Bahasa | English


KEBUDAYAAN

Seni Cadas dan Jejak Budaya Maritim

30 September 2019, 10:56 WIB

Pengetahuan mengenai teknik mengemudikan perahu yang aneka, yang khazanahnya terdokumentasi pada lukisan motif-motif perahu di berbagai situs seni cadas, jelas memperlihatkan masyarakat Nusantara telah memiliki akar budaya maritim yang kuat sejak ribuan tahun lalu.


Seni Cadas dan Jejak Budaya Maritim Seni cadas di Papua Barat. Foto: Pixabay

Seni cadas (rock art) adalah lukisan yang terdapat pada dinding gua atau ceruk, tebing, dan batu. Dibuat oleh masyarakat prasejarah, ekspresi seni itu bisa mengambil segala rupa sebagai objeknya. Seni cadas termasuk kajian disiplin arkeologi, yang berperan menginterpretasikan segala tinggalan masa lalu yang terekam pada motif-motif lukisan karya nenek moyang manusia.

Lukisan itu lazim diekspresikan di dinding gua-gua, seni cadas ditemukan di Benua Amerika, Afrika, Eropa, Australia, dan Asia. Di Asia sendiri, seni cadas ditemukan di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Khusus di wilayah Asia Selatan, tepatnya di India, ekspresi seni cadas tidak ditemukan di dalam gua, melainkan di dinding-dinding ceruk yang berkembang sejak masa mesolotikum hingga masa sejarah. Sedangkan di Asia Tenggara, sejauh ini seni cadas ditemukan di Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia.

Secara umum teknik pembuatan seni cadas melalui lukisan (painting) dan pahatan (engraving). Teknik pahatan atau goresan dilakukan dengan cara menorehkan benda tajam ke permukaan dinding batuan atau menggunakan alat pemukul.

Sementara itu teknik lukisan menggunakan teknik semprot, teknik kuas, dan teknik cap. Bahan pewarnanya berasal dari pigmen alami. Merujuk Pindi Setiawan dari ITB (Institut Teknologi Bandung), pewarna alami yang memiliki warna merah ini bernama ‘oker’. Bahan ini dihasilkan dari tanah liat berpigmen hematit atau mineral kemerahan karena mengandung zat besi yang teroksidasi.

Indonesia cukup kaya dengan tinggalan artefak masyarakat prasejarah ini. Setidaknya seni cadas ditemukan di Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Salah satu di antaranya, yaitu situs kawasan gambar cadas di Kalimantan telah telah terdaftar di Tentative List UNESCO pada 30 Januari 2015. Tercatat dengan No Reff 6009 berjudul Sangkulirang-Mangkalihat Karts: Prehistoric Rock Art Area.

Di Indonesia, ekspresi seni cadas ini lazim disebut dengan istilah ‘gambar cadas’ atau ‘lukisan gua’. Selain itu, juga disebut dengan beberapa istilah seperti ‘cap tangan’ atau ‘hand stencil’, ‘gambar tangan’, ‘gambar telapak tangan’ dan ‘gambar bayangan tangan’. Penggunaan kata tangan nisbi cukup dominan. Pasalnya di Indonesia banyak temuan seni cadas yang mengambil objek representasi berupa figur tangan.

Jejak Bangsa Laut

Selain itu, yang menarik dicatat tentu saja ialah lukisan berupa motif perahu sebagai objek. Adanya motif ini semakin menunjukkan bahwa sejak dahulu kala perahu merupakan salah satu sarana transportasi yang penting bagi masyarakat di Nusantara.

Jelas, penciptaan perahu merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat penghuninya. Tinggal dalam lanskap geografis kepulauan (archipelago island), di mana pulau-pulaunya juga memiliki sungai-sungai, keberadaan perahu tentulah sangat vital maknanya. Wajar saja penggunaan perahu diduga kuat sudah ada sejak kurun prasejarah, yang catatan sejarahnya salah satunya terdokumentasikan dalam rupa lukisan motif perahu pada tradisi seni cadas ini.

Para peneliti seni cadas di Indonesia menemukan bentuk motif perahu, dari wilayah Indonesia timur hingga ke Kalimantan. Merujuk penelitian Adhi Agus Oktaviana (2009), Penggambaran Motif Perahu Pada Seni Cadas di Indonesia, motif perahu ini setidaknya sejauh ini ditemukan di beberapa titik lokasi, antara lain, situs Pangkep di Sulawesi Selatan, Pulau Muna di Sulawesi Tenggara, Pulau Flores, Kepulauan Kei di Maluku Tenggara, Sangkulirang di Kalimantan Timur, dan Teluk Berau di Papua Barat.

Di luar itu, namun masih satu regional yang berdekatan dengan lokasi Indonesia, yaitu di kawasan Gua Niah di Sarawak-Malaysia dan kawasan Tutuala di Timor Leste, juga ditemukan fenomena yang relatif sama.

Merujuk penelitian W Mahdi (1999), Oktaviana memaparkan sarana transportasi air paling awal pada masyarakat penutur Austronesia di Nusantara adalah rakit bambu. Dalam perkembangan selanjutnya rakit bambu ini berkembang menjadi perahu yang dibuat dari gabungan balok-balok kayu yang diikat jadi satu. Balok-balok kayu itu kadang diceruk pada bagian dalamnya sehingga mirip kano atau dikenal dengan sebutan perahu lesung.

Dari perahu yang dibuat dengan balok kayu ini lalu berkembang menjadi perahu berlunas ganda (double canoe) atau katamaran. Selanjutnya dari perahu berlunas ganda ini, berkembang menjadi perahu bercadik tunggal dan hingga pada akhirnya perahu bercadik ganda.

Oktavia, masih merujuk penelitian Mahdi (1999), menduga bahwa hubungan pelayaran jarak jauh  perahu-perahu Austronesia dengan perahu di lautan Hindia diperkirakan telah terjadi pada kisaran antara 1000 dan 600 SM.

Tujuh Teknologi Perahu

Adhi Agus Oktavia dalam artikelnya Teknik Menggerakkan Perahu yang terekam dalam Seni Cadas sebagai Kekayaan Seni dan Maritim di Indonesia (2012) menyebutkan, ada tujuh cara menggerakkan perahu. Kesimpulan ini didasarkan analisis terhadap 67 motif lukisan perahu dari delapan kawasan pada 18 situs seni cadas.

Adanya tujuh teknik menggerakkan perahu, menunjukkan sejak dulu di masa prasejarah masyarakat Nusantara telah memiliki pengetahuan tentang perahu. Perahu yang digunakan untuk perairan di sungai, pesisir pantai, maupun antarpulau, memiliki teknologi yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Ketujuh teknik menggerakkan perahu, sebagaimana terekam dalam gambar cadas di berbagai situs itu, antara lain, pertama, figur manusia digambarkan berdiri dan memegang tongkat. Perahu dilukiskan dengan posisi tampak samping, sedangkan arah hadap perahu ke arah kiri.

Figur manusia digambarkan memegang tongkat merupakan perupaan perihal cara menggerakkan perahu, sebuah teknik yang hingga saat ini masih banyak ditemukan di Nusantara. Cara ini umumnya untuk menggerakkan jenis perahu di sepanjang aliran sungai dan pesisir pantai. Contoh lukisan ini ditemukan di situs Leang Bulu Sipong, Pangkep, Sulawesi Selatan.

Kedua, figur manusia yang mengemudikan perahu terlihat mendayung sambil berdiri. Perahu digambarkan dengan posisi tampak samping dengan teknik perupaan bagian badan perahu berupa garis, sedangkan arah hadap perahu ke arah kanan.

Empat manusia digambarkan berdiri, sambil masing-masing memegang dayung. Cara menggerakan perahu seperti ini masih dilakukan oleh banyak etnis di Papua. Perahu jenis ini lazim digunakan di sepanjang aliran sungai, muara, atau di pesisir pantai. Contoh lukisan berasal dari gambar cadas pada situs Risatot, Pulau Arguni, Papua Barat.

Ketiga, figur manusia dengan posisi duduk dan sikap tangan mendayung. Perahu digambarkan dengan posisi tampak samping dengan teknik perupaan berbentuk garis, sedangkan arah hadap perahu ke arah kiri.

Figur manusia mengambil posisi duduk dan kedua tangan memegang dayung. Dari cara ini terlihat perahu jenis ini merupakan perahu untuk perairan sungai atau pesisir pantai. Hingga kini perahu jenis ini masih banyak ditemui di wilayah Nusantara. Gambar cadas ini ditemukan pada situs Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Keempat, ada figur manusia mengemudikan perahu dan beberapa lainnya mendayung. Dalam contoh ini terdapat dua perahu. Keduanya digambarkan dengan posisi tampak samping dengan arah hadap perahu ke arah kanan.

Figur manusia digambarkan terdiri dari tiga pekerjaan. Dua manusia yang berada di posisi paling depan atau kanan sebagai pengemudi, beberapa manusia lainnya tengah mendayung, dan yang terakhir manusia yang digambarkan memegang senjata dan tameng. Gambar ini diinterpretasikan sebagai aktivitas perang di lautan. Motif gambar cadas ini diambil dari situs Sunu Taraleu, Timor Leste.

Kelima, selain menggunakan kemudi, perahu juga sudah menggunakan layar. Pada gambar cadas ini ditemukan perahu digambarkan dengan posisi tampak samping, sedangkan arah hadap perahu ke arah kanan.

Terdapat tiga manusia yang digambarkan di atas perahu. Yang posisinya berada di tengah memegang kemudi. Bagian kemudi digambarkan dengan bagian ujung bawahnya lebih besar, selain itu digambarkan pula layar berbentuk segi empat.

Berdasarkan motif tersebut diketahui perahu digerakkan oleh dua alat, yaitu layar dan kemudi. Adanya perupaan motif perahu seperti ini menunjukkan adanya perkembangan evolusi untuk menggerakkan perahu, dari  tidak menggunakan layar menjadi menggunakan layar. Umumnya perahu di Nusantara yang telah menggunakan layar digunakan di pesisir pantai atau lautan, untuk melakukan penyeberangan antarpulau. Gambar di atas ialah gambar cadas yang ditemukan di situs Lene Cece, Timor Leste.

Keenam, evolusi lebih lanjut dari perkembangan perahu terlihat pada gambar cadas yang ditemukan di situs Gua Kobori, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Selain ditemukan perahu ini telah menggunakan kemudi tunggal di bagian buritan, juga sudah menggunakan dua buah dayung di bagian tengah perahu. Plus perahu ini sudah dilengkapi dengan layar sebagai penggerak.

Perahu-perahu di Nusantara yang telah menggunakan layar, dayung, dan kemudi, lazimnya digunakan di pesisir pantai atau lautan, untuk melakukan penyeberangan antarpulau.

Dan terakhir atau ketujuh, perahu memiliki kemudi ganda di kiri maupun kanan bagian buritan. Selain itu, perahu juga sudah dilengkapi layar sebagai penggerak. Perahu digambarkan dengan posisi tampak samping, sedangkan arah hadap perahu ke arah kanan.

Setidaknya terdapat dua manusia digambarkan berada di atas perahu. Figur di sebelah kiri memegang kemudi ganda. Layar berbentuk segi empat diletakkan diagonal pada tiang layar.  Dari motif perahu yang ditemukan pada situs Gua Kobori, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, terlihat perahu telah digerakkan oleh dua alat, yaitu layar dan kemudi ganda.

Dari gambar cadas tersebut tampak jelas perahu ini telah mengalami fase evolusi lebih lanjut. Adanya kemudi ganda memperlihatkan jenis perahu ini lebih maju daripada perahu jenis sebelumnya. Perahu-perahu jenis ini lazimnya digunakan sebagai transportasi di pesisir pantai atau lautan dalam kerangka melakukan penyeberangan antarpulau-pulau di Nusantara. (W-1)

Budaya
Ragam Terpopuler
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Bungo Lado, Sebuah Perayaan Maulid Nabi di Pariaman
Bicara tradisi bungo lado sebagai bagian dari ritus Maulid Nabi, sayangnya hingga kini belum diketahui sejak kapan momen historis ini secara persis dimulai. ...
KH Masjkur dan Gelar Waliyy al-Amr al-Daruri bi al-Syaukah
Tahukah Anda, konsep Waliyy al-Amr al-Daruri bi al-Syaukah? Selain merupakan buah refleksi NU terkait yurisprudensi (fiqih) Islam perihal posisi dan fungsi pemimpin negara, juga sudah tentu tak terlep...
Dari New York ke Batavia, Catatan Seorang Agen Amerika
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Perempuan Indonesia Bergerak
Ia mengikuti jejak langkah Tirto Adhi Soerya. Sejak terbitnya Poetri Hindia sebagai surat kabar perempuan pertama di Batavia pada 1908, empat tahun kemudian di Minangkabau juga terbit surat kabar pere...
Hidup adalah Jalan Pengabdian
Menyimak hidup Sardjito, tampak jelas keyakinan filosofisnya bahwa “Dengan memberi maka seorang justru semakin kaya,” jelas bukan hanya gincu pemanis bibir. ltu bukan hanya soal keyakinan,...
Tradisi Gredoan, Ajang Mencari Jodoh Suku Osing
Kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa ini tidak hanya terkenal dengan destinasi wisata yang memukau mata. Lebih dari itu kabupaten ini juga dikenal kaya dengan kesenian dan kebudayaan unik. ...
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...