Bahasa | English


PARIWISATA

Banyu Urip, Ketika Satu Kampung Hasilkan Lontong

22 May 2020, 06:34 WIB

Terkenal seantero Jawa Timur, kampung lontong ini pernah dikunjungi Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri.


Banyu Urip, Ketika Satu Kampung Hasilkan Lontong Hampir di semua warga di Kupang Krajan, Surabaya mahir membuat lontong. Foto : Bicara Surabaya

Karung berisi beras terlihat menumpuk di rumah warga di sebuah gang Banyu Urip, Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Di teras dan dalam rumah, daun-daun pisang juga terlihat tertumpuk rapi. Mereka tidak sedang menimbun bahan pokok. Tapi beras dan daun itu merupakan bahan untuk membuat lontong.

Di gang itu memang mayoritas warganya berprofesi sebagai pedagang lontong. Kesibukan pembuatan lontong terlihat hampir sepanjang hari. Gang ini seakan tak pernah tidur. Sejak dini hari sebelum subuh, keramaian sudah mulai terlihat. Pun ketika siang hingga malam hari. Kaum perempuan dan laki-laki mengukus beras untuk dimasukkan ke dalam daun untuk selanjutnya dimasak. Di teras-teras rumah warga yang lain sibuk menata lontong dalam sebuah tempat untuk diantar ke pasar-pasar Surabaya dan sekitarnya.

Usaha pembuatan lontong ini tak pernah sepi. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi juga untuk memasok pesanan ketika hari raya Idulfitri, Iduladha, atau perayaan Cap Go Meh. Dalam sehari rata-rata pembuat lontong di gang itu bisa menghabiskan 700 kg hingga satu kuintal beras.

Produksi makin banyak ketika Lebaran atau perayaan Cap Go Meh. Siti Maimunah, salah satu pembuat dan pedagang lontong, mengaku ketika perayaan Cap Go Meh bisa menghabiskan dua kuintal beras. "Ketika lebaran ketupat bisa 2,5 kuintal," katanya.

Menurut Siti, satu kilogram beras bisa dibuat 22 bungkus lontong. Harga per biji dipatok Rp800 untuk ukuran sedang dan Rp1.200 untuk ukuran besar. Dalam sehari, rata-rata ia bisa meraup keuntungan sebesar Rp600 ribu.

Novita, pedagang lontong lainnya yang mulai menekuni usaha sejak 2011, mengaku sehari bisa menghabiskan dua karung beras seberat 30 kilogram. Dalam sehari ia bisa memproduksi 700 lontong. Dalam sehari ia mengaku bisa mengantongi Rp800.000 atau sekitar Rp25 juta per bulan. Bisnis yang menggiurkan.

Beras untuk kebutuhan lontong dipasok dari Perum Bulog dan distributor lain. Untuk memasok kebutuhan beras yang banyak itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini telah meminta Bulog Jawa Timur untuk mengalokasikan beras untuk kampung lontong itu. Alhasil, Bulog sanggup memenuhi pasokan beras sebanyak lima ton per bulan untuk para produsen lontong.

Reni, salah satu pembuat lontong mengaku setiap bulan dapat pasokan beras dari Bulog 50 kilogram. Tapi itu tidak cukup. Karenanya, ia masih harus mencari dari distributor lain untuk memenuhi produksi lontongnya.

Sedangkan untuk daun pisang, menurut Reni, biasanya dipasok dari Kabupaten Mojokerto dan Jombang. Pemasok biasanya mengantar daun pisang itu tiga hari sekali. Satu bal daun pisang yang telah dipotong harganya Rp10.000.

Selain membuat lontong ada juga peluang membuat bungkus lontong. Seperti yang dilakukan Tuti Aminah. Ia justru mengais rezeki dari membuat bungkus lontong itu. Dalam sehari, Tuti mengaku mampu membuat bungkusan lontong sebanyak 15 keranjang hingga 35 keranjang. Satu keranjang berisi 100 lontong. Harga satu keranjang bungkusan lontong dibanderol Rp12.000. Dalam sebulan ia mampu mendapatkan omzet Rp6 juta dari membuat bungkusan lontong.    

Aktivitas warga di Kelurahan Kupang Krajan saat membuat lontong. Foto : Bisnis Surabaya

 

 

Muasal Kampung Lontong

Usaha lontong ini bermula sekitar tahun 1980-an, oleh seorang warga bernama Ramiah. Diketahui, awalnya kampung itu dikenal sebagai sentra perajin tempe. Karena pengerajin makin banyak, persaingan pun makin ketat.

Ketatnya persaingan itu membuat Ramiah mencoba-coba membuat lontong. Lontong buatannya dipasarkan di tempat ia biasa berdagang tempe dan ayam di pasar. Tak disangka, lontongnya laris.

Karena pesanan makin banyak, ia meminta bantuan para tetangganya untuk membuat lontong. Ramiah mengajari bagaimana membuat lontong itu. Lambat laun tetangganya tertarik. Mereka yang semula banyak menjadi perajin tempe akhirnya mengikuti jejak Ramiah.

Kini, diperkirakan ada sekitar 50 kepala keluarga di kampung Banyu Urip yang mendirikan usaha lontong. "Karena banyak yang berdagang lontong kampung ini dijuluki Kampung Lontong," kata Ari Siswanto, Ketua Paguyuban Kampung Lontong.

Kampung Lontong ini sudah sangat termasyhur di Jawa Timur. Bahkan pada 2012, kampung ini pernah dikunjungi Presiden Indonesia kelima Megawati Soekarnoputri.

 

 


Penulis: Fajar WH
Editor: Eri Sutrisno/Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini

Banyu Urip
Jawa Timur
Kuliner
Kuliner Tradisional
Lontong
Surabaya
Ragam Terpopuler
Andaliman, Harta Terpendam Tano Batak
Tanaman andaliman khas wilayah pegunungan di Sumatra Utara memiliki beragam manfaat. Tak sekadar pelengkap bumbu masakan kuliner Tano Batak. ...
Magnet Borobudur Pikat Dunia
Kolaborasi cerdas dalam mewujudkan aksi napak tilas Jalur Kayumanis memiliki dampak besar pada perkembangan turisme di tanah air. Borobudur berkali-kali jadi magnet perhatian dunia.  ...
Samudra Raksa, dari Relief Turun ke Laut
Dalam seluruh rangkaian cerita yang terpahat di dinding Candi Borobudur, tercatat ada sepuluh relief yang memuat gambar perahu kuno, dengan model yang berbeda-beda. ...
Agar Tetap Aman dan Selamat Saat Berwisata
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyusun protokol kesehatan, keamanan, dan keselamatan untuk mempertahankan keberlangsungan industri pariwisata nasional. ...
Maksuba, Kue Penuh Kesabaran
Kue maksuba dibuat dengan bahan utama telur bebek. Untuk menghasilkan satu loyang kue dibutuhkan waktu tiga jam. ...
Sinyal 4G Menguat di Pulau Komodo
Untuk menunjang pariwisata, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memperkuat penyediaan layanan internet cepat 4G di destinasi prioritas, salah satunya di Pulau Komodo. ...
Mengincar Tuan Rumah Pesta Lima Gelang
Australia, Inggris, dan Amerika Serikat telah merasakan manfaat sosial dan ekonomi jadi tuan rumah Olimpiade. Indonesia dengan berbagai pengalamannya pun sudah layak jadi tuan rumah ajang olahraga ter...
Bono, Mitos Ombak Tujuh Hantu
Ombak bono di Sungai Kampar Provinsi Riau telah memikat para peselancar mancanegara untuk mencobanya. Termasuk, upaya memecahkan rekor dunia waktu terlama berselancar di sungai. ...
Gurih Pedas Satai Bulayak Khas Sasak
Lontongnya dililit daun aren. Satainya berasal dari daging sapi atau ayam dengan potongan lebih kecil dari satai umumnya. ...
Pengakuan Unesco untuk Tiga Cagar Biosfer Indonesia
Unesco menetapkan tiga cagar biosfer baru di Indonesia. Kini Indonesia memiliki 19 cagar biosfer seluas 29.9 juta ha yang menjadi bagian dari World Network of Biosphere Reserves. ...