Bahasa | English


TRADISI INDONESIA

Jimpitan, Tradisi Pendukung Ekonomi Rakyat

9 April 2019, 19:56 WIB

Jimpitan tetap eksis di zaman modern. Tradisi ini menjadi solusi pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat yang enggan bersentuhan dengan jasa perbankan.


Jimpitan, Tradisi Pendukung Ekonomi Rakyat Ilustrasi. Sumber foto: Shutterstock

WANDA masih mengenakan seragam Linmas atau Perlindungan Masyarakat ketika sejumlah warga berkumpul di pos penjagaan untuk ronda. Rasa penasaran menyeruak. Ia pun mendekat ke arah pos penjagaan untuk mengetahui apa gerangan yang dilakukan warga di sana.

Sayup-sayup terdengar ucapan ini. “Sebentar lagi Lebaran. Kita pasti butuh dana untuk bikin ketupat,” ujar Susi (63), ketua rukun tetangga yang turut berkumpul di pos penjagaan.

Mendengar perkataan Susi, Wanda yang sehari-hari berjualan ayam goreng langsung menanggapi. “Kalau begitu, kita mengadakan jimpitan saja,” ujarnya.

Menurut Ahli Budaya Jawa Prapto Yuwono, jimpitan adalah salah satu bentuk menabung di desa yang tujuannya sekadar mengganti jasa ronda. Jimpit berasal dari bahasa Jawa yang artinya mengambil sedikit dengan tiga ujung jari. “Jempol, telunjuk dan jari tengah,” papar Prapto kepada Indonesia.go.id.

Dahulu tradisi ini kerap dilakukan saat ronda malam. Warga biasanya menaruh beras dalam jumlah sedikit wadah dan meletakkannya di depan rumah. Di malam hari, petugas ronda mengambil beras-beras tersebut sebagai pengganti jasa ronda.

Tahun kelahiran jimpitan masih berselubung misteri. Banyak versi mengenai tahun kelahirannya. Namun yang pasti tradisi ini lahir sejak warga desa di Jawa memiliki kesadaran untuk tinggal berkelompok dengan warga lain yang sama-sama memiliki kesulitan ekonomi pada masa penjajahan Belanda. Berdasarkan hasil penelitian Prapto, jimpitan sering dilakukan di berbagai pelosok desa di Jawa Tengah. “Hasil penelitian saya di desa Mojolaban dan Lawean membuktikan ini,” tegas Prapto.

Selain sebagai pengganti jasa ronda, beras yang telah dikumpulkan juga ada yang dibagikan kepada warga kurang mampu.

Penghapus Kesenjangan Sosial

Jurang antara warga sejahtera dan prasejahtera nyata adanya. Tingginya inflasi kerap membuat jurang pemisah semakin lebar. Menilik era 1960-1965 kala inflasi berkisar dari 20 hingga 694 persen, periode tersebut merupakan “bencana” bagi masyarakat.

Harga barang kebutuhan pokok naik. Rakyat prasejahtera kesulitan membeli barang-barang kebutuhan pokok. Akan tetapi, jimpitan menjadi penyelamat. Jimpitan beras membuat rakyat prasejahtera bisa mendapatkan beras secara cuma-cuma. Dengan tradisi ini, rakyat prasejahtera jelas terbantu.

Tak Melulu Beras

Penghimpunan “dana” ala jimpitan telah lama berganti dari beras ke uang. Di Desa Kauman, Jepara, warga setiap malam jimpitan receh sebesar Rp500. Dana jimpitan dikumpulkan lantas dikelola sendiri untuk membangun desa.

Uang yang telah terkumpul dijadikan modal usaha berupa warung kopi, toko kecil yang menjual beras organik dan rokok, serta pembangunan fasilitas internet bagi warga. Jimpitan ala warga Desa Kauman ini juga berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi 4-7 warga.

Dalam hitungan bulan, dana hasil swakelola jimpitan berkembang dan rencananya akan digunakan pula untuk menyubsidi kegiatan Posyandu dan kelas belajar warga.

Jimpitan juga terbukti mampu menyelamatkan warga yang tidak dapat mengakses layanan keuangan. Itu sebabnya banyak orang menyebut jimpitan sebagai kearifan lokal yang mesti dipertahankan. Apalagi tradisi ini juga sejalan dengan konsep gotong royong di Tanah Air. (K-RG)

Budaya
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...