Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


DESTINASI WISATA

Eksotisme Bukit Batu Daya

Monday, 3 December 2018

Sebuah bukit di Ketapang, Kalimantan Barat, yang memiliki keindahan tersendiri. Konon, bentuk Bukit Batu Daya berubah-ubah sesuai dari sisi mana yang dilihatnya.


Eksotisme Bukit Batu Daya Sumber foto: Pesona Travel

Bukit Batu Daya adalah sebuah batu raksasa yang berada di Ketapang, Kalimantan Barat. Lebih tepatnya di perbatasan antara Kecamatan Laor dan Kecamatan Sukadana, Simpang Hilir, Kayong Utara. Berdekatan dengan Gunung Palung, Bukit Batu Daya termasuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Bukit Batu Daya memiliki ketinggian 958 meter di atas permukaan laut. Itulah sebabnya, Bukit Batu Daya cukup digemari para pecinta alam. Bagi para pendaki, lokasi Bukit Batu Daya sudah tidak asing lagi dan menjadi tempat yang menarik untuk didaki.

Jalur dari Dusun Keranji, Desa Batu Daya, Kecamatan Simpang Dua, adalah jalur yang paling digemari karena yang mudah dilalui. Dari Pontianak ke Batu Daya, dapat ditempuh lewat Aur Kuning. Jarak tempuh jika melewati Sungai Laur sekitar 4-5 jam. Di Sungai Laur ada beberapa penginapan yang bisa  dijadikan sebagai tempat pelepas lelah.

Selama ini, karena keindahan Bukit Batu Daya, maka Pemkab Ketapang menjadikannya sebagai destinasi andalan. Namun di balik keindahan alam dan kearifan lokal di kawasan wisata Bukit Batu Daya, bukit ini sejatinya tergolong sebagai lokasi wisata yang ekstrim dan berbahaya.

Tak hanya indah, Bukit Batu Daya juga memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, bukit itu bisa memperdaya pandangan kita. Kita bisa mendapatkan bentuk yang berbeda-beda jika melihatnya dari sisi yang berbeda pula.

Sekali waktu bentuk bukit itu tampak kokoh dan persegi, sehingga disebut Bukit Gantang atau takaran padi. Namun jika dilihat dari sisi berbeda, bentuknya tampak menyerupai punuk unta, sehingga seringkali bukit itupun disebut Bukit Unta.

Selain itu juga tersimpan cerita dan mitos yang beredar di masyarakat setempat. Konon, ada seorang ibu dan anaknya yang berumur 3 tahun bernama Daya. Mereka tinggal di suatu kampung, di Kalimantan Barat. Sang suami atau ayah anak itu sudah lama meninggal.

Karena hanya tinggal berdua, sang ibu selalu membawa anaknya yang masih kecil ke mana-mana. Suatu sang ibu mencuci baju di sungai dan anaknya diletakkan di atas batu. Tak berapa lama ibu itu mencuci, sang anak memanggil-manggil ibunya. Hanya saja, walau dipanggil berulang kali, ibunya tak mendengar panggilan anaknya.

Hingga akhirnya suara sang anak pun menghilang. Sang ibu pun menoleh ke arah batu tempat dia meletakkan anaknya. Ternyata, batu itu sudah berubah menjadi batu yang sangat besar, hingga sebesar gunung. Dan anaknya pun tidak lagi terlihat. Dari cerita rakyat itulah, maka muncullah julukan Bukit Batu Daya.

Setiap tahunnya, di Bukit Batu Daya diadakan ritual oleh masyarakat setempat. Pasalnya mereka meyakini, Bukit Batu Daya merupakan bukit keramat. Masyarakat juga menggelar ritual itu untuk mempertahankan dan melestarikan warisan budaya masyarakat Ketapang, Kalimantan Barat.

Kekayaan alam Bukit Batu Daya memang masih belum tergali luas. Itulah sebabnya, pemerintah lokal berusaha mengenalkan keindahan Bukit Batu Daya ke wisatawan. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
La Galigo, sebuah Kitab Suci Asli Bugis
La Galigo ialah sebagai karya sastra terpanjang di dunia. Lebih panjang daripada epik India, Mahabarata, dan Ramayana. Juga nisbi lebih panjang daripada epik Yunani, Homerus. Sayangnya popularitas La ...
Indonesia Serpihan Surga
Bumi Pertiwi berdiri dengan pesonanya yang menawan, dengan seribu kekayaan alam yang melimpah. Tak heran jika Indonesia menjadi salah satu dari sekian negara yang paling cantik di dunia. ...
Bermain Rangku Alu Melatih Konsentrasi
Nusa Tenggara Timur memiliki permainan tradisional bernama Rangku Alu yang biasa dilakukan saat musim panen. Bermain Rangku Alu dinilai dapat melatih konsentrasi dan ketangkasan. Tak hanya dimainkan a...
Cerita Cinta Nusantara
Di masa Sultan Agung berkuasa, lahirlah kisah romantika Jawa dari rahim sejarah. Bukan saja tercatat sohor, kisah itu juga melegenda hingga kini. ‘Rara Mendut-Pranacitra’ demikianlah diken...
Islam “Sarungan” Nusantara
Simaklah kembali karya klasik Clifford Geertz, The Religion of Java, menurut Marshall GS Hodgson, itu justru menunjukkan kekeliruan yang tanpa disadari oleh Geertz ketika merumuskan definisi Islam. Ba...
Kembalinya Islam Moderat
Presiden Joko Widodo berharap, Universitas Islam Internasional Indonesia dapat menjadi pusat kajian, penelitian, dan implementasi wacana peradaban Islam moderat--atau dalam bahasa Arab ‘Islam Wa...
Ratu Shima hingga Presiden Megawati
Naiknya seorang presiden perempuan yang pertama ini, Megawati Soekarnoputri, bagaimanapun merupakan sebuah lompatan eksponensial secara kebudayaan. Bagaimana tidak, Amerika yang konon merupakan negeri...
Tenun NTT, Harta Keluarga yang Bernilai Tinggi
Pengerjaan tenun NTT memiliki tingkat kesulitan yang relatif tinggi. Itulah sebabnya kerajinan tradisional itu kerap dipandang sebagai harta keluarga yang tinggi nilainya. ...
Komedi Stamboel, Juragan Tionghoa, dan Budaya Pertunjukan
Kendati bukan khas Indonsia, seni pertunjukan keliling yang memiliki unsur keragaman budaya mulai dari bahasa, musik pengiring, cara bertutur, seni gerak dan olah tubuh sampai dengan model dramaturgi ...
Lasem sebagai Model Alkulturasi
“Pasca-Orde Baru, bicara wacana relasi antaretnis, secara paradigmatik sering dihadapkan pada pilihan antara model ‘asimilasi’ di satu sisi atau ‘integrasi’ di sisi lain....