Bahasa | English


UPACARA ADAT

Panggih dalam Pernikahan Adat Jawa

21 January 2019, 09:09 WIB

Menikah dengan adat merupakan kebanggaan tersendiri bagi manusia, termasuk yang berasal dari Suku Jawa. Di antara prosesi adat yang panjang, salah satunya upacara Panggih yang sarat akan makna.


Panggih dalam Pernikahan Adat Jawa Upacara Panggih. Sumber foto: Jivaorganizer

Pernikahan merupakan salah satu cita-cita dan impian bagi banyak orang. Di era modern seperti sekarang, berbagai pesta pernikahan sebagai perayaannya telah banyak berkembang. Banyak pasangan yang lebih memilih prosesi pernikahan modern karena dirasa lebih praktis. Walau tak jarang pula yang tetap menggunakan adat untuk merayakan hari bahagianya.

Meski melewati proses yang cukup panjang dan terbilang rumit, pernikahan adat masih menjadi sorotan dan pilihan bagi masyarakat luas. Pernikahan adat khas suku Jawa, misalnya, memiliki tata cara khusus dalam mempertemukan pasangan setelah akad pernikahan berlangsung. Mereka menyebutnya sebagai Upacara Panggih.

Upacara Panggih merupakan salah satu dari sekian rangkaian acara adat khas Jawa yang jarang dilewatkan oleh pengantin Jawa. Upacara Panggih dilakukan pada awal sebelum resepsi atau pesta pernikahan berlangsung dan dilakukan dari sebelum duduk di pelaminan sampai berada di pemainan, biasanya dilakukan siang hari setelah akad.

Kata Panggih dalam bahasa Jawa yaitu ‘bertemu’. Prosesi ini mempertemukan mempelai pria dan wanita sebagai sepasang suami istri setelah sah secara agama dan pencatatan sipil dilakukan. Panjangnya ritual upacara Panggih bukanlah tanpa alasan, berbagai ritual tersebut memiliki makna dan doa baik untuk kehidupan berumah tangga.

Untuk Upacara Panggih, orang tua dari mempelai pria tidak boleh ikut. Memakai pakaian tradisional khas Jawa, kedua mempelai dipertemukan. Pengantin pria membawa pisang raja sebagai tanda bahwa dia telah siap, lalu ia berjalan menghampiri pengantin wanita didampingi dua orang saudara atau teman akrab orang tuanya yang membawa payung.

Setelah itu, upacara Panggih diawali dengan balangan gantal sirih (sirih yang diikat dengan benang putih). Pengantin pria dan wanita saling melempar gantal sirih tersebut. Ritual ini melambangkan bertemunya perasaan atau melempar hati. Menurut kepercayaan masyarakat, daun sirih dapat mengusir makhluk jahat, yakni dapat membuat makhluk yang menyamar sebagai pengantin kembali ke bentuk aslinya.

Kemudian pengantin pria akan menginjak sebutir telur mentah sebagai tanda bahwa keduanya berharap memiliki keturunan. Ritual ini bernama ngidak tagan atau nincak endog. Setelah itu, pengantin wanita akan membasuh kaki pengantin pria sebagai wujud bakti dan kasih sayangnya.

Lalu kedua mempelai berpegangan tangan dengan jari kelingking. Ibu pengantin wanita akan menutup bahu keduanya dengan kain berwarna merah dan putih dan diantar menuju pelaminan oleh sang Ayah pengantin wanita. Ritual ini disebut sinduran. Dalam ritual ini bermakna Ayah yang mengantar menunjukkan pasangan supaya menjalani hidup yang baik, sedangkan sang Ibu memberi semangat.

Sampai di pelaminan, kedua pengantin duduk di pangkuan Ayah dari pengantin wanita. Nantinya sang Ibu akan bertanya kepada Ayah siapa yang lebih berat, lalu Ayah akan berkata berat dari keduanya sama saja. Ritual yang dinamai bobot timbang ini dimaknai bahwa sepasang pengantin sepadan dan tidak ada perbedaan.

Tak sampai situ, keluarga akan bergiliran meminum rujak degan yang berasal dari daging dan air kelapa muda yang bertujuan untuk membersihkan seluruh keluarga. Lalu dilanjutkan dengan kacar kucur yang dilakukan pengantin pria yang mengucurkan uang logam, beras, dan biji-bijian kepada pengantin wanita. Ritual yang satu ini sebagai simbol bahwa pengantin pria akan bertanggung jawab penuh kepada keluarganya kelak.

Ritual dilanjutkan dengan suapan nasi kuning dan lauk pauk antara pengantin pria dan wanita, sebagai tanda bahwa mereka akan selalu menolong satu sama lain dan saling menyayangi hingga tua. Seluruh prosesi upacara Panggih akan diakhiri dengan sungkeman. Yang mana pasangan tersebut akan berlutut di depan kedua orang tua masing-masing dan orang tua pasangannya. Hal tersebut sebagai penghormatan terakhir karena telah membesarkan mereka, sebelum menjalankan bahtera rumah tangga sebagai suami istri.

Prosesi upacara Panggih berakhir, dan kedua mempelai kembali ke pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu yang datang. Walaupun rumit dan terkesan tidak praktis, masyarakat Suku Jawa percaya bahwa upacara Panggih dan rangkaian ritual adat pernikahan lainnya begitu sarat akan makna yang baik untuk kehidupan pernikahan mereka. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Kratom: Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...
Bajau dalam Satu Tarikan Nafas
Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. ...
Untung Surapati, antara Cinta dan Tragedi
Ada cinta sejati terpatri sangat kuat, juga kisah tragis mengharu biru. Selain heroisme, cinta, dan tragedi inilah tampaknya membuat kisah Untung Surapati melegenda dan sekaligus lekat di hati masyara...
Puas Nikmati Durian di Taman Botani Sukorambi
Bila kebetulan berada di Jawa Timur bagian Timur, mampirlah ke destinasi wisata favorit Taman Botani Sukorambi, Jember, Jawa Timur. Di sana selain bisa berekreasi dengan berbagai wahana edukasi, kita ...
Kawin Antarbangsa
Sekalipun seorang bumiputera yaitu Untung Surapati dijadikan sebagai pelaku utama dalam romannya, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, sayangnya pilihan judul itu terkesan menyempitkan makna akan kisah Sura...
Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan
Begitu pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan. ...
Di Kaltim Ada Juga Akar Bajakah Penyembuh Kanker Payudara
Etnis Dayak di Pulau Kalimantan menyebut pohon ini dengan nama bajakah. Pohon bajakah tumbuh di seluruh hutan di Pulau Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kalut, dan Kaltim). Bajakah ternyata ju...
Kemanusiaan di dalam Gerak; Ketika Suprapto Telah Berhenti
Sepanjang karirnya yang membentang sejak paruh akhir 60-an, Suprapto menekuni jalan kemanusiaannya dengan menekuni apa yang dia suka. Seperti orang yang jatuh cinta dengan tubuhnya, Suprapto terus men...
Sejarah Rekayasa Air dalam Prasasti Tugu
Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu. Prasasti ini menurut para arkeolog berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. ...