Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


HEWAN ENDEMIK

Elang Flores, Si Pemburu Yang Kian Diburu

Tuesday, 7 May 2019

Burung pemangsa ini semakin hari semakin mengkhawatirkan populasinya. Data terbaru menunjukkan populasi Elang Flores hanya tinggal 10 ekor saja.


Elang Flores, Si Pemburu Yang Kian Diburu Burung elang flores di kawasan wisata Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT. Sumber foto: Dok Taman Nasional Kelimutu

Flores merupakan salah satu gugusan pulau yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur dengan pesona keanekaragaman flora dan fauna. Wilayah dengan luas sekira 14.000 kilometer persegi ini terkenal dengan wisata budaya dan alam salah satunya adalah hewan endemik Elang Flores. Elang Flores sendiri diartikan sebagai key species yang dapat mempengaruhi ekosistme yang saling bergantungan serta jumlah dan karakteristik spesies lain di suatu komunitas. (Raja Mohd, 2017).

Indonesia sendiri merupakan rumah bagi berbagai jenis burung salah satunya dari jenis pemangsa (raptor). Dan terdapat 71 jenis burung raptor di Indonesia. Dari 71 jenis burung raptor tersebut, 10 diantaranya adalah spesies endemik dan 2 diantaranya masuk dalam kategori terancam punah (endangered). Yang itu adalah Elang Flores.

Elang Flores merupakan jenis elang yang hanya ada di Indonesia. Hewan dengan nama latin Nisaetus floris ini memiliki ukuran fisik yang besar hingga 71-82 centimeter. Penyebaran populasinya sebetulnya tidak hanya ada di Flores, tetapi meliputi Pulau Lombok, Sumbawa, Pulau Satonda, Rinca dan Flores.

Habitatnya mudah dijumpai di kawasan hutan daratan rendah yang memiliki ketinggian hingga 1.000 mdpl. Ini tentu saja berhubungan dengan cara berburunya yang menerkam dengan jarak yang tidak terlalu tinggi. Diantaranya ada di kawasan Hutan Mbeliling dan Taman Nasional Kelimutu.

Burung Elang Flores secara fisik tidak terlalu jauh berbeda dengan Elang Brontok dengan bulu putih di kepala sampai leher dan warna cokelat dengan garis putih di ujung sayapnya. Salah satu eksotiseme burung ini biasanya karena memperlihatkan mahkota di atas kepalanya saat bertengger di ranting pohon.

Namun, hewan endemik Indonesia ini kini populasinya terancam akibat ulah perburuan yang tinggi. Data Badan Konservasi Dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkannya sebagai jenis Kritis (Critically Endangered/CR) populasinya saat ini diperkirakan antara 100 hingga 240 individu dewasa. Sementara itu, dari data Pemerintah Daerah Kabupaten Ende yang disampaikan Bupati Marsel Petu pada April 2019, populasi Elang Flores di kawasan Taman Nasional Kelimutu, Flores, NTT semakin terancam dan tersisa hanya tinggal 10 ekor.

Bagi masyarakat setempat, yang sebagian besar masyarakat Flores merupakan suku Manggarai yang kebanyakan dapat mengenali banyak jenis elang. Mereka menamai Elang Flores sebagai Ntangis. Mereka juga menamai sejumlah kecil Elang seperti Jumburiang untuk Elang Bonelli’s (Hieratus fasciatus) dan Lawang ntangis untuk Brahminy Kite (Halistur Indus). Suku Manggarai di bagian barat Flores menganggap bahwa Elang Flores sebagai toem atau empo, leluhur manusa, dan tidak boleh disiksa, dibunuh, atau ditangkap (Trainor & Lesmana 2000).

Kian terancamnya populasi Elang Flores tidak bisa dipisahkan dari keresahan masyarakat yang dianggap sebagai hama atas hewan unggas peliharaanya. Bahkan, tidak hanya itu, berdasarkan data dari Taman Nasional Gunung Rinjani, perburuan liar, kebakaran hutan dan penebangan hutan dengan masif menyebabkan tergerusnya habitat burung Elang Flores hanya tinggal menyisakan 36,1 hektare. (K-ES)

Sosial
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan: Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Budhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...