Bahasa | English


KEANEKARAGAMAN HAYATI

Budaya Melayu di Balik Gurihnya Ikan Seluang

25 July 2019, 10:56 WIB

Hidangan ikan seluang menjadi salah satu ikon kuliner Melayu, yang tersebar dari Pekanbaru, Palembang, hingga Banjarmasin. Variasi masakannya amat lebar, mulai dari pempek, tekwan, hingga sate lilit dan pepes kelapa.


Budaya Melayu di Balik Gurihnya Ikan Seluang Ikan Seluang. Foto: Net

Di antara ratusan rumah makan (RM) di Palembang, nama Sarinande tergolong yang paling melegenda. Terletak di Jl Mayor Ruslan, rumah makan yang dirintis sejak 1957 itu menyajikan hidangan dengan menu khas Palembang. Ada pindang patin, pindang belida, sate lilit ikan tengiri, rending, dan yang tak pernah absen adalah ikan seluang dalam berbagai versinya, yaitu seluang goreng kering, seluang cabe hijau, pepes seluang dengan parutan kelapa, dan seterusnya.

Ikan seluang juga hadir di sejumlah rumah makan lain yang membawa selera Melayu, termasuk di RM Sri Melayu, salah satu restoran papan atas di Palembang. Seluang pun kental menjadi salah satu ikon kuliner Melayu. Bukan hanya di Palembang, seluang juga hadir sebagai hidangan di banyak RM Melayu di Kota Pekanbaru, Jambi, bahkan menyeberang ke Kalimantan, sampai di Banjarmasin, Palangkaraya dan kota-kota di sekitarnya.

Bahwa seluang, juga patin, menjadi bagian dari Budaya Melayu, itu tak lepas dari urusan sumber daya. Seperti halnya ikan patin, seluang juga hidup di sungai-sungai dan danau-rawa di wilayah Pantai Timur Pulau Sumatra dan Pantai Selatan-Barat Kalimantan. 

Maklum, 20 ribu tahun silam, Sumatra, Kalimantan, dan Jawa masih menyatu. Banyak sungai yang muaranya bertemu di dataran rendah yang kini berubah menjadi Selat Karimata dan Laut Jawa bagian Barat. Tak heran, bila banyak pula satwa yang sama di dalam air maupun di daratan. Maka, ketika zaman es berakhir, dan  permukaan laut naik lebih dari 120 meter, hewan-hewan itu terjebak di masing-masing pulau dan terpisah oleh air laut.

Ikan seluang adalah salah satu hewan sungai yang terjebak, namun terus bertahan. Di Pulau Jawa, ikan ini sebagian punah seiring menghilangnya sungai besar yang menyatu dengan ekosistem danau-rawa. Sebagian lagi tumbuh menjadi variasi tersendiri yang hidup di parit-parit dan sungai kecil, bening dan berarus deras, antara lain, yang kini dikenal sebagai lanjar pari.

Secara umum, seluang menjadi penghuni dataran rendah Pantai Timur Sumatra dan dataran rendah Kalimantan Selatan dan Tengah. Seluang menyatu dalam budaya kuliner Melayu Palembang, Melayu Riau-Jambi, Melayu Banjarmasin hingga Melayu Kapuas-Barito Kalimantan Tengah.

Sejalan dengan perkembangan seni kuliner, ikan seluang pun kini disajikan dengan banyak variasi resep dan racikan. Ada seluang goreng, goreng tepung, goreng krispi, rempeyek seluang, balado, pepes, pepes parut kelapa, sambal seluang, ikan seluang gula merah, pempek, tekwan, dan seterusnya.

Sejauh ini, permintaan pasar akan ikan seluang masih aman, masih bisa dilayani dari sumber daya alam yang ada. Sungai Musi, Sungai Lematang, Komring di Sumatra Selatan masih bisa menjadi habitat ikan seluang, seperti halnya Sungai Siak, Indragiri dan Rokan di Riau, Sungai Batanghari dan Batang Merangin di Jambi, hingga Sungai Barito, Kahayan, dan Kumai di Kalimantan Tengah dan Selatan. Toh, Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalteng, telah mengembangkan teknik budidayanya mengantisipasi perburuan seluang yang melampaui ambang lestarinya.

Dalam  klasifikasi biologinya, seluang  termasuk dalam marga (genus) Rasbora dan familinya Cyprinidea, seperti ikan mas. Di Indonesia, setidaknya ada tiga jenis seluang. Tapi yang beradaptasi dengan baik di sungai-sungai besar Sumatra dan Kalimantan ialah Seluang Bada (Rasbora daniconius) dan Seluang  Batang (Rasbora argytonaenia).

Namun, varian Rasbora argytonaenia yang hidup di Jawa teradaptasi dengan habitat parit, sungai kecil,  yang berarus deras, jernih, berpasir, dan berbatu-batu dengan memakan plankton serta bahan organik yang meruah di perairan itu. Sedangkan seluang di Sumatra lebih banyak makan hewan-hewan mikro yang meruah di sungai-sungai besar itu. Karenanya dari segi bentuk seluang batang yang beradaptasi di  Jawa bentuk dan ukurannya lebih mirip ke wader bintik khas Jawa yang dari genus Barbus. Begitulah hukum adaptasi lingkungan bekerja.

Dibanding wader Jawa, tubuh seluang lebih panjang dan pipih. Sebagai ikan sungai, seluang dan wader tidak berbau amis, dan sama-sama gurih. Perbedaannya, tekstur wader lebih lembut dan durinya juga lembek. Dalam ukuran yang cukub besar, di atas 10 cm, daging seluang mudah dipisahkan dari durinya.

Ada kecenderungan bahwa penangkapan ikan seluang ini semakin besar di banyak tempat. Di sini perlu ada kehati-hatian, karena tak terlalu banyak ikan seluang betina yang bisa mencapai usia matang untuk bertelur. Betina dewasa yang siap reproduksi panjangnya mencapai 30 cm, ukuran yang mudah untuk dijerat jaring pemburu.

Mungkin upaya budidaya seperti di Barito Utara perlu dikembangkan pula di Sumatra, supaya seluang tak melulu ditangkap dari sungai dan danau. Bila pasokan terjamin, rumah makan seperti  Sarinande bisa terus mengembangkan resep-resep baru untuk ikan seluangnya, agar bertahan sampai puluhan tahun lagi ke depan. (P-1)

Komoditas
Ragam Terpopuler
Cap Go Meh Cita Rasa Nusantara
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor berlangsung meriah. Nuansa Cap Go Meh tak melulu pentas atraksi etnis Tionghoa, tapi sudah berbaur dengan atraksi kesenian nusantara. ...
100 Calendar of Events 2020
Ada ribuan acara budaya dan wisata yang akan terjadi di Indonesia. Namun pemerintah hanya menetapkan 100 acara sebagai acara nasional. ...
Mengejar Wisatawan Premium di 2020
Pemerintah tak lagi mengejar volume jumlah wisatawan. Tapi kini menitikberatkan pada kualitas wisatawan yang berkunjung. Sehingga, jumlah devisa diharapkan mampu melampaui pendapatan tahun-tahun sebel...
Teka-teki Tagaril
Di tengah teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai pencanang Bandar Sunda Kelapa, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya. ...
Sebuah Filsafat Perenialisme Tertua
Mpu Tantular sangat jauh melampaui zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial bagi publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantu...
Bangunan Bersejarah di Kompleks Kedutaan Besar Amerika
Sebuah bangunan tua tetap kokoh berdiri di kompleks kedutaan Amerika di Jakarta. Gedung ini dipugar oleh Kedubes AS dan dijadikan museum peninggalan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah destinasi bar...
Labuan Bajo, Go International
Labuan Bajo memiliki seluruh potensi kekayaan ekowisata. Tidak salah sekiranya kota pelabuhan ini ke depan diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata premium berskala internasional. ...
Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau
Bangunan raksasa itu jelas sengaja didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan terhadap Budha Maitreya. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu and...
Kratom, Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...