Bahasa | English


REVITALISASI BANGUNAN

Menjaga Kerinduan Perantau Pulang

28 August 2020, 05:25 WIB

Pemerintah melakukan revitalisasi terhadap obyek wisata Seribu Rumah Gadang di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat. Di kawasan itu berisi beragam bangunan rumah gadang berusia ratusan tahun.


Menjaga Kerinduan Perantau Pulang Seorang Datuk (Pimpinan Adat) turun dari sebuah, Rumah Gadang di Nagari Sumpur, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Foto: Antara Foto/iggoy el fitra

Sumatra Barat tidak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki keindahan alam yang luar biasa serta kelezatan rendang dan masakan lainnya. Ranah Minang, begitu daerah itu menyapa diri, juga dikenal dengan bentuk rumah adatnya yang unik. Namanya rumah gadang dengan ciri khas arsitektur terdapat sudut-sudut lancip seperti tanduk kerbau pada puncak atap yang dalam bahasa setempat disebut gonjong. Di bagian halaman depan biasanya terdapat rangkiang, sejenis lumbung padi.

Rumah gadang selain sebagai tempat tinggal juga digunakan sebagai tempat pertemuan adat seperti pengukuhan seseorang sebagai datuk atau pemangku adat (ninik mamak), tempat musyarawah para pemangku adat dan kegiatan pernikahan. Arsitek Hasanadi dalam bukunya Mahakarya Rumah Gadang Minangkabau menyebutkan, umumnya rumah gadang dibangun dengan pola memanjang dari utara ke selatan dengan bagian depan menghadap timur dan barat.

Jika ingin melihat ragam bentuk rumah gadang dalam satu kawasan, maka kita bisa berkunjung ke Jorong Bariang Rao Rao, Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan. Kawasan sejuk di kaki Gunung Kerinci seluas 26,3 hektare ini terdapat cagar budaya sekaligus kawasan wisata Seribu Rumah Gadang (SRG). Dari ibu kota Padang, kawasan wisata ini jaraknya sekitar 147 kilometer (km) dan dapat ditempuh melalui perjalanan 3--4 jam. Sedangkan dari kota sejuk Bukittinggi jaraknya sekitar 188 km dan dapat dijangkau dengan waktu 5 jam perjalanan darat.

Di lokasi ini, kita dapat menjumpai lebih dari 100 rumah gadang dalam berbagai ukuran dan usia bangunan, sebagian sudah ratusan tahun. Termasuk rumah gadang milik ahli waris Datuk Djopanjang yang dibangun pada era pertengahan tahun 1800-an. Atapnya tak lagi menggunakan ijuk, tetapi sudah diganti seng. Kayu-kayu besi sebagai penopang bangunan pun masih tampak gagah. Rumah gadang tanpa bilik kamar itu difungsikan sebagai homestay oleh pemiliknya, Upik Randu. Tak sedikit dari rumah gadang berusia ratusan tahun lainnya menjadi lapuk dan rusak karena termakan usia.

Beberapa rumah gadang juga diberi ukiran di sekujur permukaan tembok luar rumah yang terbuat dari kayu. Motif ukirannya bermacam-macam seperti tumbuhan merambat, akar, ranting, serta motif geometri bersegi tiga, empat, atau jajaran genjang.  

 

Revitalisasi Besar

Presiden Joko Widodo adalah salah satu orang yang terkesan dengan rumah gadang di SRG bahkan jauh sebelum ditetapkan oleh pemerintah setempat sebagai obyek wisata pada 2010 lalu. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu punya pengalaman tersendiri ketika akan mendaki Gunung Kerinci tahun 1983, di mana dia menyempatkan diri melewati kawasan SRG. “Saya kagum akan rumah adat yang cantik dan indah di Solok Selatan,” kata Presiden, pada puncak peringatan Hari Pers Nasional di Padang, 9 Februari 2018.

Pada kesempatan itu Presiden meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  (PUPR) melakukan revitalisasi besar-besaran terhadap kawasan SRG. Termasuk membangun ulang rumah gadang yang sudah lapuk termakan usia. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, pemugaran rumah gadang dilakukan Direktorat Jenderal Cipta Karya melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sumbar.  

Dalam pelaksanaanya, Ditjen Cipta Karya akan melakukan pemugaran terhadap 33 rumah gadang, menata landscape kawasan, dan membangun Menara Songket sebagai landmark kawasan dan fasilitas-fasilitas penunjang bagi turis dan perantau agar pulang ke kampung halamannya untuk berwisata. Pemerintah juga membangun ruang terbuka hijau, panggung terbuka (amphitheatre), dan kios-kios bagi usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). Begitu pula dengan sistem kelistrikan dan penerangan di lingkungan ikut direvitalisasi.

Sebanyak 28 unit rumah gadang sejak 2019 sedang dalam pemugaran dari total 33 unit yang akan dikerjakan oleh pemerintah. Pekerjaan revitalisasi ini ditargetkan selesai pada akhir 2020 dengan anggaran dari APBN 2019-2020 sebesar Rp69,7 miliar.

Revitalisasi kawasan SRG ini sangat diperhitungkan secara teknis. Dimulai dari proses identifikasi dan inventarisasi kerusakan rumah gadang hingga proses perencanaan pembangunan rumah gadang. Sebuah tim khusus melibatkan ahli dari Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), arsitek senior Johny Wongso, dan tim arsitektur rumah gadang dari Universitas Bung Hatta.

Sementara itu untuk perencanaan penataan kawasan melibatkan Gregorius Yori Antar Si Pendekar Arsitektur Nusantara, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), dengan kontraktor pelaksana PT Wisana Matra Karya dan konsultan perencana PT Jakarta Konsultindo. Pemerintah juga menggandeng sejumlah tukang-tukang kayu senior yang memiliki keahlian dalam membuat ornamen ukiran pada rumah gadang.

 

 

 

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Eri Sutrisno/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Presiden RI
Rumah Gadang
Jokowi
kabupaten Solok Selatan Sumatra Barat
Presiden Joko Widodo
Revitalisasi
Seribu Rumah Gadang
SRG
Sumatra Barat
Ragam Terpopuler
Andaliman, Harta Terpendam Tano Batak
Tanaman andaliman khas wilayah pegunungan di Sumatra Utara memiliki beragam manfaat. Tak sekadar pelengkap bumbu masakan kuliner Tano Batak. ...
Magnet Borobudur Pikat Dunia
Kolaborasi cerdas dalam mewujudkan aksi napak tilas Jalur Kayumanis memiliki dampak besar pada perkembangan turisme di tanah air. Borobudur berkali-kali jadi magnet perhatian dunia.  ...
Samudra Raksa, dari Relief Turun ke Laut
Dalam seluruh rangkaian cerita yang terpahat di dinding Candi Borobudur, tercatat ada sepuluh relief yang memuat gambar perahu kuno, dengan model yang berbeda-beda. ...
Agar Tetap Aman dan Selamat Saat Berwisata
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyusun protokol kesehatan, keamanan, dan keselamatan untuk mempertahankan keberlangsungan industri pariwisata nasional. ...
Maksuba, Kue Penuh Kesabaran
Kue maksuba dibuat dengan bahan utama telur bebek. Untuk menghasilkan satu loyang kue dibutuhkan waktu tiga jam. ...
Sinyal 4G Menguat di Pulau Komodo
Untuk menunjang pariwisata, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memperkuat penyediaan layanan internet cepat 4G di destinasi prioritas, salah satunya di Pulau Komodo. ...
Mengincar Tuan Rumah Pesta Lima Gelang
Australia, Inggris, dan Amerika Serikat telah merasakan manfaat sosial dan ekonomi jadi tuan rumah Olimpiade. Indonesia dengan berbagai pengalamannya pun sudah layak jadi tuan rumah ajang olahraga ter...
Bono, Mitos Ombak Tujuh Hantu
Ombak bono di Sungai Kampar Provinsi Riau telah memikat para peselancar mancanegara untuk mencobanya. Termasuk, upaya memecahkan rekor dunia waktu terlama berselancar di sungai. ...
Gurih Pedas Satai Bulayak Khas Sasak
Lontongnya dililit daun aren. Satainya berasal dari daging sapi atau ayam dengan potongan lebih kecil dari satai umumnya. ...
Pengakuan Unesco untuk Tiga Cagar Biosfer Indonesia
Unesco menetapkan tiga cagar biosfer baru di Indonesia. Kini Indonesia memiliki 19 cagar biosfer seluas 29.9 juta ha yang menjadi bagian dari World Network of Biosphere Reserves. ...