Bahasa | English


TRADISI NUSANTARA

Mepantingan, Beladiri Gulat Lumpur Unik dari Bali

22 June 2019, 02:15 WIB

Karagaman budaya di Indonesia, ternyata bukan melulu soal tari-tarian, busana daerah, tata cara menanam hingga bekerja bergotong royong. Salah satu budaya Indonesia yang sangat unik, adalah bela diri.


Mepantingan, Beladiri Gulat Lumpur Unik dari Bali Tradisi Mepantingan. Foto: Bali Indonesia

Kita sudah pasti mengetahui soal bela diri yang sangat khas dari Indonesia yaitu pencak silat. Beladiri Khas Indonesia ini bahkan sudah pentas di perhelatan akbar Asian Games 2018 lalu dimana Indonesia menjadi juara umum.

Tunggu dulu, kita tidak akan membahas panjang lebar soal pencak silat ini. Ada satu seni bela diri yang sangat khas dan berasal dari Pulau Dewata Bali. Namanya adalah Mepantingan.

Bali memang memiliki keragaman budaya dan keindahan alam. Tapi soal Mepantingan ini, banyak yang belum mengetahuinya. Memang belum tereskpos secara nasional maupun internasional.

Apa sih Mepantingan ini? Dalam bahasa Bali, Mepantigan memiliki makna saling membanting. Karena saling membanting, seni bela diri ini terlihat seperti gulat.

Uniknya lagi, tradisi Mepantigan ini dilakukan dalam lumpur, peserta bertanding satu lawan satu dengan cara membanting lawan. Seperti gulat lumpur di negeri gajah atau Thailand. Tapi tentunya tidak sama.

Meskipun memiliki kemiripan dengan pencak silat, namun dalam tradisi Mepantigan tersebut lebih banyak menunjukan gerak kunci dan gerakan membanting untuk menaklukkan lawan. Tradisi ini juga dipadukan dengan budaya Bali tradisional sehingga Mepantigan ini dimasukkan ke dalam kategori salah satu tradisi yang dimiliki Bali.

Asal muasal tradisi Mepantigan ini, ketika sebelum kemerdekaan, sekira tahun 1930-an, seorang pemain taekwondo hebat yang bernama I Putu Winset Widjaya sering bergaul dan berlatih tanding dengan pendekar tua di Bali yang menguasai teknik pencak silat.

I Putu Winset pun terkagum-kagum melihat pendekar tua yang menggunakan serangan yang mematikan dan dapat membahayakan lawan mereka. Setelah itu, orang yang akrab di sapa pak putu ini terinspirasi untuk memadukan pencak Bali ini dengan bela diri lain sehingga menghasilkan Tradisi Mepantigan yang sampai sekarang masih bisa kita temukan.

I putu Winset Widjaya yang menginisiasi Mepantingan ini, ternyata juga menemukan alat pengkur waktu yang unik digunakan saat Tradisi Mepantigan ini digelar. Alat pengukur waktu yang digunakan terbuat dari bambu yang terisi air, yang mana jika bambu di air tersebut habis, maka pertandingan pun dapat dihentikan.

Dalam berlangsungnya pertandingan, tradisi ini diiringi gambelan baleganjur yang membuat para petanding lebih semangat dalam menggelar tradisi mepantigan ini.

Sebelum dan sesudah memulai pertandingannya, para peserta melakukan penghormatan ke hadapan patung Dwi Sri yang merupakan kepercayaan umat hindu sebagai Dwi kesuburan.

Selayaknya tradisi lainnya, Mepantingan ini memiliki  tujuannya tersendiri. Tujuannya adalah untuk meredakan aksi kekerasan yang terjadi di Bali. Karena saat Tradisi Mepantigan ini digelar para pemain diajarkan untuk merasa belas kasihan serta memiliki rasa hormat terhadap lawan mereka. Tradisi Mepantigan ini dapat diperankan oleh penduduk setempat ataupun wisatawan asing maupun lokal yang ingin berpartisipasi untuk memeriahkan tradisi ini.

Di mana kita bisa menonton tradisi Mepantingan ini? Anda bisa menemukan tradisi Mepantigan ini di kawasan Batubulan dan Ubud. Desa batubulan terletak di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, dikenal dengan pengrajin patung batu padas dan pementasan tari Barong.

Ubud memang kaya dengan alam persawahan dan menjadi salah satu pusat pariwisata Bali. Banyak dikunjungi wisatawan, di kawasan ini terkenal dengan keindahan alam sawah terasering dalam nuansa alam pedesaan, pementasan budaya dan hasil karya seni yang sudah mendunia.

Tradisi Mepantigan sebenarnya bisa dilakukan di mana saja, namun lokasinya sudah pasti harus aman bagi para pemain yang melakukan pertandingan. Karena ituareal persawahanlah yang cocok untuk menggelar tradisi ini atau tempat khusus yang berlumpur.

Di Ubud Tradisi Mepantigan dilakukan di areal persawahan, karena memang daerah Ubud banyak memiliki persawahan yang masih terbentang luas. Sehingga membuat Ubud sering menggelar Tradisi ini setiap tahunnya, bahkan dulunya ada hotel yang mengkhususkan untuk menggelar tradisi ini seminggu sekali.

Jika kita ingin berlatih dan bertanding secara nyata, kita bisa menggunakan pakaian yang berbeda-beda. Pada saat latihan kita bisa menggunakan pakaian merah putih atau kain batik yang merupakan ciri khas dari bangsa Indonesia.

Saat bertanding sungguhan biasanya peserta menggunakan celana yang dililit dengan kain seperti kamen (kain)  kancut dan menggunakan ikat kain di kepala yang disebut udeng, dengan pakaian tradisional seperti itu membuat Tradisi Mempatigan ini memang sangat melekat dengan budaya Bali, peserta Tradisi ini lebih di dominasi oleh kaum laki-laki atau pria.

Tradisi Mepantigan diperankan oleh dua orang yang mana mereka memulai pertandingannya di areal sawah atau pantai. Saat pertandingan berlangsung ada wasit yang mengawasi dan ada juga juri yang duduk diluar arena pertandingan. Tradisi mepantigan dapat dimainkan dalam 1 pertandingan dalam 2 ronde yang mana 1 ronde menghabiskan waktu tiga menit.

Jadi, kalau ke Bali, tak ada salahnya menjajaki atraski bela diri ini. Gimana? (K-TB)

Budaya
Ragam Terpopuler
Islam, Sumbangsih Terbesar Etnis Tionghoa
Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Demikian ujar Presiden ke-3 BJ Habibie dalam sebuah orasi di Masjid Lautze pada Agustus 2013. ...
Ziarah Kubur, Ibadah Haji Orang Jawa di Masa Lalu
Bagi kaum abangan, ziarah kubur ke makam raja-raja di Imogiri bermakna sebagai pengganti ibadah haji. ...
Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu
Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan. ...
Pacung dan Sambiran, Ternyata Dugaan Lombard Benar
Temuan-temuan ini menguatkan tesis bahwa pada abad ke-9 terjadi kontak yang sangat intensif antara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan India. ...
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Solidaritas Sosial dalam Sunat Poci dan Mantu Poci
Demikianlah potret lekatnya tradisi minum teh mengejawantah pada hajatan sunat poci dan mantu poci. Sayangnya, ritus sosial yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan hubungan timbal balik antar...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...