Bahasa | English


PARIWISATA

Festival Pesona Selat Lembeh 2019

30 September 2019, 05:00 WIB

Selat Lembeh, merupakan salah satu destinasi wisata bahari di Bitung, Sulawesi Utara, yang dikenal dengan pesona lautnya. Di selat ini pulalah Festival Pesona Selat Lembeh digelar awal Oktober 2019.


Festival Pesona Selat Lembeh 2019 Festival Pesona Selat Lembeh. Foto: Pesona Indonesia

Tahun ini Festival Pesona Selat Lembeh akan diselenggarakan pada 6-10 Oktober 2019. Seperti biasanya, festival tahun ini akan meriahkan dengan berbagai perlombaan seperti kapal hias dan lari 10 km. Tidak hanya itu, Festival Pesona Selat Lembeh 2019 juga akan dimeriahkan dengan penanaman koral, pentas seni budaya, dan atraksi jet ski.

Bagi wisatawan yang suka kuliner, di festival ini bisa mencicipi sashimi tuna khas Bitung. Ikan tuna mentah yang dipotong tipis dicelup ke dalam bumbu kecap yang diberi daun serei. Juga disajikan pisang goroho rebus atau singkong goreng.

Di sekitar lokasi festival, pengunjung juga bisa bertandang ke Ekowisata Pasir Panjang Pantai Kahona dan Hutan Mangrove Pintu Kota. Bagi penyuka diving, bisa menyelam di beberapa titik selam dan koral yang indah. Jangan lupa, di sore hari, Selat Lembeh juga menjadi spot yang indah untuk melihat matahari terbenam.

Festival yang digelar di pelabuhan Bitung ini bisa menjadi pilihan liburan pada 6-10 Oktober nanti. Bitung merupakan kawasan KEK Destinasi Superprioritas oleh Kementerian Pariwisata yang memiliki beragam fasilitas mumpuni bagi wisatawan.

Apa yang istimewa dari Selat Lembeh? Selat ini terkenal karena keajaiban bawah laut yang luar biasa indahnya. Selat Lembeh dekat sekali dengan Pelabuhan Bitung dan Kota Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara.

Selat Lembeh adalah jalur panjang dan sempit yang memisahkan daratan Sulawesi dan Pulau Lembeh. Secara administratif termasuk sebagai bagian dari Kota Pelabuhan Bitung, terletak tidak jauh dari Manado. Di sini orang dapat menemukan dunia yang sama sekali berbeda dengan kehidupan bawah laut tropis lainnya, dengan makhluk yang sangat menarik dan paling berwarna. Selat Lembeh membentang sejauh 16 km dan lebar hanya 1,2 kilometer, namun di perairan sempit ini tidak kurang dari 88 spot menyelam telah ditemukan.

Penyelaman di Lembeh bisa mencapai kedalaman 15 - 25 meter. Hampir tidak ada arus, dan sepanjang tahun air tetap hangat hanya 24 sampai 30 derajat celcius. Sistem eko uniknya membuat tempat ini menjadi rumah bagi nudibranch, cumi-cumi flamboyan, mimic octopus hingga ikan kodok berbulu. Satwa yang luar biasa indah itu menjadi subyek langka bagi fotografer bawah laut. Untuk alasan itu, fotografer bawah laut telah menjuluki Selat Lembeh sebagai "Surga untuk Fotografi Bawah Laut".

Konon Selat Lembeh merupakan salah satu spot diving terbaik di dunia yang didukung dengan biota laut yang unik, hal ini sebagai trigger pemerintah Kota Bitung untuk lebih mengembangkan potensi wisata bahari sehingga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Selat Lembeh merupakan rumah bagi spesies-spesies unik bawah laut dan jarang ditemukan di tempat lain. Saking uniknya, para penyelam menyebutnya "The World's Muck Diving Heaven" atau surganya untuk menyelam di dasar laut. Sebutan ini tentu tidak tanpa alasan. Karakter alami vulkanik yang menyelimuti bawah laut Selat Lembeh menawarkan biota-biota menakjubkan. Ini mencakup semua jenis ikan-ikan kecil, kuda laut, cumi, siput laut, krustasea, dan banyak jenis lainnya. Hingga saat ini, terdapat sekitar 95 titik selam di Selat Lembeh.

Menurut para penyelam, kalau mau lihat keindahan bawah laut, adanya di Bunaken. Tapi kalau mau lihat keunikan, adanya di Selat Lembeh. Karena ada banyak critter yang unik, seperti critter sayapnya hanya satu, ada yang tidak miliki ekor.

Selat ini memiliki panjang 12 kilometer yang memisahkan Pulau Sulawesi dengan Pulau Lembeh. Sekitar 1 hingga 2 kilometer di antaranya merupakan lanskap indah yang memadukan pengunungan, laut dan pulau.

Posisi Kota Bitung sangat strategis karena secara internasional berada di bibir Pacific (Pacific Rim). Dengan ditetapkan sebagai IHP dan KEK, pengembang potensi kota ini sebagai kota industri, kota pariwisata dunia, dan kota konservasi alam akan lebih cepat.

Kota Pelabuhan Bitung hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan dari Manado. Ada bus umum yang melayani rute antara Manado-Bitung, tapi alternatifnya bisa dengan taksi atau menyewa mobil untuk sampai ke kota pelabuhan. Untuk mencapai selat tersebut, setibanya di Bitung, lanjutkan ke Dermaga Ruko Pateten di mana kapal akan menyeberang ke Pulau Lembeh. Di rute itu akan terlihat berbagai jenis kapal dengan berbagai ukuran, mulai dari sampan berlabuh, kapal layar tradisional hingga kapal angkatan laut yang besar dan kapal perang lainnya.

Meski hanya kota mungil, Bitung yang berada di ujung Pulau Sulawesi bagian utara memiliki destinasi wisata unggulan. Berkunjung ke Bitung tak lengkap jika tidak merasakan pesona bawah laut Selat Lembeh dan Cagar Alam Tangkoko.

Taman Nasional Tangkoko merupakan habitat monyet hitam dan Tarsius berukuran kepalan tangan yang lucu dengan mata piring besar, ikon kawasan ini. Cagar Alam Tangkoko yang ada di Kota Bitung merupakan pembagian yang dikenal dengan Wallace Line (Garis Wallace). Nama itu diberikan Alfred Russel Wallace. Wallace merupakan tokoh lingkungan yang sangat ternama di dunia. Pada tahun 1850-an, Wallace mengunjungi Malaysia dan Indonesia. Dia mendapatkan pembelajaran dari dua kunjungan itu dan kemudian membagikan pengalaman tersebut hingga akhirnya muncul istilah Wallace Line.

Menurut Wallace, Jawa, Sumatra, dan Kalimantan itu masuk bagian dari Asia. Sedangkan Sulawesi, Papua dan Maluku, itu bagian dari Australia. Itu dibuktikan dengan banyak sekali flora dan fauna yang sama antara Australia dan Indonesia. Menurut Maximiliaan, pada tahun 1861, Wallace sudah datang ke Bitung. Ia datang untuk melihat lebih dekat hutan Tangkoko. (E-2)

Destinasi
Wisata
Ragam Terpopuler
Planet-2020, Pengolah Limbah Berbasis Biologi
Kelebihannya antara lain mampu mendegradasi polutan (zat pencemar) hingga 90-98 persen. Ini lebih tinggi dibanding Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berbasis kimia. ...
Beradaptasi di Bawah Bayang-Bayang Pandemi
Sejumlah negara membiarkan masyarakatnya beraktivitas walaupun  terbatas dan dengan ketentuan. Kehidupan akan berjalan, tapi berbeda dengan hidup normal sebelumnya ...
Kelahiran Fitri dan Covid, Buah Satwa Sejahtera
Seekor bayi orangutan lahir di masa pandemi Covid-19. Kelahiran bayi orangutan ini melengkapi kehadiran seekor anakan gajah sumatra pada 28 April 2020. ...
Biarkan Mereka Tetap Lestari
Masih ada warga yang memelihara satwa liar, langka, dan dilindungi. Selain berdampak kepada kelestarian hewan tersebut, juga berisiko terkena penyakit zoonosis. ...
Wira Sang Garuda Muda dari Gunung Salak
Dua anakan elang jawa lahir di utara Taman Nasional Gunung Salak Halimun dalam setahun terakhir. ...
Inovasi Kreatif Kala Kepepet
55 produk karya anak bangsa untuk percepatan penanganan Covid-19 diluncurkan. Sembilan di antaranya jadi unggulan. ...
Banyu Urip, Ketika Satu Kampung Hasilkan Lontong
Terkenal seantero Jawa Timur, kampung lontong ini pernah dikunjungi Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri. ...
Tiga Herbal yang Berpotensi Tangkal Corona
Tiga tanaman yang tumbuh di Indonesia ini dianggap punya potensi menjadi antivirus corona. Uji klinis masih diperlukan untuk mengetahui khasiatnya. ...
Bukan Ketupat Biasa
Ketupat Sungai Baru punya ciri khas dibanding ketupat lainnya. Ia sudah menjadi ikonis di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lebih besar dan awet. ...
Cara Baru Menikmati Wisata dari Rumah
Wisata virtual dapat menjadi peluang usaha baru bagi para operator pariwisata di Tanah Air di tengah pandemi virus corona. ...