Bahasa | English


ISTANA PRESIDEN

Istana Paladian Megah tanpa Beban

29 October 2019, 02:27 WIB

Istana Bogor menjadi hunian favorit para Gubernur Jenderal Hindia Belanda karena berhawa sejuk. Joko Widodo adalah Presiden RI pertama yang menjadikannya sebagai kediaman resmi.


Istana Paladian Megah tanpa Beban Istana Bogor. Foto: Dok. Biro Pers Setpres

Dari istana ke istana, begitulah keseharian Presiden Joko Widodo bila tidak ada acara kunjungan keluar kota. Pagi hari rombongan berangkat dari Bogor lalu menempuh jarak sekitar 60 km ke Istana Presiden di Jakarta. Memang, bila tak ada acara kenegaraan Presiden Jokowi tidak harus masuk ke dalam Istana Merdeka maupun Istana Negara. Ruang kerja, ruang sidang kabinet, dan ruang terima tamu tersedia di Kantor Presiden, yang terletak di belakang Istana Merdeka dan di sebelah Istana Negara.

Boleh jadi, Presiden Jokowi memilih Istana Bogor sebagai tempat istirahat untuk mengambil jarak dari kerumitan Jakarta. Pilihan yang sama diambil para gubernur jenderal dulu. Bahkan, Pemerintah Hindia Belanda menyebut istana Bogor itu sebagai Buiten-Zorg, diambil dari idiom Perancis Sans Souci , yang berarti  bebas dari kerumitan alias tanpa beban.

Istana Bogor itu dulunya adalah vila yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff  1744. Ketika menjelajahi hulu Sungai Ciliwung, ia terkesima oleh keindahan dan kesejukan alam Bogor. Di situ ada hamparan tanah yang diapit sungai Ciliwung dan Cisadane. Ia pun memutuskan untuk membangun kawasan pertanian dengan sebuah vila peristirahatan untuk Gubernur Jenderal VOC.

Lokasi Istana Bogor itu sendiri diduga adalah bekas dari bagian dari Ibu Kota Kerajaan Pakuan Pajajaran yang sudah rontok dua abad sebelumnya akibat ditinggalkan penduduknya pascaserangan Kesultanan Banten. Di sekitar situs kota lama itu, vila megah itu dibangun menyerupai Istana Blenheim, kediaman Duke Marlborough di Oxford Inggris. Bangunan dua lantai yang keren.

Dalam waktu lima tahun (1745-1750) vila itu selesai dan menjadi peristirahatan resmi para  gubernur jenderal. Namun, vila megah dan baru itu sempat dibakar oleh pasukan Banten di tengah peperangan Banten-VOC. Vila segera diperbaiki dengan tetap mempertahankan bentuk semula. Para Gubernur Jenderal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) betah tinggal di Bogor, karena kediaman resmi di Molenvliet, kini Gedung Arsip Nasional di Jl Gajahmada, Jakarta, dinilai  kurang nyaman dan rawan  dengan nyamuk malaria. Untuk menjaga keamanan, tangsi tentara didirikan sekitar 2 km dari istana.

VOC dibubarkan 1799 dan seluruh asetnya diambil alih Kerajaan Belanda. Vila besar di Bogor itu resmi disebut Istana. Pada masa jabatan Gubernur Jenderal Willem Daendels (1808-1811) Istana Buitenzorg diperluas dengan gedung baru pada kanan dan kiri istana. Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826) membangun menara di tengah bangunan induk istana, sementara di sisi Timur kompleks Istana dijadikan kebun botani.

Pada masa itu Istana Buitenzorg telah menjadi bangunan yang sulit ditandingi kemegahannya. Istana Agung Weltervreden yang dibangun (1761) di pinggir Sungai Ciliwung, di atas lahan yang kini menjadi RSPAD Jakarta, tak bisa membuat para Gubernur Jenderal itu betah. Walhasil, istana itu dibongkar di tahun 1820. Bangunan megah dua lantai Istana Het Groote Huis, kini menjadi Kantor Kemenkeu di Lapangan Banteng Jakarta, yang dibangun Daendels, tidak juga membuat reputasi Istana Buitenzorg luntur. Pun ketika Istana Risjwijk (kini Istana Negara) telah dibeli oleh Pemerintah Hindia Belanda (1821), pesona Istana Buitenzorg itu tak kunjung pupus.

Para Gubernur Jenderal, termasuk kemudian Herman Willem Daendels dan Thomas Stamford Raffles, memilih menghuni Istana Bogor itu. Mereka meninggalkan Bogor jika harus rapat atau jamuan resmi di Batavia atau melakukan ekspedisi ke berbagai daerah.

Ketika itu perjalanan dari Istana Buitenzorg ke Batavia harus ditempuh seharian (8 - 10 jam) melewati Ciluar, Cibinong, Cimangis, Cililitan, di jalur buatan Daendels yang kemudian dikenal sebagai Jalan Raya Bogor. Jalur itu lebih lebar dan rata dibandingkan jalan warisan Pakuan Pajajaran yang melalui Citayam Bojonggede, Depok, Pasarminggu, hingga Pelabuhan Sunda Kelapa.

Istana Buitenzorg mengalami rusak parah akibat gempa bumi pada 10 Oktober 1834. Kendati masih bisa direnovasi, Gubernur Jenderal Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856) menemukan ada retakan pada bangunan akibat gempa besar itu. Ia pun memerintahkan bangunan istana itu dirobohkan total  dan dibangun kembali menjadi bentuk yang ada  sekarang, sebuah Istana Paladian, menyerupai bangunan istana para ksatria Yunani–mirip arsitektur Istana Merdeka di Jakarta.

Pembangunan istana selesai di masa Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861). Tak lama kemudian, pada 1870 Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi Gubernur Jenderal Belanda. Ketika itu jalur kereta api Jakarta-Bogor mulai dibangun dan selesai 1873. Kereta api ini memungkinkan Gubernur Jenderal ulang alik dalam sehari ke Batavia karena perjalanan hanya dua jam saja.

Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starckenborg Stachouwer. Ia harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemerintah pendudukan Jepang. Sebanyak 44 gubernur Jenderal Belanda pernah menjadi penghuni Istana Kepresidenan Bogor ini.

Pemerintah RI mengambil istana ini di akhir Desember 1949, dan menjadikannya Istana Kepresidenan. Presiden pertama RI, Ir Soekarno menjadikannya tempat berakhir pekan. Hampir rutin, ada tiga malam  dalam seminggu Bung Karno menginap di Istana Bogor bersama keluarganya. Selain menerima sahabat dan tamu resmi, Bung Karno menikmati waktunya di Bogor dengan bercengkerama dengan keluarga dan membaca. Tak kurang dari 4.500 buku warisan Bung Karno masih tersimpan di Istana Bogor.

Bangunan Istana Bogor ini cukup luas. Dengan seluruh bangunan pendukung luasnya mencapai 14.890 meter persegi. Bila istana Negara dan Istana Merdeka digabung pun luasnya tak sampai separuhnya. Halamannya 28,4 ha. Di sisi timurnya ada Taman Botani Kebun Raya Bogor yang terhampar hijau 87 ha.

Pagi hari pada akhir pekan, bila tidak ada perjalanan keluar kota Presiden Joko Widodo sering terliihat berlari-lari kecil di sekeliling istana lalu masuk ke kebun raya. Ia juga sering mengundang tamu-tamu kenegaraan ke Istana Bogor yang hijau dan lapang itu. Sejak menjadi Istana Presiden RI di tahun 1950, tak terhitung banyaknya tamu negara yang pernah mengunjungi istana indah itu. (P-1)

Istana Presiden
Ragam Terpopuler
Perempuan Indonesia Bergerak
Ia mengikuti jejak langkah Tirto Adhi Soerya. Sejak terbitnya Poetri Hindia sebagai surat kabar perempuan pertama di Batavia pada 1908, empat tahun kemudian di Minangkabau juga terbit surat kabar pere...
Hidup adalah Jalan Pengabdian
Menyimak hidup Sardjito, tampak jelas keyakinan filosofisnya bahwa “Dengan memberi maka seorang justru semakin kaya,” jelas bukan hanya gincu pemanis bibir. ltu bukan hanya soal keyakinan,...
Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing
Kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa ini tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata yang memukau mata. Lebih dari itu kabupaten ini juga dikenal kaya dengan kesenian dan kebudayaan unik. ...
Bunga Lado, Sebuah Perayaan Maulid Nabi di Pariaman
Bicara tradisi bungo lado sebagai bagian dari ritus Maulid Nabi, sayangnya hingga kini belum diketahui sejak kapan momen historis ini secara persis dimulai. ...
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...