Bahasa | English


PARIWISATA

Semburat Biru Api Kawah Gunung Ijen

10 December 2018, 01:43 WIB

Dini hari adalah waktu yang tepat untuk menikmati kecantikan semburat api berwarna biru di puncak Gunung Ijen, yang ada di ketinggian 2.443 meter di atas permukaan laut.


Semburat Biru Api Kawah Gunung Ijen Sumber foto: Pesona Indonesia

Rutinitas, identik dengan kata ‘bosan’ dan ‘suntuk’. Kata-kata itu seringkali terucap saat pekerjaan menumpuk dan berulang terus setiap harinya. Mungkin itu merupakan sinyal negatif di tubuh kita, yang harus segera dihalau dengan energi positif. Boleh jadi, itu saatnya untuk sejenak menenangkan diri, menghirup udara segar di wisata alam terbuka. Menikmati keindahan alam memang dipercaya dapat mengendurkan otot-otot kaku dan menghalau stres akibat rutinitas.

So, plesir ke mana? Mari menuju perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur. Di sana terdapat sebuah gunung yang cukup menarik untuk dikenali lebih dekat. Gunung itu bernama Ijen.   

Di gunung tersebut, terdapat kawah yang demikian memukau. Terbentuk alami akibat letusan, kawah Ijen menjadi kawah terindah yang ada di Tanah Air Indonesia. Fenomena api biru atau blue fire bisa ditemukan di kawah Gunung Ijen yang berada di puncak gunung bersifat asam itu, dengan kedalaman dan keluasan kawah masing-masing mencapai 200 meter dan 5.466 hektar.

Waktu terbaik untuk menyaksikan atraksi api berwarna biru di puncak Gunung Ijen adalah pada dini hari menjelang fajar, yakni antara pukul 02.00 WIB--03.00 WIB. Itulah yang menyebabkan para wisatawan “nekat” merambati tubuh gunung tersebut, di saat orang lainnya terlelap dalam mimpi indah.

Tak peduli hawa dingin yang seolah menembus hingga ke sumsum tulang, ataupun terjalnya medan bebatuan dan berpasir yang harus didaki dalam waktu tempuh sekira 3-4 jam, wisatawan tampak senantiasa bersemangat demi menggapai keindahan si api biru yang dipancarkan oleh Ijen.

Fenomena semburan api biru di kawah Ijen sendiri merupakan salah satu dari yang juga ditemui di Islandia. Lantaran keindahan semburan api biru dari kawah Ijen, kawasan tersebut ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO. Sumber: Unesco.org

Bukan hanya fenomena api biru yang dapat dinikmati saat berada di kawah Gunung Ijen. Dari kawah Ijen juga terlihat keindahan panorama gunung lain yang ada di wilayah pegunungan tersebut. Di antaranya, yaitu puncak Gunung Merapi di timur kawah Ijen, Gunung Raung, Gunung Rante, dan Gunung Suket.

Selain itu, juga tampak para penambang yang sedang mengumpulkan belerang yang sudah beku di dasar kawah. Mereka itu menambang dengan alat sederhana dan cara yang konvensional, sehingga membuat wisatawan berdecak kagum.

Untuk menikmati segala kecantikan panorama Gunung Ijen, wisatawan domestik dikenai tarif masuk Rp5.000 per orang pada hari kerja dan Rp7.500 per orang pada hari libur. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenai tarif masuk Rp100.000 pada hari kerja dan Rp150.000 pada hari libur. Untuk peralatan dokumentasi khusus, seperti kamera akan dikenakan biaya tambahan yaitu Rp250.000 per unit, untuk kamera video ada biaya tambahan sebesar Rp1 juta per unit.

Magnet pemandangan di kawah Ijen itu memang membuatnya menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal hingga asing. Untuk wisman, turis Cina dan Prancis relatif mendominasi. Namun senantiasa harus diketahui, mendaki Gunung Ijen memerlukan persiapan yang matang. Selain perlengkapan pribadi, kondisi badan juga harus diperhatikan agar menjadi liburan asyik yang tidak terlupakan.

Jangan lupa untuk mengabadikan setiap momen perjalanan lewat dokumentasi foto, agar dapat selalu dikenang dan rindu untuk kembali lagi menikmati fenomena si api biru Ijen. (T-1)

Wisata
Ragam Terpopuler
Kelahiran Fitri dan Covid, Buah Satwa Sejahtera
Seekor bayi orangutan lahir di masa pandemi Covid-19. Kelahiran bayi orangutan ini melengkapi kehadiran seekor anakan gajah sumatera pada 28 April 2020. ...
Beradaptasi di Bawah Bayang-Bayang Pandemi
Sejumlah negara membiarkan masyarakatnya beraktivitas walaupun  terbatas dan dengan ketentuan. Kehidupan akan berjalan, tapi berbeda dengan hidup normal sebelumnya ...
Biarkan Mereka Tetap Lestari
Masih ada warga yang memelihara satwa liar, langka, dan dilindungi. Selain berdampak kepada kelestarian hewan tersebut, juga berisiko terkena penyakit zoonosis. ...
Wira Sang Garuda Muda dari Gunung Salak
Dua anakan elang jawa lahir di utara Taman Nasional Gunung Salak Halimun dalam setahun terakhir. ...
Inovasi Kreatif Kala Kepepet
55 produk karya anak bangsa untuk percepatan penanganan Covid-19 diluncurkan. Sembilan di antaranya jadi unggulan. ...
Banyu Urip, Ketika Satu Kampung Hasilkan Lontong
Terkenal seantero Jawa Timur, kampung lontong ini pernah dikunjungi Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri. ...
Tiga Herbal yang Berpotensi Tangkal Corona
Tiga tanaman yang tumbuh di Indonesia ini dianggap punya potensi menjadi antivirus corona. Uji klinis masih diperlukan untuk mengetahui khasiatnya. ...
Bukan Ketupat Biasa
Ketupat Sungai Baru punya ciri khas dibanding ketupat lainnya. Ia sudah menjadi ikonis di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lebih besar dan awet. ...
Cara Baru Menikmati Wisata dari Rumah
Wisata virtual dapat menjadi peluang usaha baru bagi para operator pariwisata di Tanah Air di tengah pandemi virus corona. ...
Hijau Hitam Sama Segarnya, Sama Khasiatnya
Es cincau rootbeer susu, es cappucino cincau susu, es bajigur cincau, es tarik cincau, adalah carian baru dari sajian cincau. Segar dan berkhasiat. Wabah virus corona membuat pasar cincau ikut menciut...