Bahasa | English


KEKAYAAN TRADISI

Uniknya Kuluk Beselang Mertuo, Penutup Kepala Khas Perempuan Jambi

31 October 2019, 10:19 WIB

Tradisi menutup kepala dengan tekuluk atau kuluk bagi perempuan Jambi sudah  dikenakan sebelum Islam masuk. Kuluk digunakan bagi perempuan selain sebagai pelindung kepala juga sebagai cerminan status sosial pemakainya.


Uniknya Kuluk Beselang Mertuo, Penutup Kepala Khas Perempuan Jambi Kuluk Beselang Merto. Foto: Dok. Jambi Rantau

Berbicara budaya di Indonesia memang tak akan bosan mengupasnya secara rinci. Banyaknya suku bangsa yang mendiami provinsi di Indonesia, sehingga memiliki kekayaan tradisi dan budaya masing-masing. Tak heran bila berbicara pakaian tradisional, maka Indonesia juaranya dengan kekayaan jenis pakaian tradisional dari atas kepala hingga ke mata kaki. Setiap provinsi pasti memiliki pakaian tradisional sendiri yang biasanya digunakan pada saat pesta adat atau kebangsaan.

Saat ini mengenakan pakaian tradisional memang sedang digalakan dalam beraktivitas. Contohnya kuluk atau tekuluk yang biasanya digunakan oleh wanita Jambi yang kini mulai dikenal dan dimodifikasi sebagai turban. Modifikasi hijab ini yang membuat orang mau melirik pakaian tradisional untuk dijadi trend fashion. Turban saat ini sedang diminati, karena simpel dan mudah dalam pengunaan.

Dahulu pemakaian kuluk bagi wanita Jambi dengan baju kebaya songket, sarung songket, kalung tapak kudo bungo matahari, gelang pilin dan kerabu bungo matohari. Penggunaan itu bukan sebatas mempercantik tapi juga memiliki simbol dan artis tersendiri. Seperti, penggunaan kalung tapak kudo bungo matahari bermakna wanita yang telah terikat dan harus menjaga sikap dari aturan dan agama.

Sementara, selendang songket warna merah berlambang keberanian dalam berbicara. Selendang ini terbuat dari benang katun warna merah atau hitam. Tutup kepala Kuluk Beselang Mertuo beserta perlengkapan pakaiannya mencerminkan sebuah demokrasi yang luas namun tetap berada dalam ranah nilai-nilai luhur budaya tradisional.

Orang Kerinci sebelum agama Islam masuk, sudah mengenakan tradisi penutup kepala. Tutup kepala  ini berfungsi sebagai pelindung kepala dari kondisi, juga mencerminkan status sosial budaya yang mengidentifikasikan martabat si pemakainya. Bila menurut cerita di semua kerajaan Melayu pasti ada tengkuluk, maka tak heran kalau di Jambi memiliki jenis tengkuluk paling banyak. Suku Bathin yang ada di Sarolangun, Merangin, dan Kerinci, adalah suku-suku yang memiliki tengkuluk terbanyak. Kuluk sendiri merupakan penutup kepala yang dibuat melalui lilitan kain.

Macam-macam Kuluk

Jumlah kuluk atau tengkuluk yang terdata di museum di Jambi, ada 98 jenis yang sering digunakan perempuan Jambi. Tengkuluk merupakan simbol kecantikan seorang wanita di Jambi. Setiap bentuknya memiliki arti dan filosofi yang berbeda. Salah satu kuluk yang sering digunakan adalah Kuluk Kembang Duren, yang biasanya dipakai oleh gadis Jambi sebagai simbol kecantikan. Setiap jumlah lipatan tengkuluk atau kuluk memiliki arti yang berbeda.

Kain yang menjuntai di sebelah kanan dan kiri juga punya arti berbeda, sehingga aturan pemakaian kuluk harus benar-benar dicermati. Untuk kain kuluk yang menjuntai ke kanan hanya untuk wanita yang sudah menikah. Sedangkan yang menjuntai ke sebelah kiri untuk mereka yang belum menikah.

Kuluk Kuncup Melati, Kuluk Lilit Tungkai, dan Kuluk Berdzikir, sangat sering digunakan oleh perempuan Jambi dan di luar Jambi. Sedangkan untuk upacara adat seperti adat perkawinan, pemberian gelar, turun sko, kuluk yang sering digunakan antara lain, Kuluk Mahkota, Kuluk Kerinci Mudik, Kuluk Sapik Udang, Kuluk Kuncup Melati, Kuluk Kipas Terlilit, Kuluk Kenduri Sko Lempur, Kuluk Pengajian, Kuluk Harian, Kuluk Berumbai Jatuh, dan Kuluk Ketelang Petang. Kuluk yang khusus untuk kebutuhan religi adalah Kuluk Pengajian. Kuluk ini dipakai kaum wanita yang sudah berumur untuk pergi ke masjid atau ke pasar. Ia mencerminkan ketaatan wanita pada ajaran agama Islam yang sesuai Al Quran dan hadis.

Sedangkan Kuluk Kuncup Melati, digunakan untuk perempuan yang belum menikah ketika menari dan menyambut tamu saat upacara adat. Kuluk Ketelang Petang atau Kuluk Ke Umo ini biasa dikenakan oleh kaum wanita di daerah pegunungan maupun yang tinggal di daerah pantai. Biasanya mereka menyangkutkan keranjang rotan atau bambu di kepalanya untuk membawa makanan pergi ke umo dan sekembalinya mereka membawa kayu dan hasil kebun.

Kuluk yang melambangkan kekayaan bumi Jambi dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki juga tergambar dalam Tengkuluk Daun Manggis yang dipakai para penari dari Muaro Bulian Kabupaten Batanghari. Dinamakan daun manggis karena di sekitar daerah ini dulunya merupakan penghasil manggis dan daun ini sering digunakan untuk obat bagi masyarakat. Ia juga mencerminkan ketulusan hati seseorang dalam mengayomi masyarakat sesuai aturan adat istiadat berlaku.

Tengkuluk yang digunakan oleh isteri atau anak dari pemangku adat ketika menghadiri acara adat adalah Tengkuluk Mayang Terurai. Kata mayang berasal dari rumput panjang yang terurai karena saat pemasangan di belakang kepala ada yang terjuntai menyerupai rambut panjang kita.

Selain itu ada juga Tengkuluk Daun Pandan Berlipat yang digunakan isteri pemangku adat untuk menghadiri upacara adat di desa Tabir Kabupaten Bungo. Penggambaran daun pandan terlihat pada saat pemasangan tengkuluk dilipat menyerupai daun pandan. Tengkuluk ini menggambarkan kekuatan tanpa kesombongan bagi seorang pemimpin cerdas dan dipercaya masyarakat. (K-GR)

Sosial
Ragam Terpopuler
Perempuan Indonesia Bergerak
Ia mengikuti jejak langkah Tirto Adhi Soerya. Sejak terbitnya Poetri Hindia sebagai surat kabar perempuan pertama di Batavia pada 1908, empat tahun kemudian di Minangkabau juga terbit surat kabar pere...
Hidup adalah Jalan Pengabdian
Menyimak hidup Sardjito, tampak jelas keyakinan filosofisnya bahwa “Dengan memberi maka seorang justru semakin kaya,” jelas bukan hanya gincu pemanis bibir. ltu bukan hanya soal keyakinan,...
Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing
Kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa ini tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata yang memukau mata. Lebih dari itu kabupaten ini juga dikenal kaya dengan kesenian dan kebudayaan unik. ...
Bunga Lado, Sebuah Perayaan Maulid Nabi di Pariaman
Bicara tradisi bungo lado sebagai bagian dari ritus Maulid Nabi, sayangnya hingga kini belum diketahui sejak kapan momen historis ini secara persis dimulai. ...
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...