Bahasa | English


SENI TRADISIONAL

Tradisi Menganyam Purun dan Potensinya di Lahan Gambut

10 April 2019, 00:00 WIB

Potensi Purun menciptakan keseimbangan alam lahan gambut yang berasal dari tradisi kesenian, hingga budidaya yang meningkatkan perekonomian.


Tradisi Menganyam Purun dan Potensinya di Lahan Gambut Tikar purun terbuat dari bahan purun yang dianyam. Sumber foto: Istimewa

Bicara soal seni, ada berbagai jenis dan macamnya di dunia. Tak halnya di Indonesia, terdapat beranekaragam kesenian yang memiliki nilai, ciri khas, yang lambangkan suatu kebiasan, serta adat istiadat suatu daerah yang diturunkan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah Anyaman.

Seni yang sudah berdiri sekitar ratusan, bahkan ribuan tahun ini diakui sebagai kesenian milik masyarakat Melayu, yang dewasa ini masih sangat dikagumi dan digemari masyarakat.

Dipercaya mulanya berkembang tanpa adanya pengaruh dari luar. Dengan Berbahankan tali, akar, dan rotan merupakan asas pertama dalam penciptaan kerajinan tangan yang satu ini. Bahan-bahannya itu, tak lepas menggambarkan wilayah asalnya. Tumbuh liar di hutan-hutan, kampung-kampung, serta kawasan pesisir pantai.

Asal Mula Anyaman

Konon katanya, Anyaman merupakan salah satu seni tradisi tertua di Indoensia. Mulanya, kegiatan itu ditiru dari cara seekor burung yang menjalin ranting-ranting menjadi suatu bentuk yang kuat. Kesenian yang diakui milik masyarakat melayu ini, sudah ada sejak masa lampau. Buktinya bisa dilihat dari dinding rumah-rumah saat itu, dindingnya di anyam dengan menggunakan buluh (Akar) yang melambangkan kehalusan seni menyanyam. Dipadukan dengan Nipah (salah satu bahan yang dianyam pada saat itu)  tebal yang dijadikan bahan utama pada dinding dan atap membuat rumah-rumah tersebut terasa sejuk dan tidak panas.

Seiring dengan berjalannya waktu, berbagai kerajinan tangan dapat dibentuk melalui proses dan teknik menganyam, khususnya menggunakan tumbuhan jenis pandan dan bengkuang. Di mana bentuk-bentuk yang dibuat, disesuaikan berdasarkan pada fungsi dan kebutuhannya. Misalnya, di kalangan masyarakat yang bercocok tangan seperti Petani, anyaman dibentuk menyerupai Topi, Tudung Saji, Tikar, dsb, yang mendukung aktifitas bertani.

Selain dari dua tumbuhan tersebut, anyaman juga dapat dibuat dari tumbuhan berjenis palma dan nipah. Berdasarkan bentuk dan rupa yang dihasilkan, dulunya seni anyaman merupakan daya cipta dari sekelompok masyarakat dari kalangan luar istana (Bukan kalangan kerajaan) yang lebih mengutamakan nilai kegunaannya dibanding dengan nilai seninya. Walaupun dulu di kalangan kerajaan sudah ada tikar buah dari menyanyam yang digunakan oleh Raja. Tepatnya pada tahun 1756 – 1794 M.

Waktu Menganyam yang Tepat

Seperti yang sudah diketahui, seorang seniman membutuhkan suasana dan waktu yang tepat untuk mulai berkarya. Tak halnya dengan menganyam, untuk memulai menganyam, waktu yang paling tepat adalah saat pagi hari atau malam hari, dalam cuaca yang redup dan juga dingin. Mengapa demikian? Karena daun-daun saat itu lebih lembut dan lebih mudah dibentuk tanpa meninggalkan kesan pecah-pecah. Kegiatan menganyam ini tidak dilakukan sendiri-sendiri, biasanya beberapa orang mulai melakukan kegiatan menganyam secara berkelompok di halaman rumah atau beranda rumah pada waktu malam, petang, ataupun saat senggang.

Keunikan dalam proses dan waktu pembuatannya ini, menjadikan anyaman sebagai salah satu kerajinan tangan yang unik pula. Namun, dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, perlu ada usaha untuk terus mempertahankan dan melestarikan kesenian yang satu ini. Warisan budaya maupun adat istiadat yang unik perlu dijaga dan dilestarikan, serta dimanfaatkan dari generasi ke generasi.

Anyaman di Kalangan Masyarakat Gambut

Selain menjadi salah satu kesenian yang unik, teknik menganyam juga dapat diterapkan untuk menjaga keseimbangan alam. Pada daerah-daerah pesisir pantai seperti pantai timur Sumatera, pantai barat dan Selatan Kalimantan, serta pantai barat dan selatan papua yang notabene-nya adalah daerah lahan basah (lahan gambut). Endapan gambut di sekitaran daerah-daerah ini menyebar sangat luas. Dimulai dari dataran pantai, hingga jauh ke pedalaman dengan ekosistem yang berbeda.

Seperti yang diketahui, luas lahan gambut di Indonesia sendiri berkisar 16-17 juta hektar (Polak, 1975; Andriesse, 1988). Sebagian besar dari bahan gambut masih terlihat jelas bentuk asalnya, terutama yang berasal dari kayu dan daun. Sedangkan, hanya sebagian kecil saja berupa komponen tumbuhan yang bentuk tumbuhan asalnya sudah tidak lagi terlihat dengan jelas. Namun demikian, jika diamati lebih cermat lagi, ternyata bahan yang mendominasi gambut di Indonesia umumnya berasal dari kayu (Woody peat). Disamping itu, diantara beberapa tumbuhan yang tumbuh di lahan gambut, ada beberapa tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan anyaman. Misalnya, seperti Purun (Eleocharis dulcis).

Kembali dengan topik menganyam, Purun merupakan jenis tumbuhan rumput yang hidup dan biasa ditemui di dekat rawa (lahan gambut). Tanaman ini berwarna abu-abu hingga hijau mengkilat, daun mengecil sampai ke bagian basal, pelepah tipis seperti membrane dan ujungnya yang asimetris, berwarna cokelat kemerahan.

Menganyam purun telah menjadi tradisi masyarakat gambut sejak dahulu. Umumnya Purun dijadikan tikar, topi, serta tempat bumbuan dapur dan ikan. Bahkan hingga sekarang, purun masih menjadi sumber pendapatan di Pedamaran dan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Sebelum dianyam,  purun terlebih dahulu diolah menjadi bahan baku. Mengambil purun biasanya ketika siang hari saat air sedang surut. Sehabis mengerjakan pekerjaan rumah tangga, masyarakat bersiap mengambil purun-purun liar di sepanjang jalan dan rawa.  Dengan bermodal sebilah parang kecil maupun sabit, mereka siap untuk memanen purun-purun itu.

Manfaat Mengayam Purun

Ternyata, menganyam purun menjadi salah satu upaya dalam melestarikan gambut. Terpeliharanya budidaya purun, kondisi asli hutan rawa gambut dapat terjaga. Dengan demikian, sejumlah flora fauna, juga mikroba yang ada di habitat tersebut juga dapat dilestarikan.

Alih-alih budidaya purun ini, semakin banyak lahan gambut yang dijadikan sebagai tempat perkebunan sawit, maka akan semakin sedikit jumlah purun yang ditemui. Ditambah kebakaran yang beberapa kali kerap terjadi di lahan gambut, yang menyebabkan berkurangnya jumlah purun.

Seperti yang terjadi saat ini, mendapatkan purun tidak semudah dahulu. Kini, untuk mendapatkannya masyarakat harus mengayuh sampan, seperti di Desa Tambak Sari Panji, Kaurgading, Kabupaten Amuntai, yang merupakan salah satu daerah penghasil purun terbesar di Kalimantan Selatan. Purun sudah cukup sulit ditemui di daerah tersebut.

Melihat dari potensinya, menganyam purun juga berpotensi menjadi salah satu alternatif mata pencaharian masyarakat gambut. Selain itu, purun dikatakan dapat menjaga tanaman petani dari serangan hama serangga. Dalam hal ini adalah purun tikus. Sehingga, purun dapat meningkatkan perekonomian masyarakat lahan gambut. (K-AD)

Seni
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...