Bahasa | English


KULINER NUSANTARA

Selat Solo, Steak Eropa ala Jawa

3 April 2019, 00:00 WIB

Selat Solo merupakan steak ala Eropa yang dimodifikasi sesuai lidah raja-raja Kasunanan Solo.


Selat Solo, Steak Eropa ala Jawa Kuliner Selat Solo. Sumber foto: Shutterstock

Saus berwarna cokelat mendominasi hidangan berbahan dasar daging ini. Warna cokelat berasal dari pemakaian kecap. Cita rasanya manis, asam dan gurih.

Ada kisah tersendiri di balik kemunculan Selat Galantin yang lebih dikenal dengan nama Selat Solo. Pada masa kolonial, orang-orang Eropa datang ke Indonesia membawa bahan makanan serta teknik masak ala Eropa.

Namun, tidak semua nakanan khas Eropa diterima dengan mudah di lidah kaum  ningrat di Kasunanan Surakarta. Selera dan bsudaya lokal turut berperan.

Makanan di Jawa identik dengan cita rasa manis. Untuk menyesuaikan rasa steak dengan selera raja-raja Kasunanan Solo, modifikasi pun dilakukan. Kecap digunakan untuk memberi cita rasa manis, menggantikan penggunaan kecap Inggris dan mayones.

Selat Solo merupakan perpaduan bistik dan salad. Penggunaan nama selat berasal dari kata  “slachtje” yang berarti salad. Dagingnya disebut steak yang berasal dari bahasa Belanda, “biefstuk”. Di Eropa, daging untuk steak disajikan dalam ukuran besar dan dimasak setengah matang. Raja-raja Kasunanan Solo tidak terbiasa menyantap daging seperti itu. Alhasil, daging yang semestinya dimasak setengah matang diubah menjadi daging sapi cincang yang dicampur sosis, tepung roti dan telur. Bahan-bahan ini dicampur, lalu dibentuk seperti lontong dan dibungkus daun pisang.

Kemudian dikukus hingga matang. Daging yang sudah matang didiamkan hingga dingin. Setelah itu diiris tebal dan digoreng dengan sedikit margarin.

Selat Solo disajikan bersama sayuran berupa wortel dan buncis rebus, tomat serta daun selada. Untuk memberi rasa kenyang, steak dilengkapi pula dengan kentang goremg. Di atas daun selada biasanya diberi saus mustard. Terkadang ada pula yang menambahkan acar mentimun. Ciri khas lain Selat Galantin terletak pada kehadiran telur rebus.

Kombinasi steak dan salad sayuran menjadikan Selat Solo terlihat berwarna sehingga menggoda siapa pun untuk segera menyantapnya.

Layaknya steak, Selat Solo ditaburi pula lada hitam bubuk dengan butiran sedikit kasar sehingga ada sedikit sensasi pedas. Untuk saus, tercium pula aroma pala.

Keunikan Selat Solo terletak pada penyajiannya. Lain dengan steak ala Eropa yang dihidangkan selagi panas, Selat Solo selalu disajikan dalam keadaan dingin. Namun, beberapa rumah makan di Solo dapat menyajikannya dalam kondisi hangat apabila tamu memintanya.

Penasaran? Jangan lupa cicipi steak ala Jawa ini saat berkunjung ke Solo. (K-RG)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...