Bahasa | English


REMPAH NUSANTARA

Dunia Butuh Lada Jambi Sebagai Bumbu Masak

29 November 2019, 07:07 WIB

Jambi sudah lama dikenal sebagai sentra terpenting daerah penghasil lada Nusantara. Banyak negara Eropa bersaing keras k menguasai perdagangan rempah-rempah Indonesia. Negara-negara tersebut adalah; Portugis, Inggris, dan Hindia Belanda.


Dunia Butuh Lada Jambi Sebagai Bumbu Masak Aktivitas Pelabuhan di Tepian Sungai Batanghari. Foto: Arsip Nasional

Meski sesungguhnya lada yang tergolong rempah-rempah ini bisa didapatkan dari Sabang sampai Merauke, namun Jambi punya posisi penting sebagai pusat lada. Selaian Jambi, wilayah lain di Sumatera yang menghasilkan lada, adalah;  Palembang, Bengkulu, Lampung, Aceh, Tapanuli,  dan sebagainya.

Biasanya, rempah-rempah ini digunakan sebagai bumbu masakan. Untuk mendapatkannya para saudagar kaya atau pedagang melakukan penjelajahan melalui laut. Salah satu rempah-rempah yang sering digunakan sebagai bumbu masakan adalah lada.

Dalam buku yang berjudul Sungai dan Sejarah Sumatera yang ditulis oleh Gusti Asnan dijelaskan bahwa perdagangan lada di Pulau Sumatera terdapat di beberapa tempat. Setidaknya ada tiga bagian, yaitu pesisir sebelah utara pantai barat Sumatera (Barus, Singkil, dan Meulaboh), kawasan bagian selatan pesisir barat Sumatera (Indrapura, Bengkulu, dan Lampung), dan kawasan bagian tengah dan selatan bagian timur Pulau Sumatera (Jambi, Aceh, Pedir, dan Palembang).

Lada adalah salah satu komuditas perdagangan unggulan dari wilayah Sumatera. Permintaan akan lada di pasar Eropa dan Timur Tengah begitu tinggi. Selain digunakan sebagai bumbu masakan, lada juga berfungsi sebagai pengawet, obat-obatan, dan diambil minyaknya untuk wangi-wangian serta dapat digunakan sebagai alat tukar layaknya uang.

Jalur Perdagangan Lada di Jambi

Lada sudah kesohor sejak zaman dulu. Kegunaan lada pada zaman dulu tidak hanya sebatas sebagai perasa dan penambah rasa dalam makanan. Di Jambi, lada juga  menunjukkan status sosial bagi pemiliknya.

Jambi sendiri tergolong sebagai penghasil lada terbesar di Sumatera. Perdagangan ini dilakukan oleh Kesultanan Jambi, orang-orang Tionghoa, Melayu, Makassar, dan Jawa. Para pedagang ini memanfaatkan Perairan Malaka sekitaran tahun 1550-an sampai akhir abad ke-17.

Lada Jambi merupakan salah satu varian lada di Sumatera. Varian lainnya adalah lada manna dan lada khawur. Penamaan ini sesuai dengan asal daerah penghasil ladanya. Ada juga penamaan lada dari cara penanamannya, seperti lada sulur dan lada anggur. Di Jambi, lada dihasilkan oleh daerah hulu Jambi seperti Tanjung, Kuamang, Sumai, MuaraTembesi, dan daerah lainnya di Tujuh Koto.

Pemain atau pedagang lada di Jambi terbagi empat bagian, yaitu; Petani Lada Minangkabau, Portugis, Orang Tionghoa, dan Belanda. Keempatnya memainkan perannya masing-masing, ada yang di jalur sungai Batanghari dan pasar internasional.

Dedi Arman dalam bukunya Perdangan Lada di Jambi Abad XVI-XVIII menjelaskan, jaringan perdagangan dan pelayaran di Jambi pada era awal meliputi dua bentuk utama. Pertama, jaringan hulu (pedalaman) yaitu berada di hulu Sungai Batanghari. Kedua, melalui jalur alternatif, yaitu dari hulu ke Muaro Tebo kemudian dibawa ke Selat Malaka melalui Indragiri dan Kuala Tungkal.

Permintaan akan lada di pasar yang tergolong besar menyebabkan petani lada meluaskan lahan pertaniannya. Harganya pun naik turun, tidak optimalnya pemeliharaan kebun lada, dan monopoli perdagangan menyebabkan kondisi perekonomian petani tidak stabil dan mereka berganti prosesi. Ada yang menanam padi, karet dan sebagainya.

Kondisi ini menyebabkan Kesultanan Jambi merasakan dampak yang signifikan terhadap perekonomian kesultanan. Padahal Sultan mengandalkan pemasukan yang diperoleh melalui monopoli perdagangan atau bea ekspor. Para Sultan Jambi menjadi sangat kaya seiring waktu berjalan. Pada periode kerjasama dengan VOC, Sultan Jambi menangguk untung 30-35 persen dari lada yang terjual.

Selain itu, perdagangan lada di Jambi tergolong sangat singkat dan tidak membawa kemakmuran panjang bagi masyarakat. Sampai saat ini, lada dapat kita jumpai, walaupun tidak tergolong besar. Pemanfaatannya pun masih digunakan masyarakat sebagai bumbu masakan yang tak bisa dilewatkan. (K-LH)

Komoditas
Rempah Nusantara
Ragam Terpopuler
Tempat Semedi itu Bernama Monas
Kawasan Monas bukan sekadar taman kosong. Ada keinginan besar dari Bung Karno bagi mereka yang berkunjung ke kawasan ini. ...
Sade, Benteng Terakhir Suku Sasak
Dusun Sade ada sejak 1.100 tahun lampau dan sudah dihuni oleh 15 generasi. ...
Cap Go Meh Cita Rasa Nusantara
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor berlangsung meriah. Nuansa Cap Go Meh tak melulu pentas atraksi etnis Tionghoa, tapi sudah berbaur dengan atraksi kesenian nusantara. ...
100 Calendar of Events 2020
Ada ribuan acara budaya dan wisata yang akan terjadi di Indonesia. Namun pemerintah hanya menetapkan 100 acara sebagai acara nasional. ...
Mengejar Wisatawan Premium di 2020
Pemerintah tak lagi mengejar volume jumlah wisatawan. Tapi kini menitikberatkan pada kualitas wisatawan yang berkunjung. Sehingga, jumlah devisa diharapkan mampu melampaui pendapatan tahun-tahun sebel...
Teka-teki Tagaril
Di tengah teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai pencanang Bandar Sunda Kelapa, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya. ...
Sebuah Filsafat Perenialisme Tertua
Mpu Tantular sangat jauh melampaui zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial bagi publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantu...
Bangunan Bersejarah di Kompleks Kedutaan Besar Amerika
Sebuah bangunan tua tetap kokoh berdiri di kompleks kedutaan Amerika di Jakarta. Gedung ini dipugar oleh Kedubes AS dan dijadikan museum peninggalan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah destinasi bar...
Labuan Bajo, Go International
Labuan Bajo memiliki seluruh potensi kekayaan ekowisata. Tidak salah sekiranya kota pelabuhan ini ke depan diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata premium berskala internasional. ...
Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau
Bangunan raksasa itu jelas sengaja didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan terhadap Budha Maitreya. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu and...