Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


MOBIL LISTRIK

Negeri Kaya Nikel, Pengembangan Industri Kian Potensial

Friday, 7 December 2018

Kemampuan produksi baterai litium yang didukung kekayaan alam melimpah menjadi daya tawar tersendiri bagi Indonesia dalam pengembangan mobil listrik.


Negeri Kaya Nikel, Pengembangan Industri Kian Potensial Sumber foto: Antara Foto

Indonesia kaya nikel, bahan tambang yang menjadi bahan pokok pembuatan baterai litium. Inilah yang menjadikan posisi Indonesia sangat penting dalam era perkembangan mobil listrik. Perangkat utama mobil listrik adalah baterai, komposisinya sekitar 40%. Oleh sebab itu, pengembangan baterai litium akan menjadi tulang punggung industri mobil dunia.

Ini sesuai dengan keinginan masyarakat dunia untuk mengurangi efek rumah kaca akibat emisi karbon yang tinggi. Indonesia sendiri menetapkan menurunkan emisi karbon sampai 30% tahun 2025 nanti. Padahal setiap tahun pertumbuhan kendaraan di Indonesia mencapai 10%  sampai 15%. Artinya, mengembangkan industri mobil listrik merupakan kebutuhan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Selain dampaknya yang lebih sehat untuk lingkungan, mobil listrik juga bisa menekan biaya jauh lebih murah dibanding mobil yang berbahan bakar fosil. Kita tahu, harga minyak yang penuh gejolak, dan cadangan minyak yang terus menipis membuat orang berpikir untuk mencari alternatif energi. Nah, mobil listrik merupakan jalan keluar. Kemampuannya double. Selain menekan emisi, gas buang juga lebih efisien.

Korea atau Cina bisa saja mengembangkan teknologi kendaraan, tapi untuk bahan baku baterai litium, mereka harus menoleh ke Indonesia. Ketersediaan nikel sebagai bahan utama dan tenaga terampil yang banyak tersedia membuat para investor luar negeri mengincar Indonesia untuk mengembangkan pembuatan baterai litium.

Tahun depan investor Korea Selatan sudah akan melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik litium di Morowali, Sulawesi Selatan. Proyek ini menelan investasi sebesar 5,5 miliar dolar Amerika Serikat.

Lokasi Morowali dipilih karena tidak jauh dari sana, di Kowane Utara, Sulawesi Utara, telah dibangun smelter nikel yang menelan biaya Rp76 triliun. Smelter nikel pertama di Indonesia itu dikembangkan oleh investor asal Korea Selatan Made By Good (BMG) Group.

Bukan hanya di Morowali, investor asal Cina dan Prancis juga akan memulai langkah yang sama. Kali ini mereka memilih Halmahera Utara sebagai lokasi pabrik. Investasi awal yang disiapkan sebesar Rp72 triliun. Selanjutnya akan ditambah hampir dua kali lipatnya.

Sebetulnya sejak 2013 Indonesia sudah memiliki pabrik litium yang terletak di Bogor, Jawa Barat. Pabrik ini dikembangkan PT Nipress TBK, yang memang salah satu konsentrasinya memproduksi baterai untuk kendaraan listrik.

Selain itu, Nipress mengembangkan baterai litium untuk kebutuhan khusus seperti untuk kendaraan militer, kapal selam, atau peluru kendali. Untuk riset pengembangan produk ini, PT Nipress mengandeng TNI.

Pertamina tampaknya juga melihat peluang besar ini. Perusahaan pelat merah itu kabarnya sedang berancang-ancang untuk masuk ke bisnis pengambangan baterai litium. Bukan hanya itu, stasiun-stasiun pengisian bahan bakar Pertamina ke depan akan disiapkan untuk melakukan pengisian bahan baku listrik.

Wajar jika BUMN seperti Pertamina ikut bernafsu mengembangkan bisnis baterai litium. Selain sejak dulu berkecimpung pada bisnis energi fosil, perkembangan teknologi mobil listrik bisa menjadi pembunuh bagi keberlangsungan Pertamina. Makanya, mereka perlu bersiap-siap untuk memasuki pengembangan energi terbarukan.

Dengan posisi Indonesia sebagai negeri yang kaya nikel sebagai bahan utama baterai litium diperkirakan kita akan menjadi negara penghasil baterai litium terbesar di dunia. Inilah yang membuat Indonesia sangat strategis bagi pengembangan teknologi kendaraan di masa yang akan datang.

Membaca peluang ini, pemerintah sendiri bukan hanya mendorong pengembangan industri baterai litium. Jika komponen utama kendaraan listrik sudah tersedia dan berdiri pabriknya di Indonesia, peluang pengembangan kendaraan listriknya merupakan peluang yang tidak kecil.

Sepertinya daya saing tersedianya baterai litium menjadi daya tawar sendiri untuk pengembangan mobil listrik di Indonesia. Menko Maritim Luhut P Panjaitan menunjuk lokasi sekitar Cikarang yang cocok untuk membangun pabrik mobil listrik.

Jika kita perhatikan, sepertinya industri mobil listrik akan semakin berkembang di dunia. Orang mulai sadar bahan bakar fosil yang makin menipis susah untuk diharapkan. Belum lagi harganya yang tidak stabil dan dampak polusi yang dihasilkan.

Jika Indonesia semakin serius menghilirkan perkembangan industrinya, keberadaan smelter nikel pabrik baterai litium adalah penyangga dikembangkannya mobil listrik. (E-1)

Ekonomi
Narasi Terpopuler
Potensi Sumber Daya Ikan Semakin Besar
Tindakan tegas terhadap pencurian ikan (illegal fishing) bertujuan agar sumber daya ikan dapat terus dinikmati oleh generasi saat ini dan generasi mendatang. ...
Menara BAKTI Membuka Tabir Isolasi
Melalui Badan AksesibilitasTelokomunikasi dan Informasi (BAKTI), pemerintah membuka isolasi digital di daerah terpencil. Lebih dari 850  menara BTS dibangun, membuka akses  internet. Wa...
Akan Dibentuk Super Holding
Agar BUMN bergerak cepat dan profesional, pemerintah perlu membentuk super holding. Mereka akan bertanggung jawab langsung ke Presiden. ...
RI Andalkan 5 Produk Unggulan
Indonesia di era industri 4.0 perlu fokus untuk menjemput industri yang mempunyai keunggulan komparatif dan daya saing dalam pasar global. ...
Mendongkrak Efisiensi dan Produktivitas
Pelaksanaan industri 4.0 meningkatkan produktivitas dan efisiensi hingga 40 persen. Seluruh sektor manufaktur di Tanah Air disiapkan menghadapi dan menerapkan teknologi era digital. ...
Gotong-Royong Teropong Event Horizon
Projek EHT telah dirintis sejak sepuluh tahun yang lalu. Kurang lebih 40 negara terlibat dalam pekerjaan ini. ...
Indonesia Sudah Mengikuti Standar Pengelolaan Sawit
Pemerintah Indonesia siap melakukan tindakan tegas terhadap produk-produk Eropa bila kebijakan Komisi Eropa terkait penghapusan minyak kelapa sawit sebagai biofuel diberlakukan. ...
Menatap Kinerja Ekspor Lebih Optimistis
Indonesia menargetkan pertumbuhan ekspor nonmigas 2019 naik 7,5%, serta menembus 2% pangsa ekspor Indonesia ke dunia pada 2025. ...
Tak Ada Negosiasi Pembangunan Trans-Papua
Pemerintah RI memperkuat satuan TNI/Polri untuk penegakan hukum di wilayah pedalaman Papua. Tata pemerintahan, pelayanan negara, dan pembangunan tidak  boleh terganggu. Satuan TNI/Polri tak dibek...
Tan Hana Wighna Tan Sirna
Berhasil membangun kapal selam rudal kelas Changbogo dan fregat SIGMA futuristik, industri perkapalan Indonesia naik kelas. Order kapal perang mengalir, juga tanker dan kargo.  ...