Bahasa | English


KERAJINAN TRADISIONAL

Tapis Lampung, Karya Penuh Doa

14 November 2018, 15:56 WIB

Indonesia memiliki 34 provinsi dan 1.340 suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Marauke, dengan beragam warisan budayanya. Budaya menjadi ciri khas masing-masing daerah yang penuh dengan sejarah. (BPS 2010)


Tapis Lampung, Karya Penuh Doa Kain khas daerah. Sumber foto: Pesona Indonesia

Warisan budaya terbagi atas warisan budaya benda dan warisan budaya tak benda. Warisan benda, misalnya, berbagai artefak atau situs. Sedangkan, warisan tak benda terdiri dari tradisi, seni pertunjukan, adat istiadat masyarakat, perayaan, kerajinan tradisional, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta.

Kain khas daerah juga merupakan warisan tak benda. Di Jawa banyak ditemukan kain batik khas beberapa daerah, di Sumatra terkenal dengan kain ulos dan songket, kain Endek khas Bali, dan masih banyak lagi kerajinan tradisional yang ada di Indonesia.

Bertolak dari keberagaman budaya Indonesia itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan 33 kain tradisional khas Indonesia, dari berbagai daerah, sebagai warisan budaya tak benda. Penetapan itu bertujuan untuk menjaga dan mendorong kelestarian warisan bangsa. Salah satunya, kain tapis dari Lampung. Kain tapis sering dipakai pada upacara adat dan keagamaan masyarakat Lampung.

Kain tapis sejak dulu dibuat secara khusus dengan kesabaran dan ketelitian pembuatnya. Kain tapis identik dengan motif flora fauna, semacam bunga, burung, geometris, dan dekoratif lainnya. Kain itu ditenun dengan benang katun berwarna perak atau emas sebagai pengganti serat nanas pada zaman dahulu.

Tak hanya cantik dipandang mata, motif-motif yang diterakan di atas kain itupun memiliki makna masing-masing. Misalnya, motif burung yang menandakan kebebasan dan bunga yang menandakan kerapian dan keindahan.

Motif-motif dalam kain tapis diwujudkan sebagai kepercayaan masyarakat Lampung dalam menyeimbangkan kehidupan mereka dengan lingkungan dan Tuhan. Itulah sebabnya, kain tapis juga acap digunakan dalam upacara adat dan keagamaan. Motif yang sering dicari banyak orang adalah motif bernuansa alam dan kehidupan.

Kain tapis bukan sekadar pelengkap atau bagian dari fesyen biasa. Tapi, merupakan juga salah satu kekayaan sejarah masyarakat Lampung yang penuh dengan doa baik. Penenun atau penapis biasanya memberi doa sambil menenun, agar yang memakai kain tersebut dapat terhindar dari bahaya.

Kain tapis juga dipercaya menunjukkan status sosial yang memakainya. Hal tersebut selaras denga rata-rata harga kain tapis yang tidak murah, yakni di kisaran ratusan hingga jutaan rupiah. Oleh karena itulah, masih sedikit orang yang menggunakan kain tapis untuk membuat pakaian, berbeda dengan kain batik dan songket.

Mahalnya harga kain tapis juga dilandasi pada proses pembuatan yang memakan waktu lama dan bahan yang sulit didapat.

Pada masa lalu, kain tapis yang dibuat oleh para perempuan di Lampung lebih diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan adat istiadat yang sakral. Di mana seperti diungkap di atas, pemakaian kain tapis adalah untuk menyelaraskan diri terhadap lingkungan, semesta, dan menghormati Sang Pencipta.

Lain dulu lain sekarang. Kini, banyak juga yang memproduksi kain tapis untuk diperjualbelikan, demi meningkatkan ekonomi sebagian masyarakat Lampung. Di era modern, kain tapis telah tersebar di toko-toko di Lampung dan diminati para wisatawan untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Jenis kain tapis sendiri dibedakan menurut pemakainya. Di daerah Lampung Utara, kain tapis bernama Tapis Jung Sarat yang dipakai oleh pengantin wanita dan ibu-ibu pengiring pengantin dalam upacara perkawinan adat. Sedangkan jenis Tapis Raja Medal, biasanya dipakai oleh para istri kerabat paling tua di berbagai upacara adat.

Ada juga Tapis Laut Andak, yakni jenis kain Tapis yang dipakai oleh gadis penari di acara adat cangget. Selain itu, dikenal juga Tapis Balak, Tapis Silung, Tapis Laut Linau, Tapis Cucuk Andak, Tapis Cucuk Pinggir, Tapis Tuho, Tapis Agheng, Tapis Dewosano, Tapis Kaca, Tapis Bintang, Tapis Bidak Cukkil, dan Tapis Bintang Perak.

Sebagai bagian dari Indonesia tentu kita harus bangga dengan kekayaan Tanah Air. Mulai dari kekayaan alam, suku, ras, hingga kebudayaan. Itulah sebabnya, kita harus bersama-sama melindungi dan melestarikannya.

Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...