Bahasa | English


PAKAN TERNAK

Silase, Cadangan Pakan Ternak Saat Kemarau

10 October 2019, 13:51 WIB

Rumput hijau hasil fermentasi atau yang lebih dikenal dengan nama silase, kini menjadi alternatif pakan ternak untuk sapi, kerbau, dan kambing di saat musim kemarau. Silase dibutuhkan, utamanya bagi peternak yang yang tidak memiliki pengalaman atau pendidikan peternakan.


Silase, Cadangan Pakan Ternak Saat Kemarau Silase, Pakan ternak. Foto: Kementan

Dikutip dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), silase adalah hasil pengawetan pakan ternak yang memiliki kadar air tinggi yang diolah dengan proses fermentase dengan bantuan jasad renik. Silase dihasilkan dengan proses anaeorob atau dalam keadaan kedap udara.

Silase biasanya diberikan untuk ternak ruminansia (hewan pemamah biak) seperti sapi, kerbau, domba dan kambing. Sama halnya dengan pakan ternak pada umumnya, bahan dasar silase adalah hijauan yang menjadi makanan utama ternak. Hijauan ini dapat berasal dari limbah pertanian seperti tebon (batang dan daun) jagung, tebon padi, daun kacang tanah, dan macam-macam hijauan lain yang umumnya menjadi makanan ternak ruminansia. Selain bahan utama, perlu juga adanya bahan konsentrat yakni bekatul atau dedak padi.

Dalam laman Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) disebutkan bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan silase adalah:

  1. Hijauan sebagai bahan silase dalam hal ini digunakan rerumputan seperti rumput gajah.
  2. Tetes tebu (molase), dengan perbandingan 3% dari total bahan silase.
  3. Dedak, sebanyak 5% dari bahan silase.
  4. Menir, sebanyak 3,5% dari bahan silase.
  5. Onggok, sebanyak 3% dari bahan silase.
  6. Silo atau kantong plastik sebagai wadah silase.

Peternak dapat mengumpulkan hijauan sebanyak mungkin di saat musim penghujan. Karena, hijauan akan melimpah ketika musim penghujan ataupun ketika masa panen berlangsung. Kemudian, nantinya para petani dapat memanfaatkan silase pada saat musim kemarau, atau saat sumber pangan hijau menipis.

Dikutip dari litbang Kementerian Pertanian, Pembuatan silase bertujuan untuk mengawetkan dan mengurangi kehilangan zat makanan suatu hijauan untuk dimanfaatkan pada masa mendatang. Silase dibuat jika produksi hijauan dirancang dalam jumlah yang banyak.

Prinsip dasar pembuatan silase memacu terjadinya kondisi aerob dan asam dalam waktu singkat. Ada tiga hal paling penting untuk mendapatkan kondisi tersebut yakni menghilangkan udara dengan cepat, menghasilkan asam laktat yang membantu menurunkan pH, mencegah masuknya oksigen ke dalam silo dan menghambat pertumbuhan jamur selama penyimpanan.

Berikut adalah langkah-langkah dalam membuat silase:

  1. Potong hijauan menjadi kecil-kecil ukuran 5–10 cm. Hal ini bertujuan untuk memudahkan peternak saat menyimpan bahan pakan ke dalam wadah agar kondisi kedap udara tetap terjaga.
  2. Campurkan seluruh bahan dan aduk hingga merata.
  3. Setelah menjadi satu campuran, masukkan bahan pakan ke dalam silo atau wadah yang telah disiapkan. Selama memasukkan bahan ke dalam silo, bahan tersebut ditekan-tekan hingga penuh. Hal ini bertujuan untuk menjadikan bahan-bahan dalam silo menjadi kedap udara.
  4. Tutup rapat wadah silase dan bila memungkinkan gunakan pemberat di atasnya untuk mengantisipasi kemugkinan adanya udara yang masuk.
  5. Diamkan bahan pakan selama 6 – 8 minggu.
  6. Silase dapat diberikan pada ternak setelah proses fermentasi selama didiamkan selesai.

Silase dapat bertahan antara 6 bulan hingga 1 tahun tergantung pada perawatan setelah silase selesai. Hasil silase yakni pakan masih berupa hijauan, artinya tidak berubah menjadi kering. Pakan yang masih berwarna hijau ini menandakan kualitas bahan masih bagus.

Jadi, silase dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak di segala musim terutama sebagai makanan cadangan ketika musim kemarau atau bahkan musim paceklik. Pemanfaatan silase juga merupakan salah satu cara meningkatkan nilai guna limbah pertanian. Limbah pertanian yang biasanya terbuang sia-sia, dapat digunakan sebagai makanan jangka panjang untuk ternak ruminansia. (K-YN)

Lingkungan Hidup
Ragam Terpopuler
Benteng Terluas Sejagat Ada di Buton
Benteng Keraton Buton berada di atas Bukit Wolio setinggi 100 meter dari permukaan laut dan menjadi lokasi strategis untuk memantau situasi Kota Baubau dan Selat Buton. ...
Menikmati Lagi Agrowisata Sibolangit
Menggandeng sejumlah elemen masyarakat, pemerintah setempat berupaya menarik kembali minat masyarakat untuk menyambangi Sibolangit. ...
Kado Manis Abu Dhabi bagi RI
Sejak 2013, Pemerintah Abu Dhabi melakukan perubahan nama sejumlah jalan utama di Abu Dhabi dengan nama-nama pemimpin besarnya. ...
Menjaga Harmonisasi Bambu Warisan Leluhur
Penerapan konsep pelestarian lingkungan melalui kearifan lokal masyarakat di Desa Adat Penglipuran mampu melindungi ekosistem hutan bambu yang telah ada sejak ratusan tahun silam. ...
Si Upik Membantu Menyemai Awan
Fenomena La Nina akan mencapai level moderat pada Desember. Bersama angin monsun, La Nina berpotensi mendatangkan hujan badai. Bencana hidrometeorologi mengancam. ...
Sroto Sokaraja, Soto Gurih dari Bumi Ngapak
Bukan saja menjadi kuliner andalan warga Banyumas dan sekitarnya, Sroto Sokaraja bahkan kondang di antero negeri. ...
Menguji Nyali di Jeram Citarik
Mulainya musim penghujan menjadi waktu paling tepat bertualang di derasnya Citarik. Arus deras sungai ini telah diakui dunia dan mendapatkan sertifikasi dari Federasi Arung Jeram Internasional (IRF). ...
Kuau Raja, Pemilik Seratus Mata
Kuau raja jantan sempat diabadikan dalam perangko seri "Burung Indonesia: Pusaka Hutan Sumatra" pada 2009 dan menjadi maskot Hari Pers Nasional 2018. ...
Menjajal Jembatan Gantung Terpanjang di Asia Tenggara
Sensasi guncangan saat berada di tengah jembatan gantung Situ Gunung membuat pengunjung perlu dibekali sabuk pengaman. ...
Sensasi Nasi Buk di Kota Malang
Nasi khas Madura ini berkembang di Kota Malang. Lauk andalannya jeroan sapi, empal, jantung, limpa, babat, keripik paru, dendeng, hingga satai ati. ...