Bahasa | English


MUSIK TRADISIONAL

Rampak Bedug, Musik dan Tari Religi dari Banten

14 October 2019, 12:10 WIB

Kesenian yang satu ini merupakan kreasi seni permainan alat musik bedug yang khas dari daerah Banten, Jawa Barat. Namanya rampak bedug. Bedug atau beduk merupakan gendang besar yang asal muasalnya berfungsi sebagai media informasi. Kemudian, oleh warga Banten, bedug tersebut digunakan sebagai alat musik dalam perayaan “rampak bedug”.


Rampak Bedug, Musik dan Tari Religi dari Banten Rampak Bedug. Foto: Pesona Indonesia

Kata “rampak” mengandung arti “serempak”. Jadi “rampak bedug” memiliki arti seni bedug dengan menggunakan waditra (bentuk fisik alat musik tradisional) berupa “banyak” bedug yang ditabuh secara “serempak” sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar.

Kesenian tradisional dari tanah Banten yang memadukan musik tradisional, modern, seni tari, serta unsur religi ini, juga dikenal dengan tradisi adu bedug saat bulan Ramadan. Kesenian ini pertama kali digelar bertujuan untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan pada 1950. Bahkan saat itu, di Kabupaten Pandeglang, diadakan pula pertandingan rampak bedug antarkampung. Hingga pada 1960, rampak bedug masih menjadi hiburan rakyat dan menyebar ke daerah-daerah sekitarnya di Banten.

Namun dalam perkembangannya, rampak bedug tidak hanya dimainkan saat Ramadan dan hari raya saja. Kini kesenian rampak bedug menjadi ajang rekreasi bagi masyarakat. Kesenian tradisional khas Banten ini sekarang menjadi ajang adu kreasi antar kelompok pemukul bedug.

Awalnya pun hanya laki-laki saja yang bermain rampak bedug. Namun, sekarang ini para penari perempuan juga turut serta memeriahkan pertunjukkan rampak bedug. Biasanya, kesenian ini ditampilkan 10 orang yang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Namun ada juga yang menampilkan lebih dari jumlah personil itu, tergantung dari penyajian pertunjukan yang akan mereka tampilkan.

Dalam rampak bedug, kita mengenal satu bedug besar berfungsi sebagai bass, kemudian satu set bedug kecil berfungsi sebagai pengatur irama, tempo, dan dinamika musik yang dimainkan. Lalu ada tingtir, yang terbuat dari batang pohon kelapa berfungsi sebagai penyelaras irama lagu yang bernuansa spiritual, serta berfungsi sebagai melodi seperti takbiran.

Ada juga anting caram dan anting karam yang terbuat dari pohon jambu dan dililit kulit kendang berfungsi sebagai pengiring lagu dan tari. Jika dahulu Rampak Bedug dimainkan pada saat Ramadhan saja, saat ini kesenian ini dimainkan juga pada saat perayaan-perayaan besar lainnya, seperti acara pernikahan, khitanan, pagelaran budaya, bahkan hari peringatan kedaerahan maupun nasional.

Dilihat dari sejarahnya, tidak ada pakem khusus yang berlaku dalam kesenian ini. Setiap pelakunya bisa memukul bedug dengan kreatifitas masing-masing. Para pemukul bedug juga mengkreasikannya dengan tari–tarian yang enerjik dan atraktif.

Kostum yang digunakan para pemainnya merupakan busana muslim dan muslimah. Dengan ditambahi aksesoris tambahan, namun tanpa melanggar unsur religius yang ada. Para pelaku juga bisa memasukkan unsur budaya tradisional dan modern, dalam setiap penampilannya.

Pemain laki-laki misalnya menggunakan pakian model pesilat lengkap dengan sorban khas Banten. Namun warnanya lebih modern tidak warna hitam dan putih saja. Sedangkan perempuan menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dan di dalamnya mengenakan celana panjang pesilat. (K-YN)

Seni
Ragam Terpopuler
Perempuan Indonesia Bergerak
Ia mengikuti jejak langkah Tirto Adhi Soerya. Sejak terbitnya Poetri Hindia sebagai surat kabar perempuan pertama di Batavia pada 1908, empat tahun kemudian di Minangkabau juga terbit surat kabar pere...
Hidup adalah Jalan Pengabdian
Menyimak hidup Sardjito, tampak jelas keyakinan filosofisnya bahwa “Dengan memberi maka seorang justru semakin kaya,” jelas bukan hanya gincu pemanis bibir. ltu bukan hanya soal keyakinan,...
Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing
Kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa ini tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata yang memukau mata. Lebih dari itu kabupaten ini juga dikenal kaya dengan kesenian dan kebudayaan unik. ...
Bunga Lado, Sebuah Perayaan Maulid Nabi di Pariaman
Bicara tradisi bungo lado sebagai bagian dari ritus Maulid Nabi, sayangnya hingga kini belum diketahui sejak kapan momen historis ini secara persis dimulai. ...
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...