Pariwisata Provinsi Riau

 

Pariwisata di Kepulauan Riau merupakan salah satu sektor utama yang membantu kemajuan pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Riau, Indonesia. Kekayaan alam, seni, dan budaya merupakan salah satu bidang penting dalam pariwisata di Kepulauan Riau. Alam Kepulauan Riau memiliki iklim tropis, dengan 2.408 pulau yang 30% diantaranya tidak berpenghuni. Pulau Bawah di Kepulauan Anambas termasuk dalam pulau tropis terbaik se-Asia versi CNN. Selain itu, Pantai Sisi di Natuna juga menjadi salah satu pantai alami terbaik di dunia versi majalah Island tahun 2006. Pulau Penyengat dan Pulau Bintan juga merupakan contoh daerah tujuan wisata terpopuler di Kepulauan Riau.

Kota Batam merupakan pintu gerbang pariwisata utama ketiga di Indonesia, setelah Bali dan Jakarta. 2,25 juta orang atau sekitar 25% dari jumlah wisatawan asing di Indonesia masuk melalui Batam. Kepulauan Riau juga menjadi provinsi percontohan wisata lintas batas di Indonesia bagi kota Manado, Belitung, dan pulau Kalimantan.

Pada tahun 2013, 1.859.066 orang wisatawan mancanegara berkunjung ke Kepulauan Riau. Jumlah ini naik 5,18% dari tahun sebelumnya. Kota Batam menjadi tujuan utama para turis. Di peringkat kedua, terdapat Kabupaten Bintan disusul Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Karimun. Jumlah wisman dari Singapura merupakan yang terbesar yaitu 51,23% dari seluruh jumlah wisman yang berkunjung. Disusul oleh Malaysia di peringkat kedua dengan 14,72%. Sedangkan negara lainnya rata-rata masih sekitar 5% yang terdiri dari negara Tiongkok, Korea Selatan, India, Filipina, Jepang, Inggris, Australia, dan Amerika Serikat.

Pengelolaan kepariwisataan di Kepulauan Riau diatur oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau. Kepulauan Riau menjadi salah satu situs konservasi terumbu karang di Indonesia. Contoh situs konservasi terumbu karang di Kepulauan Riau adalah Karang Alangkalam dan Karang Bali. Kekayaan biota laut menciptakan Laut Natuna menjadi salah satu lokasi selam scuba yang terkenal. Keindahan pantai juga membuat Kepulauan Riau semakin terkenal. Pantai-pantai tersebut diantaranya Pantai Lagoi, Pantai Impian, Pantai Trikora, Pantai Nongsa, Pantai Sakerah, Pantai Loola, Pantai Padang Melang, Pantai Nusantara, Pantai Batu Berdaun, Pantai Indah, Pantai Tanjung Siambang, Pantai Tanjung, Pantai Melur, Pantai Melayu, Pantai Pelawan, Pantai Sisi, dan Pantai Cemaga.

Kepulauan Riau memiliki 4 gunung yaitu Gunung Daik, Gunung Ranai, Gunung Sepincan, dan Gunung Jantan. Sementara Gunung Bintan, Gunung Lengkuas, dan lainnya bukan merupakan gunung karena tidak memenuhi syarat sebagai gunung contohnya ketinggian. Gunung Bintan dan Gunung Lengkuas hanya merupakan bukit, namun karena bukit-bukit ini merupakan titik tertinggi di sebuah pulau, maka disebut gunung oleh masyarakat setempat. Gunung Daik dan Gunung Ranai adalah 2 jenis gunung yang paling sering didaki.

Keindahan bukit juga menjadi destinasi wisata di Kepulauan Riau, contohnya Bukit Senyum di Batam yang dapat melihat pemandangan negara Singapura dan Bukit Kursi di pulau Penyengat, Tanjungpinang yang memiliki sebuah benteng bersejarah. Pemandangan dataran tinggi terdapat di Dataran Tinggi Engku Puteri, Batam Center.

Selain itu, keindahan air terjun contohnya Air Terjun Resun, Air Terjun Temurun, dan Air Terjun Cik Latif menjadi salah satu destinasi wisata air di Kepulauan Riau. Wisata air alami juga dapat dirasakan dengan mengunjungi Danau Biru dan keindahan hutan bakau Sungai Sebong di Bintan. Penjelajahan gua-gua alami juga tersedia di Kepulauan Riau, contohnya Goa Batu Sindu dan Goa Kapal Batu di Natuna. Pemandian-pemandian alami juga banyak berkembang menjadi tujuan wisata seperti Pemandian Tengku Ampuan Zahara di Lingga dan Pemandian Air Panas Tanjung Hutan di Karimun. Kepulauan Riau juga memiliki keindahan tanjung contohnya Tanjung Berakit, keindahan teluk contohnya Teluk Tering, keindahan selat contohnya Selat Berhala, serta keindahan pulau-pulau alami contohnya Pulau Bawah, Pulau Benan, dan Pulau Soreh.

Kekah Natuna

Kekayaan flora dan fauna di Kepulauan Riau juga sangat beragam. Kakap dan Sirih menjadi fauna dan flora identitas khas provinsi Kepulauan Riau. Di Laut Natuna, hidup ikan Napoleon yang merupakan hewan langka di Indonesia. Selain itu, dugong juga hidup di perairan sekitar pulau Bintan. Beberapa hewan langka lainnya adalah Singapuar, Burung serindit Melayu, dan sejenis primata bernama kekah Natuna. Kekayaan flora antara lain adalah nibung, buah naga, pinang, dan tanaman langka udumbara yang hidup di Dataran Tinggi Engku Puteri, Batam Centre. Kepulauan Riau memiliki 2 cagar alam yaitu Cagar Alam Pulau Burung dan Cagar Alam Pulau Laut.

Sementara itu, lokasi agrowisata dan kebun binatang juga tersedia di Kepulauan Riau. Mini Zoo Kijang di Bintan, Alif Stone Park di Tanjung Natuna, Hutan Wisata Mata Kucing di Batam, Taman Buah Senggarang dan Hutan Lindung di Tanjungpinang, juga perencanaan pembangunan Kebun Raya Batam dan Funtasy Island semakin menambah destinasi wisata alam di Kepulauan Riau.

Wisata belanja

Batam City Square (BCS) di Kota Batam

Wisata belanja di Kepulauan Riau terdiri dari pusat perbelanjaan tradisional dan pusat perbelanjaan modern. Pusat perbelanjaan tradisional umumnya menjual seluruh kebutuhan sehari-hari contohnya Pasar Raya Kota Tanjungpinang, Pasar Bestari Bintan Center, Pasar Samarinda Batam, dan lainnya. Namun ada juga pasar yang hanya menjual beberapa jenis kebutuhan contohnya Pasar Tani Bintan hanya menjual hasil tani, Pusat Oleh-oleh Lagoi hanya menjual cinderamata khas Bintan, dan Pasar Seken Jodoh yang hanya menjual barang bekas.

DC Mall di Batam

Pusat perbelanjaan modern dapat ditemui di Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan, dan Kota Batam. Contoh pusat perbelanjaan modern di Tanjungpinang adalah Mall Ramayana Tanjung Pinang, Bestari Mall, dan Bintan Indah Mall. Di Kabupaten Bintan terdapat Anra Wika Square dan Plaza Lagoi Bay. Sementara di Batam, terdapat Nagoya Hill Superblock, Batam City Square, Mega Mall Batam Center, Top 100 Batuaji, dan DC Mall. Batam secara rutin mengadakan pesta diskon Batam Great Sale khususnya pada akhir tahun.

Wisata budaya

Kekayaan seni dan budaya di Kepulauan Riau menjadi salah satu objek wisata. Beberapa atraksi atau pagelaran seni yang ada di Kepulauan Riau antara lain teater Mak Yong, Wayang Bangsawan, teater Mendu, dan teater Lang-lang Buana. Tari Zapin juga menjadi tarian yang banyak disaksikan oleh para wisatawan. Untuk melihat wisata budaya Melayu, biasanya wisatawan mengunjungi Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang.

Beberapa kota di Kepulauan Riau juga mulai mengembangkan konsep karnaval fesyen. Karnaval fesyen terbesar di Kepulauan Riau adalah Kepri Fashion Carnival yang diadakan di Tanjungpinang. Sedangkan pekan fesyen terbesar di Kepulauan Riau adalah Kepri Fashion Week yang diadakan di Batam. Selain itu, Pemkot Tanjungpinang juga mengadakan Festival Kuliner & Karnaval Fesyen. Pemkot Batam juga mengadakan Batam International Fashion Week.

Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah di Ketapang, Tanjungpinang

Sejarah kebudayaan Indonesia dapat ditemui dari sejumlah museum yang ada. Di Tanjungpinang, terdapat 2 museum yaitu Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dan Museum Kandil Riau. Di Natuna, terdapat Museum Sri Serindit. Di Batam, terdapat Museum Mini Bulang Lintang. Sementara di Lingga, terdapat Museum Mini Linggam Cahaya. Pemerintah Kabupaten Bintan juga sedang membangun Museum Bahari di Pantai Trikora. Pemerintah Kota Batam juga sedang membangun Astaka MTQ Nasional Ke-XXV menjadi Museum Batam. Seluruh kebudayaan di Kepulauan Riau juga dikemas menjadi satu dalam Taman Budaya Raja Ali Haji di Senggarang, Tanjungpinang. Di Karimun, juga terdapat Taman Budaya Bukit Tembok.

Wisata keagamaan

Wisata keagamaan atau religi di Kepulauan Riau terdiri dari seluruh wisata religi untuk 6 agama resmi di Indonesia. Untuk umat Islam, wisata religi berupa masjid yang sering dikunjungi adalah Masjid Raya Sultan Riau, Masjid Agung Tanjungpinang (Masjid Keling), Masjid Agung Kepulauan Riau (Masjid Raya Dompak), Masjid Agung Batam, dan Masjid Agung Natuna. Mengunjungi makam-makam bersejarah juga sering dilakukan khususnya di Makam Engku Puteri dan Makam Raja Haji Fisabilillah. Umat Kristen dapat mengunjungi Gua Maria di Batam dan Trikora, Gereja Ayam yang bersejarah di Tanjungpinang, dan Makam Kristen Pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Umat Buddha dapat mengunjungi Vihara Avalokitesvara Graha yang merupakan vihara terbesar se-Asia Tenggara, Vihara Ksitigarbha Bodhisattva dengan seribu patung murid Buddha, Vihara Bahtra Sasana yang tertua di Kepulauan Riau, dan Patung Dewi Kwan Im di KTM Resort yang tertinggi se-Indonesia. Umat Hindu memiliki kesan tersendiri dengan mengunjungi beberapa pura di tanah Melayu contohnya Pura Agung Amertha Bhuana di Batam dan Pura Dharma Kerthi di Lagoi, Bintan. Umat Konghucu dapat mengunjungi wilayah Senggarang di Tanjungpinang yang terkenal dengan klenteng-klenteng tua contohnya Klenteng Pohon Bayan di Tanjungpinang, Kelenteng Moro di Karimun, Kelenteng Pek Kong di Lingga, dan Kelenteng Cetya Tridarma di Batam.

Wisata religi juga dapat dirasakan melalui ziarah ke makam-makam keramat seperti Makam Raja Ali Haji dan Makam Raja Haji Fisabilillah di pulau Penyengat, Makam Nong Isa dan Makam Temenggung Abdul Jamal di Batam, Makam Megat Kuning dan Makam Merah di Lingga, Makam Keramat Siantan di Kepulauan Anambas, Makam Si Badang di Karimun, juga Makam Bukit Batu dan Makam Muhayatsyah Tambelan di Bintan.

Wisata sejarah

Pulau Penyengat, salah satu destinasi wisata sejarah di Kepulauan Riau.

Sejarah masa Hindu-Buddha dapat dibuktikan dengan mengunjungi Prasasti Pasir Panjang yang berisi pemujaan terhadap sang Buddha di daerah Pasir Panjang, Karimun. Sejarah Kesultanan Lingga pada masa Islam dapat dilihat di pulau Penyengat dan di daerah Damnah di Daik, Lingga. Di daerah Pulau Penyengat, terdapat Istana Kantor, Perigi Putri, Gedung Mesiu atau Gedung Obat Bedil, Benteng Bukit Kursi, dan Balai Adat Indra Perkasa. Di daerah Damnah, terdapat situs dan replika Istana Damnah dan Bilik Pondasi 44. Selain itu, di Lingga juga terdapat Benteng Bukit Cening dan di Singkep terdapat Meriam Tegak. Sejarah kolonial Belanda dapat dirasakan dari arsitektur bangunan contohnya Gedung Hiburan Belanda dan Gedung Daerah di Tanjungpinang. Sejarah setelah kemerdekaan dapat dilihat di Kem pengungsi Galang, yang merupakan kem pengungsi warga Vietnam yang bermigrasi dari negaranya karena perang saudara. Bukti sejarah lainnya di Kepulauan Riau adalah Sumur Tua Pulau Buru dan Telaga Tujuh Hang Tuah di Karimun.

Monumen Perjuangan Raja Haji Fisabilillah di Tanjungpinang

Beberapa tugu peringatan dan monumen yang bersejarah di Kepulauan Riau adalah Tugu Pensil, Monumen Perjuangan Raja Haji Fisabilillah, dan Monumen Perjuangan Lanud Tanjungpinang di Tanjungpinang, Monumen Relief Antam Kijang dan Tugu Relief Bintan di Kijang (Bintan), Monumen 9 Pilar dan Tugu MTQ di Karimun, Monumen Keabsahan Pulau Berhala dan Tugu Mini Khatulistiwa di Lingga, juga Tugu Timah di Singkep. Di pulau Penyengat, Tanjungpinang juga sedang dibangun Monumen Bahasa.

Wisata hiburan & modern

Mega Wisata Ocarina di Batam merupakan wisata hiburan modern terbesar se-Kepulauan Riau. Areca Waterpark, Sunrise City Waterpark, Top 100 Batu Aji Waterpark, dan Bintan Indrasakti Bay Waterpark merupakan contoh wisata air modern di Tanjungpinang dan Batam. Tanjungpinang juga memiliki Tepi Laut yang merupakan waterfront city dan Taman Rekreasi Hanaria. Batam memiliki daerah Golden King atau Golden Prawn di Bengkong yang memiliki replika kapal Laksamana Cheng Ho, restoran, miniatur Indonesia, taman bermain, dan lainnya. Kepulauan Anambas memiliki sebuah waterfront city bernama Semen Panjang.

Wisata kehidupan malam dapat dirasakan di Tanjungpinang dengan mengunjungi DOPE, yang merupakan pub, bar, dan pusat hiburan malam di Tanjungpinang. Di sekeliling DOPE, terdapat kawasan Rimba Jaya atau Pinang Marina yang memiliki bazar, pasar malam, akau (foodcourt), swalayan, taman bermain, karaoke, lapangan futsal, dan lainnya.

Fasilitas

Enam dari tujuh kabupaten/kota di Kepulauan Riau sudah memiliki bandar udara. Bandar udara tersebut terdiri dari 2 bandara bertaraf internasional, yaitu Bandar Udara Hang Nadim, Batam dan Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang, juga 4 bandara domestik yaitu Bandar Udara Dabo, Bandar Udara Matak, Bandar Udara Ranai, dan Bandar Udara Sei Bati. Selain itu, 3 bandara sedang dibangun di Kepulauan Riau antara lain Bandara Busung dan Bandara Tambelan di Bintan, juga Bandara Letung di Kepulauan Anambas.

Bus umum di Batam Centre

Fasilitas transportasi darat sedang dikembangkan di Kepulauan Riau. Terminal Sei Carang di Tanjungpinang menjadi terminal bus utama Kepulauan Riau. Beberapa transportasi darat lain adalah ojek, angkot (Transport di Tanjungpinang), taksi, becak, dan becak motor. Kota Batam sedang melakukan pembangunan monorail yang diperkirakan selesai pada tahun 2016.

Pelabuhan Batam Centre, pelabuhan internasional di Batam tujuan Singapura dan Malaysia

Transportasi laut yang tersedia adalah kapal, speedboat, dan kapal roro. Kapal-kapal tradisional yang ada berupa perahu, sampan, pompong dan jong. Pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di Kepulauan Riau adalah Pelabuhan Sri Bintan Pura, Pelabuhan Nongsa, Pelabuhan Bulang Linggi, Pelabuhan Batam Centre, Pelabuhan Sekupang, dan Pelabuhan Telaga Punggur.

Fasilitas penginapan terus dikembangkan. Nongsa Point Marina Resort Batam di Batam, Angsana Resort & Spa, Banyan Tree Bintan, dan Nikoi Island Resort di Bintan merupakan contoh hotel berbintang lima di Kepulauan Riau.

Batam-Bintan menjadi salah satu destinasi MICE yang ditetapkan pemerintah Indonesia bersama 9 kota lainnya yakni Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Balikpapan, Medan, PadangBukittinggi, Makassar, dan Manadong seperti The 8th International Sumatera Indonesia Expo (SIE) 2012 dan Pekan Inovasi Sumatera di Sumatera Convention Center, Batam.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan desa wisata seperti Desa Wisata Sebong Pereh di Bintan, wilayah pengelolaan terumbu karang seperti di Senayang (Lingga), serta konservasi hutan mangrove di Bintan dan Batam.

 

 

 

 

Sosial Budaya Provinsi Riau

 

Masa prasejarah

Riau diduga telah dihuni sejak masa antara 10.000-40.000 SM. Kesimpulan ini diambil setelah penemuan alat-alat dari zaman Pleistosin di daerah aliran sungai Sungai Sengingi di Kabupaten Kuantan Singingi pada bulan Agustus 2009. Alat batu yang ditemukan antara lain kapak penetak, perimbas, serut, serpih dan batu inti yang merupakan bahan dasar pembuatan alat serut dan serpih. Tim peneliti juga menemukan beberapa fosil kayu yang diprakirakan berusia lebih tua dari alat-alat batu itu. Diduga manusia pengguna alat-alat yang ditemukan di Riau adalah pithecanthropus erectus seperti yang pernah ditemukan di Sangiran, Jawa Tengah. Penemuan bukti ini membuktikan ada kehidupan lebih tua di Riau yang selama ini selalu mengacu pada penemuan Candi Muara Takus di Kampar sebagai titik awalnya.

Masa pra-kolonial

Pada awal abad ke-16, Tome Pires, seorang penjelajah Portugal, mencatat dalam bukunya, Summa Oriental bahwa kota-kota di pesisir timur Sumatera antara suatu daerah yang disebutnya Arcat (sekitar Aru dan Rokan) hingga Jambi merupakan pelabuhan dagang yang dikuasai oleh raja-raja dari Minangkabau. Di wilayah tersebut, para pedagang Minangkabau mendirikan kampung-kampung perdagangan di sepanjang Sungai Siak, Kampar, Rokan, dan Indragiri, dan penduduk lokal mendirikan kerajaan-kerajaan semiotonom yang diberi kebebasan untuk mengatur urusan dalam negerinya, tetapi diwajibkan untuk membayar upeti kepada para raja Minangkabau. Satu dari sekian banyak kampung yang terkenal adalah Senapelan yang kemudian berkembang menjadi Pekanbaru, yang kini menjadi ibu kota provinsi.

Sejarah Riau pada masa pra-kolonial didominasi beberapa kerajaan otonom yang menguasai berbagai wilayah di Riau. Kerajaan yang terawal, Kerajaan Keritang, diduga telah muncul pada abad keenam, dengan wilayah kekuasaan diperkirakan terletak di Keritang, Indragiri Hilir. Kerajaan ini pernah menjadi wilayah taklukan Majapahit, namun seiring masukkan ajaran Islam, kerajaan tersebut dikuasai pula oleh Kesultanan Melaka. Selain kerajaan ini, terdapat pula Kerajaan Kemuning, Kerajaan Batin Enam Suku, dan Kerajaan Indragiri, semuanya diduga berpusat di Indragiri Hilir.

Masa kerajaan Melayu

Kesultanan Indragiri

Kesultanan Indragiri didirikan pada tahun 1298 oleh Raja Merlang I, yang uniknya tidak berkedudukan di Indragiri, melainkan di Melaka. Urusan pemerintahan diserahkan pada para pembesar tradisional. Baru pada masa kekuasaan Narasinga II sekitar tahun 1473, para raja Indragiri mulai menetap di pusat pemerintahannya di Kota Tua. Pada tahun 1815, dibawah Sultan Ibrahim, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Rengat, yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu. Pada masa inilah Belanda mulai campur tangan dengan urusan internal Indragiri, termasuk dengan mengangkat seorang Sultan Muda yang berkedudukan di Peranap.

Dengan adanya traktat perdamaian dan persahabatan yang ditandatangani pada tanggal 27 September 1938 antara Indragiri dengan Belanda, maka Kesultanan Indragiri menjadi zelfbestuur lindungan Belanda, dipimpin seorang controleur yang memegang wewenang mutlak terhadap kekuasaan lokal.

Kesultanan Siak

Sultan Siak bersama para tetua adat di afdeling Bengkalis pada 1888. Siak menyerahkan Bengkalis kepada Belanda pada tahun 1873.

Kesultanan Siak Sri Inderapura didirikan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung pada tahun 1723. Siak segera saja menjadi sebuah kekuatan besar yang dominan di wilayah Riau: atas perintah Raja Kecil, Siak menaklukkan Rokan pada 1726 dan membangun pangkalan armada laut di Pulau Bintan. Namun keagresifan Raja Kecil ini segera ditandingi oleh orang-orang Bugis pimpinan Yang Dipertuan Muda dan Raja Sulaiman. Raja Kecil terpaksa melepaskan pengaruhnya untuk menyatukan kepulauan-kepulauan di lepas pantai timur Sumatera di bawah bendera Siak, meskipun antara tahun 1740 hingga 1745 ia bangkit kembali dan menaklukkan beberapa kawasan di Semenanjung Malaya.

Di akhir abad ke-18, Siak telah menjelma menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Pada tahun 1761, Sultan Abdul Jalil Syah III mengikat perjanjian ekslusif dengan Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya, serta bantuan dalam bidang persenjataan. Walau kemudian muncul dualisme kepemimpinan di dalam tubuh kesultanan yang awalnya tanpa ada pertentangan di antara mereka, Raja Muhammad Ali, yang lebih disukai Belanda, kemudian menjadi penguasa Siak, sementara sepupunya Raja Ismail, tidak disukai oleh Belanda, muncul sebagai Raja Laut, menguasai perairan timur Sumatera sampai ke Laut Cina Selatan, membangun kekuatan di gugusan Pulau Tujuh. Tahun 1780, Siak menaklukan daerah VOC, pada tahun 1784 Siak membantu tentara Belanda menyerang dan menundukkan Selangor, dan sebelumnya mereka telah bekerjasama memadamkan pemberontakan Raja Haji Fisabilillah di Pulau Penyengat.

Masa kolonial Belanda

Lukisan pesisir Riau oleh seorang pelukis Belanda, sekitar tahun 1850.

Invasi Belanda yang agresif ke pantai timur Sumatera tidak dapat dihadang oleh Siak. Belanda mempersempit wilayah kedaulatan Siak, dengan mendirikan Keresidenan Riau (Residentie Riouw) di bawah pemerintahan Hindia-Belanda yang berkedudukan di Tanjung Pinang. Para sultan Siak tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka telah terikat perjanjian dengan Belanda. Kedudukan Siak semakin melemah dengan adanya tarik-ulur antara Belanda dan Inggris yang kala itu menguasai Selat Melaka, untuk mendapatkan wilayah-wilayah strategis di pantai timur Sumatera. Para sultan Siak saat itu terpaksa menyerah kepada kehendak Belanda dan menandatangani perjanjian pada Juli 1873 yang menyerahkan Bengkalis kepada Belanda, dan mulai saat itu, wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi kekuasaan Siak satu demi satu berpindah tangan kepada Belanda. Pada masa yang hampir bersamaan, Indragiri juga mulai dipengaruhi oleh Belanda, namun akhirnya baru benar-benar berada di bawah kekuasaan Batavia pada tahun 1938. Penguasaan Belanda atas Siak kelak menjadi awal pecahnya Perang Aceh.

Di pesisir, Belanda bergerak cepat menghapuskan kerajaan-kerajaan yang masih belum tunduk. Belanda menunjuk seorang residen di Tanjung Pinang untuk mengawasi daerah-daerah pesisir, dan Belanda berhasil memakzulkan Sultan Riau-Lingga, Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah pada Februari 1911.

Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, Riau menjadi salah satu sasaran utama untuk diduduki. Bala tentara Jepang menduduki Rengat pada 31 Maret 1942.

Era kemerdekaan

Revolusi nasional dan Orde Lama

Pada awal kemerdekaan Indonesia, bekas wilayah Keresidenan Riau dilebur dan tergabung dalam Provinsi Sumatera yang berpusat di Bukit Tinggi. Seiring dengan penumpasan simpatisan PRRI, Sumatera Tengah dimekarkan lagi menjadi tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Ketika itu, Sumatera Tengah menjadi basis terkuat dari PRRI, situasi ini menyebabkan pemerintah pusat membuat strategi memecah Sumatera Tengah dengan tujuan untuk melemahkan pergerakan PRRI.  Selanjutnya pada tahun 1957, berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 tahun 1957, Sumatera Tengah dimekarkan menjadi tiga provinsi yaitu Riau, Jambi dan Sumatera Barat. Kemudian yang menjadi wilayah provinsi Riau yang baru terbentuk adalah bekas wilayah Kesultanan Siak Sri Inderapura dan Keresidenan Riau serta ditambah Kampar yang sebelumnya pada masa pendudukan tentara Jepang dimasukkan ke dalam wilayah Rhio Shu.

Riau sempat menjadi salah satu daerah yang terpengaruh Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia pada akhir 1950-an. Pemerintah pusat menggelar Operasi Tegas dibawah pimpinan Kaharuddin Nasution, yang kelak menjadi gubernur provinsi ini, dan berhasil menumpas sisa-sisa simpatisan PRRI.

Setelah situasi keamanan berangsur pulih, pemerintah pusat mulai mempertimbangkan untuk memindahkan ibu kota provinsi dari Tanjung Pinang ke Pekanbaru, yang secara geografis terletak di tengah-tengah. Pemerintah akhirnya menetapkan Pekanbaru sebagai ibu kota provinsi yang baru pada 20 Januari 1959 lewat Kepmendagri No. Desember 52/I/44-25.

Masa Orde Baru

Setelah jatuhnya Orde Lama, Riau menjadi salah satu tonggak pembangunan ekonomi Orde Baru yang kembali menggeliat. Pada tahun 1944, ahli geologi NPPM, Richard H. Hopper dan Toru Oki bersama timnya menemukan sumur minyak terbesar di Asia Tenggara yaitu di Minas, Siak. Sumur ini awalnya bernama Minas No. 1. Minas terkenal dengan jenis minyak Sumatera Light Crude (SLC) yang baik dan memiliki kadar belerang rendah. Pada masa awal 1950-an, sumur-sumur minyak baru ditemukan di Minas, Duri, Bengkalis, Pantai Cermin, dan Petapahan. Eksploitasi minyak bumi di Riau dimulai di Blok Siak pada September 1963, dengan ditandatanganinya kontrak karya dengan PT California Texas Indonesia (kini menjadi Chevron Pacific Indonesia). Provinsi ini sempat diandalkan sebagai penyumbang 70 persen dari produksi minyak nasional pada tahun 1970-an.

Riau juga menjadi tujuan utama program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintahan Soeharto. Banyak keluarga dari Pulau Jawa yang pindah ke perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang baru dibuka di Riau, sehingga membentuk suatu komunitas tersendiri yang kini berjumlah cukup signifikan.

Era reformasi

Pada tahun 1999, Saleh Djasit terpilih menjadi putra daerah asli Riau kedua (selain Arifin Achmad) dan pertama dipilih oleh DPRD Provinsi sebagai gubernur. Pada tahun 2003, mantan Bupati Indragiri Hilir, Rusli Zainal, terpilih menjadi gubernur, dan terpilih kembali lewat pemilihan langsung oleh rakyat pada tahun 2008. Mulai tanggal 19 Februari 2014, Provinsi Riau secara resmi dipimpin oleh gubernur, Annas Maamun. Baru memimpin 7 Bulan, Annas Maamun dilengserkan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Menangkap Tangan Annas Maamun dalam kasus Alih Fungsi Lahan di Kabupaten Kuansing. Saat Ini Provinsi Riau di pimpin Oleh Plt yaitu Arsyadjuliandi Rachman (Andi Rachman).

Setelah kejatuhan Orde Baru, Riau menjadi salah satu sasaran provinsi yang akan dimekarkan. Pada tahun 2002, pemerintah menetapkan pemekaran Kepulauan Riau yang beribukota di Tanjung Pinang, dari provinsi Riau.

Suku di Provinsi Riau:

  1. Suku Sakai.

 

 

Investasi Provinsi Riau

Statistik perdagangan luar negeri meliputi barang yang diekspor ke luar negeri dan yang diimpor dari luar negeri melalui wilayah Provinsi Riau. Salah satu sumber alam Riau yang cukup berperan menunjang ekspor negara kita adalah minyak bumi dan hasil tambang lainnya. Ekspor Provinsi Riau tahun 2014 termasuk minyak bumi tercatat sebesar US$ 21.865,17 juta. Perkembangan ekspor Riau dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2014 cukup baik. Yaitu dari US $8.694,71 juta pada tahun 2006 menjadi US $21.865,17 juta pada tahun 2014. Dibanding tahun 2013, nilai ekspor tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 24,54 persen. Sementara itu nilai ekspor Riau terbesar dimuat pada pelabuhan Dumai yaitu sebesar US $17.746,30 juta (81,16 persen), pelabuhan Buatan sebesar US $ 1.651,82 juta (7,55 persen) dan pelabuhan Perawang sebesar US $ 1.699,95 juta (7,77 persen).

Pertumbuhan ekonomi dilihat dari angka PDRB atas dasar harga berlaku tanpa migas, maka telah terjadi kenaikan dari 296,45 triliyun rupiah pada tahun 2012 meningkat menjadi 340,63 triliyun rupiah pada tahun 2013. Demikian pula angka PDRB atas dasar harga konstan 2000 tanpa migas tahun 2013 mencapai sebesar 60,01 triliyun rupiah yang lebih tinggi dari tahun 2012 yakni sebesar 56,54 triliyun rupiah. Begitu pula dengan PDRB atas dasar harga berlaku dengan migas menunjukkan peningkatan dari 469,07 triliyun rupiah pada tahun 2012 menjadi 522,24 triliyun rupiah pada tahun 2013. Peningkatan tersebut juga terjadi pada PDRB atas dasar harga konstan 2000 dengan migas, dari 106,31 triliyun rupiah pada tahun 2012 menjadi 109,07 triliyun rupiah pada tahun 2013.

Kelautan

Sebagai provinsi kepulauan, wilayah ini terdiri atas 96 % lautan. Kondisi ini sangat mendukung bagi pengembangan usaha budidaya perikanan mulai usahapembenihan sampai pemanfaatan teknologi budidaya maupun penangkapan. Di Kabupaten Karimun terdapat budidaya ikan kakap, budidaya rumput laut, kerambah jaring apung. Kota Batam, Kabupaten Bintan, Lingga, dan Natuna juga memiliki potensi yang cukup besar di bidang perikanan. Selain perikanan tangkap di keempat kabupaten tersebut, juga dikembangkan budidaya perikanan air laut, dan air tawar. Di kota Batam tepatnya di Pulau Setoko, bahkan terdapat pusat pembenihan ikan kerapu yang mampu menghasilkan lebih dari 1 juta benih setahunnya. Di Kota Batam tepatnya didaerah Telaga Punggur, ada satu pelabuhan perikanan yang dikelola murni oleh swasta .

Peternakan

Potensi di bidang peternakan difokuskan pada ternak itik, ternak sapi, ternak ayam, ternak babi, dan ternak kambing yang umumnya masih dilaksanakan oleh peternakan kecil.

Pertanian

Hampir diseluruh wilayah kabupaten/kota di provinsi Kepulauan Riau berpotensi untuk diolah menjadi lahan pertanian, dan peternakan mengingat tanahnya subur. Sektor pertanian merupakan sektor yang strategis terutama di Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, dan Kota Batam. Disamping palawija, dan holtikultura, tanaman lain seperti kelapa, kopi, gambir, nenas serta cengkeh sangat baik untuk dikembangkan. Demikian juga di kabupaten Bintan dan Lingga sangat cocok untuk ditanami buah-buahan, dan sayuran. Di beberapa pulau sangat cocok untuk perkebunan kelapa sawit. Salah satu perkebunan kelapa sawit terbesar di Kepulauan Riau terdapat di kawasan Tirta Madu.

Pariwisata

Pulau Penyengat dilihat dari kota Tanjung Pinang.

Provinsi Kepulauan Riau merupakan gerbang wisata dari mancanegara kedua setelah Pulau Bali.  Objek wisata di provinsi Kepulauan Riau antara lain adalah wisata pantai yang terletak di berbagai kabupaten, dan kota. Pantai Melur, Pulau Abang dan Pantai Nongsa di kota Batam, Pantai Pelawan di kabupaten Karimun, Pantai Lagoi, Pantai Tanjung Berakit, Pantai Trikora, dan Bintan Leisure Park di kabupaten Bintan. Kabupaten Natuna terkenal dengan wisata baharinya seperti snorkeling.

Selain wisata pantai dan bahari, provinsi Kepulauan Riau juga memiliki objek wisata lainnya seperti cagar budaya, makam-makam bersejarah, tarian-tarian tradisional serta event-event khas daerah. Di kota Tanjungpinang terdapat Pulau Penyengat sebagai pulau bersejarah karena di pulau ini terdapat masjid bersejarah, dan makam-makam Raja Haji Fisabililah dan Raja Aji Haji yang kedua-duanya adalah pahlawan nasional.

Kawasan wisata di Kepulauan Riau juga mendapat banyak penghargaan. Treasure Bay di Lagoi, Bintan merupakan kolam renang air asin terbesar di Asia Tenggara, Patung Dewi Kwan Im di KTM Resort yang tertinggi se-Asia Tenggara, Vihara Avalokitesvara Graha yang terbesar se-Asia Tenggara, Patung Dewi Kwan Im di dalam Vihara Avalokitesvara Graha merupakan patung Dewi Kwan Im terbesar yang terdapat dalam sebuah ruangan se-Indonesia, Pulau Bawah di Anambas yang termasuk pulau tropis terbaik Asia versi CNN, Pantai Sisi di Natuna yang termasuk pantai alami terbaik di dunia versi majalah Island, dan Funtasy Island yang merupakan kawasan agrowisata terbesar di dunia.

Transportasi

Kapal speedboat yang menghubungkan pulau Batam (Pelabuhan Telaga Punggur) dan pulau Bintan.

Sistem transportasi yang terdapat di provinsi ini sangat beragam, sesuai dengan kondisi alam, dan jarak antar wilayahnya. Adapun jenis transportasi yang terdapat di provinsi ini adalah:

Bandar Udara Hang Nadim, Batam

Transportasi laut

  • Perahu motor kecil (pompong), banyak digunakan oleh masyarakat di kawasan pesisir (hinterland).
  • Kapal ferry (MV), merupakan transportasi utama antar kota (Tanjungpinang – Batam – Karimun – Lingga).
  • SpeadBoat, merupakan transportasi boat cepat, biasa digunakan masyarakat untuk tujuan Tanjungpinang – Lobam – Batam.
  • KM. Perintis, merupakan salah satu transportasi laut menuju ke dan dari kabupaten Natuna, kepulauan Anambas, juga kepulauan Tambelan.
  • Pelni merupakan salah satu transpotasi masyarakat Karimun, Bintan, dan Batam menuju daratan Sumatera atau pulau Jawa.
  • ASDP atau Kapal RoRo (Roll On Roll Off) merupakan salah satu transportasi laut utama bagi masyarakat Tanungpinang, Bintan, Batam, Karimun, dan Lingga.

Transportasi darat

  • Taksi, merupakan salah satu alat transportasi darat utama di Kota Batam, selain itu merupakan salah satu angkutan umum dari kota Tanjungpinang menuju Kijang (Bintan Timur, Kabupaten Bintan).
  • Angkutan kota (angkot), memiliki perbedaan sebutan di masing-masing daerah, di kota Tanjungpinang sebutan untuk angkot adalah “Transport”, sedangkan di kota Batam disebut “Metro Trans”.
  • Bus, untuk Kota Batam, bus sendiri memiliki beberapa jenis, di antaranya: Damri, dan bus kota (Busway). Di Kota Tanjungpinang, bus digunakan oleh masyarakat untuk menuju Tanjunguban (Bintan Utara, Kabupaten Bintan). Selain itu juga terdapat bus khusus anak sekolah.
  • Becak motor, di kawasan pesisir (hinterland) seperti kawasan Belakang Padang, dan Pulau Penyengat terdapat sebuah transportasi darat yang cukup unik, yakni Becak Motor.
  • Ojek.
  • Pembangunan monorail di Kota Batam

Transportasi udara

Provinsi ini memiliki 5 bandara udara, yakni:

  • Bandara Internasional Hang Nadim (Batam), Bandara Raja Haji Fisabililah (Tanjungpinang), Bandara Sei Bati di Karimun, Bandara Ranai di Natuna, Bandara Dabo di Dabo Singkep (Lingga) dan Bandara Matak di Matak (Kepulauan Anambas).
  • Bandara Internasional Hang Nadim (Batam) merupakan sebuah kebanggaan bagi provinsi Kepulauan Riau, karena bandara ini mempunyai landasan terpanjang di Asia Tenggara.
  • Dalam waktu dekat, sebuah bandara baru akan dibangun di provinsi ini yang terletak di Kabupaten Bintan Utara. Bandara baru ini dinamakan Bandara Busung yang konon dikabarkan akan menempati luas area sampai 170 hektar. Bandara baru juga akan dibangun di Tambelan, Bintan dan Letung, Kepulauan Anambas.

Pers dan media massa

Tanjung Balai, kabupaten Karimun
  1. Televisi
    • Batam Televisi (BTV)
    • Semenanjung Televisi (STV)
    • RTV Batam
    • Barvis TV
    • Urban TV (UTV)
    • Barelang TV
    • Tanjungpinang TV (TVTPI)
    • Hang TV
    • Ficom TV
    • Bintan Vision TV (Bintan Channel)
    • Kepri Cyber School TV (KCSTV)
    • Natuna TV
    • Karimun TV (KTV)
  2. Koran Harian
    • Anambas Pos
    • Batam Pos
    • Tribun Batam
    • Pos Metro Batam
    • Harian Haluan Kepri (dulu bernama Harian Sijori Mandiri)
    • Harian Tanjungpinang Pos (dulu bernama Batam News)
    • Kepri News
    • Bintan News
    • Koran Peduli
    • Kepri Pos
    • Koran Kepulauan
    • Koran Komunitas Karimun
    • Koran SINDO Batam
  3. Portal Media Harian
    • www.batamindependent.com
    • www.cy-beritabatam.com
    • www.batamgo.com
    • www.beritatanjungpinang.com
    • www.isukepri.com
    • karimuntoday.com
    • www.kepridays.com
    • www.kepripost.com
    • www.kepribangkit.com
    • www.kepriupdate.com
    • www.kepritoday.com
    • www.kepri.info
    • www.kepri.tv
    • www.lenteraindonesia.com
    • www.linggapos.com
    • www.suarakepri.com
  4. Koran Mingguan/Dwi Mingguan/Bulanan
    • Koran Buruh
    • Putra Kelana
    • Radar Kepri
    • Swara Mahasiswa
  5. Majalah/Tabloid
    • Batamag
    • Batamlook
    • Bharindo Riau Kepri
    • Brantas News
    • Bintan Indonesia
    • Kepri Terkini
    • Lentera Kepri
    • Obor Rakyat
    • Olahraga Futsal Batam
    • Pendidikan Guru
    • Sapujagat
    • Sinar Pelangi Tanjungpinang
    • Skola
    • Spirit Kepri
    • SYI’AR
    • Tabloid Islam
    • Karimun Corner Magz
    • c-Majalah (Anambas Creative)
    • Geliga
    • Majalah Karimun
    • Metro Kepri
    • MySoul
    • Pena Kepri
    • Satu Tekad
    • Tiro Biro Karimun
    • Warta Karimun
  6. Radio
    • RRI Prog1 (AM-FM) – Tanjungpinang
    • RRI Prog2 (FM) – Tanjungpinang
    • RRI Batam – Batam
    • RRI Prog1 Ranai – Natuna
    • RRI Prog2 Ranai – Natuna
    • Club FM – Tanjungpinang
    • Bis FM – Tanjungpinang
    • Iguana FM – Tanjungpinang
    • Mercy FM – Tanjungpinang
    • Pandawa FM – Tanjungpinang
    • Green Radio – Tanjungpinang
    • Aljabar FM (Serumpun Radio) – Batam
    • Batam FM – Batam
    • Zoo FM – Batam
    • Kei FM – Batam
    • BiGS FM – Batam
    • GFan FM – Batam
    • Discovery Minang FM (Radio Elshinta) – Batam
    • Gress Radio – Batam
    • Erabaru FM – Batam
    • Salam FM – Batam
    • Sing FM – Batam
    • STB FM – Batam
    • Saluran Batam FM – Batam
    • Seila FM – Batam
    • Sindo Trijaya FM – Batam
    • Discovery Minang FM – Batam
    • Hang FM – Batam
    • Idola FM – Batam
    • Ramako FM – Batam
    • O-Nine FM – Tanjungpinang
    • Swara Gemilang Nuansa Persada FM – Tanjungpinang
    • Bunda Tanah Melayu FM – Lingga
    • Bintan Radio – Bintan
    • Radio Skansa Bintan – Bintan
    • Azam FM – Karimun
    • Canggai Putri FM – Karimun
    • Bumi Berazam FM – Karimun
    • Berlian FM – Anambas
    • Gema Anambas FM – Anambas
    • Natuna FM – Natuna
    • Pradana FM – Natuna

Sumber : Riau Dalam Angka 2015

 

 

 

Sumber Daya Alam Provinsi Riau

 

Luas lahan di Provinsi Riau berdasarkan data yang dikumpulkan Badan Pertanahan Nasional mengalami perubahan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2014 Luas lahan basah Provinsi Riau 8.707.412,90 hektar dan luas lahan kering mencapai 179.749,56 hektar, serta lahan perairan seluas 2.095.496,54 hektar.Sub sektor tanaman pangan terdiri dari tanaman padi (padi sawah dan padi ladang), jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Data tanaman pangan meliputi luas panen dan produksi tanaman bahan makanan, sayursayuran dan buah-buahan. Selama periode 2014 luas panen tanaman padi mengalami sedikit penurunan sebesar 10,53 persen yaitu dari 118.518 hektar menjadi 106.037 hektar. Panen padi sawah terluas di Kabupaten Indragiri Hilir, sementara panen padi ladang terluas di Kabupaten RokanHulu.

Pada tahun 2014 ini, produksi tanamanpadi sebesar 385.475 ton, terdiri dari337.233 ton padi sawah dan 48.242 tonpadi ladang. Gambaran produksi tanaman padi sawah, padi ladang dan komoditi palawija lainnya di Provinsi Riau dapat dilihat pada Tanaman padi terkonsentrasi diKabupaten Rokan Hilir, KabupatenIndragiri Hilir, dan Kabupaten Pelalawan. Produksi sayur-sayuran dan buahbuahan berdasarkan angka tetap hasil daripengolahan SPH-SBS RiauPerkebunan mempunyai kedudukanyang penting di dalam pengembangan pertanian baik di tingkat nasional maupun regional. Tanaman perkebunan yang merupakan tanaman perdagangan yang Cukup potensial di daerah ini ialah kelapa sawit, karet, kelapa, kopi dan pinang. Data luas dan produksi tanaman perkebunan tahun 2014 yang dikumpulkan dari Dinas Perkebunan menunjukkan adanya perubahan luas areal tanaman pada komoditi kelapa sawit dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Luas areal perkebunan kelapa sawit 2.411.819 hektar, kelapa 516.895 hektar, karet 502.906 hektar dan kopi 7.763 hektar dengan produksi tanaman kelapa sawit 7.561.293 ton, kelapa 421.653 ton, karet 367.260 tondan kopi 2.465 ton.

Pembangunan sub sektor peternakan tidak hanya untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak dalam usaha memperbaiki gizi masyarakat tetapi juga untuk meningkatkan pendapatan peternak. Populasi ternak pada tahun 2014 tercatat: sapi 217.652 ekor, kerbau 43.163 ekor, sapi perah 143 ekor, kambing 184.899 ekor, domba 8.242 ekor, dan babi 47.324 ekor. Informasi lain yang diperoleh dari Dinas Peternakan adalah jumlah ternak yang dipotong. Pada tahun 2014 tercatat sebanyak 56.245 ekor sapi, 10.577 ekor kerbau, 55.188 ekor kambing, 1.036 ekor domba dan 31.182 ekor babi. Sementara ituproduksi daging sapi tahun 2014 sebesar 9.297 ton. Sedangkan produksi telur pada tahun 2014 sebanyak 4.360.928 butir yang berasal dari ayam petelur, ayam kampungdan itik.

Produksi perikanan di Provinsi Riau sebagian besar berasal dari perikanan laut. Data yang bersumber dari Dinas Perikanan dan Kelautan menunjukkan bahwa pada tahun 2014, dari sejumlah 211.342,1 ton total produksi ikan, sebanyak 107.306,2 tonatau 50,77 persen merupakan hasil perikanan laut sedangkan 104.035,9 ton hasil dari perairan umum, tambak, kolam keramba, keramba, sawah, tambak dan jaring apung. Luas hutan berdasarkan Laporan Dinas Kehutanan Provinsi Riau adalah 9,04 juta hektar. Bila dirinci menurut fungsinya seluas 234.015 hektar (2,59 persen) merupakan hutan lindung, kemudian 2.331.891 hektar (25,80 persen) adalah hutan produksi tetap, 1.031.600 hektar (11,42 persen) adalah hutan produksi terbatas dan 633.420 hektar (7,00 persen) adalah hutan suaka alam.

Produksi Minyak Bumi di Provinsi Riau, pada tahun 2014 sebanyak 119,43 juta barel. Di samping minyak mentah, sumber daya alam yang potensi lainnya adalah gambut dan batubara.

 

 

Riau

Alamat Jln. Jenderal Sudirman No. 460, Pekanbaru
Telepon (0761) 47367, 47368
Fax
(0761) 33725
Email
Website www.riau.go.id

Sosial Budaya Riau

Suku Mandailing Suku melayu riau

Pelayanan Riau