Bahasa | English


PERTUMBUHAN EKONOMI

Sinyal Positif di Tengah Pandemi

8 August 2020, 05:25 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal 2 mengalami kontraksi 5,32 persen year on year (oy). Angka ini lebih dalam dari ekspektasi sebelumnya. Meski begitu, pada kondisi ini industri makanan, minuman, dan farmasi tumbuh positif. Indeks manufaktur juga bergerak ke arah normal.


Sinyal Positif di Tengah Pandemi Warga menerima bantuan sosial (Bansos) tahap dua Provinsi Jawa Barat, di Kelurahan Harapan Jaya, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/7/2020). Bansos dianggap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Turbulensi ekonomi dialami banyak negara akibat pandemi Covid-19, tak terkecuali Indonesia. Laporan BPS Rabu (5/8/2020), menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2020 (Q2) mengalami kontraksi hingga 5,32 persen. Meski telah diperkirakan banyak pihak, karena tak sedikit negara lain juga mengalami hal yang sama, namun kedalaman kontraksinya menjadi perhatian lebih pemerintah. Hal ini karena situasinya lebih tinggi dari ekspektasi yang memperkirakan angka di sekitar minus 4,3 hingga 4,8 persen.

Kepala BPS  Kecuk Suharyanto menyatakan nilai -5,32 persen itu adalah kinerja Q2/2020 yang dihitung dengan harga konstan dibandingkan ke Q1/2019. Bila ditera ke Q1/2020, terjadi kontraksi 4,19 persen pada Q2.

Namun begitu, jika dihitung dalam satuan kinerja per semester, gambarannya tidak terlalu murung. Dibanding semester 1/2019, misalnya, dalam hitungan harga konstan, angka di semester 1/2020 itu hanya turun tipis, yakni -1,26 persen. Pasalnya, pada Q1 Indonesia masih tumbuh positif 2,97 persen.

Pertengahan Juli  lalu, pemerintah Singapura mengumumkan negaranya bahkan terkontraksi -12 persen (YoY) di Q2, setelah pada Q1 secara year on year (YoY) juga mencatatkan negatif 0,7 persen. Pada kuartal yang secara berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif, Singapura resmi masuk ke situasi resesi.

Thailand juga diperkirakan sedang memasuki masa resesi. Para analis ekonomi dari lembaga keuangan Morgan Stanley yang merilis laporan bertajuk Asia Economic Mid Year Outlook 2020, pertengahan Juli lalu, menyebutkan bahwa ekonomi Thailand tercatat -1,8 persen di Q1 dan (diperkirakan) -10 persen di Q2/2020. Filipina juga diterjang mendung tebal dengan -0,2 persen di Q1 dan (diperkirakan) -14 persen di Q2. Awan badai itu juga menyelimuti Malaysia, di mana +0,7 persen di Q1 lalu diperkirakan -13 persen di Q2.

Namun, Morgan Stanley yakin bahwa pada Q3 situasinya akan membaik, meski belum pulih. Ekonomi dikatakannya akan mulai bergerak lagi dengan menyesuaikan diri kepada ketentuan situasi normal baru. Dengan demikian, kontraksi yang terjadi pada Q3 tak sedalam Q2, dan pada Q4 diharapkan kinerja ekonomi sudah menuju ke tingkat tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya.

 

Konsumsi Rumah Tangga

Kepala BPS Suharyanto menyebutkan, pengeluaran secara tahunan (yoy), di semua komponen ekonomi memang mengalami kontraksi. Penurunan yang paling dalam ialah pada sektor hotel dan restoran yang susut 16,53 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), pengeluaran untuk investasi barang modal seperti bangunan, sarana jalan, dan mesin-mesin yang pada kuartal II-2020, juga mengalami kontraksi 8,61 persen.

Berikutnya, masih menurut BPS, konsumsi atau belanja pemerintah juga menciut 6,90 persen (YoY). Jika dirinci, hal ini karena ada kenaikan realisasi Bantuan Sosial (Bansos) sebesar 55,86 persen. Tapi, kenaikan itu tak cukup kuat untuk mengkompensasi terjadinya penurunan realisasi belanja barang-jasa, dan belanja pegawai. Tak urung secara kumulatif belanja pemerintah ini pun menyusut.

Namun, yang paling terasa dampaknya kepada besaran Produk Domestik Bruto (PDB) adalah konsumsi rumah tangga yang merosot 5,51 persen. Padahal, kontribusi konsumsi rumah tangga pada PDB itu 59 persen. Meski sisi perdagangan luar negeri, Indonesia mengalami surplus, namun dikarenakan ekspor dan impor melemah, kondisi ini pada akhirnya turut mengurangi kegiatan ekonomi.

Hanya ada dua komponen yang masih mencatatkan pertumbuhan positif, yakni sektor perumahan dan perlengkapan rumah yang naik 2,36 persen, serta sektor kesehatan dan pendidikan yang terkerek 2,02 persen. Secara umum, sektor industri menyusut. Namun, ada beberapa subsektor yang tetap tumbuh secara YoY, seperti industri pengolahan makanan-minuman, farmasi, dan suplemen kesehatan. ‘’Dalam situasi pandemi ini, pengeluaran untuk kesehatan memang meningkat,’’ kata Ketua BPS Suharyanto.

 

Sinyal Positif

Namun begitu, di tengah badai ekonomi akibat pandemic Covid-19 ini, Kecuk Suharyanto melihat ada geliat ekonomi dari sektor industri. Tampak ada kenaikan pada purchasing manager’s index (PMI). Setelah terpelanting ke level 26 pada Mei lalu, indeks manufaktur, yang mengindikasikan adanya kegairahan pembelian bahan baku dan bahan penolong industri, dikatakan Kecuk kembali menguat.

Pada Juni, indeks manufaktur yang dirilis HIS Markit, sudah merambat ke angka 39,1 dan 46.9 di bulan Juli. ‘’Sudah mendekati angka 50 yang berarti kembali normal,’’ kata Kecuk.

Untuk mendorong pertumbuhan industri, tentu diperlukan daya beli masyarakat yang tinggi. Maka itu  Presiden Joko Widodo terus mendorong belanja negara jajarannya melalui instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sejumlah paket Bansos maupun program padat karya kembali digulirkan untuk mengungkit daya beli.

Beberapa kebijakan relaksasi juga telah diberlakukan untuk memberikan stimulasi ekonomi, baik untuk industru besar hingga pada Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM). Tujuannya agar pelaku ekonomi bisa tetap bertahan melewati situasi sulit pandemi Covid-19. Segala kebijakan ini akan diimplementasikan dalam skema Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan dilaksanakan dengan mengikuti norma dan protokol adaptasi kebiasaan baru. Harapannya, ekonomi di kuartal 3 bisa terangkat.

 

 

 

 

Penulis: Putut Trihusodo
Editor: Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Corona
Covid-19
Dampak Covid-19
Dampak Pandemi
Ekonomi
Ekonomi Digital
Ekonomi Nasional
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
LawanCovid19
Menko Perekonomian
Pandemi
Pandemi Covid-19
Pemeriksaan Covid-19
Penanganan Covid-19
Penanggulangan Covid-19
PMI
protokol utama untuk penanganan kasus penyebaran virus corona
Narasi Terpopuler
Tertahan di Hulu, Hilir Jadi Pilihan
Menteri ESDM mengatakan target serapan pasar domestik untuk batu bara bisa tercapai. Menteri Luhut Binsar Panjaitan menawarkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah. ...
Potret Rinci Dampak Pandemi
Sekitar 82% dari semua unit usaha di Indonesia mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi. Sedangkan 35% harus mengurangi pegawai. Yang tumbuh di tengah pandemi hanya 2%. ...
Panas Bumi Tumpuan Energi Masa Depan
Panas bumi diyakini bakal menjadi salah satu sumber penting penyediaan energi listrik ke depan. Baru 8,9 persen potensi alam yang termanfaatkan. ...
Bangkit Setelah Diterjang Dua Badai
Setelah dihantam badai ganda, perang dagang Amerika vs Tiongkok dan pandemi, permintaan timah di pasar dunia merambat naik. Harga timah bangka bergerak menuju normal. ...
Pemulihan Ekonomi Tetap jadi Prioritas
Pagu anggaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub) naik tipis di 2021. Tapi masih jauh dari perencanaan sebelumnya. Sehingga perlu penajaman program prioritas. ...
Mengejar Penyerapan, Meluaskan Sasaran
Bank Dunia menilai komitmen Indonesia cukup baik dalam penanganan Covid-19 dengan meningkatkan program perlindungan sosial reguler sebesar 28,01% menjadi 59,19%. ...
Luapan Badai nan tak Kunjung Melandai
Asia Selatan-Tenggara menjadi zona paling aktif dalam penularan Covid-19. Eropa kembali menggeliat naik. Amerika, Afrika, dan Pasifik Barat menyusut. Angka kematian menurun. ...
Solusi Mengatasi Ketimpangan Sinyal
Pencanangan Preparatory Work Agreement (PWA) Proyek Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria) menjadi bukti investasi telekomunikasi di Indonesia masih bergairah. ...
Buah Segar Indonesia Melaju ke Pasar Dunia
Selama wabah pandemi permintaan buah dan sayur cukup meningkat. Masyarakat mencari makanan sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. ...
Menanti Tanam Jagung Panen Sapi
Memanfaatkan lahan keringnya, Pemprov NTT menggalakkan gerakan Menanam Jagung Panen Sapi. Targetnya, ketahanan pangan menguat, pakan sapi tersedia, dan rakyat lebih sejahtera. ...