memaksa orang untuk tetap berkegiatan di luar rumah demi pekerjaan. Ini yang tidak bisa dihindari, demi terpenuhinya hajat hidup dan tetap berputarnya roda perekonomian.

Jadi, selama alasan-alasan itu masih ada, mulailah membiasakan diri bekerja di rumah, beribadah di rumah, dan mengajarkan anak Anda di rumah meskipun itu terasa berat Anda rasakan. Selamat datang kenormalan baru.

 

 

 

Penulis: Firman Hidranto
Editor: Putut Tri Husodo/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Idulfitri
Kementerian Agama
Lebaran
Perayaan Keagamaan
Narasi Terpopuler
Trans-Sumatra, Ruas Pertama Tol di Serambi Mekah
Ruas pertama jalan tol segera beroperasi di Aceh. Panjang Jalan Tol Trans-Sumatra (JTTS) akan mencapai 672 km. ...
Antisipasi Amukan Si Jago Merah di Lahan Hutan
Musim kemarau tiba. Presiden mengingatkan untuk mengantisipasi kebakaran hutan. Beberapa langkah telah dilakukan. ...
Bisnis Teknologi Finansial, Tumbuh Bagai Cendawan di Musim Pandemi
Bisnis teknologi finansial tumbuh berkat kepercayaan yang baik pada industri ini. Pemerintah memberikan dukungan. Ekonomi digital bisa mendongkrak ekonomi nasional 10 persen. ...
Jakarta Merona Jingga, Surabaya Merah Menyala
Zona hijau dan kuning meningkat dari 226 (44 persen) menjadi 300 (58 persen) kabupaten/kota. Sejumlah kota besar kesulitan keluar dari zona merah atau jingga. Protokol kesehatan tak boleh ditawar. ...
Agar Konsumen Tenang Belanja Online
Pada 2019, jumlah aduan terkait perdagangan dengan sistem elektronik melonjak ke 1.518 kasus. Banyak kasus lain yang tak dilaporkan. Transaksi dengan sistem elektronik rawan penipuan. ...
Pendirian Teguh Indonesia Sikapi Aneksasi Israel
Indonesia sejak awal menolak keras rencana pemerintahan Benjamin Netanyahu untuk mengklaim wilayah di Tepi Barat sebagai milik Israel. ...
Kakak Asuh Mengawal UMKM di Pasar Digital
Sembilan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dilibatkan dalam pengembangan Pasar Digital (PaDi) Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Platform ini akan membantu monitoring belanja BUMN pada UMKM. ...
Jadi Anggota Dewan, Indonesia Miliki Peluang Strategis
Indonesia terpilih sebagai anggota tidak tetap dalam Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau The United Nations Economic and Social Council (ECOSOC) untuk masa tiga tahun mulai ...
Agar Semua Pulih di Kuartal IV
Ekonomi global diprediksi baru pulih pada 2021 dengan syarat didukung oleh berbagai langkah stimulus. Indonesia bisa pulih lebih cepat. ...
Perangi Infodemi di Tengah Pandemi
Ada seruan perang melawan infodemi dari Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Efeknya bisa memicu kekerasan dan memecah belah komunitas. Nama besar Bill Gates dan peraih Nobel Profesor Tasuku Honjo...