Indonesia.go.id - Memperluas Pasar Produk Perikanan Indonesia di Jepang

Memperluas Pasar Produk Perikanan Indonesia di Jepang

  • Administrator
  • Selasa, 26 April 2022 | 13:53 WIB
  • 0
PERDAGANGAN
  Paviliun Indonesia dalam The 19th Seafood Show Osaka 2022. Indonesia menjadi satu-satunya peserta dari luar Jepang yang mengikuti pameran. KJRI OSAKA
Ikut dalam pameran The19th Seafood Show Osaka 2022, Indonesia berpeluang meningkatkan pangsa pasar produk perikanan di Jepang.

Pada pertengahan April, Indonesia menjadi bagian dari pameran The 19th Seafood Show Osaka 2022 yang berlangsung di ATC Hall Osaka, Jepang. Kehadiran Indonesia merupakan upaya penetrasi produk perikanan dan hasil laut ke Jepang.

Partisipasi Indonesia pada ajang ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Perdagangan dengan Kementerian Luar Negeri, khususnya Konsulat Jenderal RI (KJRI) Osaka, dan Kedutaan Besar RI (KBRI) Tokyo. Partisipasi dikoordinasikan Tim Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka dan Tim Ekonomi KJRI Osaka.

Pada pameran yang digelar 13--14 April 2022 itu, Paviliun Indonesia menempati lahan seluas 24 m2 atau enam kali lebih luas dari keikutsertaan di tahun sebelumnya. Paviliun Indonesia menghadirkan sembilan perusahaan dari berbagai daerah di Indonesia. Perusahaan tersebut yakni PT Sriwijaya Karya Sejahtera, PT Edmar Mandiri Jaya, PT Bartuh Langgeng Abadi, PT Bali Maya Permai, PT Adipatria Samudra Lestari, PT Jawa Suisan Indah, CV Anugerah Artha Abadi, CV Giovanni Sukses Makmur, serta Pramesti Malima Energi Fokus Sejahtera.

Salah satu peserta pameran, yaitu CV Anugerah Artha Abadi merupakan peserta program Export Coaching Program (ECP) Kementerian Perdagangan. Perusahaan ini menampilkan produk surimi dari ikan toyori asal Jawa Timur.

Produk unggulan Paviliun Indonesia, antara lain, udang black tiger asal Papua, unagi kabayaki asal Sukabumi, gurita dan tuna sirip kuning dari Surabaya, ikan teri nasi atau anchovy dari Jepara, udang vanname dari Kalimantan, dan ikan kalengan dari Bali.

“Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan bersinergi melakukan promosi produk-produk perikanan unggulan Indonesia kepada publik Jepang. Kami menghadirkan sembilan pelaku usaha dari Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua dengan produk-produk unggulannya,” ungkap Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) di Osaka Diana ES Sutikno.

The 19th Seafood Show Osaka 2022 merupakan pameran produk perikanan terbesar di wilayah Jepang bagian barat (Kansai). Pameran diikuti sekitar 400 importir maupun retailer yang berdomisili di Jepang. Pada pameran kali ini Indonesia menjadi satu-satunya peserta dari luar Jepang.

Pameran ini juga menjadi tindak lanjut pelaksanaan Foodex Tokyo 2022 dan menjadi rangkaian promosi yang dilakukan perwakilan perdagangan di Jepang, khususnya untuk produk makanan minuman perikanan Indonesia. Konjen Diana menambahkan, partisipasi ini merupakan momentum tepat untuk meningkatkan pangsa pasar produk perikanan Indonesia di Jepang, khususnya di Kansai. “Terlebih, Pemerintah Jepang dan prefektur di dalamnya saat ini ingin mewujudkan destinasi halal dan ramah muslim menjelang pelaksanaan Osaka World Expo 2025,” katanya.

Sedangkan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi mengatakan, Jepang merupakan salah satu negara dengan konsumsi produk perikanan terbesar di dunia dengan total nilai impor dari seluruh dunia mencapai lebih dari USD9,9 miliar. Partisipasi Indonesia dalam pameran ini menjadi langkah tepat untuk menggebrak dan meningkatkan volume ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang.

Indonesia merupakan negara pemasok hasil laut dan perikanan ke-11 bagi Jepang dengan pangsa pasar sebesar 4 persen. Pada 2021, total nilai transaksi ekspor sektor ini ke Jepang tercatat sebesar USD433,8 juta atau naik 3,19 persen dibanding tahun sebelumnya. “Jepang merupakan negara tujuan utama ekspor tuna sirip kuning segar dan dingin asal Indonesia. Sejak 2018 kontribusi ekspor ke Jepang selalu di atas 80 persen dari total ekspor Indonesia ke seluruh dunia,” ungkap Didi.

Didi menyebut, peningkatan pangsa pasar tuna sirip kuning segar dan dingin asal Indonesia ke Jepang terus ditingkatkan melalui inovasi produk. “Salah satunya dengan memperkenalkan tuna sirip kuning kiriotoshi/cut off yang dihadirkan dalam Paviliun Indonesia,” imbuhnya.

Perlu diketahui, sejak Januari – Oktober 2021 nilai ekspor produk perikanan mencapai USD4,56 miliar atau naik 6,6% dibanding periode yang sama pada 2020. "Pada periode tersebut nilai impor mencapai USD408 juta, sehingga neraca perdagangan mengalami surplus USD4,15 miliar atau meningkat 5,8% dibanding periode yang sama tahun 2020," terang Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Artati Widiarti saat refleksi akhir tahun pada 8 Desember 2021.

Angka tersebut dihasilkan dari komoditas ekspor utama yakni udang (40%), tuna-cakalang-tongkol (13%), rajungan-kepiting (11%), cumi-sotong-gurita (10%), dan rumput laut (6%). Adapun negara tujuan ekspor utama adalah Amerika Serikat (45%), Tiongkok (15%), Jepang (11%), ASEAN (9%), dan Uni Eropa (6%). Dan diperkirakan nilai ekspor produk perikanan tahun 2021 sebesar USD5,45 miliar.

Angka tersebut lebih besar dibanding 2020. Berdasarkan data yang dirilis oleh ITC Trademap, nilai ekspor produk perikanan Indonesia tahun 2020 mencapai USD5,2 miliar atau tumbuh positif 5,7% dibandingkan tahun 2019. Berbanding terbalik dengan Indonesia, sebagian besar negara eksportir utama produk perikanan dunia mengalami penurunan cukup siginifikan dibanding 2019, seperti Tiongkok turun 7,8%, Norwegia turun 7,5%, Vietnam turun 2,1%, India turun 15,1%, Thailand turun 2,2%, dan Ekuador turun 1,5%.

Artati pada Agustus 2021 pernah menjelaskan, Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor produk perikanan dunia dengan rata-rata nilai ekspor tahun 2016--2020 masing-masing sebesar USD23,08 miliar, USD15,26 miliar dan USD13,80 miliar. Dalam kurun waktu tersebut, tren impor Amerika Serikat dan Tiongkok cenderung positif dengan peningkatan masing-masing sebesar 2,5% dan 15,5%, sedangkan impor Jepang mengalami penurunan sebesar 1,4%. Lebih lanjut, pangsa pasar produk perikanan Indonesia di ketiga pasar utama dimaksud mengalami peningkatan 4,6%, 1,3%, dan 6,2%.

Jika dilihat berdasarkan komoditasnya berdasarkan data ITC Trademap, udang masih menjadi komoditas unggulan disusul tuna-cakalang (TCT) dan cumi-sotong-gurita (CSG), rajungan-kepiting dan rumput laut. Selama tahun 2020, nilai ekspor udang Indonesia mencapai USD2,04 miliar atau 8,8% terhadap nilai impor total udang dunia. Sedangkan, TCT sebesar USD724 juta (5,0%), CSG sebesar USD509 juta (6,0 %), rajungan-kepiting sebesar USD368 juta (6,8 %), dan rumput laut sebesar USD280 juta (11,4 %).

Direktur Pemasaran Kementerian KKP, Machmud, dalam laman resmi https://kkp.go.id/ mengungkapkan, secara kumulatif periode Januari–Juni 2021, nilai ekspor produk perikanan mencapai USD2,6 miliar atau naik 7,3% dibanding periode yang sama tahun 2020 dengan surplus neraca perdagangan sebesar USD2,3 miliar atau naik 6,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan hingga akhir tahun 2021, nilai ekspor produk perikanan USD6,05 miliar.

Machmud menyampaikan, nilai ekspor produk perikanan pada Juni 2021 mencapai USD464,2 juta atau naik 24,3% dibanding Mei 2021. Angka ini juga meningkat 17,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun negara tujuan ekspor komoditas perikanan, di antaranya, Amerika Serikat (AS) yang membukukan transaksi sebesar USD1,1 miliar atau 44,4% dari total nilai ekspor.

Lalu disusul Tiongkok sebesar USD382,9 juta atau 14,8% dari nilai ekspor total dan Jepang sebesar USD278,9 juta (10,8%). Kemudian negara-negara ASEAN sebesar USD270,1 juta (10,4%), Uni Eropa sebesar USD132,0 juta (5,1%), dan Australia sebesar USD55,2 juta (2,1%).

Udang menjadi komoditas ekspor utama Indonesia. Nilai ekspor komoditas ini mencapai USD1 miliar atau 40,1% terhadap total nilai ekspor. Kemudian tuna-cakalang-tongkol sebesar USD334,7 juta (12,9%), cumi-sotong-gurita sebesar USD268,6 juta (10,4%), rajungan-kepiting sebesar USD256,6 juta (9,9%), rumput laut sebesar USD144,6 juta (5,6%), dan layur sebesar USD44,2 juta (1,7%).

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari