Bahasa | English


KULINER

Kawa Daun, Buah Revolusi Kopi di Sumbar

10 December 2018, 09:43 WIB

Diolah bak teh, kawa daun yang berasal dari daun kopi robusta yang diolah sedemikian rupa, hingga menjadi minuman khas dengan kenikmatan luar biasa.


Kawa Daun, Buah Revolusi Kopi di Sumbar Kawa daun. Sumber foto: Modernfarmer

Jika pada umumnya minuman kopi terbuat dari biji kopi yang diolah menjadi bubuk, lain halnya dengan kopi yang terkenal di Sumatra Barat. Masyarakat Minang di Payakumbuh mengolah tanaman kopi dengan mengambil daun kopi sebagai bahan utamanya, yang disebut dengan kawa daun. Kawa daun memiliki cita rasa yang khas dan nikmat, tidak kalah dengan kenikmatan kopi pada umumnya.

Menurut cerita masyarakat Minangkabau, minuman kawa daun telah ada lama sejak abad ke-19, tepatnya di masa penjajahan kaum kolonial. Ketika itu Belanda menerapkan tanam paksa kopi di Sumatra Barat. Lantaran saat itu kopi merupakan komoditi bernilai tinggi di Eropa, maka seluruh hasil panen kopi dari rakyat Minang harus diserahkan ke Belanda untuk diekspor ke Eropa.

Alkibatnya, masyarakat pribumi tidak bisa menikmati hasil panen kopi dari tanah mereka sendiri. Mereka seolah hanya boleh menanam, tanpa boleh menikmati hasil kopinya. Bertolak dari kerinduan menikmati seduhan kopi, masyarakat di kawasan itu akhirnya mengolah daun kopi untuk selanjutnya dijadikan sebagai minuman.

Memang walau tidak sebanyak biji kopi, daun kopi dipercaya cukup memiliki kandungan kafein. Itulah yang membuat, terbentuk cita rasa senada antara kopi dari biji maupun dari daun. Walau demikian, keunikan rasa terkandung di dalam kawa Daun, yakni ada sececap rasa teh dengan aroma yang ringan dan lembut dalam kopi itu. Bahkan warna sajian kawa daun lebih menyerupai teh.

Kawa daun sendiri lazim dihidangkan dengan menggunakan batok kelapa demi menambah kekhasannya. Sementara itu, pengolahan kawa daun atau daun kopi itu sendiri lebih mirip dengan pengolahan daun teh. Di mana, daun kopi diasapi sampai mengering, kemudian disiram dengan air panas dalam sebuah tabung bambu.

Tak hanya unik proses pembuatannya, minuman kawa daun juga memiliki khasiat yang luar biasa bagi kesehatan. Minuman itu diyakini bisa mengobati penyakit tekanan darah tinggi, penyakit diabetes, penyakit jantung, hingga melancarkan saluran pernapasan. Sumber: Badan Bahasa Kemdikbud

Hingga kini, sajian Kawa daun masih ditemukan dan bisa dikonsumsi oleh para penyukanya. Kawa daun bahkan bisa ditemui di banyak kedai kopi di Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar, dan kota lain di Sumatra Barat. Kopi unik ini juga cocok dijadikan minuman untuk menghangatkan tubuh, yang disajikan bersama makanan kecil lainnya.

Hingga saat ini, popularitas kawa daun sendiri tidak kalah dengan Kopi Luwak, Kopi Toraja, ataupun Kopi Gayo. Pasalnya, masing-masing kopi tersebut memiliki kekhasan tersendiri yang membuat para pecinta kopi ingin menjajalnya satu per satu. Bagaimana? Berminat mencicipi kopi khas Sumatera Barat ini? (T-1)

Ekonomi
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...