Bahasa | English


PARIWISATA

Mitos Si Jagur yang Memiliki Kekuatan Magis

22 October 2019, 02:01 WIB

Pada bagian belakang meriam itu ada ornamen berbentuk tangan dengan posisi ibu jari dijepit jari tengah. Di Indonesia, secara umum simbol itu mengartikan sebuah lambang yang berkonotasi sebagai simbol persetubuhan.


Mitos Si Jagur yang Memiliki Kekuatan Magis Si Jagur Meriam. Foto: Museum Fatahilah

Itulah Si Jagur, sebuah meriam yang bisa disaksikan bila kita mengunjungi Museum Fatahilah, Kota Tua, Jakarta. Bangsa Portugis menyebut lambang tersebut dengan “mano in figa”. Maksudnya, lambang tersebut bermakna kepercayaan dan kesuburan. Ia juga berarti sebuah ejekan untuk bangsa Belanda yang merupakan musuh Portugis saat itu.

Dari beberapa literatur yang berhasil dihimpun, meriam Si Jagur dibuat di Makao dari pabrik St Jago de Barra, oleh The Master of Royal Foundry (O Grande Fundidor) Manuel Tavares Bocarro (MTB) pada tahun 1641. Meriam itu digunakan awalnya oleh Portugis untuk mempertahankan bentengnya di Malaka.

Si Jagur Sudah puluhan kali pindah tangan dan pindah tempat. Bermula hijrah ke Batavia dibawa oleh Belanda, dibawah bendera korporasi dagang VOC. Meriam seberat 3,5 ton itu, menurut Thomas B Ataladjar seorang pengajar jurnalistik dan menulis di SMP dan SMK Plus Berkualitas, Lengkong Mandiri, Kota Tanggerang Selatan, Si Jagur dibuat dari peleburan 16 meriam kecil lainnya. Wajar bila si pembuat mengukir tulisan “Ex Me Ipsa Renata Sum” atau aku diciptakan dari diriku sendiri. 

Sementara di berbagai buku sejarah di museum dan booklet milik UPK Kota Tua, mencatat kesaksian bahwa para penyentuh simbol meriam. Bagi mereka yang mandul, mempercayainya akan segera dikarunia keturunan. Literatur lain menyebutkan, banyak sekali orang menziarahi Si Jagur, ketika meriam tersebut ditempatkan di dekat Jembatan Kota Intan.

Pada saat yang lalu, kita masih menjumpai banyak orang yang datang membakar kemenyan dan menabur kembang di sekitar si Jagur. Mereka percaya kalau meriam tersebut bisa mengabulkan permintaan keluarga yang belum memiliki anak.

Lalu pada 1968, si Jagur dipindahkan ke Museum wayang dan pada tahun 1974 dipindahkan ke Museum Fatahillah. Dalam bukunya, Meriam Si Jagur, Thomas menuliskan sebuah hikayat lain.  Si Jagur  tak sendirian, ia punya pasangan tempur yang bernama Ki Amuk yang kini berada di Museum Banten. Jika kedua meriam ini disatukan konon bisa mengusir penjajah Belanda. Ada lagi pasangan Si Jagur yang kini berada di Solo yakni meriam Nyai Setomi.

Kisah Tentang Kiai Setomo dan Nyai Setomi

Sementara buku Ensklopedi Jakarta menuliskan jika kekuatan Si Jagur  bermula kala Raja Padjajaran bermimpi buruk. Ia mendengar suara gemuruh dari sebuah senjata yang kelihatan sangat dahsyat dan tak dikenal tentaranya.

Sang Raja lalu memerintahkan patihnya, Kiai Setomo, untuk mencari senjata ampuh tersebut. Apabila gagal akan dihukum mati. Dalam mengupayakan senjata ampuh tersebut, Kiai Setomo dan istrinya Nyai Setomi bersemedi di dalam rumah.

Setelah sekian lama Sang Patih tidak kelihatan, Sang Raja memerintahkan para prajurit menggeledah rumah Kiai Setomo. Namun tidak ditemukan siapapun dalam rumah itu, kecuali 2 buah pipa aneh yang besar.

Ternyata Kiai Setomo dan Nyai Setomi telah berubah wujud menjadi dua buah meriam seperti dalam impian Sang Raja. Cerita berubahnya suami istri menjadi meriam tersiar kemana-mana, hingga terdengar oleh Sultan Agung di Mataram.

Sultan Agung memerintahkan agar kedua meriam itu dibawa ke Mataram, namun meriam jantan Kiai Setomo tak bisa dibawa serta. Warga Batavia gempar menyaksikan benda tersebut dan menganggap benda yang dilihatnya itu barang suci. Mereka lalu menutupinya dengan sebuah payung untuk melindunginya dari terik matahari dan hujan dan menamakannya Kiai Jagur atau Sang Perkasa.

Ada literatur lain pula yang menyebutkan jika penamaan Si Jagur berawal dari bunyinya yang “jegar--jegur” kala meriam itu ditembakkan. Berbagai sumber menyebutkan sejarah yang berbeda. Namun mereka bersepakat bahwa Si Jagur adalah meriam penuh mitos dan kaya sejarah. Ia digunakan oleh berbagai penguasa dari masa ke masa. Untuk membunuh, menyerang, atau sekedar jadi barang antik koleksi museum. (K-YN)

Museum Fatahilah
Wisata
Ragam Terpopuler
Perempuan Indonesia Bergerak
Ia mengikuti jejak langkah Tirto Adhi Soerya. Sejak terbitnya Poetri Hindia sebagai surat kabar perempuan pertama di Batavia pada 1908, empat tahun kemudian di Minangkabau juga terbit surat kabar pere...
Hidup adalah Jalan Pengabdian
Menyimak hidup Sardjito, tampak jelas keyakinan filosofisnya bahwa “Dengan memberi maka seorang justru semakin kaya,” jelas bukan hanya gincu pemanis bibir. ltu bukan hanya soal keyakinan,...
Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing
Kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa ini tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata yang memukau mata. Lebih dari itu kabupaten ini juga dikenal kaya dengan kesenian dan kebudayaan unik. ...
Bunga Lado, Sebuah Perayaan Maulid Nabi di Pariaman
Bicara tradisi bungo lado sebagai bagian dari ritus Maulid Nabi, sayangnya hingga kini belum diketahui sejak kapan momen historis ini secara persis dimulai. ...
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...