PARIWISATA
  Rumah pohon di Pulau Leboong. Berada di rimbunnya hutan mangroove. Babel Prov.go.id

Sensasi Rumah Pohon Pulau Leebong

  •   Minggu, 18 April 2021 | 07:20 WIB
  •   Oleh : Administrator

Di Pulau Leebong terdapat rumah pohon yang dibuat dengan memanfaatkan batang-batang pohon sebagai tonggaknya. Pada salah satu bagiannya terdapat menara pandang mungil.

Provinsi Bangka Belitung merupakan wilayah kepulauan dengan 470 pulau besar dan kecil, di mana 50 pulau di antaranya berpenghuni, serta memiliki potensi wisata alam yang memikat. Salah satunya adalah Pulau Leebong, di wilayah Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.

Pulau seluas 37 hektare ini tak hanya menyuguhkan koleksi keanekaragaman hayati dengan hutan mangrove asri yang jarang ditemui di kawasan lain di Belitung. Kita juga bisa menikmati penataan lanskap apik yang disesuaikan dengan kondisi alam sekitar. Pantai Chicas, misalnya. Letaknya di beranda belakang pulau, pantai ini namanya diambil dari tanaman sikas yang banyak tumbuh di dekat pantai.

Sejauh mata memandang, hanya pasir putih sehalus tepung yang menguasai horizon. Meski sehalus tepung, tetapi pasirnya padat, sehingga bisa dilintasi oleh sepeda yang dapat kita pinjam secara gratis dari pengelola pulau.

Pasir putihnya tidak hanya menjadi milik Pantai Chicas. Karena nyaris sebagian besar permukaan daratan Pulau Leebong ditutupi pasir putih. Oh, iya, pulau ini dapat ditempuh dengan menumpang perahu bermesin selama 20 menit dari pelabuhan penyeberangan di Tanjung Ru, Kelurahan Pegantungan, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.

Terdapat tiga gazebo kayu beratap merah, biru, dan kuning di salah satu titik pantai. Sepintas, gazebo yang dilengkapi sepasang kursi malas sepanjang satu meter ini letaknya seperti menggantung kira-kira 1,5 meter dari dasar pasir. Titian terdiri dari tiga anak tangga menjadi jalur naik menuju gazebo bertopang tujuh tonggak kayu seukuran paha manusia dewasa. Dari tempat ini kita bisa menikmati pemandangan lautan luas dan matahari terbenam.

Di ujung pantai yang berbatasan dengan air laut, berdiri sebuah menara pantau berkanopi merah. Mirip dengan struktur gazebo, menara pantau ini menggantung dua meter dari dasar pasir, lengkap dengan pelataran berdasar papan kayu. Di salah satu titik, dipancangkan tonggak kayu besar setinggi sekitar lima meter dari dasar pantai. Sebanyak tujuh anak tangga dibuat untuk bisa mencapai menara pantau.

Di sudut lain pantai juga ditancapkan beberapa ayunan kayu setinggi lima meter di atas pasir putih. Dengan latar belakang jernihnya air laut Belitung serta birunya langit diselingi awan putih berarak, lokasi ayunan kayu ini cocok menjadi spot foto yang sangat menarik bagi para turis. Apalagi untuk dipajang di laman media sosial mereka. Tidak percaya? silakan saja cari di laman mesin pencari Google mengenai spot foto ayunan unik ini hasil jepretan warga yang pernah menyinggahi Pulau Leebong.

 

Rumah Pohon Unik

Rupanya Pantai Chicas ini hanya muncul ketika air laut surut, yaitu di waktu pagi hingga menjelang pukul 14.00. Dalam ilmu geografi kondisi itu disebut sebagai gosong, yaitu sebentuk daratan yang terkurung atau menjorok ke perairan dan terbentuk karena adanya aliran dangkal.

Nah, selepas jam 14.00 itu jangan harap bisa menyaksikan lagi kemewahan pasir sehalus tepung tadi. Semua sirna, kecuali gazebo dengan pelataran dan kursi-kursi malasnya serta menara pantau. Itulah sebabnya dibuat seperti menggantung.

Tak perlu khawatir akan terjebak saat air mulai pasang dan kita masih saja berada di gazebo atau menara pantau. Sebab, cukup dengan mengarungi air lautnya yang tenang dengan kedalaman tak lebih dari 1,5 meter. Kita bisa berenang sekira 5 menit menuju titik tertinggi pantai. Anggaplah tengah berenang di kolam renang raksasa yang tak berbatas.     

Unsur kayu juga melatari sejumlah bangunan yang terdapat di dalam pulau, mulai dari area rumah makan, kafe, penginapan pengunjung dan asrama karyawan, permainan ayunan, hingga dermaga pendaratan pengunjung sepanjang 300 meter menjorok ke lautan.

Salah satu bangunan ikonik dari kayu di pulau ini adalah rumah pohon. Bangunan berkelir cokelat ini adalah satu di antara tiga jenis penginapan yang tersedia di Pulau Leebong. Rumah pohon ini dibuat oleh tangan-tangan terampil perajin kayu asal Jepara, Jawa Tengah. Bahan bakunya berupa batang-batang kayu bekas dan papan yang kemudian dirancang sedemikian rupa, termasuk memanfaatkan pohon-pohon hidup jenis simpor untuk dijadikan tonggak rumah.

Dibangun menggantung setinggi hampir delapan meter dari dasar lahan berpasir, rumah pohon ini dilengkapi belasan anak tangga berdesain unik, undakan-undakan anak tangganya begitu ramah dipijak dan setiap beberapa jejak dibuat semacam podium untuk perhentian. Semua bahan baku tangga memanfaatkan bekas batang pohon dan papan sehingga selain ramah lingkungan juga menampilkan kesan alami.

Atap rumah pohonnya berbahan daun kelapa yang dikeringkan. Seperti sebuah rumah, terdapat sebuah balkon menghadap ke pantai. Jarak balkon ke pantai tak lebih dari enammeter. Sebuah kursi goyang diletakkan tepat di bagian sampingnya. Balkon ini rupanya mengitari bagian samping rumah sehingga kita bisa melihat seluruh sudut lingkungan luar rumah hanya dengan berjalan menyusuri balkonnya.

Tepat di sisi kiri dari balkon utama, ada jalur tangga naik menuju balkon paling atas yang letaknya sekitar empat meter dari rumah pohon. Balkon paling atas ini mirip seperti menara pandang dan masih menjadi kesatuan dari rumah pohon, unik ya. Di bangunan paling atas berkanopi atap rumbia ini, kita bisa menghabiskan waktu sambil menikmati semilir angin laut dan tak terasa bahkan bisa sampai membuat kita terlelap.

Begitu membuka pintunya dan masuk ke dalam rumah pohon, terdapat dua ranjang empuk. Seperti sebuah kamar penginapan di hotel berbintang, ruangannya dilengkapi pendingin udara dengan kamar mandi berfasilitas modern.

Tetap saja unsur kayu masih mewakili isi dari kamar mandi seperti gantungan baju berdiri yang diletakkan di sudut ruangan. Terbuat dari pokok kayu yang masih menyisakan batang-batang sebesar lengan anak kecil yang kemudian dicat khusus cokelat tua. Bahan kayu juga bisa dijumpai pada meja wastafel kamar mandi.

Boleh dibilang bagian kamar mandi menjadi ruang paling terang dari rumah pohon ini. Karena dipasangi kaca mengitari sepanjang dinding bagian atas. Sehingga cahaya alami bisa langsung menembus masuk ke kamar mandi.

 

Pakai Handy Talkie

Ada yang terlupa, saat kita masuk ke dalam rumah pohon itu rupanya di sisi kiri pintu masuk tersembul batang pohon hidup menembus tembok kayu menuju ke dalam rumah. Batang pohon ini bahkan masih menyisakan daun-daun hijaunya di dalam rumah pohon. Celah antara batang pohon dan tembok kayu dipasang semacam perekat ramah lingkungan warna hitam untuk mencegah serangga masuk.

Rupanya para pembangun rumah pohon sudah memikirkan betul cara membuat para penghuninya makin betah tinggal dan tak perlu terganggu oleh gigitan nyamuk dan serangga. Setiap sudut dan siku bangunan termasuk bagian lantai dibuat sangat rapat dan tidak ada celah.

Para tukang asal Jepara membuat rumah ini dengan penuh ketelitian. Lantai rumah terbuat dari kayu ulin dan bagian dindingnya dari papan kayu jati. Kedua jenis kayu yang didatangkan langsung dari Jepara ini dikenal kuat, tahan lama, dan mampu beradaptasi di segala cuaca.

Bahan kaca pun ditambahkan sebagai jendela utama serta dipasang juga menjadi jendela tambahan di bagian atas dinding rumah dekat atap. Ini agar tetap tersedia cahaya alami ke ruangan selain tentunya menambah unsur eksotisme. Melalui jendela kaca ini kita dapat memandang suasana hening alam di pulau yang pernah mendapat penghargaan Tripadvisor Excellence 2018 sebagai obyek wisata baru paling eksotis. 

Di rumah pohon ini, juga disediakan produk pasta penghalau nyamuk yang dioleskan ke permukaan kulit. Tapi tak perlu khawatir diserang kawanan nyamuk, karena setiap sorenya selalu dilakukan fogging ke seluruh sudut penginapan yang terdiri dari rumah pohon, villa kayu 2 lantai dan tenda barak berkapasitas 20 orang.

Jika lapar dan malas melangkahkan kaki ke restoran yang berjarak 50 meter dari rumah pohon terlebih di malam hari, kita bisa minta tolong kepada karyawan restoran untuk diantarkan ke kamar. Untuk berkomunikasi sudah disediakan alat radio panggil (handy talkie) di dalam rumah pohon. Saat makanan dibawakan, beberapa menu terutama masakan kering akan dilapis dengan daun dari tanaman simpur (Dillenia beccariana).

Sekilas bentuk daun simpur mirip dengan daun tanaman jati (Tectona grandis) yang lebar dan besar. Simpur atau dikenal juga sebagai simpor oleh masyarakat setempat adalah tanaman yang umum tumbuh di Belitung dan bagian daunnya acap dipakai sebagai pembungkus lauk masakan.

 

Air Bersih

Meski berada di tengah lautan dan merupakan kawasan terpencil, bukan berarti Pulau Leebong bakal kesulitan mendapatkan sumber air bersih. Menurut penuturan pengelola pulau Tellie Gozelie, mereka tidak pernah kesulitan mendapatkan air bersih, lantaran hanya dengan mengebor sedalam 1 meter saja sudah didapatkan ratusan liter air per menit menyembur deras dari perut Pulau Leebong.

Banyak pepohonan rindang yang terdapat di sebagian besar pulau menjadi salah satu alasan mengapa begitu mudahnya mendapatkan air bersih di sini. Maklum saja, sebelum dijadikan obyek wisata, pulau ini semula merupakan hutan belantara yang masih perawan.

Kondisi ini tentu saja tidak dapat ditemui di pulau-pulau sekitarnya. Nyaris tak ada air bersih karena umumnya terdiri dari hutan mangrove. Itu sebabnya Pulau Leebong lebih dipilih warga sekitar Belitung dan Kota Tanjung Pandan sebagai obyek wisata bahari alternatif.

Di tempat itu, mereka bisa bebas melakukan aktivitas olahraga air seperti berperahu kayak, menyelam di permukaan (snorkeling), menyelam di bawah laut (diving), dan mengayuh papan seluncur khusus atau paddle board. Usai beraktivitas, para pengunjung bisa langsung membilas badan mereka di sejumlah pancuran memakai air bersih dari perut Pulau Leebong.

Yuk, kita berwisata di Indonesia saja. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memajukan pariwisata di negara sendiri. Ditunggu ya kedatangannya di Belitung, Negeri Laskar Pelangi.  



 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari