Bahasa | English


RITUAL SESAJI

Kisah Uang Kepeng di Setiap Sesaji

29 November 2019, 05:45 WIB

Bali ternyata menyimpan dengan baik sejarah keterkaitan wilayah itu dengan China. Itu terlihat pada kebudayaan dan religi yang mereka anut yang bisa kita lihat dari mata uang kepeng untuk sesaji sampai tarian sakral Bali yang bernuansa China.


Kisah Uang Kepeng di Setiap Sesaji Uang Kepeng Bali. Foto: Dok. Bali Post

Sesaji merupakan ciri khas adat Bali. Dalam kelengkapan sesaji Bali, umumnya kita temukan uang kepeng. Uang kepeng sesaji Bali berciri khas China dengan lubang di tengah, yang di Bali dikenal dengan nama pis kopong.

Uang kepeng pis kopong Bali terbuat dari logam yaitu bahan yang sama dengan yang digunakan untuk membuat gamelan. Ada juga yang dibuat dari bahan kuningan atau perunggu. Tulisan pada pis kopong bervariasi, ada yang berbentuk huruf China atau hanya berbentuk gambar saja.

Menurut sejarahnya, uang kepeng dalam sesaji tersebut tak lepas dari pengaruh China atas Bali. Beberapa literatur menyebut bahwa hubungan orang Bali dengan pendatang internasional terjadi pada zaman klasik pertengahan yaitu sekitar 900-1250 Masehi.

Sejarah mencatat bahwa Patih Gajah Mada (GM) diangkat jadi Maha Patih pada tahun 1334 M. Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa tahun 1343 M. Pada tahun itu pula, Patih GM dan pasukannya menaklukkan Bali sebagai daerah taklukan pertama. Artinya, perdagangan Bali dengan China berlangsung sebelum Majapahit menaklukkan Bali.

Tulisan atau gambar yang ada di pis kopong menunjukkan kapan uang kepeng itu dicetak. Pis kopong tertua yang pernah ditemukan adalah hasil cetakan zaman Dinasti Tang (7-9 Masehi). Tapi rata-rata pis kopong yang ditemukan di Bali adalah peninggalan Dinasti Ming yang berkuasa tahun 1368 hingga 1643 Masehi dan Dinasti Qing tahun 1644 hingga 1911 Masehi.

Selain berfungsi sebagai kelengkapan sesaji, uang kepeng China juga berfungsi sebagai alat tukar yang sah di Bali. Itu berlaku dari zaman Majapahit hingga masa kolonial Belanda, dan berakhir sekitar tahun 1930 Masehi. Meski sedari awal Belanda berusaha melarang pis kopong, tapi tak berdaya karena masyarakat Bali bersikeras memakainya sebagai alat pertukaran barang dan jasa di kalangan mereka.

Seperti digambarkan di atas, di Bali uang kepeng dipakai sebagai pelengkap upacara agama Hindu hingga sekarang. Dalam perkembangannya, karena uang kepeng makin sulit didapat, maka dipakai dalam upacara-upacara penting di pura saja. Sedangkan uang pada sesaji sehari-hari sudah beralih pada uang rupiah yang kita akrabi sekarang atau pis kopong yang dicetak di Bali dalam versi kekinian.

Tari Baris China Simbol Kesiapsiagaan Prajurit Berperang

Jejak China atas Bali juga terlihat di beberapa kesenian seperti seni tari. Tari Baris China adalah tarian sakral yang selalu ditarikan pada piodalan (ulang tahun) pada Pura Khayangan Tiga Desa Adat Renon. Juga ditarikan pada pura yang punya keterkaitan dengan Pura Renon, yaitu Pura Sanur, Pura Sakenan, Pura Peti Tenget, dan Pura Rambut Siwi.

Merunut pada kisahnya, digambarkan saat itu dinasti Marwadewa yang sedang memerintah sedang menghadapi serangan bertubi-tubi dari musuh sehingga prajurit harus selalu siap siaga. Uniknya, gerakan tarinya tidak mengikuti pakem tari bali umumnya karena hanya seperti orang berbaris yang dikombinasikan dengan gerakan seperti silat. Tari dibawakan oleh 18 orang penari laki-laki yang terbagi dalam dua barisan.

Para penari mengenakan baju putih dan sebaris lainnya memakai baju hitam. Masing-masing baris berjumlah sembilan orang. Busana yang dikenakan adalah topi khas Eropa atau Australia. Mereka memakai hem dan celana panjang ala Eropa dan selempang poleng (kain motif hitam putih) sebagai satu-satunya kekhasan Bali. Mereka tidak membawa tombak dan tameng seperti tentara masa lalu, yang mereka bawa adalah pedang China.

Tarian tersebut diiringi musik dari bebunyian gong beri yaitu gong ber dan bor (gong yang tidak bermoncol) dimana suaraya sember dan tidak semerdu gong bermoncol. Juga ada sungu yaitu alat musik tiup dari kerang dan beberapa instrumen lain. Gong beri diketahui berasal dari China dan pernah ditemukan di Thailand untuk mengiringi pesta perkawinan.

Musiknya dimainkan dengan cara menghentak-hentak seperti siap perang. Para penari berhadap-hadapan dan puncak tarian itu adalah ketika mereka mengalami kesurupan (trance) ketika memainkan pedang. Ketika trance itulah, biasanya mereka berkata-kata dalam bahasa Tionghoa.

Ada juga kesenian Bali yang kental dipengaruhi budaya China, yaitu kesenian Barong Landung. Tidak seperti barong lainnya yang berwujud binatang, Barong Landung adalah sepasang patung besar (seperti ondel-ondel). Barong Landung laki, wajahnya menakutkan, dengan muka hitam dan gigi yang keluar. Sedangkan Barong perempuan disebut Barong Luh yang digambarkan seperti perempuan China.

Barong Landung merupakan perwujudan dari Raja Sri Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wie dari Balingkang yang terkena kutuk Bathari Danu. Kesenian Barong Landung sering mengambil lakon Arja dalam pementasannya.

Keterkaitan antara Cina dan Bali sangat erat mungkin karena secara historis dan budaya sama-sama serupa. Jika kita perhatikan kesamaan Hindu dan Kong Hu Cu adalah agama arwah yaitu mengagungkan dan menyembah leluhur. Keduanya sama-sama memakai air suci dan dupa, serta tata cara keduanya yang sangat mirip.

Akulturasi memang merupakan proses yang panjang. Dimulai dari kontak, interaksi, intergrasi, barulah kemudian terjadi proses akulturasi dan asimilasi. Bali dan China sudah melampaui ini semua. (K-CD)

Warisan Budaya
Ragam Terpopuler
Kota Bunga Tomohon dan Serba Tujuhnya
Banyak orang sepakat bahwa Tomohon adalah salah satu destinasi wisata yang memikat. Wisatawan datang ke sana tidak hanya karena indahnya bunga dan alamnya, tapi juga keragaman budaya dan tolerans...
Martabat Tujuh dan Konstitusi Kasultanan Buton
Seturut konstitusi Martabat Tujuh, bicara penegakan hukum (law enforcement) saat itu bisa dikatakan tidaklah tebang pilih. Siapapun yang terbukti bersalah bakalan diganjar sesuai dengan aturan hukum y...
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...