Bahasa | English


PIMPINAN DPR

Rachmat Gobel, Pengusaha yang Politikus

8 October 2019, 03:31 WIB

Gobel pun melenggang ke Senayan setelah memperoleh 146.067 suara dari total 721.032 suara di Provinsi Gorontalo pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019.


Rachmat Gobel, Pengusaha yang Politikus Rachmad Gobel (kedua kanan) saat pelantikan dalam Rapat Paripurna ke-2 Masa Persidangan I Tahun 2019-2020 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Bagi mereka yang melek media, nama ini bukanlah sosok asing. Dia adalah Rachmat Gobel. Seorang pengusaha, penerus kerajaan bisnis keluarga Gobel. Ia adalah anak kelima dan putra laki-laki pertama H Thayeb Mohammad Gobel, sang pendiri dari Kelompok Usaha Gobel ini.

Pria kelahiran Gorontalo, 3 September 1962 itu pernah menjadi Menteri Perdagangan di Kabinet Kerja, awal pemerintahan Joko Widodo yang pertama. Tapi sampai setahun, posisinya di-resuffle dan digantikan Thomas Lembong. Di pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dia didapuk sebagai salah satu anggota Komite Inovasi Nasional (KIN), suatu komite yang tugasnya membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional.

Tersingkirnya Rachmat dari kursi menteri tak membuat hubungannya dengan Presiden Joko Widodo menjadi renggang. Karena dia memang bukan tipe orang yang gampang sakit hati.   Oleh karena itu tak lama kemudian Jokowi mengangkat Rachmat sebagai Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk negara Jepang. Selama menjadi utusan khusus presiden, Rachmat menjaga hubungan baik antara Indonesia dan Jepang, mulai dari kerja sama ekonomi sampai pertukaran budaya.

Sebagai politikus partai, Rachmat Gobel sepertinya tergolong pendatang baru. Jejaknya di partai politik tak terdeteksi sebelumnyai, kecuali menjadi kader Partai Nasional Demokrat (Nasdem) sejak 2016. Surya Paloh, pimpinan Nasdem waktu itu langsung memberikan tempat kepada Rachmat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Partai Nasdem.

Dan saat pemilu legislatif lalu, Partai Nasdem mengusung Rachmat menjadi calon anggota DPR RI untuk periode 2019-2024 untuk daerah pemilihan di Gorontalo. Gobel pun melenggang ke Senayan setelah memperoleh 146.067 suara dari total 721.032 suara di Provinsi Gorontalo pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019. Rachmat terpilih bersama dua kandidat lainnya, yakni Elnino M Husain dari Partai Gerindra dan Syahidah Rusli Habibie, dari Partai Golkar.

Partai Nasdem sepertinya punya rencana matang untuk Rachmat Gobel di DPR. Dua hari sebelum pelantikan, Partai Nasdem menyodorkan nama Rachmat Gobel sebagai wakilnya di pucuk pimpinan DPR RI. 

Penunjukan Rachmat Gobel merupakan langkah yang tepat, Rachmat diyakini sebagai kader  yang dapat diandalkan memperjuangkan kepentingan partai di lingkar pimpinan DPR RI. Tidak hanya itu, menurut Surya Paloh, Rachmat Gobel juga memiliki pribadi yang rendah hati, bersahaja, serta berwawasan luas. Masyarakat Gorontalo menganugerahi dia dengan gelar “Ti Bulilango Hunggia” atau berarti “Pemberi Cahaya Negeri”.

Partai Nasdem, menurut Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Johnny G Plate, memilih Rachmat Gobel berdasarkan pada ketokohan yang dapat membantu tugas-tugas di DPR.  Dan juga tujuannya  untuk "rebranding politik" partainya dalam memilih kader-kader yang memadai, berkompetensi, dan berintegritas.

Pada 1 Oktober, lima pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah resmi dilantik. Puan Maharani akan memimpin lembaga legislatif selama lima tahun terhitung 2019-2024. Dia didampingi empat orang wakil, yakni Aziz Syamsuddin dari Fraksi Partai Golkar, Sufmi Dasco Ahmad dari Fraksi Partai Gerindra, Rahmat Gobel dari Fraksi Partai Nasdem, dan Muhaimin Iskandar dari Fraksi PKB.

Berdasarkan pengumuman Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN),   Rachmat Gobel tercatat sebagai pimpinan DPR paling kaya. Politisi sekaligus pengusaha nasional ini memiliki total kekayaan Rp418.984.645.538. Gobel melaporkan harta kekayaannya pada 27 Mei 2019 sebagai calon anggota DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem.

Mungkin orang akan gampang mahfum, memahami kekayaan Gobel yang begitu besar. Karena kekayaannya itu bukanlah diperoleh dalam waktu singkat. Walaupun sebagai pewaris kerajaan bisnis Gobel, karir bisnisnya pun dimulai dari pangkat rendah. Ayahnya H Thayeb Mohammad Gobel, telah menanamkan prinsip kerja keras kepadanya. Di saat teman sebayanya menikmati liburan sekolah, Rachmat diperintahkan berangkat mengikuti latihan bekerja di pabrik seharian penuh. Ia diminta mengikuti ritme hidup sebagaimana layaknya seorang karyawan pabrik.

Setelah tamat dari Sekolah Menengah Atas di Jakarta pada 1981, Rachmat Gobel memilih melanjutkan kuliah di Jepang. Chuo University di Tokyo,Jepang, menjadi tempat pilihannya.  Ia dengan sadar memilih belajar di Jepang selain untuk mendapatkan ilmu, juga dapat mempelajari bahasa dan budaya Jepang. Ia paham karena itu dibutuhkan untuk komunikasi dan hubungan dengan rekan utama bisnis Kelompok Usaha Gobel, yaitu Matsushita Group (Panasonic Group), yang berasal Jepang.

Setelah berhasil menyelesaikan kuliahnya pada jurusan Perdagangan Internasional selama 4 tahun, ia memutuskan untuk menjalani praktik kerja di kantor pusat Matsushita Group, di Osaka. Selama dua tahun ia menjalani praktik kerja dan ditempatkan di berbagai divisi dalam group tersebut.

Ayahnya, H Thayeb Mohammad Gobel meninggal pada 21 Juli 1984. Namun baru 1989, Rachmat Gobel kembali ke Indonesia dan langsung menduduki posisi Asisten Presiden Direktur di PT National Gobel. National Gobel sekarang berubah nama menjadi PT Panasonic Manafacturing Indonesia. Perusahaan ini merupakan perusahaan joint venture pertama antara pihak Jepang dan Indonesia di bidang industri manufaktur elektronika, yang berdiri pada tahun 1970.  

Pada tahun 1991 Rachmat secara resmi diangkat menjadi anggota Dewan Direksi yang memiliki kewenangan penuh atas perencanaan manajemen perusahaan. Dan pada tahun 1993, Rachmat Gobel kemudian diangkat menjadi Wakil Presiden Direktur PT--sekarang PT Panasonic Manufacturing Indonesia--dan Presiden Direktur PT Panasonic Gobel Indonesia.

Di saat krisis 1998, dan banyak kelompok perusahaan besar terpuruk, tapi Kelompok Usaha Gobel, yang dipimpin oleh Rachmat Gobel, berhasil bertahan. PT Gobel International dan Matsushita Electric Industrial Co.,Ltd. (perusahaan induk Matsushita Group, sekarang Panasonic Group), memperpanjang perjanjian kerja sama joint venture–nya, di bawah bendera PT National Gobel (sekarang PT Panasonic Manafacturing Indonesia).

Sejak tahun 2002 Rachmat menjabat sebagai Komisaris PT National Gobel (sekarang PT Panasonic Manufacturing Indonesia), sedangkan jabatan Komisaris Utama PT Panasonic Gobel Indonesia diembannya sejak tahun 2004. Dia menempati posisi sebagai Presiden Direktur dan pemilik saham mayoritas bagi PT Gobel International. PT. Gobel International adalah holding company Kelompok Usaha Gobel.

Di organisasi Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Ramhat Gobel berkali-kali menempati posisi strategis.Tahun 2002,  Rachmat Gobel duduk sebagai Ketua Kadin Indonesia Bidang Industri Logam, Mesin, Kimia dan Elektronika. Kemudian Rachmat  dipercaya untuk memegang jabatan strategis sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia-Koordinator Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan periode 2004-2008. Dan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia-Koordinator Bidang Perindustrian, Riset, dan Teknologi periode 2008-2010.

Sejak 2006, Rachmat Gobel mulai mendorong tradisi baru bersama Ketua Umum Kadin Indonesia Mohamad Suleman Hidayat, menggelar serangkaian roundtable discussion dengan asosiasi-asosiasi industri untuk menyusun VISI 2030 dan RoadMap 2010 Industri Nasional. Saat ini Rachmat Gobel menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia-Koordinator Bidang Infrastruktur dan Ketua DPN Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).

Rachmat  memiliki perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia. Melalui Yayasan Masushita Gobel , mereka memberikan kontribusi untuk pendidikan teknik dan kewirausahaan tenaga kerja industri di Indonesia. Yayasan ini menjadi semacan pusat kajian bagi industri hingga pada tingkatan regional, khususnya dalam mendorong terwujudnya pemerataan ilmu dan pengalaman, guna peningkatan kapabilitas centers of excellence di kawasan ASEAN. Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari METI (Ministry of Economy, Trade and Industry) Jepang.  (E-2)

Pimpinan DPR
Narasi Terpopuler
Pangkas Waktu Tempuh, Tol Cibitung-Cilincing Sudah 60%
IPC melalui anak perusahaannya PT Akses Pelabuhan Indonesia bekerja sama dengan Waskita Toll Road  membangun jalan Tol Cibitung-Cilincing. Tol ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh angkut b...
Sang Akademisi yang Politikus
Hidayat tercatat dalam tiga besar calon legislatif dengan suara terbanyak di peringkat tiga setelah Puan Maharani (PDIP) dan Cornelis, juga dari PDIP. ...
Kader Anshor Menyalip Mentor
Sebagai santri politik Jazilul Fawaid menjadi peraih suara terbesar di antara semua caleg PKB pada Pemilu 2019. Dua kali dipanggil KPK, toh kekayaannya paling kecil di antara pimpinan MPR yang lain. ...
Politik Dijalankan Dengan Hukum
Memegang disiplin hukum yang ketat, Wakil Ketua MPR Arsul Sani terbiasa memandang isu politik kenegaraan dalam perspektif hukum. Menonjol perannya dalam TKN Jokowi-Ma’ruf Amin. ...
Politisi Luwes yang Kembali Menjejak Kursi Pimpinan
Karier politiknya dimulai dengan menjadi pengurus PAN di bidang logistik PAN. Tidak butuh lama karier politiknya pun membumbung. ...
Indonesia Jadi Raja Digital Asia Tenggara
Menkominfo Rudiantara memberikan isyarat akan lahir satu perusahaan rintisan sebagai unicorn selanjutnya, yakni berasal dari sektor pendidikan. ...
Strategi Menangkap Masa Depan
Maritim adalah masa depan Indonesia. Oleh karena itu trilogi maritim atau jaringan pelabuhan yang terintegrasi (integrated port network) menjadi salah satu kuncinya. ...
Presiden Joko Widodo dan Jati Diri TNI
Jelas, perubahan paradigma ini bukan hanya merupakan konsekuensi logis dari perubahan zaman dan tatanan, dari Orde Baru ke Orde Reformasi, tetapi lebih dari itu. ...
Figur Generasi Ketiga yang Fleksibel, Lincah, dan Moderat
M Azis Syamsuddin menjadi Wakil Ketua DPR-RI. Ia mewakili generasi ketiga Golkar yang berkiprah pascareformasi. Tanpa beban masa lalu, Azis lincah dalam melangkah, tapi tetap dalam tradisi moderasi Go...
Pendiri Partai Gerindra dan Pekerja Senyap
Sufmi Dasco memang orangnya tidak suka publikasi yang berlebihan. Namun, justru itu yang menjadi faktor penentu keberhasilannya. ...