Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


UPACARA ADAT

Panggih dalam Pernikahan Adat Jawa

Monday, 21 January 2019

Menikah dengan adat merupakan kebanggaan tersendiri bagi manusia, termasuk yang berasal dari Suku Jawa. Di antara prosesi adat yang panjang, salah satunya upacara Panggih yang sarat akan makna.


Panggih dalam Pernikahan Adat Jawa Upacara Panggih. Sumber foto: Jivaorganizer

Pernikahan merupakan salah satu cita-cita dan impian bagi banyak orang. Di era modern seperti sekarang, berbagai pesta pernikahan sebagai perayaannya telah banyak berkembang. Banyak pasangan yang lebih memilih prosesi pernikahan modern karena dirasa lebih praktis. Walau tak jarang pula yang tetap menggunakan adat untuk merayakan hari bahagianya.

Meski melewati proses yang cukup panjang dan terbilang rumit, pernikahan adat masih menjadi sorotan dan pilihan bagi masyarakat luas. Pernikahan adat khas suku Jawa, misalnya, memiliki tata cara khusus dalam mempertemukan pasangan setelah akad pernikahan berlangsung. Mereka menyebutnya sebagai Upacara Panggih.

Upacara Panggih merupakan salah satu dari sekian rangkaian acara adat khas Jawa yang jarang dilewatkan oleh pengantin Jawa. Upacara Panggih dilakukan pada awal sebelum resepsi atau pesta pernikahan berlangsung dan dilakukan dari sebelum duduk di pelaminan sampai berada di pemainan, biasanya dilakukan siang hari setelah akad.

Kata Panggih dalam bahasa Jawa yaitu ‘bertemu’. Prosesi ini mempertemukan mempelai pria dan wanita sebagai sepasang suami istri setelah sah secara agama dan pencatatan sipil dilakukan. Panjangnya ritual upacara Panggih bukanlah tanpa alasan, berbagai ritual tersebut memiliki makna dan doa baik untuk kehidupan berumah tangga.

Untuk Upacara Panggih, orang tua dari mempelai pria tidak boleh ikut. Memakai pakaian tradisional khas Jawa, kedua mempelai dipertemukan. Pengantin pria membawa pisang raja sebagai tanda bahwa dia telah siap, lalu ia berjalan menghampiri pengantin wanita didampingi dua orang saudara atau teman akrab orang tuanya yang membawa payung.

Setelah itu, upacara Panggih diawali dengan balangan gantal sirih (sirih yang diikat dengan benang putih). Pengantin pria dan wanita saling melempar gantal sirih tersebut. Ritual ini melambangkan bertemunya perasaan atau melempar hati. Menurut kepercayaan masyarakat, daun sirih dapat mengusir makhluk jahat, yakni dapat membuat makhluk yang menyamar sebagai pengantin kembali ke bentuk aslinya.

Kemudian pengantin pria akan menginjak sebutir telur mentah sebagai tanda bahwa keduanya berharap memiliki keturunan. Ritual ini bernama ngidak tagan atau nincak endog. Setelah itu, pengantin wanita akan membasuh kaki pengantin pria sebagai wujud bakti dan kasih sayangnya.

Lalu kedua mempelai berpegangan tangan dengan jari kelingking. Ibu pengantin wanita akan menutup bahu keduanya dengan kain berwarna merah dan putih dan diantar menuju pelaminan oleh sang Ayah pengantin wanita. Ritual ini disebut sinduran. Dalam ritual ini bermakna Ayah yang mengantar menunjukkan pasangan supaya menjalani hidup yang baik, sedangkan sang Ibu memberi semangat.

Sampai di pelaminan, kedua pengantin duduk di pangkuan Ayah dari pengantin wanita. Nantinya sang Ibu akan bertanya kepada Ayah siapa yang lebih berat, lalu Ayah akan berkata berat dari keduanya sama saja. Ritual yang dinamai bobot timbang ini dimaknai bahwa sepasang pengantin sepadan dan tidak ada perbedaan.

Tak sampai situ, keluarga akan bergiliran meminum rujak degan yang berasal dari daging dan air kelapa muda yang bertujuan untuk membersihkan seluruh keluarga. Lalu dilanjutkan dengan kacar kucur yang dilakukan pengantin pria yang mengucurkan uang logam, beras, dan biji-bijian kepada pengantin wanita. Ritual yang satu ini sebagai simbol bahwa pengantin pria akan bertanggung jawab penuh kepada keluarganya kelak.

Ritual dilanjutkan dengan suapan nasi kuning dan lauk pauk antara pengantin pria dan wanita, sebagai tanda bahwa mereka akan selalu menolong satu sama lain dan saling menyayangi hingga tua. Seluruh prosesi upacara Panggih akan diakhiri dengan sungkeman. Yang mana pasangan tersebut akan berlutut di depan kedua orang tua masing-masing dan orang tua pasangannya. Hal tersebut sebagai penghormatan terakhir karena telah membesarkan mereka, sebelum menjalankan bahtera rumah tangga sebagai suami istri.

Prosesi upacara Panggih berakhir, dan kedua mempelai kembali ke pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang. Walaupun rumit dan terkesan tidak praktis, masyarakat Suku Jawa percaya bahwa upacara Panggih dan rangkaian ritual adat pernikahan lainnya begitu sarat akan makna yang baik untuk kehidupan pernikahan mereka. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
La Galigo, sebuah Kitab Suci Asli Bugis
La Galigo ialah sebagai karya sastra terpanjang di dunia. Lebih panjang daripada epik India, Mahabarata, dan Ramayana. Juga nisbi lebih panjang daripada epik Yunani, Homerus. Sayangnya popularitas La ...
Indonesia Serpihan Surga
Bumi Pertiwi berdiri dengan pesonanya yang menawan, dengan seribu kekayaan alam yang melimpah. Tak heran jika Indonesia menjadi salah satu dari sekian negara yang paling cantik di dunia. ...
Bermain Rangku Alu Melatih Konsentrasi
Nusa Tenggara Timur memiliki permainan tradisional bernama Rangku Alu yang biasa dilakukan saat musim panen. Bermain Rangku Alu dinilai dapat melatih konsentrasi dan ketangkasan. Tak hanya dimainkan a...
Cerita Cinta Nusantara
Di masa Sultan Agung berkuasa, lahirlah kisah romantika Jawa dari rahim sejarah. Bukan saja tercatat sohor, kisah itu juga melegenda hingga kini. ‘Rara Mendut-Pranacitra’ demikianlah diken...
Islam “Sarungan” Nusantara
Simaklah kembali karya klasik Clifford Geertz, The Religion of Java, menurut Marshall GS Hodgson, itu justru menunjukkan kekeliruan yang tanpa disadari oleh Geertz ketika merumuskan definisi Islam. Ba...
Kembalinya Islam Moderat
Presiden Joko Widodo berharap, Universitas Islam Internasional Indonesia dapat menjadi pusat kajian, penelitian, dan implementasi wacana peradaban Islam moderat--atau dalam bahasa Arab ‘Islam Wa...
Ratu Shima hingga Presiden Megawati
Naiknya seorang presiden perempuan yang pertama ini, Megawati Soekarnoputri, bagaimanapun merupakan sebuah lompatan eksponensial secara kebudayaan. Bagaimana tidak, Amerika yang konon merupakan negeri...
Tenun NTT, Harta Keluarga yang Bernilai Tinggi
Pengerjaan tenun NTT memiliki tingkat kesulitan yang relatif tinggi. Itulah sebabnya kerajinan tradisional itu kerap dipandang sebagai harta keluarga yang tinggi nilainya. ...
Komedi Stamboel, Juragan Tionghoa, dan Budaya Pertunjukan
Kendati bukan khas Indonsia, seni pertunjukan keliling yang memiliki unsur keragaman budaya mulai dari bahasa, musik pengiring, cara bertutur, seni gerak dan olah tubuh sampai dengan model dramaturgi ...
Lasem sebagai Model Alkulturasi
“Pasca-Orde Baru, bicara wacana relasi antaretnis, secara paradigmatik sering dihadapkan pada pilihan antara model ‘asimilasi’ di satu sisi atau ‘integrasi’ di sisi lain....