Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


TRADISI INDONESIA

Jimpitan, Tradisi Pendukung Ekonomi Rakyat

Tuesday, 9 April 2019

Jimpitan tetap eksis di zaman modern. Tradisi ini menjadi solusi pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat yang enggan bersentuhan dengan jasa perbankan.


Jimpitan, Tradisi Pendukung Ekonomi Rakyat Ilustrasi. Sumber foto: Shutterstock

WANDA masih mengenakan seragam Linmas atau Perlindungan Masyarakat ketika sejumlah warga berkumpul di pos penjagaan untuk ronda. Rasa penasaran menyeruak. Ia pun mendekat ke arah pos penjagaan untuk mengetahui apa gerangan yang dilakukan warga di sana.

Sayup-sayup terdengar ucapan ini. “Sebentar lagi Lebaran. Kita pasti butuh dana untuk bikin ketupat,” ujar Susi (63), ketua rukun tetangga yang turut berkumpul di pos penjagaan.

Mendengar perkataan Susi, Wanda yang sehari-hari berjualan ayam goreng langsung menanggapi. “Kalau begitu, kita mengadakan jimpitan saja,” ujarnya.

Menurut Ahli Budaya Jawa Prapto Yuwono, jimpitan adalah salah satu bentuk menabung di desa yang tujuannya sekadar mengganti jasa ronda. Jimpit berasal dari bahasa Jawa yang artinya mengambil sedikit dengan tiga ujung jari. “Jempol, telunjuk dan jari tengah,” papar Prapto kepada Indonesia.go.id.

Dahulu tradisi ini kerap dilakukan saat ronda malam. Warga biasanya menaruh beras dalam jumlah sedikit wadah dan meletakkannya di depan rumah. Di malam hari, petugas ronda mengambil beras-beras tersebut sebagai pengganti jasa ronda.

Tahun kelahiran jimpitan masih berselubung misteri. Banyak versi mengenai tahun kelahirannya. Namun yang pasti tradisi ini lahir sejak warga desa di Jawa memiliki kesadaran untuk tinggal berkelompok dengan warga lain yang sama-sama memiliki kesulitan ekonomi pada masa penjajahan Belanda. Berdasarkan hasil penelitian Prapto, jimpitan sering dilakukan di berbagai pelosok desa di Jawa Tengah. “Hasil penelitian saya di desa Mojolaban dan Lawean membuktikan ini,” tegas Prapto.

Selain sebagai pengganti jasa ronda, beras yang telah dikumpulkan juga ada yang dibagikan kepada warga kurang mampu.

Penghapus Kesenjangan Sosial

Jurang antara warga sejahtera dan prasejahtera nyata adanya. Tingginya inflasi kerap membuat jurang pemisah semakin lebar. Menilik era 1960-1965 kala inflasi berkisar dari 20 hingga 694 persen, periode tersebut merupakan “bencana” bagi masyarakat.

Harga barang kebutuhan pokok naik. Rakyat prasejahtera kesulitan membeli barang-barang kebutuhan pokok. Akan tetapi, jimpitan menjadi penyelamat. Jimpitan beras membuat rakyat prasejahtera bisa mendapatkan beras secara cuma-cuma. Dengan tradisi ini, rakyat prasejahtera jelas terbantu.

Tak Melulu Beras

Penghimpunan “dana” ala jimpitan telah lama berganti dari beras ke uang. Di Desa Kauman, Jepara, warga setiap malam jimpitan receh sebesar Rp500. Dana jimpitan dikumpulkan lantas dikelola sendiri untuk membangun desa.

Uang yang telah terkumpul dijadikan modal usaha berupa warung kopi, toko kecil yang menjual beras organik dan rokok, serta pembangunan fasilitas internet bagi warga. Jimpitan ala warga Desa Kauman ini juga berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi 4-7 warga.

Dalam hitungan bulan, dana hasil swakelola jimpitan berkembang dan rencananya akan digunakan pula untuk menyubsidi kegiatan Posyandu dan kelas belajar warga.

Jimpitan juga terbukti mampu menyelamatkan warga yang tidak dapat mengakses layanan keuangan. Itu sebabnya banyak orang menyebut jimpitan sebagai kearifan lokal yang mesti dipertahankan. Apalagi tradisi ini juga sejalan dengan konsep gotong royong di Tanah Air. (K-RG)

Budaya
Ragam Terpopuler
3 Pesona Kekayaan Alam Pulau Bangka yang Tiada Duanya
Kekayaan alam di Pulau Bangka yang terletak di pesisir timur Pulau Sumatera ternyata menyimpan berjuta keindahan. Kombinasi pantai dan pegunungan dari pulau penghasil timah ini selalu sukses membuat p...
Negeri Asal Budaya Minangkabau Jadi Desa Terindah di Dunia
Keindahan Desa Nagari Tuo di Indonesia berhasil menyabet gelar desa terindah di dunia versi Majalah Budget Travel dengan kategori World’s Most Picturesque Villages pada tanggal 23 Februari 2012....
Brekecek Pathak Jahan, Sajian Khas dari Cilacap
Sensasi menyedot dan menyeruput bagian pathak ikan jahan itulah yang menjadi seni menyantap kuliner brekecek pathak jahan ini. ...
Daya Pikat Hotspring Tanah Karo
Kolam air panas, bentang alam, udara dingin, suasana perladangan yang kaya tanaman dan dinding gunung menjadi satu potensi alam yang memiliki nilai jual. ...
Bhumi Merapi: Konsep Wisata Berwawasan Lingkungan
Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Terbentang pemandangan dan keanekaragaman hayati dari ujung Sabang sampai Merauke. Tentunya melalui kekayaan alamnya ini diharapkan dapat dinikmati se...
Eksotisnya Desa Sentani di Jayapura dengan Berjuta Keunikannya
Ternyata destinasi wisata di Jayapura bukan hanya Raja Ampat. Masih banyak wilayah lokasi wisata lainnya yang tak kalah eksotis, salah satunya Desa Sentani. ...
Ketika Ciliwung Punya Pahlawan Baru
Sebuah harapan besar pun tercanang bahwa akan semakin banyak masyarakat yang hidup di sekitar sungai Ciliwung yang semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan di mana mereka tinggal. ...
Sangiran dan Manusia Jawa
Terinspirasi oleh hipotesa Alfred Russel Wallace, Dubois meyakini asal usul manusia modern terletak di Asia Tenggara, dan mengukuhkan hipotesa itu melalui fosil temuannya di Trinil. ...
Ada Lopes dan Kopi Khas Situbondo di Pasar Panji
Kalau kita sedang melintas dengan jalur darat dari Surabaya ke Bali, kita akan melewati Situbondo ini. Dan tak ada salahnya mampir ke pasar panji. Ada Lopes dan Kopi Khas.  ...
Ke Banyuwangi, Bisa Cicipi Super Ayam Pedas Hingga Nasi Bungkus Khas Banyuwangi
Siapa bilang Banyuwangi tidak punya kuliner Khas? Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini ternyata menyimpan makanan khas dan ada yang hanya tersedia di Banyuwangi ini saja. ...