Bahasa | English


DESTINASI WISATA

Eksotisme Bukit Batu Daya

3 December 2018, 21:36 WIB

Sebuah bukit di Ketapang, Kalimantan Barat, yang memiliki keindahan tersendiri. Konon, bentuk Bukit Batu Daya berubah-ubah sesuai dari sisi mana yang dilihatnya.


Eksotisme Bukit Batu Daya Sumber foto: Pesona Travel

Bukit Batu Daya adalah sebuah batu raksasa yang berada di Ketapang, Kalimantan Barat. Lebih tepatnya di perbatasan antara Kecamatan Laor dan Kecamatan Sukadana, Simpang Hilir, Kayong Utara. Berdekatan dengan Gunung Palung, Bukit Batu Daya termasuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Bukit Batu Daya memiliki ketinggian 958 meter di atas permukaan laut. Itulah sebabnya, Bukit Batu Daya cukup digemari para pecinta alam. Bagi para pendaki, lokasi Bukit Batu Daya sudah tidak asing lagi dan menjadi tempat yang menarik untuk didaki.

Jalur dari Dusun Keranji, Desa Batu Daya, Kecamatan Simpang Dua, adalah jalur yang paling digemari karena yang mudah dilalui. Dari Pontianak ke Batu Daya, dapat ditempuh lewat Aur Kuning. Jarak tempuh jika melewati Sungai Laur sekitar 4-5 jam. Di Sungai Laur ada beberapa penginapan yang bisa  dijadikan sebagai tempat pelepas lelah.

Selama ini, karena keindahan Bukit Batu Daya, maka Pemkab Ketapang menjadikannya sebagai destinasi andalan. Namun di balik keindahan alam dan kearifan lokal di kawasan wisata Bukit Batu Daya, bukit ini sejatinya tergolong sebagai lokasi wisata yang ekstrim dan berbahaya.

Tak hanya indah, Bukit Batu Daya juga memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, bukit itu bisa memperdaya pandangan kita. Kita bisa mendapatkan bentuk yang berbeda-beda jika melihatnya dari sisi yang berbeda pula.

Sekali waktu bentuk bukit itu tampak kokoh dan persegi, sehingga disebut Bukit Gantang atau takaran padi. Namun jika dilihat dari sisi berbeda, bentuknya tampak menyerupai punuk unta, sehingga seringkali bukit itupun disebut Bukit Unta.

Selain itu juga tersimpan cerita dan mitos yang beredar di masyarakat setempat. Konon, ada seorang ibu dan anaknya yang berumur 3 tahun bernama Daya. Mereka tinggal di suatu kampung, di Kalimantan Barat. Sang suami atau ayah anak itu sudah lama meninggal.

Karena hanya tinggal berdua, sang ibu selalu membawa anaknya yang masih kecil ke mana-mana. Suatu sang ibu mencuci baju di sungai dan anaknya diletakkan di atas batu. Tak berapa lama ibu itu mencuci, sang anak memanggil-manggil ibunya. Hanya saja, walau dipanggil berulang kali, ibunya tak mendengar panggilan anaknya.

Hingga akhirnya suara sang anak pun menghilang. Sang ibu pun menoleh ke arah batu tempat dia meletakkan anaknya. Ternyata, batu itu sudah berubah menjadi batu yang sangat besar, hingga sebesar gunung. Dan anaknya pun tidak lagi terlihat. Dari cerita rakyat itulah, maka muncullah julukan Bukit Batu Daya.

Setiap tahunnya, di Bukit Batu Daya diadakan ritual oleh masyarakat setempat. Pasalnya mereka meyakini, Bukit Batu Daya merupakan bukit keramat. Masyarakat juga menggelar ritual itu untuk mempertahankan dan melestarikan warisan budaya masyarakat Ketapang, Kalimantan Barat.

Kekayaan alam Bukit Batu Daya memang masih belum tergali luas. Itulah sebabnya, pemerintah lokal berusaha mengenalkan keindahan Bukit Batu Daya ke wisatawan. (T-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...