Bahasa | English


KEKAYAAN TRADISI

Uniknya Kuluk Beselang Mertuo, Penutup Kepala Khas Perempuan Jambi

27 August 2019, 02:27 WIB

Tradisi menutup kepala dengan tekuluk atau kuluk bagi perempuan Jambi sudah  dikenakan sebelum Islam masuk. Kuluk digunakan bagi perempuan selain sebagai pelindung kepala juga sebagai cerminan status sosial pemakainya.


Uniknya Kuluk Beselang Mertuo, Penutup Kepala Khas Perempuan Jambi Kuluk Beselang Merto. Foto: Dok. Jambi Rantau

Berbicara budaya di Indonesia memang tak akan bosan mengupasnya secara rinci. Banyaknya suku bangsa yang mendiami provinsi di Indonesia, sehingga memiliki kekayaan tradisi dan budaya masing-masing. Tak heran bila berbicara pakaian tradisional, maka Indonesia juaranya dengan kekayaan jenis pakaian tradisional dari atas kepala hingga ke mata kaki. Setiap provinsi pasti memiliki pakaian tradisional sendiri yang biasanya digunakan pada saat pesta adat atau kebangsaan.

Saat ini mengenakan pakaian tradisional memang sedang digalakan dalam beraktivitas. Contohnya kuluk atau tekuluk yang biasanya digunakan oleh wanita Jambi yang kini mulai dikenal dan dimodifikasi sebagai turban. Modifikasi hijab ini yang membuat orang mau melirik pakaian tradisional untuk dijadi trend fashion. Turban saat ini sedang diminati, karena simpel dan mudah dalam pengunaan.

Dahulu pemakaian kuluk bagi wanita Jambi dengan baju kebaya songket, sarung songket, kalung tapak kudo bungo matahari, gelang pilin dan kerabu bungo matohari. Penggunaan itu bukan sebatas mempercantik tapi juga memiliki simbol dan artis tersendiri. Seperti, penggunaan kalung tapak kudo bungo matahari bermakna wanita yang telah terikat dan harus menjaga sikap dari aturan dan agama.

Sementara, selendang songket warna merah berlambang keberanian dalam berbicara. Selendang ini terbuat dari benang katun warna merah atau hitam. Tutup kepala Kuluk Beselang Mertuo beserta perlengkapan pakaiannya mencerminkan sebuah demokrasi yang luas namun tetap berada dalam ranah nilai-nilai luhur budaya tradisional.

Orang Kerinci sebelum agama Islam masuk, sudah mengenakan tradisi penutup kepala. Tutup kepala  ini berfungsi sebagai pelindung kepala dari kondisi, juga mencerminkan status sosial budaya yang mengidentifikasikan martabat si pemakainya. Bila menurut cerita di semua kerajaan Melayu pasti ada tengkuluk, maka tak heran kalau di Jambi memiliki jenis tengkuluk paling banyak. Suku Bathin yang ada di Sarolangun, Merangin, dan Kerinci, adalah suku-suku yang memiliki tengkuluk terbanyak. Kuluk sendiri merupakan penutup kepala yang dibuat melalui lilitan kain.

Macam-macam Kuluk

Jumlah kuluk atau tengkuluk yang terdata di museum di Jambi, ada 98 jenis yang sering digunakan perempuan Jambi. Tengkuluk merupakan simbol kecantikan seorang wanita di Jambi. Setiap bentuknya memiliki arti dan filosofi yang berbeda. Salah satu kuluk yang sering digunakan adalah Kuluk Kembang Duren, yang biasanya dipakai oleh gadis Jambi sebagai simbol kecantikan. Setiap jumlah lipatan tengkuluk atau kuluk memiliki arti yang berbeda.

Kain yang menjuntai di sebelah kanan dan kiri juga punya arti berbeda, sehingga aturan pemakaian kuluk harus benar-benar dicermati. Untuk kain kuluk yang menjuntai ke kanan hanya untuk wanita yang sudah menikah. Sedangkan yang menjuntai ke sebelah kiri untuk mereka yang belum menikah.

Kuluk Kuncup Melati, Kuluk Lilit Tungkai, dan Kuluk Berdzikir, sangat sering digunakan oleh perempuan Jambi dan di luar Jambi. Sedangkan untuk upacara adat seperti adat perkawinan, pemberian gelar, turun sko, kuluk yang sering dugunakan antara lain, Kuluk Mahkota, Kuluk Kerinci Mudik, Kuluk Sapik Udang, Kuluk Kuncup Melati, Kuluk Kipas Terlilit, Kuluk Kenduri Sko Lempur, Kuluk Pengajian, Kuluk Harian, Kuluk Berumbai Jatuh, dan Kuluk Ketelang Petang. Kuluk yang khusus untuk kebutuhan religi adalah Kuluk Pengajian. Kuluk ini dipakai kaum wanita yang sudah berumur untuk pergi ke masjid atau ke pasar. Ia mencerminkan ketaatan wanita pada ajaran agama Islam yang sesuai Al Quran dan hadis.

Sedangkan Kuluk Kuncup Melati, digunakan untuk perempuan yang belum menikah ketika menari dan menyambut tamu saat upacara adat. Kuluk Ketelang Petang atau Kuluk Ke Umo ini biasa dikenakan oleh kaum wanita di daerah pegunungan maupun yang tinggal di daerah pantai. Biasanya mereka menyangkutkan keranjang rotan atau bambu di kepalanya untuk membawa makanan pergi ke umo dan sekembalinya mereka membawa kayu dan hasil kebun.

Kuluk yang melambangkan kekayaan bumi Jambi dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki juga tergambar dalam Tengkuluk Daun Manggis yang dipakai para penari dari Muaro Bulian Kabupaten Batanghari. Dinamakan daun manggis karena di sekitar daerah ini dulunya merupakan penghasil manggis dan daun ini sering digunakan untuk obat bagi masyarakat. Ia juga mencerminkan ketulusan hati seseorang dalam mengayomi masyarakat sesuai aturan adat istiadat berlaku.

Tengkuluk yang digunakan oleh isteri atau anak dari pemangku adat ketika menghadiri acara adat adalah Tengkuluk Mayang Terurai. Kata mayang berasal dari rumput panjang yang terurai karena saat pemasangan di belakang kepala ada yang terjuntai menyerupai rambut panjang kita.

Selain itu ada juga Tengkuluk Daun Pandan Berlipat yang digunakan isteri pemangku adat untuk menghadiri upacara adat di desa Tabir Kabupaten Bungo. Penggambaran daun pandan terlihat pada saat pemasangan tengkuluk dilipat menyerupai daun pandan. Tengkuluk ini menggambarkan kekuatan tanpa kesombongan bagi seorang pemimpin cerdas dan dipercaya masyarakat. (K-GR)

Sosial
Ragam Terpopuler
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...
Mengintip Wisata di Sekitar Kawasan Calon Ibu Kota Baru
Presiden Joko Widodo  baru saja memutuskan wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru Tanah Air. Wilayah tersebut yakni sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian daerah Penajam Pas...
Wisata Religius ke Pulau Mansinam
Mengenang heroisme dan dedikasi total tugas kemanusiaan yang dilakukan kedua Rasul Papua itu, kini sebuah film tengah dibuat. Tak hanya memperlihatkan jati diri peradaban Tanah Papua sebagai Tanah Inj...
9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing
"Dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga manifestasi bahasa Indo. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungki...
Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara
Hanya kekuatan armada laut yang besar yang bisa menjelaskan kemampuan Kerajaan Kalingga menduduki pesisir utara Pulau Jawa. ...
Jalan Hidup Anak-Anak Rohani Pram
Sekalipun Pram baru meninggal 2006, sesungguhnya ia telah meninggal saat karya-karyanya telah selesai ditulis dan diterbitkan. Ya sebagai anak rohani, karya-karya sastra Pram mempunya jalan hidupnya s...