Bahasa | English


RITUAL KESEMBUHAN

Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam

29 November 2019, 07:17 WIB

Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh etnis Kaili di Sulawesi Tengah. Di Jambi, juga ada ritual penyembuhan yang dinamakan Basale.


Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam Upacara Basale Suku Anak Dalam. Foto: Beutiful Indonesia

Basale adalah ritual penyembuhan khas Jambi, yang dilaksanakan oleh Suku Anak Dalam (SAD). Suku Anak Dalam menetap di pedalaman hutan lintas kabupaten yang ada di Provinsi Jambi. SAD merupakan suku minoritas yang berada di Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan. Ritual basale dilaksanakan manakala ada anggota keluarga SAD yang terkena penyakit. Mereka menyakini bahwa penyakit itu datang karena kemurkaan dewa atau penunggu yang marah karena ulah manusia.

Dalam pelaksanaannya, ritual ini dipimpin oleh seorang Tumenggung atau dukun (alim). Ritual dilangsungkan di suatu balai berukuran cukup besar, sehingga bisa memuat banyak orang. Balai-balai ini dibuat sehari sebelum ritual dilaksanakan.

Bagi SAD upacara basale merupakan hal yang sakral. Sehingga ketika ritual berlangsung, tidak boleh ada orang luar dari kelompoknya yang boleh ikut menyaksikannya. Ritual ini merupakan bentuk pengakuan penyesalan karena mereka merasa telah melanggar pantangan yang mengakibatkan dewa marah. Hal seperti ini dapat kita jumpai di berbagai kelompok yang menganut aliran animisme.

Jenis-jenis Upacara Basale

Ritual basale memiliki beberapa jenis tergantung kondisi penyakit anggotanya. Apakah mengalami sakit berat atau ringan. Dalam catatan Zulbadren di dalam buku Adaptasi Sosial Budaya Masyarakat Kubu terhadap Perubahan Lingkungan di Jambi mencatat setidaknya ada 10 jenis-jenis upacara basale, yaitu;

Basale besar atau bermalim beringin tujuh pangkat. Bertujuan menyembuhkan penyakit berat. Upacara ini dengan pembacaan mantera yang dinyanyikan dan merupakan sastra suci yang disebut dengan ”sale” yang terdiri dari tiga puluh nyanyian.

  1. Basale kecil bermalim beringin tiga pangkat untuk menyembuhkan sakit ringan dengan puluh sale.
  2. Basale bermalim sale untuk menyembuhkan sakit ringan dengan tujuh sale.
  3. Basale bermalim suraian untuk menyembuhkan sakit gila, lupa ingatan, dungu, dengan tiga puluh tiga mantera sastra suci.
  4. Basale bermalim gelemat, untuk menyembuhkan sakit bagi perempuan hamil dan ingin keturunan.
  5. Basale bermalim katu aro untuk menyembuhkan sakit melahirkan.
  6. Basale bermalim bujuk untuk mencari jodoh dan bernazar.
  7. Basale bermalim puncak meligai untuk upacara selamatan besar, tamat menjadi malim kepala.
  8. Basale bermalim timbang dundangan, untuk upacara perkawinan.
  9. Basale bermalim jadi (bermalim datuk) dilaksanakan untuk wabah penyakit dan sebagiannya.

Ritual ini pernah dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada tanggal 13 Oktober 2016. Ketika itu mereka menampilkan Basale Ngubat Ririh Layang. Yang mana kegiatan ini merupakan agenda promosi dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Budaya Upacara Besale dari Suku Anak Dalam (SAD) ini sudah masuk daftar tunggu di Unesco. Yang mana ketika telah mendapatkan sertifikasi atau pengakuan dari Unesco, upacara basale ini akan dapat pengaruh positif terhadap pelestarian budaya. (K-LH)

Warisan Budaya
Ragam Terpopuler
Kratom: Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...
Bajau dalam Satu Tarikan Nafas
Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. ...
Untung Surapati, antara Cinta dan Tragedi
Ada cinta sejati terpatri sangat kuat, juga kisah tragis mengharu biru. Selain heroisme, cinta, dan tragedi inilah tampaknya membuat kisah Untung Surapati melegenda dan sekaligus lekat di hati masyara...
Puas Nikmati Durian di Taman Botani Sukorambi
Bila kebetulan berada di Jawa Timur bagian Timur, mampirlah ke destinasi wisata favorit Taman Botani Sukorambi, Jember, Jawa Timur. Di sana selain bisa berekreasi dengan berbagai wahana edukasi, kita ...
Kawin Antarbangsa
Sekalipun seorang bumiputera yaitu Untung Surapati dijadikan sebagai pelaku utama dalam romannya, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, sayangnya pilihan judul itu terkesan menyempitkan makna akan kisah Sura...
Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan
Begitu pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan. ...
Di Kaltim Ada Juga Akar Bajakah Penyembuh Kanker Payudara
Etnis Dayak di Pulau Kalimantan menyebut pohon ini dengan nama bajakah. Pohon bajakah tumbuh di seluruh hutan di Pulau Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kalut, dan Kaltim). Bajakah ternyata ju...
Kemanusiaan di dalam Gerak; Ketika Suprapto Telah Berhenti
Sepanjang karirnya yang membentang sejak paruh akhir 60-an, Suprapto menekuni jalan kemanusiaannya dengan menekuni apa yang dia suka. Seperti orang yang jatuh cinta dengan tubuhnya, Suprapto terus men...
Sejarah Rekayasa Air dalam Prasasti Tugu
Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu. Prasasti ini menurut para arkeolog berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. ...