Bahasa | English


HEWAN ENDEMIK

Elang Flores, Si Pemburu Yang Kian Diburu

7 May 2019, 09:29 WIB

Burung pemangsa ini semakin hari semakin mengkhawatirkan populasinya. Data terbaru menunjukkan populasi Elang Flores hanya tinggal 10 ekor saja.


Elang Flores, Si Pemburu Yang Kian Diburu Burung elang flores di kawasan wisata Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT. Sumber foto: Dok Taman Nasional Kelimutu

Flores merupakan salah satu gugusan pulau yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur dengan pesona keanekaragaman flora dan fauna. Wilayah dengan luas sekira 14.000 kilometer persegi ini terkenal dengan wisata budaya dan alam salah satunya adalah hewan endemik Elang Flores. Elang Flores sendiri diartikan sebagai key species yang dapat mempengaruhi ekosistme yang saling bergantungan serta jumlah dan karakteristik spesies lain di suatu komunitas. (Raja Mohd, 2017).

Indonesia sendiri merupakan rumah bagi berbagai jenis burung salah satunya dari jenis pemangsa (raptor). Dan terdapat 71 jenis burung raptor di Indonesia. Dari 71 jenis burung raptor tersebut, 10 diantaranya adalah spesies endemik dan 2 diantaranya masuk dalam kategori terancam punah (endangered). Yang itu adalah Elang Flores.

Elang Flores merupakan jenis elang yang hanya ada di Indonesia. Hewan dengan nama latin Nisaetus floris ini memiliki ukuran fisik yang besar hingga 71-82 centimeter. Penyebaran populasinya sebetulnya tidak hanya ada di Flores, tetapi meliputi Pulau Lombok, Sumbawa, Pulau Satonda, Rinca dan Flores.

Habitatnya mudah dijumpai di kawasan hutan daratan rendah yang memiliki ketinggian hingga 1.000 mdpl. Ini tentu saja berhubungan dengan cara berburunya yang menerkam dengan jarak yang tidak terlalu tinggi. Diantaranya ada di kawasan Hutan Mbeliling dan Taman Nasional Kelimutu.

Burung Elang Flores secara fisik tidak terlalu jauh berbeda dengan Elang Brontok dengan bulu putih di kepala sampai leher dan warna cokelat dengan garis putih di ujung sayapnya. Salah satu eksotiseme burung ini biasanya karena memperlihatkan mahkota di atas kepalanya saat bertengger di ranting pohon.

Namun, hewan endemik Indonesia ini kini populasinya terancam akibat ulah perburuan yang tinggi. Data Badan Konservasi Dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkannya sebagai jenis Kritis (Critically Endangered/CR) populasinya saat ini diperkirakan antara 100 hingga 240 individu dewasa. Sementara itu, dari data Pemerintah Daerah Kabupaten Ende yang disampaikan Bupati Marsel Petu pada April 2019, populasi Elang Flores di kawasan Taman Nasional Kelimutu, Flores, NTT semakin terancam dan tersisa hanya tinggal 10 ekor.

Bagi masyarakat setempat, yang sebagian besar masyarakat Flores merupakan suku Manggarai yang kebanyakan dapat mengenali banyak jenis elang. Mereka menamai Elang Flores sebagai Ntangis. Mereka juga menamai sejumlah kecil Elang seperti Jumburiang untuk Elang Bonelli’s (Hieratus fasciatus) dan Lawang ntangis untuk Brahminy Kite (Halistur Indus). Suku Manggarai di bagian barat Flores menganggap bahwa Elang Flores sebagai toem atau empo, leluhur manusa, dan tidak boleh disiksa, dibunuh, atau ditangkap (Trainor & Lesmana 2000).

Kian terancamnya populasi Elang Flores tidak bisa dipisahkan dari keresahan masyarakat yang dianggap sebagai hama atas hewan unggas peliharaanya. Bahkan, tidak hanya itu, berdasarkan data dari Taman Nasional Gunung Rinjani, perburuan liar, kebakaran hutan dan penebangan hutan dengan masif menyebabkan tergerusnya habitat burung Elang Flores hanya tinggal menyisakan 36,1 hektare. (K-ES)

Sosial
Ragam Terpopuler
Islam, Sumbangsih Terbesar Etnis Tionghoa
Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Demikian ujar Presiden ke-3 BJ Habibie dalam sebuah orasi di Masjid Lautze pada Agustus 2013. ...
Ziarah Kubur, Ibadah Haji Orang Jawa di Masa Lalu
Bagi kaum abangan, ziarah kubur ke makam raja-raja di Imogiri bermakna sebagai pengganti ibadah haji. ...
Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu
Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan. ...
Pacung dan Sambiran, Ternyata Dugaan Lombard Benar
Temuan-temuan ini menguatkan tesis bahwa pada abad ke-9 terjadi kontak yang sangat intensif antara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan India. ...
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Solidaritas Sosial dalam Sunat Poci dan Mantu Poci
Demikianlah potret lekatnya tradisi minum teh mengejawantah pada hajatan sunat poci dan mantu poci. Sayangnya, ritus sosial yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan hubungan timbal balik antar...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...