Bahasa | English


KEKAYAAN TRADISI

Mangupa Upa, Ungkapan Doa dan Syukur dari Tanah Batak

14 May 2019, 00:00 WIB

Salah satu kekayaan tradisi yang masih amat dijaga oleh masyarakat Sumatera Utara adalah Mangupa Upa.


Mangupa Upa, Ungkapan Doa dan Syukur dari Tanah Batak Suku Batak. Sumber foto: Pesona Indonesia

Mangupa Upa dalam kultur adat Batak dapat diartikan sebagai ungkapan doa diselingi nasehat dari para orang tua atau sesepuh.

Jadi seperti prosesi syukuran atau selamatan dalam pemahaman umumnya. Namun tentu saja dengan melekatkan unsur dari warisan leluhur Batak sebagai pembeda atau ciri khasnya.

Melalui tradisi Mangupa Upa mengandung juga makna tersirat. Menjaga masyarakat Batak tetap dapat saling mengenal sanak saudara dan keluarga besarnya, bahkan yang telah jauh berbeda generasi.

Jika dicermati, ada dua ciri Mangupa Upa yang biasa dilakukan masyarakat tanah Batak. Pertama, Mangupa Upa ala Batak Toba. Kemudian kedua, Mangupa Upa yang lazim dilakukan keturunan Mandailing.

Di balik kedua versi Mangupa Upa tersebut intinya tetap kembali pada satu hal, yaitu bentuk rasa syukur, doa, petuah dari para orang tua dan sesepuh, seperti disampaikan sebelumnya.

Meskipun begitu, prosesi Mangupa Upa tidak kaku hanya dapat disaksikan maupun ditemui di Sumatera Utara saja. Masyarakat suku Batak yang telah lama meninggalkan kampung halamannya pun masih banyak masih memegang warisan leluhurnya ini supaya tetap dilakukan.

Mangupa Upa dapat dilaksanakan untuk momentum apapun yang dianggap memerlukan doa dan petuah dari orang tua maupun leluhur. Dapat juga dalam anggapan suatu momentum yang telah terjadi dan mengimplementasikan bentuk ungkapan rasa syukur. Bisa juga sebagai permohonan kepada Maha Kuasa agar peristiwa buruk tidak pernah terjadi atau terulang kembali.

Pernikahan, kelahiran bayi, menempati rumah baru, akan memulai atau telah menyelesaikan suatu pekerjaan yang sulit, pulang atau pergi dari kampung halaman, adalah momentum lazim dilakukannya Mangupa Upa.

Meskipun Mangupa Upa lazimnya kerap dilakukan pada prosesi seperti itu, namun tidak kaku sekadar di momentum yang demikian saja. Jika ada hal lain yang dinilai perlu mengungkapkan perasaan bersyukur dan memberikan petuah bijaksana, maka Mangupa Upa dapat saja dilakukan.

Ketika melakukan Mangupa Upa maka bakal dapat dipastikan ditemukan sajian makanan. Hanya berbeda menu saja antara Mangupa Upa versi Batak Toba dan Mandailing.

Misalnya untuk satu contoh saja pada Mangupa Upa yang biasanya dilakukan masyarakat Batak Toba saat prosesi pernikahan, sajian makanannya antara lain adalah ikan mas. Diolah dengan bumbu khas Batak yakni arsik.

Lalu, para orang tua dan sesepuh, bahkan juga lainnya yang ketika itu ikut hadir dalam Mangupa Upa pernikahan, akan berkeliling dan menyentuh menu ikan mas arsik tadi.

Kalau ada yang tidak dapat mengambil menu sajian ikan mas arsik tersebut, cukup dengan menyentuh orang yang bisa mengambil makanan. Ritual seperti itu tidak boleh terputus serta berhenti sampai semua orang tua, sesepuh, atau pihak lain yang hadir sudah memperoleh kesempatannya semua.

Bagi masyarakat Batak Toba, ikan mas disimbolkan sebagai sebagai makna supaya pasangan pengantin menjadi keluarga bahagia, saling terus menyayangi serta mendapatkan anak yang banyak, baik dan cerdas.

Sedangkan menu Mangupa Upa untuk prosesi pernikahan ala masyarakat Mandailing lebih banyak dari Batak Toba. Biasanya dalam nampan makanan terdapat sirih, beras, daun pisang sitabar, ikan, daging kambing, telur ayam dan garam.

Semua sajian menu tersebut memiliki makna masing-masing dianggap masyarakat Mandailing. Kapur, sebagai tanda ungkapan sukacita dan pustaka aksara, lalu beras sebagai simbol agar kedua pengantin dapat memilah jalan kebaikan dan buruk.

Sementara daun pisang sitabar adalah tanda pernikahan cukup sekali saja. Ikan dimaknai supaya kedua pengantin selalu seiringan, tanpa konflik. Untuk daging kambing menjadi simbol keperkasaan, telur ayam sebagai makna sumber kehidupan. Lalu garam dimaksudkan agar kedua mempelai mampu memberikan manfaat bagi kehidupan di dunia.

Nampak makanannya pun punya makna sebagai lambang doa dari orang tua dan keluarga yang amat besar bagi kedua mempelai pengantin. Semua menu makanan Mangupa Upa itu nantinya akan disuapkan kepada kedua mempelai pengantin.

Dulu, masyarakat Mandailing menyebut Mangupa Upa dengan nama paulak tondi tu bagas. Mereka menganggap bahwa ketika terjadi peristiwa, tondi atau ruh manusia sedang terpisah dari jasad sehingga perlu dimasukkan kembali. (K-HL)

Budaya
Ragam Terpopuler
Islam, Sumbangsih Terbesar Etnis Tionghoa
Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Demikian ujar Presiden ke-3 BJ Habibie dalam sebuah orasi di Masjid Lautze pada Agustus 2013. ...
Ziarah Kubur, Ibadah Haji Orang Jawa di Masa Lalu
Bagi kaum abangan, ziarah kubur ke makam raja-raja di Imogiri bermakna sebagai pengganti ibadah haji. ...
Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu
Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan. ...
Pacung dan Sambiran, Ternyata Dugaan Lombard Benar
Temuan-temuan ini menguatkan tesis bahwa pada abad ke-9 terjadi kontak yang sangat intensif antara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan India. ...
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Solidaritas Sosial dalam Sunat Poci dan Mantu Poci
Demikianlah potret lekatnya tradisi minum teh mengejawantah pada hajatan sunat poci dan mantu poci. Sayangnya, ritus sosial yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan hubungan timbal balik antar...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...