Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


KULINER NUSANTARA

Di Balik Kesegaran Badak

Tuesday, 9 April 2019

Lahir di kala persaingan minuman soda Tanah Air belum ketat. Mencapai puncak kejayaan pada era 1970 hingga 1980-an, Badak kini sepi peminat.


Di Balik Kesegaran Badak Minuman soda cap badak. Sumber foto: Istimewa

BOTOL kaca bergambar badak bercula satu dan tulisan “Badak” berdiri tegak di meja sebuah kedai di Depok, Jawa Barat. Di sisi kanan dan kirinya terdapat botol minuman ringan merek lain. Beda dengan kemasan minuman di sebelahya, desain Badak terlihat vintage.

Tampilan botol bergaya vintage itu memberi efek berbeda kepada setiap pengunjung kedai. Ada yang emoh merogoh kocek sebanyak Rp10 ribu karena tidak tertarik dengan kemasannya. Sebaliknya, justru ada pengunjung yang menganggapnya unik sehingga tergoda melirik Badak dan membelinya. Selain itu, Badak juga memiliki segelintir pembeli fanatik. Mereka inilah yang kerap sengaja datang ke kedai untuk mendapatkannya.

Badak adalah minuman soda legendaris bermerek lokal. Asalnya dari Pematang Siantar, Sumatra Utara. Minuman ini terbuat dari air, karbon dioksida (CO2), garam, sodium, dan sulfatrinasius. Kehadiran karbon dioksida pada Badak memberi sensasi “menggigit” dan segar.

Sensasi inilah yang dicari para pembeli fanatik Badak. Sederet rumah makan di Medan atau rumah makan Medan di Jakarta biasanya menawarkan menu Susu Badak. Jangan terkecoh. Ini bukan susu hasil perahan Badak, melainkan soda gembira. Susu kental manis diaduk dengan soda Badak, lalu ditambah es batu. Rasanya manis dengan sensasi segar. Jika diseruput saat terik, Susu Badak mampu melepas dahaga.

Usia Badak kini hampir satu abad. Di tengah gempuran minuman soda merek internasional, Badak tetap eksis. Segelintir warung, kedai kopi dan rumah makan di Pulau Sumatra dan Jawa masih menjajakannya. Memang, butuh kesabaran untuk mencari minuman menyegarkan ini di luar Medan dan Pematang Siantar. Sebab, produksinya tidak lagi banyak.

Sejak pertama kali diproduksi, tidak banyak  terjadi perubahan, baik  pada rasa maupun kemasan. Sejak mulai diproduksi hingga sekarang, Badak tetap setia menggunakan botol kaca dengan desain vintage. Penakaian botol kaca berperan mempertahankan karbon dioksida pada minuman soda. Dengan demikian, sensasi menggigitnya tetap kuat.

Bagian Sejarah Minuman Soda Tanah Air

Minuman soda Badak, seperti tercantum dalam skripsi berjudul PT Pabrik Es Siantar di Pematang Siantar 1959-1990, diproduksi NV Ijs Fabriek Siantar. Dalam skripsinya, Kuasa Agustino Saragih menyebutkan NV Ijs Fabriek Siantar didirikan sarjana teknik kimia kelahiran Swiss bernama Heinrich Surbeck di Pematang Siantar pada 1916. Ada alasan tersendiri mengapa Surbeck memilih kota terbesar di Sumatra Utara itu sebagai lokasi pabrik.

Pada abad ke-20, banyak perkebunan baru muncul di Pematang Siantar, baik sekadar berkunjung maupun bekerja. Lebih dari itu, kota ini juga merupakan tempat transit barang dari Medan ke daerah lain. Alasan yang tidak kalah penting, ketersediaan air bersih untuk bahan baku produk berlimpah.

Mulanya, NV Ijs Fabriek Siantar hanya memproduksi es batu batangan. Sejak 1920-an, pabrik es ini mulai membuat minuman soda berlabel Badak. Pemakaian nama Badak sebagai merek minuman soda mengandung makna filosofis. Badak terkenal berkulit keras serta bertanduk kuat. Makna filosofisnya adalah minuman berlabel Badak akan bertahan di tengah gempuran minuman-minuman bermerek internasional.

Di tahun 1920-an, bukan hanya minuman-minuman soda Badak yang ada di pasaran. Coca Cola mulai dikenal di Indonesia pada 1927. Masuknya Fanta ke Indonesia pada 1973 juga membuat persaingan di pasar minuman bersoda kian ketat.

Persoalan lain yang muncul bukan hanya terkait persaingan pasar. Di balik kesegaran minuman-minuman soda Badak terdapat pula kisah getir sang pemilik awal. Hidup Surbeck berakhir tragis. Ia tewas di tangan laskar rakyat yang memberontak Belanda pascaproklamasi kemerdekaan. Sepeninggal Surbeck, NV Ijs Fabriek Siantar tetap menjalankan aktivitas produksi. Karyawan pabrik, Elman Tanjung, mengelola perusahaan bersama rekan-rekannya sampai putri Surbeck, Lydia Rosa, kembali ke Pematang Siantar pada 1947.

 Isu nasionalisasi pascakemerdekaan memaksa NV Ijs Fabriek Siantar mengubah namanya dari bahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia, PT Pabrik Es Siantar. Kepemilikan perusahaan pun harus berpindah tangan kepada pribumi. Di tahun 1969, pengusaha pribumi bernama Julius Hutabarat membeli PT Pabrik Es Siantar dengan cara mencicilnya hingga 1971.

Ternyata peralihan kepemilikan tidak berdampak buruk terhadap penjualan. Badak justru kian berjaya. Merek ini digdaya di Sumatra Utara pada 1970 sampai 1980-an. Saat itu ada  delapan varian rasa minuman soda berlabel Badak, mulai dari jeruk, anggur, nenas, American ice cream soda, air soda, kopi, raspberry dan sarsaparila. Varian yang disebutkan terakhir, sarsaparila, bahkan pernah diekspor ke Swiss, negara asal Surbeck.

Soda rasa buah dilakukan dengan memasak gula cukup lama. Kemudian ditambah pemanis berupa sukrosa, air bersih dan asam sitrat. Air gula ini lalu disaring dan dimasak lagi dengan tambahan air, karbon dioksida dan esens. Setelah itu didiamkan hingga semua bahan benar-benar larut dan tercampur rata.

Produksi Badak pada masa jayanya mencapai 40 ribu krat per bulan. Namun, seiring dengan menurunnya permintaan, produksi Badak berkurang jadi 500 krat per bulan. Variannya pun dikurangi dari delapan menjadi dua.

Untuk membuat satu rasa, pabrik harus membeli satu esens. Agar rasa yang satu tidak tercampur dengan rasa lain, pabrik mesti membersihkan peralatan dan mesin setidaknya empat jam. Kondisi ini membuat proses produksi tidak efisien sehingga manajemen memutuskan untuk mempertahankan dua varian rasa yang paling disukai pelanggan. Kini, varian yang tersisa hanya lah air soda dan sarsaparila. (K-RG)

Kuliner
Ragam Terpopuler
3 Pesona Kekayaan Alam Pulau Bangka yang Tiada Duanya
Kekayaan alam di Pulau Bangka yang terletak di pesisir timur Pulau Sumatera ternyata menyimpan berjuta keindahan. Kombinasi pantai dan pegunungan dari pulau penghasil timah ini selalu sukses membuat p...
Negeri Asal Budaya Minangkabau Jadi Desa Terindah di Dunia
Keindahan Desa Nagari Tuo di Indonesia berhasil menyabet gelar desa terindah di dunia versi Majalah Budget Travel dengan kategori World’s Most Picturesque Villages pada tanggal 23 Februari 2012....
Brekecek Pathak Jahan, Sajian Khas dari Cilacap
Sensasi menyedot dan menyeruput bagian pathak ikan jahan itulah yang menjadi seni menyantap kuliner brekecek pathak jahan ini. ...
Daya Pikat Hotspring Tanah Karo
Kolam air panas, bentang alam, udara dingin, suasana perladangan yang kaya tanaman dan dinding gunung menjadi satu potensi alam yang memiliki nilai jual. ...
Bhumi Merapi: Konsep Wisata Berwawasan Lingkungan
Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Terbentang pemandangan dan keanekaragaman hayati dari ujung Sabang sampai Merauke. Tentunya melalui kekayaan alamnya ini diharapkan dapat dinikmati se...
Eksotisnya Desa Sentani di Jayapura dengan Berjuta Keunikannya
Ternyata destinasi wisata di Jayapura bukan hanya Raja Ampat. Masih banyak wilayah lokasi wisata lainnya yang tak kalah eksotis, salah satunya Desa Sentani. ...
Ketika Ciliwung Punya Pahlawan Baru
Sebuah harapan besar pun tercanang bahwa akan semakin banyak masyarakat yang hidup di sekitar sungai Ciliwung yang semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan di mana mereka tinggal. ...
Sangiran dan Manusia Jawa
Terinspirasi oleh hipotesa Alfred Russel Wallace, Dubois meyakini asal usul manusia modern terletak di Asia Tenggara, dan mengukuhkan hipotesa itu melalui fosil temuannya di Trinil. ...
Ada Lopes dan Kopi Khas Situbondo di Pasar Panji
Kalau kita sedang melintas dengan jalur darat dari Surabaya ke Bali, kita akan melewati Situbondo ini. Dan tak ada salahnya mampir ke pasar panji. Ada Lopes dan Kopi Khas.  ...
Ke Banyuwangi, Bisa Cicipi Super Ayam Pedas Hingga Nasi Bungkus Khas Banyuwangi
Siapa bilang Banyuwangi tidak punya kuliner Khas? Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini ternyata menyimpan makanan khas dan ada yang hanya tersedia di Banyuwangi ini saja. ...