Bahasa | English


MASA KOLONIALISME INGGRIS

Sisingaan, Sindiran Ala Orang Sunda

23 December 2019, 12:21 WIB

Segala macam cara dikerahkan Inggris untuk mengerahkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan bagi pembukaan pabrik gula baru. Termasuk di antaranya dengan pemaksaan dan pengelabuan.


Sisingaan, Sindiran Ala Orang Sunda Sisingaan jaman dulu. Foto: Arsip Nasional

Boneka berujud Singa itu dinaiki oleh seorang bocah yang terlihat lugu. Empat orang laki-laki menggotong boneka singa itu dengan palang bambu di punggung mereka. Irama kendang, kempul, gong, dan terompet bersahut-sahutan rancak. Pengusung keranda berbentuk singa atau Sisingaan itu biasanya lebih dari satu kelompok. Mereka menari dan beraksi mempertontonkan gerakan-gerakan yang rampak, kadang akrobatik.

Sisingaan, menurut T Dibyo Harsono, dalam buku Bunga Rampai Sejarah dan Kebudayaan (Jawa Barat) (2010) adalah kesenian khas Kabupaten Subang yang ditandai dengan adanya bentuk-bentuk keranda atau boneka yang menyerupai singa. Keranda itu diusung oleh rombongan penari yang melakukan berbagai atraksi iringan musik tradisional.

Menariknya, Sisingaan di Subang mempunyai latar sejarah yang kuat. Mengapa bentuk menyerupai singa yang dibuat? Mengapa harus diusung atau dipanggul sambil diarak? Mengapa harus anak kecil yang duduk di atas Sisingaan? Mengapa iringannya menggunakan gong, ketuk, kendang, dan suling?

Semua pertanyaan itu dijabarkan oleh peneliti budaya lulusan Antropologi Universitas Gajah Mada itu dalam buku yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung yang disponsori oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Kesenian Khas Subang

Sisingaan, yang juga biasa dinamakan Gotong Singa, Singa Ungkleuk, Singa Depok, Kuda Ungkleuk, Pergosi, atau Odong-odong ini memang sangat populer di wilayah Kabupaten Subang. Karena saking banyaknya variasi nama dan grup kesenian itu maka perlu dilakukan kesepakatan untuk menemukan kesepahaman bersama.

Suwardi Alamsyah, dari Badan Pelestarian Nilai Budaya Bandung (BPNB), dalam tulisannya tentang Sisingaan sebagai kesenian tradisional Kabupaten Subang mengulas proses itu. Yang pertama melakukan upaya mempersatukan berbagai macam kesenian arak-arakan itu adalah Bupati Subang periode 1978-1988 yakni Ir Sukanda Kartasasmita. Dia bahkan perlu mengadakan seminar khusus tentang Sisingaan pada 1989 untuk mencari kesepakatan dan melakukan pembakuan terhadap kesenian khas Kabupaten Subang ini.

Kembali ke buku T Dibyo Harsono, yang saat ini masih tercatat sebagai ASN di BPNB Bandung , dia melacak kemunculan kesenian Sisingaan ini sejak awal abad 19. Pada zaman itu, wilayah Subang dan sekitarnya adalah bagian dari daerah yang dinamakan "Pamanoekan en Tjiasemlanden" atau daerah yang ada di antara Pamanukan dan Ciasem. Kependekannya dalam bahasa Inggris adalah P & T Lands.

Mengapa penamaan wilayah itu disingkat dalam bahasa Inggris? Dibyo menjelaskan bahwa konteks zaman itu di sekitar tahun 1811 hingga 1816 adalah zaman kongsi antara Belanda dan Inggris di Jawa Barat. Sebagai penguasa politik adalah Belanda, sedangkan penguasaan ekonomi diserahkan (sebagian) kepada Inggris.

Buku Sugar Steam and Steel, karangan Roger Knight (2014), memberi penjelasan mengapa penguasaan ekonomi alias pembukaan kawasan industri baru diserahkan kepada Inggris. Jawabannya adalah persoalan efisiensi anggaran pemerintah Belanda dengan mendatangkan investasi di bidang industri gula yang sedang bagus prospeknya pada waktu itu. Konon investasi besar-besaran industri gula di awal abad 19 itulah yang membentuk kota-kota di Jawa dari barat hingga ke timur.

Tuan Inggris di Subang yang disindir Sisingaan. Foto: Arsip Nasional

Menyindir Kolonialisme Inggris

Daerah P&T, atau daerah Subang dan sekitarnya yang terletak di sebelah utara gunung Tangkuban Parahu dikenal juga sebagai wilayah Doble Bestuur atau dua kawasan khusus. Mengapa khusus? Karena direncanakan sebagai tempat pengembangan perkebunan sekaligus industri gula dengan menggunakan teknologi dan mesin-mesin terbaru.

Pada saat itulah, menurut Dibyo, masyarakat Subang dikenalkan dengan dua lambang penguasa. Yang pertama adalah mahkota yang menjadi lambang Belanda. Yang kedua adalah tiga singa yang merupakan lambang kekuasaan Inggris.  Di bawah kekuasaan Inggris inilah, masyarakat Subang mendapat tekanan ekonomi yang kuat. Segala macam cara dikerahkan Inggris untuk mengerahkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan bagi pembukaan pabrik gula baru. Termasuk di antaranya dengan pemaksaan dan pengelabuan.

Pada titik ini masyarakat Subang, walaupun tidak berdaya menghadapi pemaksaan, mereka melakukan perlawanan semampu mereka. Ketika perlawanan fisik tidak memungkinkan, masyarakat Subang melakukan perlawanan dalam bentuk kebudayaan. Wujudnya adalah kesenian Sisingaan.

Bayangkan, kekuasaan industri kolonial inggris yang dilambangkan dengan Singa, dalam imajinasi orang Subang, bisa ditaklukkan oleh seorang bocah yang bisa menungganginya. Kesenian khas orang Sunda, yang juga dipunyai oleh banyak daerah lain memiliki beberapa cara untuk melakukan 'perlawanan'.  Yang pertama adalah silib  atau mengemukakan pendapat tetapi tidak secara langsung. Yang kedua adalah sindir atau menceritakan sesuatu ironi atau sindiran. Yang ketiga adalah siloka atau membuat pelambang. Dan yang kelima adalah sasmita atau memberi contoh yang mempunyai makna.

Masyarakat Subang atau pelaku seni budaya di Subang mengekspresikan pandangan mereka melalui sindiran. Pemaksaan kolonialisme Inggris yang membuat mereka menderita mereka sindir dengan Sisingaan. Kesenian Sisingaan adalah cara berontak orang Subang terhadap penjajah yang diwujudkan sebagai Singa. Singa ini menjajah karena dia menginjak, atau diusung di atas penderitaan orang Subang yang dianggap bodoh dan miskin. Orang Subang berharap suatu saat nanti generasi muda yang dilambangkan dengan anak kecil penunggang  Sisingaan ini akan bisa bangkit mengusir penjajah. (Y-1)

Sejarah
Sosial
Ragam Terpopuler
Kominfo-Gojek Perluas Akses PeduliLindungi
Aplikasi Gojek menargetkan mampu menyumbang satu juta unduhan PeduliLindungi hingga enam bulan ke depan. ...
Aksesoris Tutul Menembus Pasar Dunia
Dinobatkan menjadi salah satu desa produktif di Indonesia, hasil karya tangan-tangan warga Desa Tutul Kabupaten Jember mampu hasilkan ratusan juta rupiah dalam sebulan. ...
Anak Pekerja Migran Berbagi Sayang di Tanah Lapang
Anak-anak buruh migran bisa berekspresi, orang tua juga bisa berkreasi. Tanoker menjadi wadah keceriaan dan kebahagiaan. ...
Perjuangan Gordon Ramsay Memasak Rendang
Juru masak kelas dunia, Gordon Ramsay sukses mengeksplorasi kekayaan kuliner, budaya, dan keindahan alam Minangkabau. Ia pun memasak rendang yang lamak bana. ...
BLC, Senjata Pemerintah Melawan Corona
Aplikasi BLC tak hanya berguna untuk pemerintah dan masyarakat, melainkan juga untuk petugas kesehatan. ...
Mengenali Likupang untuk Kemudian Jatuh Cinta
Destinasi wisata di Provinsi Sulawesi Utara tak hanya Bunaken. Sejumlah pantai berpasir putih dan berair jernih ada di kawasan Likupang. ...
Akasia Berduri, Dulu Didatangkan, Kini Jadi Ancaman
Akasia berduri bukanlah tanaman asli Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Ia didatangkan dari Kebun Raya Bogor untuk keperluan sekat bakar. Tapi sekarang, flora itu malah berk...
Ventilator Karya Anak Bangsa Siap Diproduksi Massal
Pandemi corona membuat otak-otak kreatif bekerja. Hanya dalam waktu tiga bulan, anak-anak bangsa bisa menghasilkan produk inovasi yang bermanfaat. ...
Kepak Sayap Garuda Menjaga Janji Damai di Negeri Bertikai
Peperangan bisa saja meletus dengan segera, bila saja para pria berseragam pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu tidak dengan gagah berani menghadang laju tank yang siap memuntahkan ...
Tenun Sesek, Syarat Menikah Perempuan Sasak
Di dalam adat masyarakat Sasak Provinsi Nusa Tenggara Barat, menenun kain Sesek hanya diajarkan kepada anak perempuan.  Bahkan di sana, seorang perempuan belum boleh menikah jika belum mampu memb...