Bahasa | English


KULINER

Nikmatnya Nasi Grombyang Bikin Lidah Bergoyang

31 October 2019, 10:13 WIB

Menu masakan tiap daerah selalu memiliki cita rasa yang khas. Tak heran kalau sensasi lezatannya selalu diburu para penikmat kulinari negeri ini.


Nikmatnya Nasi Grombyang Bikin Lidah Bergoyang  Nasi Grombyang. Foto: Net

Tidak berlebihan rasanya jika mengatakan kalau menu masakan di Nusantara tak lekang dimakan zaman. Sebab dalam berbagai hidangan Indonesia tersemat sensasi rasa yang tidak dijumpai pada masakan Eropa atau Benua Asia lainnya. Gurih, namanya. Pada masakan Eropa hanya mengenal cita rasa asin, manis, pahit, dan asam. Kalaupun ada yang sedikit berbeda, itu merupakan cita rasa asin lembut yang dikenal dengan savory. Rasanya tidak sekuat garam dapur, misalnya rasa asin pada keju, ham, serta salami.

Sedangkan di benua Asia, seperti Jepang, menyebut istilah gurih dengan umami: cita rasa lezat yang didapat dari kecap asin atau ekstrak rumput laut. Sensasi gurih pada masakan Indonesia tidak sesederhana itu. Sangat kompleks. Bayangkan, dalam satu menu saja terdapat ratusan ribu senyawa yang bersinergi. Perpaduan bumbu rempahnya kaya akan kandungan yang bermanfaat bagi tubuh. Mulai dari protein hingga vitamin alami. Uniknya, tiap daerah selalu memiliki cita rasa masakan yang khas. Tak heran kalau sensasi kelezatannya selalu diburu para penikmat kulinari.

Termasuk kami, yang kali ini mencoba menjelajahi kenikmatan kuliner yang memiliki nama unik di salah satu kota di Jawa Tengah. Ya, nasi grombyang menjadi salah satu makanan khas yang wajib dicicipi ketika berkunjung ke kota Pemalang. Makanan yang memiliki kaya kuah ini memang menjadi makanan yang populer di Pemalang. Bila dilihat sekilas, nasi grombyang ini mirip soto atau rawon. Tapi, ia bukan soto atau rawon setelah merasakan sajian khas nasi grombyang.

Nasi grombyang lebih mengandalkan daging kerbau dan kuah sebagai elemen utamanya. Irisan daging kerbau dan kuah ini kemudian dijadikan satu di sebuah mangkok kecil sebelum disajikan. Ketika dibawa dengan nampan, kuah yang melimpah seolah-olah akan meluap dari bibir mangkok. Dari kuah yang bergoyang-goyang sehingga hampir tumpah inilah yang kemudian dilafalkan dalam bahasa lokal dengan istilah grombyang.

Setelah merasakan nasi grombyang memang akan membayangkan sensasi daging kerbau yang empuk dan lembut di lidah. Bagi pecinta kuliner tentu mengetahui bahwa daging kerbau sangat jarang ditemui di sajian kuliner Nusantara. Padahal, daging kerbau dikenal sangat gurih bila dimasak benar dan dengan bumbu rahasia, maka akan menghasilkan daging yang empuk. Banyak orang menghindari menggunakan daging kerbau sebagai lauk utama, karena bila tak pandai memasaknya akan menjadi keras.

Tidak diketahui secara pasti kapan makanan khas Pemalang ini diciptakan. Tapi menurut penuturan para penduduk asli di Pemalang, nasi grombyang sudah ada sejak tahun 1960-an. Kala itu para pedagang berjualan berkeliling kampung.

Penjual nasi grombyang di Pemalang banyak sekali terdapat di pojok alun – alun, pinggir jalan, sekitar terminal, dan lainnya. Dari awal kemunculannya banyak orang langsung menyukai nasi grombyang yang legendaris karena gurih dengan encer. Porsi yang ditawarkan pada pembeli memang tidak besar sehingga membuat pembeli sangat pas menikmatinya.

Menu Kondang Pemikat Selera

Penjual nasi grombyang memiliki penataan warungnya sangat sederhana. Bangku dan meja kayu panjang khas warung tentu menjadi pemandang utama ketika memasuki ruang dalam. Meski begitu suasananya cukup nyaman dan bersih. Sebuah pikulan besar pedagang soto atau penganan tradisional di masa lalu, seakan ikut memberi sambutan selamat datang sekaligus menjadi pemikat selera dengan kepulan asapnya yang menebar aroma sedap di udara.  

Nasi grombyang disajikan dengan mangkuk kecil. Komposisinya terdiri dari nasi putih, potongan daging kerbau, atau daging sapi, atau daging ayam yang sudah dipotong tipis, irisan daun bawang, serta berbagai bumbu rempah yang menyatu pada kuah kaldunya.

Diperhatikan sekilas, menu ini mirip rawon. Boleh jadi lantaran bahan dasar bumbunya juga menggunakan kluwek seperti halnya menu yang sohor di Jawa Timur. Bedanya kuah nasi grombyang lebih encer dan tidak sepekat rawon. Padu-padan bumbu rempah pada kuah hangat itu begitu gurih memikat.

Sensasinya luar biasa lezat  dan segar. Mata yang capek, tenaga yang terkuras langsung sirna. Saat menggigit daging kerbau atau sapi terasa empuk dan matang. Nyes…padu-padan bumbu rempahnya begitu meresap biasanya, dalam hidangan nasi grombyang juga disertakan sepiring sate daging sapi/kerbau sebagai pelengkap.

Uniknya cara mengolahnya tidak dibakar seperti sate pada umumnya. Daging cukup diungkep dengan menggunakan bumbu kemudian ditusuk layaknya sate. Untuk pelengkap cita rasa, sate ini dibalut dengan bumbu kelapa sangrai parut dipadu sambal cabe rawit. Rasanya nikmat sekali, yakni rasa manis yang begitu tipis berpadu dengan semburat gurih yang melekat di lidah.

Bila anda kebetulan melintasi daerah Pantura dan ingin singgah untuk mencicipi kelezatan nasi grombyang maka bisa mampir di sepanjang Jalan RE Martadinata dan di lingkungan alun-alun Kota Pemalang. Akses menuju lokasi ini pun cukup gampang dijangkau karena terletak di pusat Kota Pemalang. (K-GR)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...
Cakalang Fufu Rica Rica, Edodoe Pe Sedap Sekali
Aroma ikan ini memang khas dan tidak bisa dibandingkan dengan olahan ikan asap lainnya. Mungkin karena pengolahannya menggunakan kayu bakar pilihan. Namun yang membuat rasa ikan ini semakin menon...